Hari Bumi Udan Salah Mangsa Manungsa Salah Maca6 min read

Manusia memiliki kebiasaan untuk mempersonifikasikan segala hal yang bukan manusia. Misalnya masyarakat Jawa menganggap Bumi adalah Dewi Pertiwi, dan flora-fauna yang mendiami adalah Dewi Tisnawati.

Kebiasaan untuk mempersonifikasi ini telah terjadi sejak dulu. Berbagai kebudayaan dan peradaban kuna manusia di tiap suatu wilayah pasti mempunyai konsepsi semacam ini. Ketika berhadapan dengan entitas di luar pemahaman, manusia berusaha memahami entitas itu dengan ‘memanusiakannya’.

Salah satu entitas yang sulit dipahami manusia selain Tuhan adalah alam semesta, termasuk di dalamnya adalah Bumi. Oleh karenanya dalam ajaran Hindhu, Bumi lekat dengan sosok Dewi Pertiwi. Pemahaman tentang Bumi sebagai Dewi Pertiwi dari ajaran Hindhu tersebut kemudian menyebar hingga ke Nusantara.

Terdapat Dewi lain yang juga berperan penting untuk eksistensi isi Dewi Pertiwi, yakni Dewi Tisnawati. Di dalam Serat Purwakandha Brantakusuman, dijelaskan bahwa Dewi Tisnawati merupakan muasal dari berbagai tumbuhan:

Sumber Gambar: Gaia

…layone dyah Tisnawati,

pinager pacak suji,

sareng mangsa wiji cukul,

kang medal sangking sirah,

cukul kalapa ing perji,

cukul nrucuk samana nulya pinencar…

(Serat Purwakandha Brantakusuman)

Jenazah Dewi Tisnawati yang ditanam di bumi (kendhayana) menumbuhkan berbagai vegetasi. Dari kepalanya tumbung kelapa, dari payudara tumbuh pala gantung, dari jagungnya tumbuh tanaman jagung, dari matanya tumbuh tanaman padi, dst (Luwiyanto, 2018: 265). Singkatnya, Dewi Tisnawati bisa dikatakan sebagai anak asuh Dewi Pertiwi

Meninjau dari cerita tentang Dewi Tisnawati tersebut, dapat dibayangkan bahwa sepanjang kita hidup, kita seharusnya sedang dalam upaya ‘merawat’ peninggalan Dewi Tisnawati agar Dewi Pertiwi tidak murka.

Sayangnya setelah berjuta tahun kemunculannya, Dewi Pertiwi dan Dewi Tisnawati saat ini berada dalam kondisi sakit. Ironisnya, sakit yang dialami Dewi Tisnawati dan Dewi Pertiwi dipicu ‘hanya’ karena Revolusi Industri 261 tahun yang lalu.

Miliaran tahun yang dilalui Dewi Pertiwi dan jutaan tahun yang dilewati Dewi Tisnawati berakhir hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga abad!

Kuburan Orang Suci

Hari Bumi telah tiba, tepat pada tanggal 22 April 2021 kita merayakan Hari Bumi yang ke 51. Kita merayakan kesadaran betapa pentingnya bumi saat kita mengetahui fakta bahwa kita sedang berada di dalam mimpi buruk deforestasi dan polusi.

Masyarakat Nusantara yang dulunya menyandarkan hidup pada aktifitas di alam secara langsung, kini telah beralih pada aktifitas-aktifitas yang justru merusak alam, sehingga Dewi Pertiwi melakukan berbagai penyesuaian untuk mengimbangi aktifitas manusia.

Mulai dari meregang-membuka tanah, menelungkupkan tebing-tebing, hingga mendinginkan dirinya sendiri dengan menaikkan air laut.

Apabila peradaban manusia hanya perlu waktu kurang dari tiga abad untuk menyakiti Dewi Pertiwi dan Dewi Tisnawati, kedua dewi itu dengan rendah hati mengingatkan manusia hanya dalam waktu kurang dari seabad.

Boleh dibilang saat ini Dewi Pertiwi dan Dewi Tisnawati sedang mutung pada manusia. Saat ini, NASA telah mencatat bagaimana mereka mutung, temperatur bumi yang mencapai angka 2,1 F/tahun, kenaikan air laut yang menginjak 3,3 mm/tahun, hingga kepekatan jumlah emisi gas yang sebesar 416 juta kubik/tahun.

Dewi Pertiwi (bumi) dan Dewi Tisnawati yang telah dibuat mutung, bereaksi dengan melakukan berbagai hajat alam:

Masyarakat Jawa, dengan berpedoman pada Jangka Jayabaya, menggambarkan kondisi bumi yang dijaga oleh Dewi Pertiwi saat ini dengan istilah udan salah mangsa (hujan salah musim).

Udan salah mangsa merupakan salah satu cara mengidentifikasi berbagai anomali yang dialami bumi. Sebuah kondisi fluktiatif dari bumi yang baik-baik saja menjadi bumi yang sakit secara perlahan.

Bumi yang sakit bisa dibilang sedang dalam transisi, oleh karenanya disebut perubahan iklim. Bagi bumi, khususnya bagi Dewi Pertiwi, perubahan iklim bukan suatu hal yang luar biasa.

Sejak jutaan tahun yang lalu, sudah berjuta kali pula Dewi Pertiwi melakukan berbagai perubahan iklim hingga sampai pada tahap dirinya dapat didiami Dewi Tisnawati dan segala khalifah-Nya.

Akan tetapi, bagi manusia modern hari ini, yang kebanyakan lemah secara mental dan fisik, jelas kalang kabut menghadapi perubahan iklim atau udan salah mangsa yang terjadi.

Udan salah mangsa yang tertera dalam Jangka Jayabaya juga termasuk dalam nubuat menjelang datangnya kiamat. Di dalam Serat Kabar Kiyamat dijelaskan beberapa kondisi bumi yang dirusak manusia.

Dhumawuh gaibing swara,

eh bumi mengaa aglis,

si kapir kang arsa ngrusak,

iya maring kubur nabi,

sira uleten sami,

bumi beledhok amenga sampun,

wus belong sakiderira,

angideri sekeh kapir,

sami kalebu si kapir ngandhape pertala

(Kabar Kiyamat, Pupuh II)

Terjemahan:

Suara gaib terdengar memberi perintah,

“Hai bumi membukalah segera!

Telanlah si kafir semua yang tengah

hendak merusak makam nabi.”

Bumi meiedak dan membuka.

Tanah merekah dan sekonyong- konyong

mengepung orang-orang kafir dan

iangsung memerosokkan mereka ke perut bumi.

(Kabar Kiyamat, Pupuh II)

Bumi merupakan tempat tinggal para orang suci (nabi, rasul, resi, pendeta, dst). Kata wong kapir (orang kafir), merujuk pada mereka yang merusak bumi secara sengaja.

Oleh karenanya, swara ghaib (Tuhan), memerintahkan bumi agar menelan semua orang yang telah merusak alam. Pertanyaannya, apakah kita masuk dalam golongan orang-orang perusak alam? Bila iya, maka celakalah kita.

Sebab merusak alam berarti merusak kuburan orang suci.

Gombalamoh

Prasangka

Udan salah mangsa bukan sekadar jatuhnya hujan di musim panas atau hawa panas panjang di musim hujan. Bukan sebatas urusan cuaca yang terbalik, lebih dari itu, udan salah mangsa juga merujuk pada manusianya.

Udan salah mangsa pada manusia adalah ketika manungsa salah maca. Terhadap alam, manusia memiliki pengertiannya sendiri, dan percaya bahwa pengertiannya adalah benar. Manungsa salah maca terjadi akibat manusia hari ini yang cenderung berjarak dengan alam.

Ketika ego tafsir tentang manusia sebagai khalifah diimplementasikan ke dalam berbagai aksi eksploitasi bumi.

The dawn of the industrial era has harmed nature and its resources which were randomly exploited for many decades without restoring the earth to its natural state

Nature has been exploited in order to meet the demands for material needs of the people and to make money. These actions are said to be the major reasons for the worsening of environmental pollution

KP BHATTACHARJEE
Sumber gambar: Pikiran Rakyat

Dalam kasus udan salah mangsa, banyak sekali orang Jawa yang tahu unen-unen ini. Di pasar mereka mengeluh, “wingi takkira panas jebule udan, malah panenku terancam, pancen udan salah mangsa.” Ketika tahlilan mereka juga sambat, “mangsane udan kok panas terus nek awan? Apa ngene iki udan salah mangsa” dst.

Mereka tahu, kita tahu, kalau bumi berada dalam kondisi udan salah mangsa. Tapi kita hanya sekadar tahu tanpa melakukan tindakan yang berarti sama sekali.

Bayangkan saja sebuah adegan saat kita sambat “Kok cuacane kaya ngene saiki? Apa iki udan salah mangsa?” sembari melempar botol plastik di bawah pohon randu. Rak lucu ngono kuwi.

Judith Gradowhl & Russel Greenberg (1991) dalam “Menyelamatkan Hutan Tropika” beranggapan bahwa orang Jawa memercayai dirinya merupakan bagian dari lingkungan, dan setiap kerusakan lingkungan akan memberi dampak buruk.

Sayangnya, anggapan tersebut hari ini menjadi kurang tepat, sebab orang Jawa salah maca mangsa karena kesadaran terhadap lingkungan berakhir hanya dalam gagasan yang tanpa tindakan.

Kondisi pulau Jawa yang terancam air di tahun 2040 menunjukkan bahwa ‘peradaban alam’ di Jawa tidak lebih baik dibandingkan ‘peradaban alam’ di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan pulau lainnya.

Referensi Bacaan

  • Dewabrata, Teguh, 2002, Kabar Kiyamat: Teks Eskatologi Islam, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta
  • Gradwohl, Judith & Russel Greenberg, 1991, terj. Hira Jhamtani, Menyelamatkan Hutan Tropika, Yayasan Obor Indonesia: Jakarta
  • Luwiyanto, 2018, Mitos Adanya Beraneka Jenis Flora dan Fauna di Bumi menurut Serat Purwakandha Brantakusuman, SEMINAR NASIONAL BAHASA, SASTRA DAERAH, DAN PEMBELAJARANNYA (SN-BSDP) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH FPBS – UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
Gombalamoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *