Baru Belajar Primbon
Baru Belajar Primbon

Baru Belajar Primbon10 min read

Bisa dipastikan bahwa lebih dari setengah dari total jumlah penutur bahasa Jawa pernah mendengar kata ‘primbon’. Bukan hanya penutur asli bahasa Jawa, bahkan yang bukan penutur asli bahasa Jawa pun tidak sedikit yang pernah mendengar kata ‘primbon’.

Entah dari buku, keluarga, maupun teman. Satu hal yang tidak bisa ditawar adalah, primbon selalu menarik untuk diperbincangkan.

Ada semacam daya tarik tersendiri yang membuat primbon terus bertahan hingga saat ini. Lagi pula, masih banyak anak muda yang gemar membaca primbon, meski paham astrologi luar Jawa meringsek masuk.

Gempuran astrologi Barat dan Tiongkok nyatanya tidak sepenuhnya kuat untuk menghapuskan primbon dari akar kepercayaan masyarakat Jawa terhadap jagad ageng dan jagad alit-nya melalui primbon.

Sumber gambar: Twitter Annabel Teh Gallop

Primbon diyakini oleh masyarakat Jawa sebagai matematika peninggalan leluhur, walau belum dapat dipastikan leluhur yang mana dan leluhur siapa yang pertama kali mengawalinya.

Lebih dari itu, keyakinan terhadap primbon mengakomodir hampir seluruh garis kehidupan sekaligus hajat manusia Jawa itu sendiri, mulai dari urusan rezeki, hari baik, hari na’as, jodoh, hingga kesehatan, bahkan prediksi capaian usia maksimal seseorang.

Dulu dan Sekarang

Di masa sebelum era internet, penghitungan primbon (astrologi Jawa) hanya dimiliki oleh beberapa orang terpilih. Maksud dari terpilih adalah keterpilihan akibat kesediaan diri sendiri untuk mempelajari, lingkungan yang mendukung, dan kepercayaan yang diterima dari orang-orang sekitar, entah atas dasar warisan, silsilah, atau kemampuan.

Ketika ada orang Jawa yang sedang ragu, gelisah, atau bahkan takut terhadap hal yang akan dijalani maupun peristiwa besar yang akan dilakukan, orang itu akan berkunjung pada Sang Orang Terpilih.

Pada Sang Orang Terpilih, orang itu berkonsultasi secara terperinci tentang apa yang harus dilakukan, apa yang bisa dilakukan, dan apa yang hendaknya tidak dilakukan. Termasuk sarana syarat apa yang diperlukan untuk menggapai suatu hal atau menghindari suatu hal.

Sang Orang Terpilih dengan senang hati memberi pencerahan. Melalui persepsinya atas pengetahuan astrologi Jawa, matematika Jawa, beberapa diksi yang sugestif, serta sedikit banyak keimanan terhadap Yang Maha Kuasa. Jawaban yang diberikan kadang bersifat lugu namun ada kalanya bersifat sanepan.

Contoh hitungan primbon. Sumber gambar: Rare Books

Jika jawaban itu bersifat lugu, si penanya akan dengan mudah memahami dan selanjutnya memenuhi persyaratan yang harus disiapkan. Akan tetapi jika jawaban yang diberikan bersifat sanepan, si penanya harus mencari terlebih dahulu apa makna sejati yang terkandung di dalam sanepan tersebut. 

Kini, untuk mengetahui primbon atau mempelajari primbon, tidak selamanya harus melalui Sang Orang Terpilih. Cukup melalui internet, masukkan tanggal lahir, atau amati situasi yang terjadi, seketika akan muncul hasilnya.

Tentu saja bukan berarti Sang Orang Terpilih lenyap tanpa jejak, medianya saja yang bertambah. Pemahaman Sang Orang Terpilih, bagaimanapun, tetap diperlukan semaju apapun jamannya.

Beberapa Misteri Primbon

Primbon, sebagai astrologi Jawa, mempunyai banyak ragam. Pranata mangsa, pawukon, neptu, naga dina, windu, lelungan, dst, ditampung oleh satu istilah yang disebut primbon. Memuat unsur hitung, pembacaan, peringatan, dan prediksi.

Selain itu, definisi dari primbon pun lumayan banyak, namun hampir seluruhnya bersesuaian. Menurut Poerwadarminta dalam Bausastra Djawa primbon diartikan sebagai layang kang ngemot petungan, pethek, lsp.

Sementara itu Horne (1974) dalam kamusnya Javanese-English Dictionary mengartikan primbon sebagai almanak Jawa. Kata lain untuk primbon disebut dengan primbetan.

Ada yang menyebut bahwa primbon berasal dari kata dasar rimbu, yang artinya simpanan atau menyimpan. Kata rimbu mendapat imbuhan pa- dan akhiran -an, sehingga menjadi parimbuan, namun selanjutnya menjadi primbon karena terindikasi adanya upaya pelancaran, penghilangan vokal a dan hukum bunyi u + a yang memunculkan O atau W.

Septiana, dkk, (2019) dalam tulisan mereka berjudul Disaster Education Through Local Knowledge in Some Area of Merapi Volcano, primbon berarti merupakan hasil amatan serta pengalaman oleh orang terdahulu yang kemudian dikumpulkan ke dalam bentuk teks maupun lisan.

Kalau mengingat definisi primbon yang juga adalah pethek (tebakan), maka di dalam primbon memang sudah sewajarnya kaya akan unsur prediksi.

Hingga saat ini, keyakinan masyarakat Jawa terhadap primbon yang kelihatannya paling dominan adalah primbon sebagai hasil kerja leluhur Jawa. Bukan dalam kurun waktu puluhan tahun, namun dalam hitungan ratusan tahun, bahkan bisa juga mencapai ribuan tahun. 

Apabila memang demikian, tentu saja primbon tidak hadir begitu saja sebagai satu teks yang solid dari seseorang atau sekelompok orang akan tetapi melalui tahapan trial & error yang berulang kali dengan pertimbangan terhadap kondisi alam, bintang-bintang, dan tumpukan ingatan, baik lisan maupun tulis.

Cover buku primbon. Sumber gambar: Walmart

Misteri yang dimaksud di sini, kebanyakan, adalah misteri yang sebenarnya mustahil untuk dicari jawabannya. Namun karena hal itulah, primbon justru menjadi menarik untuk dibicarakan. Apa lagi, primbon seolah telah menjadi perangkat supernatural yang menggaris jalannya takdir manusia Jawa.

Adapun misteri-misteri tersebut mengacaukan primbon itu sendiri sekaligus membeberkan kenyataan bahwa betapa primbon yang dikenal hari ini merupakan tumpukan pengetahuan rahasia.

Peradaban Jawa dan Primbon

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa primbon patut dicurigai sebagai hasil kerja kolektif dalam kurun waktu yang lama. Akan tetapi sayangnya, tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya primbon di Jawa atau seperti apa prototype-nya yang paling awal.

Belum diketahui apakah masa Mataram kuno sudah menerapkan hitungan primbon atau belum, namun jika mengamati berbagai peninggalan Mataram kuno, contohnya Borobudur, yang didirikan penuh pertimbangan matematis dan religiusitas, memang terdapat kemungkinan bahwa sejak Mataram kuno sudah ada praktek penggunaan primbon. Hanya saja belum diketahui seperti apa wujud dan praktek penerapannya.

Hal yang sama juga berlaku pada peradaban setelah Mataram kuno. Termasuk ketika peradaban Jawa bergeser ke arah timur dengan dibawa oleh Pu Sindok. Periode penggunaan primbon di masa itu, di masa peradaban Jawa kuno-pertengahan, astrologi Jawa yang digunakan memiliki layer pemahaman terhadap agama Hindhu-Buddha. 

Hitungan primbon Jawa di masa itu, kemungkinan besar, mendapatkan pengaruh matematis dari ajaran Hindhu-Buddha. Bisa diamati pada kepercayaan terhadap syarat dan prasyarat pembentukan mandala, istilah penamaan waktu tertentu, siklus windu, saka, dan lain sebagainya. Atas dasar bukti-bukti arkeologis berupa candi-candi yang tersebar, mustahil primbon belum eksis.

Ketika Islam masuk, dan agama Samawi lainnya masuk, primbon yang sebelumnya memuat unsur-unsur Hindhu-Buddha secara dominan, mengalami distorsi.

Berdasarkan hasil pembacaan Ki Bawol terhadap Serat Walisana, ternyata ada narasi yang menyatakan bahwa para walisongo memiliki peranan khusus dalam hal mendistorsi primbon dari masa pra-Islam. Tokoh kunci yang memberi peran adalah Sunan Giri dan Sunan Kalijaga.

Istilah-istilah yang kental nuansa magis Hindhu-Buddha diganti dengan istilah yang berasal dari ajaran Islam, konsepsi kepercayaan terhadap dewa-dewa diubah dengan konsepei kepercayaan Islam terhadap para nabi, rasul, dan malaikat, lalu rapalan mantra yang sebelumnya kental dengan nuansa Hindhu-Buddha dipindahkan ke ayat-ayat suci Islam.

Serat Walisana, Tanaya. Sumber gambar: Sastra.org

Hasil pembacaan Ki Bawol pada teks Serat Walisana masih perlu didiskusikan lebih panjang. Soal kebenarannya seperti apa, belum dapat dipastikan. Hanya saja, jika memang Walisongo mengambil peran dalam pendistorsian primbon, maka tidak dapat dipungkiri bahwa para Walisongo adalah kumpulan  intelektual yang luar biasa.

Primbon yang diterima masyarakat Jawa hari ini, besar kemungkinan merupakan primbon Jawa yang telah mengalami distorsi. Pergantian kepercayaan secara massif di pulau Jawa tentu berdampak pada konsep primbon itu sendiri. 

Kondisi Alam Primbon

Primbon diduga merupakan kumpulan dari pengalaman dan amatan leluhur terhadap apapun yang ada di sekitarnya, termasuk alam. Bahkan, alam menjadi kunci utama dari penyusunan primbon dan instrumen mutlak yang harus selalu ada di dalam primbon.

Ketika menyadari bahwa primbon merupakan hasil simpanan yang berasal dari ratusan tahun lalu, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah primbon yang sampai pada masyarakat hari ini masih relevan untuk digunakan? 

Khususnya pada hitungan pranata mangsa yang harus berhadapan dengan kondisi alam yang makin tidak menentu, dan juga termasuk kontroversi tentang rasi bintang ke-13.

Apabila primbon adalah hasil ingatan leluhur, bagaimana transfer yang terjadi antar leluhur di masa itu? Bukankah jika terdapat peristiwa alam yang memengaruhi primbon, maka diperlukan suatu revisi?

Apakah primbon yang kita terima saat ini adalah hasil final atau masih harus tetap diolah sesuai kondisi alam yang sedang terjadi?

Tentu saja banyak di antara masyarakat Jawa hari ini yang meyakini bahwa primbon yang diterima adalah primbon yang final dan mutlak.

Akan tetapi, mempertimbangkan proses penyusunan primbon yang begitu panjang dengan berbagai perubahan kondisi alam yang mengiringinya, bukankah lebih masuk akal jika menganggap bahwa primbon merupakan almanak dinamis, yang harus senantiasa disesuaikan terhadap kondisi?

Proses Menyusun Primbon

Agak kurang meyakinkan memang bahwa primbon ditulis oleh satu orang individu saja. Saat menyebut tentang primbon sebagai peninggalan leluhur, ada baiknya menyebutnya sebagai peninggalan dari para leluhur, bukan leluhur saja.

Detail yang begitu renik dengan berbagai syarat dan prasyarat yang dimiliki kemungkinan merupakan sebuah catatan yang terus digarap selama berabad lamanya. Ada kerja tim dalam penyusunan primbon, entah secara disengaja ataupun tidak.

Primbon menjadi bukti tentang pengetahuan manusia Jawa yang terwariskan melalui lisan yang kemudian mengalami transformasi dalam bentuk teks. 

Mekanisme penyusunan primbon bisa saja dikerjakan di bawah naungan lembaga atau Kraton yang berkuasa, sebuah kumpulan keagamaan tertentu, dan kerja independen.

Melihat bagaimana primbon tersebar luas dan teknis yang demikian rumit, tidak berlebihan bila menganggap primbon kemungkinan besar disusun di bawah naungan kelembagaan tertentu, baik pemerintah maupun keagamaan.

Konon, kata Mas Galih, primbon yang kita terima hari ini adalah primbon hasil kerja intelektual para Orang Pintar di masa Sultan Agung. Mereka dikumpulkan dalam satu forum lalu berdiskusi terkait transformasi primbon dengan segala penyesuaian yang diperlukan.

Dugaan tersebut ada benarnya, apa lagi jika mengingat bahwa di masa Sultan Agung penanggalan Jawa yang sebelumnya tersusun dengan Saka mengalami konversi dengan penanggalan yang bercorak Islam. Konversi dan perbaikan yang dikerjakan tim Sultan Agung tepatnya dimulai pada tahun 1555 Saka atau tahun 1663 Masehi.

Seperti apa pekerjaan mereka belum bisa dipastikan. Mungkin saja proses kerja yang dilakukan dikerjakan secara per-bagian dari setiap primbon. Setiap orang mendapat tanggung jawab untuk mengerjakan satu atau beberapa pakem hitungan primbon yang kemudian dikumpulkan dalam satu catatan.

Para leluhur yang menyusun primbon secara kolektif lintas generasi kiranya dapat dibagi menjadi dua: Leluhur penyusun primbon di masa pra-Islam dan leluhur penyusun primbon di masa Islam. Keduanya jelas merupakan para leluhur yang memiliki cukup pengetahuan terhadap kondisi alam, konsepsi agama, kondisi politik, dan matematika.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *