Banyak sekali bunga yang disemai para pujangga di dalam karya sastranya. Bahkan dalam hidup sehari-hari, orang Jawa senantiasa mengagumi bunga

Bunga atau kembang merupakan wujud nyata dari nilai keindahan atau adiluhung. Secara fisik, dari daun, kuncup, tangkai, hingga kepala putik maupun proses perkembangan bunga itu sendiri memiliki dimensi keindahan dan estetika.

Selain itu, bunga memiliki bau wangi yang diterima indera penciuman menimbulkan nuansa-nuansa perasaan tertentu. Maka, dalam kebudayaan Jawa, kembang memiliki nilai tersendiri karena memiliki makna yang penting dalam sisi spiritual, moral, maupun keindahan itu sendiri.

Secara bahasa, kembang atau bunga memiliki beberapa padanan kata seperti sekar, puspa, puspita, kusuma, dan sebagainya. Kembang juga ditemukan dalam bahasa Jawa Kuno dan memiliki sinonim sama dengan kambang (Zoetmulder dan Robson, 2006: 486).

Semua kata tersebut memiliki makna denotatif yang disebut dengan bunga. Ada beberapa kata/frasa yang muncul dari istilah tersebut, misalnya kusuma bangsa, kusuma negara, sekar sumawur, dan sebagainya

Dalam karya sastra Jawa Kuno, kita bisa mengetahui bagaimana kedudukan bunga memiliki arti yang sangat penting. Dalam Kakawin Sumanasāntaka misalnya, Mpu Monaguna menulis bagaimana kisah kehidupan Pangeran Aja dan Indumati dalam mengarungi kehidupannya sebagai reinkarnasi masa lalu hingga Indumati menemui ajal karena Bunga Sumanas (bunga dewa) yang dijatuhkan oleh Dewa Kama.

Dalam hal ini, menurut Kriswanto (2015), ada pesan khusus yang ingin disampaikan oleh Mpu Monaguna sebagai pelajaran kehidupan bagi para pembacanya. Hal tersebut disebutkan dalam pupuh terakhir.

dīrghayuṣya janapriyā sang amacâmahiḍêpakêna sang harêp wruha

Semoga pembaca dikaruniai umur panjang dan dicintai sesama, dan semoga dapat membuat mereka yang ingin memahami jadi memerhatikan.

Dalam karya sastra lain, sekar merupakan penyebutan lain dari tembang maupun gending. Zoetmulder juga mencatat bahwa kata kembaŋ juga memiliki kata turunan aŋembaŋ yang bermakna memuja dengan bunga. Dalam pemujaan ini, biasanya memiliki keterikatan dengan guru maupun laghu.

Kita bisa mengamati dalam sekar ageng adanya irama-irama baku dalam pembacaannya. Kosakata aŋembaŋ dimungkinkan berubah menjadi anembang atau tembang.

Dalam kesusastraan berbentuk tembang macapat, kita mengenal satu nama tembang yakni Maskumambang yang dimungkinkan berasal dari kata mas dan kambang yang mendapatkan sisipan -um-.

Dalam cakepan atau lirik lagu misalnya, dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwana V dalam pupuh Gambuh disebutkan kalimat sekar gambuh ping catur dan pada pupuh Pangkur disebutkan kang sekar pangkur winarna.

Penyebutan sekar sebagai tembang tidak hanya ada dalam kebudayaan Jawa saja. I Ketut Jirnaya (2016) mengutip dari I GB. Sugriwa bahwa dalam sastra Bali, sekar juga dimaknai sebagai tembang. Ada sekar ageng yang sederajat dengan kakawin, sekar madia yang sebanding dengan kidung, sekar alit/macapat yang sederajat dengan pupuh, serta gegendingan atau dalam budaya Jawa disebut tembang dolanan.

Ada beberapa judul gending yang menggunakan sinonim sekar, misalnya Gendhing Kusumastuti, Gendhing Puspanjali, Gendhing Puspawarna, dan sebagainya. Dalam hal spiritual, sebagaimana disebutkan dalam Sastra Gending karya Sultan Agung Hanyakrakusuma, dijelaskan bahwa tembang, gita, gendhing, dan sebagainya merupakan sebuah perumpamaan menemukan rasa dalam sebuah peribadatan sebagaimana menemukan rasa dalam menikmati gendhing, gita, tembang, dan sebagainya.

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh I Ketut Jirnaya bahwa dalam menyanyikan gita, apabila ditembangkan dengan nada yang tepat dan vokal yang baik akan menimbulkan suasana hati sebagai pengaruh emosi.

Dalam sastra Jawa mutakhir ini, perkembangan gita lebih mengarah pada geguritan. Geguritan klasik memiliki susunan yang dianggap pakem, mulai dari suku kata sampai vokal akhir tiap kalimat. Padmosoekotjo menjelaskan bahwa geguritan atau guritan berarti kidung atau tembang.

Selain itu, Teeuw menjelaskan bahwa dalam puisi lama bukan hanya sekadar kata biasa, tetapi dalam kata kata tersebut bersifat magis. (Prabowo dkk, 2002: 2).  Walaupun pada saat ini perkembangan geguritan lebih mengarah kepada puisi bebas dan bersifat modern, ada juga yang masih berpaku pada konvensi-konvensi bahasa yang ketat. Hal ini disebutkan oleh Padmosoekotjo sebagai tembang dolanan.

Kembang atau bunga pada prinsipnya adalah simbol estetika yang memiliki nilai dan ajaran moral. Kedudukan sekar atau tembang dalam kesusastraan Jawa maupun sastra daerah lain memiliki nilai yang sama dalam spiritual maupun nilai moral. Hal ini nampak pada beberapa karya sastra kuno maupun sastra mutakhir.

Dari telaah ini kita bisa mengetahui bahwa kedudukan kembang tidak hanya sebatas bunga secara fisik seperti mawar, melati, kantil, dan sebagainya, yang dijumpai pada ritual-ritual tertentu. Tetapi, kembang atau sekar juga memiliki nilai moral spiritual dalam setiap karya sastra.

Daftar Pustaka

  • Jirnaya, IK. (2016). Kembang dalam Balutan Tradisi dan Budaya di Bali. Materi Diskusi BKS Pengelolaan Sastra daerah di UNS Surakarta, 18-20 September 2020
  • Prabowo, dkk. (2002). Geguritan Tradisional dalam Sastra Jawa. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
  • Zoetmulder, Robson. (2006). Kamus Jawa Kuna-Indonesia (Terjemahan Darusuprapta & Sumarti Suprayitna). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Nur Rokhim
Latest posts by Nur Rokhim (see all)