KANDHA LELANA PASCA PANDEMI: TRANSFORMASI PENGEMBARAAN MENCARI PENGETAHUAN
KANDHA LELANA PASCA PANDEMI: TRANSFORMASI PENGEMBARAAN MENCARI PENGETAHUAN

KANDHA LELANA PASCA PANDEMI: TRANSFORMASI PENGEMBARAAN MENCARI PENGETAHUAN10 min read

nihan lakṣaṇa nikaṅ mithyājñānānaku, ikānaṅ humiḍәp humadhikārākәn sahiṅan i kawruhnya, makasādhana pratyakṣa juga… (Dharma Pātañjala, Sloka 1)

“Ciri pengetahuan yang salah itu begini anakku; ia yang mengalami sambil mempertuankan apa yang sebatas pengetahuannya…”


Pupuh 1

Bisakah pengetahuan diperoleh dengan beragam kemudahan serta kenyamanan, tanpa perlu mengeluarkan cukup banyak tenaga fisik, dan tidak harus pergi ke suatu tempat? Tentu saja bisa, berkat teknologi komunikasi yang telah mapan di era pandemi Covid-19 saat ini, jawaban untuk pertanyaan di atas sedang terjadi.

Pengetahuan berkumpul di dalam sebuah ruang cahaya tak berpintu, sehingga siapapun boleh memasukinya kapanpun dan darimanapun dengan mudah.
Kebudayaan mensyaratkan pengetahuan sebagai instrumen utama pembentuk peradaban (1). Lagi pula mustahil kebudayaan mampu menemukan konsep lalu mewujud tanpa adanya pengetahuan.

Terhadap pengetahuan, setiap kebudayaan memiliki persepsinya masing-masing, termasuk untuk metode, fungsi, sekaligus tujuan akhir dari kepemilikan pengetahuan yang dipahami oleh kebudayaan yang bersangkutan.

Aspek geografis, sosial, dan religi, kemungkinan berperan besar dalam menentukan kedudukan pengetahuan pada setiap ruang spasial dan temporal dari kebudayaan.

Kebudayaan, peradaban, dan pengetahuan. Sumber gambar: Society6

Di Eropa, secara berurutan, setelah renaisans di abad 17 dan revolusi industri di abad 18, pada abad 19 dimulailah revolusi ilmiah yang menjadi awal dari ekspansi pengetahuan yang bersifat Eurosentris ke seluruh dunia. Menurut pandangan Eurosentris, pengetahuan merupakan kunci dari kebudayaan dengan tujuan penguasaan atas alam menggunakan teknologi.

Sejak abad 19 hingga hari ini, pengetahuan yang bercorak Eurosentris terus mengakar, dan menjadi rujukan utama dalam pengembangan kebudayaan. Dominasi pengetahuan Eurosentris telah cukup lama mengerdilkan peran serta konsep-konsep pengetahuan dari daratan di luar Eropa yang sebenarnya memiliki sumbangsih bagi peradaban manusia modern secara universal.

Meski demikian, Samuel Huntington (1993) telah memprediksi bahwa dominasi Eurosentris tersebut akan terkikis, seiring dengan bangkitnya Asia dan Islam. Misalnya di Jepang, negosiasi terhadap dominasi Eurosentris telah dimulai sejak era Meiji dengan meninjau ulang pengertian kebudayaan melalui penelusuran terhadap kata bunka (2) yang dituliskan pertama kali oleh orang Ainu di tahun 1854 (Suzuki, 1995: 763).

Sir Richard Gregory (1946) menjelaskan pengetahuan sebagai temuan proses pencarian, pengetahuan tersebut lalu dapat digunakan secara bebas. Sementara itu, Thomas Aquinas dalam Taki Sato (2004), menekankan internalisasi pengetahuan, bahwa pengetahuan pada dasarnya telah ada dalam diri manusia berkat kehendak Tuhan dan menjadi bawaan sejak lahir.

Jacques Maritain (1951), dengan berpijak pada konsepsi Thomsist, menjelaskan dua pola pencarian pengetahuan: Pertama, melalui pencerapan akan nilai moralitas dan rasionalitas yang ada di sekitar. Kedua, dengan modal niat serta hasrat terhadap pengetahuan.

Agaknya, kedua pola pencarian yang disampaikan Jacques Maritain berjalan beriringan. Manusia menjadi wadah pengetahuan yang tersebar. Pengetahuan dalam diri menjadi modal awal bagi pengetahuan yang berasal dari luar diri.

Potret Masyarakat Ainu. Sumber gambar: Flickr

Meski pengetahuan sudah ada di dalam diri, proses pencarian pengetahuan dan upaya mendekati Summum Bonum (3) merupakan tahap yang tidak boleh diabaikan. Salah satu proses pencarian pengetahuan yang cukup epik adalah melalui pengembaraan yang bernilai spiritual atau religius.

Pengembaraan untuk mendapat pengetahuan biasanya akan dinarasikan sebagai perjalanan suci, lalu diabadikan melalui puisi dan lagu (Barbara Nimri Aziz, 1987: 250).

Dalam lingkup kebudayaan Jawa, pengetahuan sejati berasal dari pencerapan langsung, dan hasil dari lelana panjang soliter demi mencapai reunifikasi asalnya, sangkan paraning dumadi (Bambang Sugiharto, 2008: 373).

Pupuh 2

Kutipan di pembuka tulisan ini berasal dari teks Dharma Pātañjala, ketika Kumara bertanya pada Batara Paramarta5 selaku Summum Bonum tentang pengetahuan yang benar dan yang salah. Dapat diketahui bahwa pengetahuan yang salah berciri cepat puas diri dan tidak terbuka pada kemungkinan pengetahuan lain.

Menurut Batara Paramarta (4), pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh dari pencerapan langsung dan diolah melalui samadhi. Batara Paramarta menilai pengetahuan yang benar sebagai muasal penyerapan, yang akhirnya adalah kelepasan, kamoktan; kamoksan (Andrea Acri, 2018: 423).

Berbagai kebudayaan di dunia yang telah dilintasi berbagai era menyarikan kisah perjalanan, pengembaraan, atau perpindahan tempat, untuk memperoleh pengetahuan sejati.

Sutasoma yang pergi dari istana kemudian mengembara di hutan untuk mendapat pencerahan Buddha, Syeh Amongraga yang mengembara ke gunung di Jawa Tengah demi menghimpun kebudayaan rakyat, Robert Cole, seorang Kristen, yang pergi jauh ke Persia untuk berguru pada Ibn Sina, dan termasuk Bagong yang melesat ke Kahyangan demi mencari jawaban pasti tentang siapa bapaknya.

Ilustrasi perjalanan atau pengembaraan mencari pengetahuan. Sumber gambar: Davide Bonazzi

Contoh lain dan paling aktual mengenai pengembaraan bisa diamati pada mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri, Pengembaraan telah menjadi syarat transfer pengetahuan. Di awali oleh hasrat keingintahuan yang besar sekaligus mendalam.

Pergi ke suatu tempat yang dipercaya memiliki akses paling dekat terhadap Summum Bonum. Kisah pengembaraan mencari pengetahuan, telah berjejak di setiap kebudayaan dan di setiap era, sehingga pengembaraan itu sendiri menjadi suatu kebiasaan, baik di masa lampau maupun sekarang.

Melalui pengembaraan, pengetahuan yang melekat pada kebudayaan dan lingkungan sesuai tempat mengembara dicerap langsung. Di era pandemi, pengembaraan mencari pengetahuan telah terbatasi secara fisik. Keberadaan teknologi komunikasi menjadi penyelamat yang cukup efektif.
Namun, mungkinkah melalui cara seperti ini Summum Bonum didekati?

Pupuh 3

Ada perbedaan yang cukup jauh antara pengembaraan mencari pengetahuan secara fisik dengan pengembaraan mencari pengetahuan yang menggunakan sarana teknologi komunikasi. Perbedaan itu terletak pada efektifitas pencerapan langsung oleh panca indera.

Secara fisik transfer pengetahuan sulit untuk dilakukan, sehingga penggunaan gawai harus dioptimalkan. Namun penggunaan gawai pada sisi lain memberi lapisan yang lebih tebal terhadap transfer pengetahuan mulai dari daya konsentrasi hingga kesinambungan pengetahuan yang sedang mengalami proses transfer, belum lagi jika terdapat gangguan pada perangkat maupun sinyal.

Era pandemi memang era yang membuktikan peran besar teknologi terhadap kebudayaan dan peradaban manusia, khususnya untuk soal transfer pengetahuan, terlepas dari berbagai problem perangkat atau jaringan.

Proses pencarian atau pengembaraan mencari ilmu pengetahuan yang selama ini diakrabi secara fisik, kini sedang mengalami reduksi.

Sayangnya, mengatakan bahwa proses pengembaraan mencari pengetahuan di era pandemi ini mengalami reduksi bukan suatu hal yang bijak, pengembaraan mencari pengetahuan di era pandemi lebih tepatnya dianggap sedang dan telah mengalami transformasi.

Sama seperti kebudayaan dan pengetahuan yang bersifat dinamis, pengembaraan mencari pengetahuan pun demikian. Malah, bisa jadi di era pandemi sekarang ini, manusia memang tidak lagi diharuskan pergi mengembara ke suatu tempat demi memperoleh pengetahuan, sebab seluruh pengetahuan, bahkan Summum Bonum itu sendiri telah dihimpun dalam suatu ruang secara monopolistik.

Meski demikian, bukan berarti pengetahuan atau Summum Bonum itu berada dalam satu kepemilikan orang atau sekelompok orang, justru sebaliknya, pengetahuan telah mengembarakan dirinya sendiri untuk dimiliki seluruh manusia.
Kemisteriusan pengetahuan di era pandemi perlahan memudar.

Ilustrasi pembelajaran visual. Sumber gambar: Pinterest

Kebaruan dapat ditemukan dengan mudah, hingga seolah-olah hampir tiada lagi yang namanya kebaruan. Lebih dari itu, kebaruan yang hendak dimunculkan pun semakin kerap mengalami kebuntuan akibat adanya kebaruan yang mendahului.
Medan pengembaraan dalam budaya pencarian pengetahuan otomatis turut mengalami perubahan.

Jauh sebelum pandemi Covid-19 terjadi, demi mendekati Summum Bonum melalui pengetahuan, jarak yang jauh harus ditempuh, gunung harus didaki, dan samudra harus diseberangi. Hari ini, di era pandemi, bahkan kelak pasca pandemi, jarak, gunung, dan samudra cukup dilampaui menggunakan jari.

Jer basuki mawa beya, ujar pepatah dalam bahasa Jawa, yang artinya keberhasilan membutuhkan pengorbanan. Dalam konteks ini, pengetahuan dapat diperoleh hanya dengan perjuangan. Tentu saja jika meninjau situasi terkini, perjuangan yang dimaksud adalah berupa materi, terutama paket data dan gawai yang mumpuni.

Singkatnya, perjuangan fisik dalam pengembaraan mencari pengetahuan teraktualisasi atau teralihkan dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan paket data dan gawai.

Jika paket data dan gawai tidak terpenuhi, pengetahuan di era pandemi jelas sulit diperoleh. Agak ironis memang, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kebernilaian perjuangan untuk memiliki pengetahuan di era pandemi tidak ditentukan oleh kekuatan fisik, melainkan kekuatan materi.

Semakin nyaman kondisi yang dibentuk untuk mengakses pengetahuan melalui teknologi di era pandemi, maka semakin besar peluang mendapatkan pengetahuan yang dianggap mendekati Summum Bonum.

Proses berpengetahuan. Sumber gambar: Invaluable

Apakah dengan demikian berarti pengetahuan di era pandemi memihak pada golongan yang mampu mengembarakan diri secara virtual melalui internet dan tercukupi secara materi?

Jika menggunakan perspektif Eurosentris, maka jawabannya adalah iya, bagaimanapun, teknologi telah mengatasi kesulitan transfer pengetahuan di masa pandemi.

Namun, apabila pengetahuan dimaknai sebagai proses pendewasaan, bersikap sesuai kondisi dan situasi yang sedang terjadi, serta tetap konsisten dinilai sebagai hasil dari pencerapan fisik melalui pengembaraan, baik pengembaraan dalam diri maupun di luar diri, maka tidak peduli sedang di dalam masa pandemi atau tidak, pengetahuan sama sekali tidak memihak siapapun.

Budaya mengembara mencari pengetahuan akan tetap ada di era apapun, termasuk di era pandemi, sebab rasa ingin tahu tidak terbatasi oleh materi.

Catatan

  1. Kebudayaan berbeda dengan peradaban, menurut Harumi Befu (1984), peradaban eksis lebih belakangan dan harus melewati waktu jutaan tahun setelah manusia mengenal dan mengaplikasikan indikator kebudayaan satu persatu. Lihat di Harumi Befu, 1984, Civilization and culture: Japan in search of identity. Senri Ethnological Studies. Hlm. 59
  2. Bunka dalam bahasa Jepang memiliki arti budaya. Beririsan dengan bunmei yang artinya adalah peradaban. Kata bunka dan bunmei memiliki akar kata bun (kata-kata yang tertulis, belajar atau aturan pembelajaran). Lihat di Tessa Moris-Suzuki, 1995, The invention and reinvention of “Japanese Culture”, The Journal of Asian Studies. Hlm. 761-763
  3. Dijelaskan Henry Sturt (1900), Summum Bonum berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti kebaikan tertinggi atau kebenaran tertinggi. Istilah ini diprakarsai oleh Aristoteles melalui doktrin klasiknya, bahwa tujuan akhir dari manusia adalah Summum Bonum, kebermanfaatan, kebaikan tertinggi, atau kebenaran tertinggi. Ambrose dan Cicero menggunakan gagasan Summum Bonum dari Aristoteles di dalam doktrin Stoistik di masa Romawi klasik (Emeneau, 1930: 51-53; DeWitt, 1950: 69). Murphy & Minnesota (1965) menunjukkan bahwa Kant mendudukkan Summum Bonum dengan mengaitkannya pada moralitas dan kebajikan sejati.
  4. Andrea Acri (2008) menjelaskan, Summum Bonum adalah kebijaksanaan tertinggi melekat pada Tuhan. Di dalam tutur dan tattva Jawa Kuno, Siwa sendirilah yang menguraikan aspek transenden penuhNya sebagai realitas agung (Summum Bonum) atau Sang Paramarta. Lihat Andrea Acri, 2008, Dharma Pātañjala Kitab Saiva dari Jawa Zaman Kuno: Kajian dan Perbandingan dengan Sumber Jawa Kuno dan Sansekerta Terkait. Hlm. 269-270

Daftar referensi

  1. Acri, A. (2008). Dharma Patanjala Kitab Saiva dari Jawa Zaman Kuno: Kajian dan Perbandingan dengan Sumber Jawa Kuno dan Sanskerta Terkait.
    Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  2. Aziz, B. N. (1987). Personal Dimensions of the Sacred Journey: What Pilgrims Say, Religious Studies, 23(2), 247-261.
  3. Befu, H. (1984). Civilization and Culture: Japan in Search of Identity. Senri Ethnological Studies, 59-75.
  4. DeWitt, N. W. (1950). Epicurus: The Summum Bonum Fallacy. The Classical Weekly, 44(5), 69-71.
  5. Emeneau., M. (1930). Ambrose and Cicero. The Classical Weekly, 24(7), 49-53.
    Gregory, S. R. (1946). Civilization and the Pursuit of Knowledge. Nature, 158(4005), 148-151.
  6. Huntington, S. P. (1993). Clash of Zivilizations? Foreign Affairs, 72.
    Kretzmann, N. (1983). Goodness, Knowledge, and Indeterminacy in the Philosophy of Thomas Aquinas. The Journal of Philosophy, 80(10), 631-649.
  7. Moris-Suzuki, T. (1995). The Invention and Reinvention of “Japanese Culture”.
    The Journal of Asian Studies, 54(3), 759-780.
  8. Murphy, J. G. (1965). The Highest Good as Content for Kant’s Ethical Formalism (Beck versus Silber). Kant-Studien, 56(1), 102.
  9. Sturt, H. (1900). The Doctrine of The Summum Bonum: A Criticism. Mind, 9(35), 372-383.
  10. Sugiharto, B. (2008). Javanese Epistemology Revisited. Melintas, 369-384.
  11. Suto, T. (2004). Virtue and Knowledge: Connatural Knowledge According to Thomas Aquinas. The Review of Metaphysics, 58(1), 61-79.
Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *