Bagongisme
Bagongisme

Bagongisme6 min read

Sewaktu dipangkukan ke haribaan pertiwi, Ki Seno Nugroho membawa serta dua buah wayang, Werkudara dan Bagong. Seperti biasa, Werkudara tetap gagah pideksa meski sebentar lagi dihimpit bumi. Berbeda dengan Bagong yang tampilannya sekadar mengenakan celana kolor warna merah dengan tubuh bagian atas ngligo (telanjang dada).

Belum jelas apakah keikutsertaan Bagong ke alam kelanggengan itu merupakan wasiat Ki Seno Nugroho sendiri atau inisiatif dari keluarga dan sahabat terdekat. Namun ada satu hal yang dapat dipastikan, bahwa Bagong sengaja ikut dikuburkan karena pertimbangan pribadi Ki Seno Nugroho yang memang lekat dengan karakter Bagong. Ki Seno Nugroho manunggal dengan Bagongnya.

Selama hidupnya, Ki Seno Nugroho menghadirkan berbagai inovasi dalam pewayangan. Baik dari aspek kemasan pertunjukan maupun lakon (cerita). Bersama tim, Ki Seno Nugroho merambah alternatif pertunjukan wayang melalui kelir digital. Sementara untuk aspek lakon, tokoh Bagong senantiasa menjadi andalan bagi Ki Seno Nugroho.

Tokoh Bagong yang dimainkan Ki Seno Nugroho tidak pernah membosankan. Lebih dari itu, Bagong dipaksa melewati fase revolusi.

Sosok empat Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) kerap diposisikan sebagai rujukan ideal tentang bagaimana seharusnya wong cilik bersikap terhadap kondisi sosial masyarakat, ekonomi, dan politik. Setiap tokoh Punakawan membawa citra refleksi wong cilik masing-masing dan reaksi yang berbeda ketika menghadapi situasi krisis tertentu. Ki Seno Nugroho menyebutnya ‘perwakilan arus bawah’.

Semar dengan pribadinya yang misterius namun setiap ucapannya mengandung kebijaksanaan serta ketepatan, Gareng yang mengerti betul cara bersikap, bersopan santun, sekaligus menempatkan diri tapi pedas lidahnya, Petruk yang penuh akal serta berupaya meminimalisir konflik, dan Bagong yang lugu, agak lancang, penuh kepercayaan diri dan enggan terikat.

Meski terdapat watak dasar pembentuk, nyatanya karakter Punakawan menjadi relatif ketika di tangan dalang, dan tentu saja konteks lakon yang sedang dimainkan.

Dulu, di tahun 1930-1955, tokoh Gareng dan Petruk memperoleh rubrik khusus di dalam majalah-majalah kebudayaan Jawa, baik yang berbahasa Jawa maupun berbahasa Indonesia. Misalnya di majalah Kedjawen, tokoh Gareng dan Petruk terlibat dalam dialog yang membahas situasi yang sedang terjadi.

Selanjutnya, di periode Orde Baru, tokoh Semar menjadi idola khalayak. Bahkan konon lakon Semar mBangun Kahyangan merupakan permintaan sanggit dari mantan presiden Soeharto.

Fase berikutnya, menjelang berakhirnya Orde Baru, sosok Petruk dan Gareng mencuat kembali hingga reformasi terjadi. Lakon Petruk Dadi Ratu mengambah lintas disiplin seni pertunjukan. Eksistensi lakon Petruk Dadi Ratu tidak hanya terdapat pada pertunjukan tradisional wayang, tapi juga dapat ditemui di teater modern, seperti lakon yang digarap Teater Koma.

Pasca reformasi, penampilan Punakawan menemu keseimbangan. Baru di era digital hari ini, di abad 21, tokoh Punakawan yang terlihat paling mencuat adalah Bagong, untuk pertama kalinya sepenjang sejarah. Tentu saja Bagong versi Ki Seno Nugroho.  

Popularitas Bagong di era digital dapat diamati di Youtube, ketik saja kata kunci ‘Bagong’, niscaya Anda akan mendapati fakta bahwa intensitas pencarian ‘Bagong’ oleh netizen cenderung lebih tinggi dibandingkan tiga Punakawan lainnya. Menariknya, di urutan pencarian teratas, dan hampir kebanyakan video wayang yang menampilkan tokoh Bagong merupakan wayang Bagong yang dimainkan Ki Seno Nugroho.

Wujud Revolusi Bagong

Bagong yang sebelumnya sekadar lugu dan kelihatan bodoh, Ki Seno Nugroho mengolahnya menjadi konyol namun jenaka. Bagong yang watak dasarnya adalah apa adanya, oleh Ki Seno Nugroho diubah menjadi lebih radikal, sikap dan ucapnya senantiasa tanpa tedheng aling-aling.

Sifat Bagong yang penuh kepercayaan diri, ditransformasikan menjadi agak terkesan kurang ajar. Selanjutnya, tokoh Bagong yang awalnya digambarkan agak lancang, Ki Seno Nugroho mengubahnya menjadi sosok yang berani pada siapa saja, dan tidak membedakan siapapun.

Di dalam lakon Bagong Gugat, dikisahkan Bagong sedang mencari siapa bapaknya. Untuk mencari tahu, Bagong mendatangi Kahyangan, mengorek informasi dari para Jawata (dewa). Sesampainya di Kahyangan, sudah disampaikan informasi yang sebenarnya kepada Bagong oleh Bathara Guru, bahwa Bagong tidak memiliki bapak sebab dia tercipta dari bayangan Semar atas kehendak Bathara Wenang.

Kebanyakan orang Jawa pasti mengetahui, meski sekilas, tentang kronologi terciptanya Bagong karena Semar yang merasa kesepian saat tiba di jagad madyapada (bumi). Namun apa respon Bagong terhadap informasi yang diberikan Bathara Guru?

Bagong tidak mau menerima jawaban tersebut. Lebih dari itu, Bagong menganggap bahwa Bathara Guru tidak cocok menjadi pimpinan para dewa karena tidak mampu memberi jawaban yang memuaskan menurut Bagong. Singkat cerita, Bagong marah. Ditantangnya para dewa. Tanpa segan, Bagong mengkritik para dewa. Begini kurang lebih ringkasannya:

“Di bumi saya dilanda keresehan dan kesulitan hidup hanya demi mencari jawaban atas pertanyaan ini. Tapi apakah dewa peduli? Apakah ada dewa yang turun ke bumi sekadar untuk menghibur saya? Tidak ada! Coba kalau yang merasa resah adalah salah satu Pandawa, pasti kalian berebut turun ke bumi untuk menawarkan bantuan bukan?!”

Karena merupakan kawula, batur, atau abdi Pandawa, Bagong merasa dirinya tidak pernah diperhatikan dewa. Kenyataannya memang demikian, sejauh pengamatan, belum pernah ada lakon wayang yang memberi kisah tentang dewa yang turun ke bumi untuk memberi bantuan atas kesulitan yang dialami Punakawan.

Ki Seno Nugroho menggeser hierarki sosial pewayangan ketika memainkan lakon Bagong Gugat. Selama ini, Pandawa dan Kurawa ditempatkan sebagai ‘atasan’, atau orang yang memiliki status sosial tertinggi. Namun di lakon Bagong Gugat, ‘atasan’ dilekatkan pada para dewa yang berada di Kahyangan. Dewa bukan lagi sosok adil nan bijaksana yang mampu merampungkan segapa permasalahan wayang.

Lantas siapa yang mendapat peran ‘dewa’? Patut diduga, Ki Seno Nugroho menggesernya pada Bathara Wenang, atau boleh jadi malah menorehkan stempel summum bonum (kebijaksanaan tertinggi) kepada entitas tertinggi yang Serba Maha, yang tak terdeteksi oleh pancaindra, termasuk pancaindra para dewa.

Kelahiran Bagongisme    

Prefiks –isme menandakan suatu aliran atau paham yang memang merujuk pada penggagas dari –isme tersebut. Melekatkan prefiks–isme pada nama Bagong yang dibawakan Ki Seno Nugroho kiranya tidak berlebihan. Karakter, sikap, dan pembawaan yang terepresentasi melalui Bagong versi Ki Seno Nugroho merupakan karakter kebaruan yang aktual dan bersesuaian dengan laku manusia abad 21.

Utamanya manusia abad 21 yang hidup di Nusantara. Mewakilkan sikap sekaligus karakter ideal yang mestinya dimiliki wong cilik abad 21 di Nusantara tatkala menghadapi krisis tertentu.

Melekatkan –isme pada nama Seno sebenarnya bisa saja, yang jadinya Senoisme, akan tetapi hal itu akan menimbulkan kemacetan pemahaman, sebab tidak semua orang di Nusantara pernah setidaknya menonton keseharian atau karya Ki Seno Nugroho. Justru melalui Bagong yang dimainkan Seno, cakupan pemahaman filsafat Nusantara menjadi lebih luas.

Daripada mengatakan Bagong sebagai sosok yang radikal, ngawur, tidak kenal adab, dan persetan pada situasi, alangkah lebih baiknya Bagong dipersepsi sebagai sosok imajiner yang apa adanya dan serupa manusia biasa, dia selalu apa adanya.

Tidak ada orang yang sengaja membenci orang yang sikap dan ucapannya selalu blaka suta atau apa adanya, yang ada, orang akan menjadi lebih berhati-hati dan menunjukkan rasa segan.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *