Suatu malam di daerah Kabupaten Demak, sekitar tahun 2000 – 2005’an, Sandirono dan Kirun memecahkan gelapnya malam menggunakan ledak dalam pikiran.

Entah ada berapa ratus orang di tempat itu, yang jelas, terdengar gelak tawa banyak manusia terkesiap karena otak mereka dipaksa mengimajinasikan rasanya makan rujak glugu dan rujak pramuka. Dalam waktu sepersekian detik, persoalan hutang, keluarga, dan cinta, sekadar permasalahan yang biasa saja.

Bait-bait tembang yang diracik menggunakan pola parikan dan wangsalan dengan pokok pembahasan berupa bagian-bagian dari pohon kelapa menunjukkan betapa masyarakat Jawa, baik penonton maupun pemain kethoprak Kirun CS, memiliki tingkat intelektual yang tinggi. Terbentuk dari keakraban terhadap alam, pikiran, dan budaya Jawa.

Sumber: Youtube

Asalkan persepsi mengenai intelektualitas tidak terpusat pada rumitnya nalar filsafat dan reniknya perbincangan science Barat, tetapi didistribusikan pada nilai-nilai kebudayaan seluruh dunia dengan ukuran-ukuran tertentu.

Maksudnya, orang Jawa, Cina, Jepang, dan Papua serta yang lainnya memiliki pakem intelektualitasnya sendiri secara independen melalui pemahaman terhadap kebudayaannya sendiri.

Sementara itu, di waktu dan tempat yang berbeda, kelompok kethoprak Siswo Budoyo, tahun 2018 di Pati, melanggengkan kebahagiaan malam yang singkat melalui banyolan slapstick.

Berbeda dengan cara nyawer banyolan yang lazimnya pemain banyolan diminta menyanyikan sebuah lagu, di kethoprak Siswo Budaya saweran malah berupa permintaan agar pemain kethoprak melakukan atraksi salto beberapa kali putaran.

Adegan perang berjalan bersama guyonan serta bagi-bagi saweran. Anak-anak muda berotot kekar meledakkan tawa para penonton ketika salah satu banyolan mereka berupa perang lucu secara sengaja mengakibatkan celana salah seorang pemain terlepas di tengah pertarungan.

Sumber: Youtube

Celana warna merah itu kemudian dilempar kesana-kemari, pemain berambut kuncung yang kehilangan celana terpaksa harus meminta-minta agar celananya dikembalikan. Bahkan, celana tersebut juga dilempar-lemparkan oleh para penonton sebelum akhirnya dikembalikan ke pemain yang kehilangan celana.

Banyolan yang ditunjukkan Siswo Budoyo jelas tidak akan masuk televisi jaman sekarang. Seandainya tayang di televisi, pasti akan segera viral dan stasiun televisi yang menayangkan terpaksa menarik teyangan tersebut karena diinterupsi KPI. Bagi KPI, lebih baik anak-anak dibiarkan menonton sinetron daripada pertunjukan daerah.

Lepas dari urusan KPI, menonton aksi pemain muda kethoprak Siswo Budaya seolah menjadikan artis K-Pop sebatas ijo-ijone bakso. Sepintas, mungkin, kurang lebih seperti itu wujud pawakan dari para prajurit Arya Penangsang ketika berhadapan melawan Danang Sutawijaya, dkk.

Pawakan tubuh pemain muda kethoprak Siswo Budoyo Pati. Sumber: Youtube

Kalau Siswo Budoyo sudah pasti sulit menembus pangsa televisi, apalagi pertunjukan wayang golek bernama Darno milik almarhum Ki Enthus Susmono yang menunjukkan adegan mabuk di depan masjid sembari mengigau, “Adhuh kokean nginum pirang-pirang botol, rasane inyong kaya-kaya nyawang Ketuhanan yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab”

Konten vulgar yang disajikan Ki Enthus untungnya merupakan salah satu bentuk representasi kebudayaan Tegal, sehingga masyarakat Tegal tidak akan mempermasalahkannya.

Terutama saat Ki Enthus selaku dhalang jelas-jelas memlesetkan lagu semut-semut ireng menjadi jembut-jembut ireng. Malam itu di depan masjid dalam rangka Haul Kiyai Muhammad, para penonton hanya peduli pada satu nilai dan norma, yakni kelucuan yang mereka pahami konteks sekaligus teksnya.

Apakah mungkin seorang atau sekelompok manusia dapat tertawa ketika mendengar atau melihat banyolan yang mereka sendiri tidak memiliki pengetahuan atas konten banyolan tersebut?

Bahkan orang yang memiliki pengetahuan atas suatu banyolan akan terpecah dalam dua golongan; menerima dan menolak. Kalau memakai Teori Superioritas humor yang ditekankan Plato, Aristoteles, dan Derrida, orang yang menolak sudah dapat dipastikan sebagai pihak yang kalah dominan, pengetahuan mereka atas konten banyolan bukannya membuat mereka tertawa tetapi malah marah-marah.

Bagi yang menerima, mereka merasa ada yang mewakili diri mereka, bahwa orang yang melontarkan banyolan adalah dirinya yang lain tatkala dirinya sendiri tidak punya kemampuan atau keberanian untuk membuat banyolan dengan tema dan konten yang dimaksud.

Mengistirahatkan Jiwa

Kelompok kethoprak dan ludruk yang selalu memiliki pemain banyolan bermain dari satu panggung ke panggung lain. Setiap malam menggodhog konten baru, selalu menampilkan persona mereka sebagai orang yang menghibur meskipun dalam kesehariannya banyak masalah yang menimpa. Mengingat, pendapatan banyolan tidak sebanyak stand up comedian.

Konten banyolan yang diracik sebisa mungkin dekat dengan alam budaya Jawa. Sebab mereka percaya bahwa penonton hanya tertawa pada dua hal; aksi yang lucu dan pengolahan teks kebudayaan Jawa di dalam seni pertunjukan Jawa. Para pemain banyolan Jawa jarang menggunakan pola banyolan yang bersifat punch line, karena seluruh bagian tubuh mereka saja sudah dianggap banyolan oleh penonton.

Contoh kasus, naiknya Supali ke tengah lakon ludruk Karya Budaya selalu diiringi dengan gelak tawa penonton, bukan tepuk tangan. Cak Supali bahkan belum berkata apa-apa, pun belum melontarkan banyolan apapun, ia hanya berjalan dari luar panggung kemudian naik ke atas panggung.

Apakah penonton menertawakan fisik Cak Supali yang agak ‘cebol’? Bisa jadi. Akan tetapi Cak Supali tidak peduli kalau yang ditertawakan orang-orang adalah fisiknya, dirinya bertanggungjawab membuat orang dapat tertawa, itu saja. Soal apa yang mereka tertawakan urusan belakang. Penerimaan semacam inilah yang sulit ditemui hari ini.

Cak Supali. Sumber: Google Image

Makin modern zaman, makin kompleks juga elemen pembentuk tawa.

Banyolan Jawa lahir di desa-desa, di luar lingkup Kraton. Para pemainnya menerjang batas-batas semu kesopanan dengan tetap mempertimbangkan tempat mereka sedang melakukan banyolan. Bagi orang dalam Kraton, pertama kali melihat banyolan dari desa tentu membuat mereka geleng-geleng kepala, lantas menilai banyolan Jawa bukan wujud adiluhung budaya Jawa.

Bila memang demikian persepsi orang Jawa dalam keraton zaman dulu, betapa kasihan mereka. Konsep adiluhung yang terbentuk di dalam pikiran sama sekali tidak menyediakan ruang untuk kesenangan dalam kadar yang lebih besar dan variatif. Pantas saja terjebak di dalam tembok.

Tertawa merupakan hiburan paling murah bagi manusia. Orang Jawa dulunya lebih memilih berburu panggung banyolan seni pertunjukan Jawa daripada harus menonton Opera van Java. Mereka ingin melibatkan diri mereka sendiri dalam atmosfer kesenangan sekaligus kelucuan yang dapat disentuh, dilihat, dan didengar secara langsung, tanpa terhalang layar kaca.

Thomas Aquinas mengatakan bahwa kesenangan adalah momen beristirahatnya jiwa. Lha kok lucunya, orang Jawa dulu harus melelahkan jiwa mereka terlebih dahulu, bersepeda ke tetangga desa sebelah, sebelum akhirnya memperoleh perisirahatan jiwa saat menonton banyolan di depan mata. Sehingga, bagaimanapun kebudayaan Jawa yang sejati adalah kebudayaan rakyat, bukan kebudayaan istana.

Para penonton menaruh harapan besar pada para pemain banyolan. Di mata penonton ludruk, kethoprak, atau wayang, para pemain banyolan sama sekali bukan bahan celaan dan lucu-lucuan, melainkan sosok mesiah yang memurnikan jiwa.

Ketika harapan mereka tidak terpenuhi, suasana hati akan menjadi lebih gelap. Satu-satunya kesempatan untuk mengistirahatkan pikiran dan batin malah lewat begitu saja. Respon yang muncul pun beraneka ragam, ada yang langsung pulang dan ada juga yang mengumpat, dan tak sungkan misuhi para pemain banyolan.

Di masa Mataram Kuno abad 8 Masehi, Haryono (1985) menyebutkan bahwa waktu itu pertunjukan banyolan sudah eksis, disebut dengan abanol. Malah, di beberapa kali kesempatan pertunjukan banyolan diadakan untuk memperingangi suatu momen penting kenegaraan. Bagi generasi Jawa modern, tentu mustahil meraba seperti apa bentuk guyonan di masa Jawa kuno.

Meski demikian, benar apa yang dikatakan Thomas Aquinas. Banyolan mengundang kesenangan, dan kesenangan adalah momen beristirahatnya jiwa. Bila ditinjau dari arti harfiahnya, berdasarkan pembacaan Bausastra Jawa banyolan berkata dasar ‘banyol’ yang berarti membuat lelucon atau badhutan.

Bersambung….

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)