Menelusuri Istilah Agama Jawa

Menelusuri Istilah Agama Jawa – Pembahasan tentang agama Jawa memang tidak akan pernah ada habisnya, seolah selalu menarik untuk diikuti. Apabila dihitung dengan semakin bertambahnya data dan gagasan, maka obrolan seputar agama Jawa bisa dikatakan selalu update.

Sebenarnya ada satu hal lagi yang menjadikan pembahasan agama Jawa menjadi sedemikian menarik, khususnya bagi generasi muda pengguna internet, yakni orang Jawa sendiri yang semakin ‘berjarak’ dengan ke-Jawaan-nya.

Disangkanya ketertarikan pada agama Jawa adalah wujud antusiasme dalam rangka penjagaan budaya Jawa tak benda, namun sesungguhnya, itu merupakan aktualisasi dari rasa ‘gumun’ dan ‘keterasingan’.

Tentunya pernyataan di atas tidak berlaku bagi para peneliti asing, karena mereka memang pada dasarnya berjarak dengan ‘Jawa’. 

Dalam upaya menelusuri istilah agama Jawa, perasaan ‘gumun’ dan ‘terasing’ tersebut sungguh tidak masalah sama sekali, justru layak mendapat apresiasi, karena adanya kesadaran bahwa dirinya sebagai orang Jawa ternyata punya ‘kepentingan’, meski sedikit, untuk memelajari agama Jawa.

Pertanyaannya sekarang adalah, apa itu agama Jawa? Apakah kejawen, yang dimaksud dengan agama Jawa? Apakah tepat kejawen dikategorikan sebagai agama? Lalu, seperti apa praktek agama kejawen kalau memang kejawen adalah agama?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan bisa ditemukan jawaban pastinya, dan jelas memicu dialog bahkan perdebatan dalam rangka mencari jawabannya.

Keberbedaan jawaban tersebut bisa jadi berasal dari perbedaan terkait pemahaman dasar atas definisi ‘agama’ dan ‘kejawen’ yang dianut masing-masing individu. Bagaimanapun, asalkan tidak membawa sentimen tertentu, apapun jawaban yang muncul, dapat dipastikan akan makin memperkaya khazanah kebudayaan Jawa.

Memetakan Definisi Agama

Sumber: Medium

Sebelum mencapai diskusi upaya menelusuri makna agama Jawa, ada baiknya menentukan dasar pengertian ‘agama’ seperti apa yang akan digunakan dalam tulisan singkat ini.

Tidak perlu mengutip definisi ‘agama’ yang bersesuaian dengan diksi ‘religion’-nya Bahasa Inggris, akan lebih tepat dan representatif jika menelusuri diksi ‘agama’.

Di dalam KBBI, agama didefinisikan sebagai ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta manusia dan lingkungannya.

Kata ‘agama’ juga ditemukan dalam bahasa Jawa, menurut Babasan lan Saloka (1908), yang dapat diakses di sini, menjelaskan bahwa agama adalah:

kapitayan kang wajib dipun lampahi kanggge nyêmbah dhatêng pangeran supados angsala kawilujêngan ing dunya lan ing akirat.

Definisi ‘agama’ menurut Babasan lan Saloka di atas, agak berbeda dengan definisi yang terdapat dalam Bausastra Djawa (1939) yang disusun Poerwadarminta: 

Kêklumpukaning tatacaraning panêmbah, piwulang-piwulang, pangandêl tuwin tindak kautaman.

Poerwadarminta tidak menyertakan dikotomi donya dan akirat seperti yang terdapat dalam Babasan lan Saloka. Poerwadarminta menegaskan makna ‘agama’ pada laku kebaikan dalam menjalankan agama.

Apabila ditelusuri lebih jauh, ke bahasa Jawa kuna misalnya, apakah kata ‘agama’ bisa ditemukan? Ya, di bahasa Jawa kuna juga mengenal diksi ‘agama’, diserap dari bahasa Sanskerta.

Pada laman Ojed (Old Javanese – English Dictionary) disebutkan adanya kata ‘agama’, dengan huruf vokal ‘a’ pertama berupa ‘a’ panjang, definisi yang disampaikan adalah:

Sacred traditional doctrine or precepts, collection of such doctrines, sacred work.

Menyepakati Agama

Definisi ‘agama’ dalam bahasa Indonesia memberi detail yang jelas dan nampaknya memang bersandar pada pemahaman monoteistik karena penyebutan Tuhan Yang Maha Esa di dalam definisinya.

Sementara itu, definisi ‘agama’ dalam bahasa Jawa menekankan pada perilaku pemeluk ‘agama’ beserta merujuk pada adanya tata cara yang berlaku dan harus dilakukan pemeluk ‘agama’ untuk mencapai akirat atau kautaman.

Definisi ‘agama’ bahasa Jawa kuna yang diserap dari Sanskerta malah dengan tegas merujuk pada ‘doktrin atau kepercayaan sakral tradisional’ dan atau sebuah ‘laku suci. 

Di sisi lain, definisi ‘agama’ dalam Sanskerta yang diserap Jawa kuna tidak memberi indikasi apapun mengenai paham yang dimaksud oleh ‘agama’, entah agama itu bersifat  monoteistik atau politeistik.

Pengertian ‘agama’ berdasarkan bahasa Jawa Kuna yang diserap dari Sanskerta kiranya akan lebih tepat digunakan bagi yang memercayai bahwa ‘kejawen’ adalah ‘agama’, karena mengakomodir ‘lokalitas’. Hal ini dapat ditinjau dari penyebutan Sacred traditional doctrine.

Jika mendasarkan definisi agama dari bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, tidak ada ruang spesifik yang nantinya mengakomodir ‘kejawen’ sebagai agama.

Dan memang ‘kejawen’ bukan agama, jika dilihat dari prasyarat yang diberikan oleh Kementrian Agama tahun 1952, kejawen tidak memenuhi syarat sebagai agama karena tidak mengandung beberapa syarat inti ajaran agar dapat disebut agama, antara lain:

  • Wahyu ajaran yang turun
  • Nabi yang menjadi pondasi awal
  • Kitab suci
  • Diakui internasional
  • Penganut atau pengikut

Di dalam konteks hukum, kejawen akan sulit untuk disebut agama, mengingat pengertian ‘agama’ yang digunakan di Indonesia mengacu pada kesepakatan dunia internasional. Namun lain soal jika pemahaman yang digunakan adalah pendekatan kultural, kejawen memungkinkan disebut sebagai agama.

Begitulah faktanya, kejawen sebagai agama atau tidak merupakan urusan paradigma. Bersikukuh pada salah satu sisi dengan mendiskreditkan sisi lainnya sama sekali bukan tindakan yang bijak.

Mengupas Istilah Kejawen

Laku agama Jawa
Sumber: Quora

Mari coba menelusuri makna istilah agama Jawa. ‘Kejawen’ tersusun dari prefiks ‘ka-’ dan sufiks ‘-n’, jadi seharusnya tertulis ‘kajawan’ bisa juga ‘kajawen’, karena bukan ‘kejawen’. Apabila mengacu pada direktori leksikon yang ada di sastra.org, ‘kajawan’/’kajawen’ memiliki pengertian:

tlatah (wêwêngkon) ing wong-wong Jawa; 2 palêmahan kang ora disewakake marang kabudidayan; kc. jawa.

Secara spesifik dijelaskan bahwa ‘kajawen’ merujuk pada ruang, wewengkon dan palemahan, serta penyebutan untuk suku Jawa. Bandingkan dengan ‘kejawen’ yang memiliki arti:

n. kêjawèn k. pc kajawan.

Kedua pengertian baik ‘kajawan’ maupun ‘kejawen’ di atas berasal dari Bausastra Djawa susunan Poerwadarminta. Adapun kata ‘kejawen’ memiliki makna lain jika melihat  Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, Gericke en Roorda, yang memiliki maksud atau makna:

jaba : N. jawi – anjaba, kêjaba, kêjabaa, of kêjabane, Wk., anjawi, kêjawi, kêjawia, of kêjawènipun

Makna dari ‘kejawen’ kalau mengacu pada kamus Roorda adalah ‘kecuali’, ‘sakliyane’, atau bersifat ‘mengecualikan’ (kejawenipun). Kasus yang berbeda akan muncul apabila kata ‘Jawi’ yang berarti ‘luar’ diposisikan sebagai bentuk krama halus dari ‘Jawa’.

Bisa jadi ‘kajawen’ yang dimaksud sebagai ajaran lalu menjadi ‘kejawen’ adalah upaya untuk memudahkan pengucapan dan identifikasi, di samping adanya ketidaktahuan akan bentuk kata yang tepat sesungguhnya.

Rampung


Baca Juga

Bung Karno lan Romantisme Historis

Bung Karno lan Romantisme Historis

Irul S BudiantoJul 8, 20226 min read

BUNG Karno terus dadi legenda. Kanthi atribut ‘keagungane’, ketokohane Putra Sang Fajar iki asring diangkat utawa dicungulake ing maneka kalodhangan. Luwih-luwih nalika kahanane negara lagi loyo merga ringkihe kepemimpinan nasional, ketokohan lan ajarane asring diangkat maneh lan didadekake kiblat. Nalika…

Gunung, Kali, dan Makam – Sebuah Sunyamarga

Gunung, Kali, dan Makam – Sebuah Sunyamarga

Indra AgustaMei 27, 20228 min read

Gunung, Kali, dan Makam – Sebuah Sunyamarga – Refleksi pengalaman yang berpadu dengan pengetahuan. Indra Agusta menyajikan rentetan gagasan pelepasan stress secara ulang-aling, lintas waktu, dan abadi. Sebuah Sunyamarga di Gunung, kali, dan makam. Puja Giri Sumber: Kekunoan Lebaran kemarin…

Menelusuri Istilah Agama Jawa

Menelusuri Istilah Agama Jawa

GombalamohMei 16, 20226 min read

Menelusuri Istilah Agama Jawa – Pembahasan tentang agama Jawa memang tidak akan pernah ada habisnya, seolah selalu menarik untuk diikuti. Apabila dihitung dengan semakin bertambahnya data dan gagasan, maka obrolan seputar agama Jawa bisa dikatakan selalu update. Sebenarnya ada satu…

Industri-Manusia Jawa Kultur Industri

Industri-Manusia Jawa Kultur Industri

GombalamohJan 23, 20229 min read

Industri dan kebudayaan jawa di Gerbangkartasusila Geliat pengamatan kebudayaan manusia Jawa biasanya terkonsentrasi pada kultur-kultur agraris, bisa juga ke kultur pesisir kalau amatannya terkait sejarah, migrasi manusia, masa awal dakwah agama-agama, peradaban prasejarah, atau kemaritiman. Sastrawan Iman Budi Santosa pernah…

Kemelut Dunia Wanita Jawa

Kemelut Dunia Wanita Jawa

GombalamohDes 18, 202112 min read

Rasanya tidak perlu untuk bereaksi terlalu ‘wah jebule’ ketika tahu beberapa individu wanita Jawa memainkan peran-peran penting dalam mengelola urusan domestik maupun publik. Ada wanita Jawa yang menulis naskah, ada yang mengatur pemberontakan, ada yang menawar harga lombok di pasar,…

Gombalamoh

nDilalah founder Jawasastra Culture Movement. Pecinta sastra Jawa, novel grafis, dan pengetahuan ekologi tapi tidak yakin dalam hal praktek lapangan. Penggembala dosa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas
%d blogger menyukai ini: