Kami para blogger berkumpul di Online Gathering yang diadakan Hutan Itu Indonesia dan Blogger Perempuan Network. Pertemuan tersebut memberi pencerahan pada kami untuk menentukan langkah adopsi hutan selanjutnya

Kami dihadapkan pada sebuah paradoks. Tiga hari sebelum RUU Omnibus Law disahkan, tepatnya 02 Oktober 2020, kami berkumpul dalam forum online via Zoom, membicarakan dan saling bercerita tentang kemegahan hutan Indonesia.

Pertemuan itu diinisiasi oleh organisasi Hutan itu Indonesia dan Blogger Perempuan. Tentu pertemuan itu meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Dikatakan ‘cukup’ karena kami harus merelakan bersua melalui layar gawai.

Lantas, apa dua persoalan besar itu? Tidak lain sebuah gerakan Adopsi Hutan yang digalakkan Hutan itu Indonesia harus berhadapan langsung dengan RUU Omnibus Law yang mengancam kelangsungan lingkungan hidup, terutama hutan.

Persoalannya adalah, RUU yang memberi kerentanan pada hutan tersebut terang-terangan diresmikan sesudah pemerintah menetapkan Hari Hutan Indonesia. 

Saya pribadi bertanya-tanya. Sebenarnya ke mana arah penjagaan hutan yang sedang kami upayakan melalui kampanye tulisan ini? Apakah akan memberi arti?

Apakah tulisan-tulisan kami tentang hutan yang nantinya terkumpul mampu menekan laju perusakan lingkungan hutan dan masyarakat sekitar hutan?

Jujur saja, kami belum tahu. Mustahil kami tahu betul hasil perjuangan kami dalam kurun waktu yang singkat.

Bahkan, sebelum memutuskan mengikuti Lomba Penulisan Blog Hutan Itu Indonesia, saya sendiri terjebak dilema, selain faktor ragu karena pertama kali mengikuti lomba blog, yakni saya sungguh tertimpa kebingungan apakah tulisan yang saya buat nanti memang dapat melahirkan sebuah aksi nyata bagi pembacanya.

Sumber gambar: Hutan Itu Indonesia

Tentu saya tidak mampu mengharapkan sesuatu yang lebih. Saya tidak memiliki harapan bahwa setelah seseorang membaca tulisan saya, orang itu langsung bergerak menjalankan program Adopsi Hutan. Namun untungnya saya masih memegang piwelinge bapak, yaitu:

sing penting jajal dhisik, aja wedi njajal

Terjemahannya, “yang penting coba dulu, jangan takut mencoba” Karenanya, saya putuskan untuk ikut lomba penulisan blog Hutan Itu Indonesia. Kalah menang urusannya kehendak Tuhan.

Selanjutnya saya mencoba mencari akhir dari pertentangan batin antara RUU Omnibus Law terhadap kaitannya dengan program Adopsi Pohon. Caranya dengan mengikuti Online Gathering tentang Hutan yang diadakan Hutan Itu Indonesia dan Blogger Perempuan Network pada 02 Oktober 2020

Mengikuti Online Gathering Hutan Itu Indonesia & Blogger Perempuan Network

Selang kurang lebih tiga minggu setelah menyetor tulisan blog di Jawasastra, saya mendapat undangan via email untuk mengikuti Online Gathering yang diadakan Hutan Itu Indonesia dan Blogger Perempuan Network melalui Zoom. 

Sebelum mengikuti Online Gathering tersebut saya sudah bersiap diri. Berniat mencari jawaban atas paradoks yang saya hadapi. Setidaknya menemukan satu titik petunjuk menuju jalan keluar.

Tentu saja melalui informasi-informasi yang diperdengarkan pada Online Gathering itu dalam kurun waktu sekitar lebih dari dua jam.

Online Gathering Hutan Itu Indonesia dapat disimak di channel Youtube Hutan Itu Indonesia

Mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Harapannya, saya dapat menemukan pada sisi mana saya berpihak dan meyakini bahwa keberpihakan itu tidaklah sia-sia.

Online Gathering dipandu oleh Rian Ibram. Menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Irham Hudaya Yunardi (Forum Konservasi Leuser) dan Setya Winnie (Influence Blogger).

Acara dimulai dengan dialog pembuka antara Rian Ibram dengan Mas Tian dari Hutan Itu Indonesia.

Setelah perbincangan dengan Mas Tian, Online Gathering diteruskan dengan pemaparan yang disampaikan oleh Mas Irham dan Mbak Winnie. Dua pemaparan yang memang sangar.

Mas Irham. Screenshoot pribadi

Mas Irham mengisahkan sepak terjangnya bersama Forum Konservasi Leuser untuk mengawal keberlangsungan hidup hutan Leuser, sedangkan Mbak Winnie menceritakan pengalamannya dan kesehariannya saat memperjuangkan hutan bersama masyarakat Desa Ketambe, Aceh.

Peserta yang tergabung dalam Online Gathering ada tiga puluhan orang. Ketigapuluh orang tersebut, kata Mas Rian Ibram, adalah para blogger terpilih.

Sebab ada seratusan peserta penulisan blog yang ikut serta. Namun, hanya tigapuluhan orang blogger yang diundang ikut Online Gathering.

Tidak hanya pemaparan dan dialog dengan narasumber, Online Gathering yang diadakan Hutan Itu Indonesia dan Blogger Perempuan Network juga diselipi dengan forum tanya jawab dan kuis yang sangat menarik. Kuis yang menguji seberapa paham kami atas hutan Indonesia.

Presentasi yang disampaikan Mbak Winnie. Screenshoot pribadi

Selama hampir dua jam, saya menikmati Online Gathering tersebut. Meski tempat saya berada dipenuhi oleh teriakan anak kecil yang berlarian karena main polisi-polisian, saya mendapatkan cukup banyak informasi berharga yang menuntun saya menemukan jawaban atas persoalan antara program Adopsi Hutan yang berbenturan dengan Omnibus Law.

Informasi Kunci

Membayangkan luas hutan menggunakan hitungan angka bagi saya memang menyulitkan. Untungnya Mas Tian memberi gambaran yang sangat mudah diterima untuk membayangkan seberapa luas hutan Indonesia.

Mas Tian mengatakan bahwa luas total hutan Indonesia setara dengan empat kali ukuran wilayah  negara Jepang.

Pernyataan yang disampaikan Mas Tian membuat saya lebih mudah memahami alasan kenapa hutan Indonesia merupakan hutan paling besar di dunia setelah Brazil dan Kongo.

Ukuran hutan menjadi kunci kemegahan hutan Indonesia. Sayangnya, hutan Indonesia yang sedemikian luas senantiasa berkurang tiap tahunnya. Lalu, bagaimana jadinya luas hutan Indonesia nanti setelah Omnibus Law diberlakukan?

Tidak sekadar pernyataan ukuran luas hutan yang membuat saya tercengang. Fakta penting lainnya yang disampaikan Mas Tian adalah bahwa tingkat deforestasi pada masa pandemi Covid-19 hampir tidak mengalami penurunan yang berarti.

Poster deforestasi. Sumber: Behance

“Para illegal logger memanfaatkan momentum pandemi ini untuk lebih leluasa meramban hutan, sebab aparat, penjaga hutan, Kementrian Kehutanan dan stakeholder hutan tingkat negara sedang fokus pada penyelesaian pandemi.” Kurang lebih seperti itu pernyataan Mas Tian.

Fakta yang diutarakan Mas Tian memaksa saya berpikir ulang. Bahwa ketika pandemi, memang tingkat polusi bumi berhasil diturunkan, namun hal itu tidak lantas selaras dengan tindak deforestasi yang ajeg dilakukan. Ya, ini fakta yang menyesakkan.

Sementara itu, untuk mengimbangi tingginya tingkat deforestasi, Hutan Itu Indonesia menjalankan program Adopsi Hutan, dulunya bernama Adopsi Pohon, sebagai sarana pengampanye dan pengumpulan donasi untuk masyarakat adat yang menjaga hutan.

Selain itu, program Adopsi Hutan, seperti yang diutarakan Mas Tian, memang tidak harus bersentuhan langsung dengan hutan, sebab tidak semua orang bertempat tinggal di dekat wilayah hutan.

Setelah menangkap informasi kunci di atas, saya putuskan untuk menunggu sejenak, mengendapkan informasi dan merelasikannya dengan persoalan Omnibus Law.

Saya tidak mengerti betul dampak Omnibus Law pada hutan, namun yang saya yakini Omnibus Law jelas jadi ancaman bagi keberlanjutan kehidupan hutan, di samping kehidupan buruh.

Akan tetapi ada satu hal pasti yang saya garisbawahi, bahwa menjaga hutan melalui program Adopsi Hutan dalam perannya untuk menurunkan tingkat kerusakan lingkungan adalah jalan paling efektif saat ini. Setidaknya dengan tulisan, kita bisa memberi bantuan pada kawan-kawan yang berjuang di jalan!

Sampai di sini saya putuskan untuk lebih aktif menulis lagi tentang lingkungan dan hutan. Saya memang tidak terlalu akrab dengan hutan, jarang keluar masuk hutan, dan bukan bagian dari kelompok pecinta alam. Yang saya punya adalah rasa cinta dan senang terhadap hutan. Tidak ada alasan lain. Cinta saja sudah lebih dari cukup.

Ke depannya, kami dan kita para penulis blog, kemungkinan besar akan semakin gencar mengunggahkan tulisan bertema ekologi. Era pertaruhan hutan dengan kepentingan politik dan ekonomi masih panjang terbentang.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)