Isyarat Sengkalan Mimpi Api8 min read

Saya punya dulur, sebut saja namanya Ki Bawol, usianya masih terbilang muda tapi punya kemampuan, passion, atau katuranggan tentang hitungan Jawa yang sudah banyak ditinggalkan anak muda seusia kita, jadi saya kasih hormat dan meng-endorse-nya sebagai Ki.

Pekerjaannya sehari-hari adalah cowboy (anak sapi: maksudnya angon sapi). Setiap pagi menyiapkan sarapan dan minum sapi, kalau siang nimpali têlék, dan ketika sore dia ngarit atau cari rumput di tepi Kali Progo untuk beri makan sapi esok hari.

Pada suatu malam kami terlibat pembicaraan panjang mengenai ‘rahasia alam’ dan cara manusia berusaha memahami alam. Salah satu caranya adalah menggunakan sengkalan (hitungan tahun menurut budaya Jawa).

Sengkalan tidak ditulis menggunakan angka atau bilangan numerik, tetapi menggunakan kata sehingga membentuk kalimat.

Setiap benda, peristiwa, sifat, watak, dan segala macam objek, dipercaya mewakili angka tertentu. Akan saya jelaskan sedikit. Untuk informasi lebih lengkap mengenai ini silahkan dibaca di Sarine Basa Jawa (1967), Padmasukaca.

Misal kata ‘Hyang’, ‘Tuhan’, ‘Bumi’, ‘Dewa’, dan ‘Bantala’ bernilai satu (1), alasannya karena bagi masyarakat Jawa, Tuhan adalah satu, begitu juga bumi dan tanah (bantala), sehingga berangka satu.

Kemudian ‘tangan’, ‘sikil’, ‘nyembah’, dan ‘mlaku’ bernilai dua. Alasannya, tangan ada dua, begitu juga kaki (sikil). Menyembah berarti menggunakan tangan, sehingga artinya dua. Berjalan (mlaku) umumnya juga menggunakan dua kaki, sehingga berangka dua.

Terakhir kata ‘panas’, ‘geni’, ‘agni’ dan ‘api’ bernilai tiga (3). Kenapa dinilai tiga? Karena api, menurut saya, punya tiga fungsi yang bertingkat. Pertama, menghangatkan. Kedua, memanaskan. Ketiga, menghanguskan, sehingga api dengan segala sifatnya berarti angka 3.

Kata Ki Bawul, tahun 2020 kemarin, tahun Jawanya adalah 1953, merupakan tahun kelabang. Berdasarkan penafsirannya, buntut (angka terakhir) tiga di tahun 1953 menandakan banyaknya kejadian yang berhubungan dengan api.

Sumber: BBC

Jadi menurut Ki Bawul memang sudah ‘tepat menurut hitungan Tuhan’ kalau bakal banyak kebakaran dan bencana, termasuk di dalamnya adalah pandemi Covid-19.

Sementara itu, kelabang, menjadi simbol hewan yang mengisyaratkan bahwa hawa panas atau celaka akan berkepanjangan. Kelabang adalah hewan yang berhabitat di tempat lembab, ketika musim ketiga datang, dia akan keluar dari sarangnya.

Entah memang ada rumusnya atau bagaimana, tapi memang di tahun 2020 terjadi banyak kebakaran hutan dan lahan. BBC bahkan menyebut tahun 2020 sebagai tahun terburuk kebakaran hutan dan lahan di Indonesia semenjak 18 tahun terakhir.

Tentu saja kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada 2020 kemarin tidak semengerikan kebakaran tahun 1997/1998 seperti yang diulas Mark E Harrison, dkk (2009), dalam The Global Impact of Indonesian Forest Fires.

Apakah benar metode Ki Bawul yang menyatakan bahwa angka tahun mengisyaratkan peristiwa? Ya bisa saja benar, itu kan termasuk local knowledge. Tapi apakah tepat? Entahlah. Metode semacam itu perlu menelusuri tahun-tahun sebelumnya sebagai pembanding.

Hikayat Api dan Hutan

Mimpi punya banyak tafsir, termasuk mimpi yang berkaitan dengan api. Sebagai salah satu elemen, sama seperti elemen lainnya, api tidak ‘bersifat’ jahat. Bahkan di dalam Kakawin Kunjarakarna api, yang berupa perciknya, menjelma jadi mata dalam anatomi manusia.

Lalau bagaimana posisi api dalam peristiwa karhutla? Ya ndak dalam posisi apapun. Api tetaplah entitas ‘netral’, semacam ‘alat yang disengaja untuk ada’, serta beberapa diantaranya ‘terlembagakan’ untuk tujuan tertentu.

Api pada konteks karhutla sampai sekarang menjadi masalah. Bukan hanya masalah untuk Indonesia, melainkan untuk dunia. Adapun, masalahnya semakin besar ketika ada yang sengaja melakukan pembakaran!

Siapa kira-kira yang nolep banget sampai melakukan pembakaran? Ya kita semua punya jawaban sendiri-sendiri. Baiknya kita lihat saja salah satu hasil penelitian Bambang Heru Suharjo, dkk (2018), Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Komunitas Terdampak Asap.

 “Pengamatan pada citra satelit menunjukkan bahwa titik panas (hotspot) secara dominan dijumpai pada areal-areal perkebunan dan hutan tanaman industri. Hanya sebagian kecil titik panas tersebut yang ditemukan pada areal transmigrasi dan peladang berpindah (2018: 59)”

“Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan dan lahan lebih banyak disebabkan oleh kegiatan pembukaan lahan secara besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan dan kehutanan tanpa terkendali (2018: 59).”

Dari kutipan di atas, kira-kira siapa yang nolep lantas melakukan pembakaran? Ya, tersangkanya adalah perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri seperti sawit juga yang lainnya.

Bukannya tidak boleh membuka lahan, tapi yang jadi catatan adalah tindakan korporasi yang ‘tanpa terkendali’, sehingga pembakaran yang dilakukan melebihi ekspetasi ruang bakaran, yang awalnya misal untuk satu hektar eh kebablasen nambah sepuluh hektar!

Menariknya, kemarin tanggal 04 Juni 2021, ketika mengikuti rembug online bersama dulur-dulur Eco Blogger, Dedy P Sukmara selaku salah satu narasumber menyampaikan satu fakta bahwa kebakaran yang terjadi pada 2015 empat tahun berselang ada yang menyulapnya jadi perkebunan industri.

Online Gathering bersama dulur-dulur Eco Blogger Squad

Mewariskan Api

Membuka lahan dengan cara pembakaran hutan atau lahan di Indonesia ini soal mudah. Indonesia ini punya luasan 50% lahan gambut dunia, menempati urutan ke-4 negara dengan lahan gambut terbanyak.

Di bumi ini ada yang namanya lahan mineral dan lahan gambut. Lahan mineral kandungan organiknya sedikit, berbeda dengan lahan gambut yang kaya kandungan organik.

Lahan gambut punya fungsi yang baik ketika dalam kondisi sehat, dia mampu menampung air lebih dari 30% luasan yang dimiliki. Sifat alaminya, ketika hujan dia menampung, ketika musim ketiga kandungan air dilepaskan ke sekeliling.

Tapi kalau lahan gambut sedang dalam keadaan tidak sehat, akibat pembakaran hutan yang ngawur, maka lahan gambut bisa berubah menjadi semacam minyak gas karena mudah tersulut, mengingat kandungan CO lahan gambut juga besar.

Dulu, waktu masih dalam era kolonialisme Belanda, pembukaan hutan dan lahan besar-besaran terjadi di Jawa. Lepas dari kolonialisme Belanda, pindah Sumatra yang jadi target pembukaan lahan.

Sekarang, sepanjang tahun 2015-2019, menurut penelusuran yang sudah dilakukan Dedy P Sukmana dkk, pembukaan dan pembakaran lahan yang dulunya berkonsentrasi di wilayah Barat Indonesia bergeser ke wilayah Timur Indonesia. Targetnya Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Ya ini semacam kolonialisme pindah tangan saja.

Membakar hutan dan lahan ini bukan tanpa resiko. Pada sisi ekonomi selain merugikan negara dan masyarakat sekitar, ada dampak berlapis yang menyertai.

Dampak tersebut dapat berupa hilangnya tanah garapan masyarakat lokal, asap, polusi, perubahan iklim, hingga munculnya penyakit-penyakit seperti Covid-19.

Adanya hutan mencegah interaksi langsung antara satwa liar degan manusia. Kalau hutan dibabat, maka potensi interaksi manusia dengan satwa liar semakin intens.

Pada satwa liar terdapat banyak misteri yang belum terungkap, misalnya soal penyakit yang dibawa oleh mereka dan penyakit tersebut masih asing bagi manusia. Itulah yang terjadi sebelum adanya pandemi hari ini.

Kebakaran, atau lebih tepatnya pembakaran hutan, yang menjadikan kita dalam posisi saat ini.

Api yang membakar hutan dan lahan di Indonesia bukanlah mimpi. Apalagi banyak tafsir yang mengatakan kalau mimpi api adalah pertanda yang buruk.

Seandainya pembakaran hutan dan lahan terus terjadi, bukan tidak mungkin lho suk mben malah anak cucu kita yang makin kerap memimpikan api. Api yang menghabiskan seluruh hutan dan lahan di Nusantara.

Regulasi Api

Di daerah persawahan, setelah panen, biasanya ada ‘ritus’ obong-obong damen di tengah sawah. Tujuan pembakaran itu selain biar tidak jadi sampah juga untuk kesuburan tanah.

Tapi tindakan pembakaran damen tidak bisa disetarakan dengan pembakaran hutan dan lahan lho pastinya.

Apa yang kita bisa lakukan untuk menekan karhutla yang punya banyak season dan episode di Indonesia saat ini? Ya berdoa saja bisa berkurang. Berdoa saja ada satu tahun khusus di Indonesia yang sepanjang tahun hujan terus, meski doa ini kontradiksi sih.

Ini bukan pandangan skeptik yang meniadakan adanya aksi-aksi pembakaran. Kalau kata Gus Habibi, guru spiritual saya, menolak kezaliman dalam hati itu selemah-lemahnya penolakan. Tapi ya mau bagaimana lagi? Kebakaran hutan, eh pembakaran hutan, itu urusan VVIP lho, jangan salah sangka.

Apakah ada masyarakat yang tinggal di hutan dengan sengaja melakukan pembakaran hutan? Ya mungkin ada, khususnya masyarakat yang menerapkan pola pertanian lahan berpindah, tapi apakah tindakan mereka sedestruktif perusahaan-perusahaan perkebunan dan tanaman industri? Tidak!

Sumber gambar: Bambah Heru Saharjo, dkk (2018), PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN
di Wilayah Komunitas Terdampak Asap

Sudah diatur sendiri oleh Pemerintah Indonesia, bahwa untuk lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 3 meter diperuntukkan konservasi lingkungan dan peresapan air. Nyatanya:

“Walaupun telah disusun regulasi yang ketat oleh pemerintah, masih banyak ditemukan pelanggaran dilapangan oleh pengusaha ataupun masyarakat, yang tetap membuka usahanya di gambut berkedalaman lebih dari 3 meter Bambang Heru Suharjo, dkk (2018).”

Masalah karhutla memang kompleks dan sulit untuk diatasi apalagi dicegah. Peraturan dan regulasi sebatas formalitas di atas kertas putih, sementara pelaksanaannya sendiri semata momentum untuk tujuan pengisian laporan anggaran tahunan. Sempak kan?

Kita memang bisa melakukan aksi pencegahan, tapi tentu saja dalam skala yang kecil, dan mungkin jika dibandingkan dengan luas hutan dan lahan yang terbakar nampak tidak berarti, tapi itu tetap terhitung perjuangan. Seperti yang dilakukan Buning dkk.

Menurut saya, cara terbaik untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, agar tiada lagi masa pandemi di esok hari, adalah dengan mencegah orang jahat punya kekuasaan, mencegah orang yang otaknya ‘kapitalis banget’ untuk jadi pengatur regulasi negara ini.

Di dalam konteks pembuatan regulasi, untuk skala pencegahan yang lebih besar, maka akan muncul pertanyaan bagaimana caranya mencegah orang jahat berkuasa? Atau orang yang ‘kapitalis banget’ punya kewenangan yang diberlakukan semena-mena?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya teringat quote presiden yang di-quote salah seorang anak presiden:

“YNTKTS (Yo ndak tau kok tanya saya)”

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *