Curhat Pawukon 1 – Watugunung dan Moralitas Cinta4 min read

Budayawan Sudjiwo Tejo punya quotes yang begitu melekat di batin cah enom kurang lebih begini quotes-nya, “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.”.

Pancen benar apa yang dibilang Sudjiwo Tejo, bukankah semata takdir yang menentukan nasib Prabu Watugunung untuk menikahi ibu sendiri?

Lagi pula, sekuat apapun Oedipus mengubah nasibnya agar tidak menikahi ibunya sendiri, takdir Dewa tetap menyeretnya mejalani perkawinan terlarang.

Jean Couteau (2010) dalam tulisannya “Memaknai Watugunung dan Oedipus Sang Raja sebagai Mitos tentang waktu yang Melampaui Waktu” memberi ulasan menarik mengenai kisah Watugunung dan perbandingannya dengan drama tragis Oedipus.

Menurut Jean Couteau, dua kisah cinta inses tersebut, Watugunung dan Oedipus, menyimbolkan alam pikir peradaban Timur dengan Barat.

Kisah Watugunung menunjukkan kesadaran sekaligus penerimaan atas eksistensi yang lebih berkuasa daripada manusia, sedangkan Oedipus menyajikan kisah seorang manusia yang tetap teguh menentang takdir ‘Dewa’ meski harus berakhir tragis karena menganggap jalan hidup yang ditempuhnya tidak masuk akal sehigga memutuskan untuk membutakan diri.

Cinta antara anak laki-laki dengan ibunya sendiri cukup banyak tersebar. Di Nusantara terdapat kisah Sangkuriang dari Tatar Sunda dan Bujang Munang di Kalimantan Barat.

Kata A. Nugroho (1987) di dalam tulisannya “Cerita Tipe Oedipus dalam Sastra Nusantara” kisah cinta antara anak laki-laki dengan ibu sendiri muncul karena secara psikologis hubungan anak lelaki dengan ibunya sediri kiranya memang lebih erat dibandingkan hubungan cinta yang lain.

Ketika seorang anak laki-laki sudah beranjak dewasa, untuk mencari seorang istri preferensi yang dipakai adalah sosok sang ibu.

Contohnya di dalam kisah Kamandaka, Raden Banyakcatra hanya mau menikah dengan seorang wanita yang seperti ibunya. Takkira cah lanang saiki ya akeh sing kaya ngono.

Mencintai, dalam arti sebagai pasangan, pada seorang wanita yang seperti ibu memang tidak masalah. Namun akan jadi masalah kalau mencintai ibu sendiri dengan memosisikannya sebagai pasangan.

Donya iki ora seimajinatif JAV HD!

Moral Cinta

Cerita dari Watugunung dan cerita lain sejenis menunjukkan bahwa cinta memang terbukti urusan takdir. Bahkan ketika takdir memutuskan Watugunung dan Oedipus menikah dengan ibu sendiri, mereka tak kuasa melawan balik takdir.

Jean Couteau mengatakan bahwa cerita Watugunung menjadi titik balik bagi manusia untuk menjadi lebih beradab, sebab di dalam cerita Watugunung, sebelum akhirnya dia mati, dunia dipenuhi oleh kekacauan hierarki baik dalam masyarakat maupun keluarga.

Sebelum Watugunung mati, lelaki dengan sesukanya memerkosa wanita, bahkan tanpa peduli asal-usul menikah degan seorang wanita yang tabu untuk dinikahi, yaitu ibunya sendiri.

Ilustrasi Watugunung saat masih kecil. Sumber gambar: Harian Merapi

Bukan hanya menikahi ibu sendiri, untuk menikahi ibunya sendiri bahkan Watugunung harus melewati takdir membunuh ayahnya sendiri. Betapa tragis takdir Watugunung.

Apakah Watugunung yang menikahi ibunya sendiri bisa dicap bahwa cinta yang dia miliki adalah cinta yang tidak punya moral? Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk Oedipus dan kisah lainnya.

Kiranya pertanyaan di atas tidak relevan. Bukankah sudah disebutkan di atas, dengan mengutip Sudjiwo Tejo, bahwa cinta adalah takdir? Apabila cinta adalah takdir, maka sudah dapat dipastikan bahwa ada Dzat yang memutuskan itu. Lantas bagaimana dengan moral?

Moral tidak sebebas cinta. Moral terbangun oleh kesadaran manusia atas lingkungan dan peradaban pada tempat sekaligus waktu ketika sekelompok manusia hidup.

Pemikiran masyarakat, lingkungan, adat, dan budaya membentuk moralitas bagi kelompok manusia tertentu, dan kelompok manusia terikat pada hal itu sepanjang hidupnya.

Bisa saja seandainya ada manusia yang memberontak pada moralitas yang sebenarnya juga ia pahami, tapi dengan berani harus menerima konsekuensi.

Moral ditetapkan dan disepakati. Ketika Dzat sudah memainkan ‘takdir’ dalam urusan cinta, maka bukan hal yang tidak mungkin bagi manusia untuk menerabas moralitas yang sebelumnya telah dilekatkan pada cinta.

Pemikiran ini jangan disamakan dengan romantika cinta dulur LGBT. Tulisan ini berpijak pada kisah cinta inses, bukan kisah cinta sejenis. Lagi pula, belum ada cerita dari masa lalu yang mengisahkan tentang LGBT kecuali ceritanya kaum Nabi Luth.

Moral dan cinta jelas berbeda. Moralitas lahir dari kesepakatan sementara cinta ‘dipaksakan’ oleh takdir. Jika memakai ukuran cinta, tidak ada yang namanya cinta bermoral. Sebaliknya, jika pakai ukuran moral, cinta itu dikenai batasan oleh norma-norma dan tidak bisa sesukanya.

Untuk menghilangkan batas antara moral dengan cinta, maka dibuatlah karya sastra.

Watugunung tidak salah apabila di perjalanan hidupnya dia ternyata menikahi ibunya sendiri, sebab dia baru menyadari fakta tersebut ketika terbunuh oleh Bathara Wisnu setelah kalah dalam permainan tebak-tebakan.

Wit adhakah woh adhikih apa, wit adhikih woh adhakah apa? Begitu pertanyaan Bathara Wisnu.

Apa maksud pertanyaan itu, dan kenapa pertanyaan itu yang diajukan oleh Watugunung sewaktu beradu tebakan melawann Bathawa Wisnu?

Bersambung…

Gombalamoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *