Kemelut Dunia Wanita Jawa

Rasanya tidak perlu untuk bereaksi terlalu ‘wah jebule’ ketika tahu beberapa individu wanita Jawa memainkan peran-peran penting dalam mengelola urusan domestik maupun publik.

Ada wanita Jawa yang menulis naskah, ada yang mengatur pemberontakan, ada yang menawar harga lombok di pasar, ada yang menanak nasi, dan ada yang mancing, semuanya biasa saja.

Satu-satunya yang pantas untuk di-wah-kan adalah diri mereka sebagai wanita Jawa itu sendiri.

Menjadi wanita Jawa yang berada di tengah tumbukan arus alam pikiran tradisi dengan modern bukankah sudah pasti melelahkan?

Ketika membicarakan sebarapa kuwate wanita Jawa, kebanyakan orang pasti merujuk pada satu individu tokoh masa lalu. Sebut saja Ratu Sima, Tribhuwana Tunggadewi, Ratu Kalinyamat, dan atau R.A. Kartini.

Upaya perujukan tersebut seolah mencoba memberi gambaran besar mengenai wanita Jawa, atau paling tidak sebagai referensi inspirasi, kepada orang-orang yang meragukan kapabilitas seorang wanita Jawa modern.

Bahwa sosok wanita ideal yang punya pengaruh di dunia modern ‘setidaknya’ diserupakan dengan tokoh-tokoh tersebut, padahal tidak bisa demikian.

Terlebih lagi, yang paling mengherankan adalah ketika seorang wanita mendapat cukup ruang kuasa, tidak serta merta perlindungan dan pengayoman terhadap wanita lain menjadi terjamin.

Salah satu wanita Jawa modern berpengaruh

Agaknya Ann Kumar (2008) menawarkan perspektif kuwat wanita Jawa yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Melalui penelusurannya terkait Legiun Wanita Mangkunegaran, dia membahas kekuatan wanita Jawa sebagai satu kekuatan kolektif dalam konteks fisik dan peranan wanita Jawa untuk negara.   

Sekalipun begitu banyak pembahasan dan pengungkapan fakta mengenai kekuatan wanita Jawa berdasarkan refleksi masa lampau, nyatanya di dunia nyata modern hari ini wanita Jawa masih banyak yang berada dalam posisi tidak berdaya.

Pembicaraan tentang wanita Jawa dibalut oleh konteks jaman yang senantiasa berbeda.

Tidak masalah jika sajian ulasan perempuan Jawa dari masa lampau sekadar diletakkan sebagai referensi inspirasi, namun tentu tidak adil jika menuntut wanita Jawa modern agar punya daya kekuatan yang mendekati tokoh-tokoh wedok Jawa masa lampau.

Ratu Sima ‘mungkin’ tidak pernah tahu rasanya disuwiti pas neng dalan, Tribhuwana Tunggadewi ‘mungkin’ tidak pernah tahu rasanya dijawili pas numpak bis, Ratu Kalinyamat juga ‘mungkin’ tidak punya pengalaman bagaimana rasanya dichat abdi negara gagah yang menawarkan uangnya demi cinta, dan R.A. Kartini pun ‘mungkin’ tidak pernah tahu seberapa marahnya dirinya sendiri waktu mendapat DM gambar kelamin.

Semua pembahasan sejarah tentang wanita Jawa adalah kemungkinan-kemungkinan yang mencoba mendekati atau memahami seperti apa seharusnya perempuan Jawa, terlepas dari hal-hal yang sebenarnya tidak mungkin dilepaskan yaitu konteks jaman, kuasa, dan latar belakang keluarga.

jangan lewatkan

Bung Karno lan Romantisme Historis

Bung Karno lan Romantisme Historis

Irul S BudiantoJul 8, 20226 min read

BUNG Karno terus dadi legenda. Kanthi atribut ‘keagungane’, ketokohane Putra Sang Fajar iki asring diangkat utawa dicungulake ing maneka kalodhangan.…

Wanita Jawa yang Ideal

Menjadi wanita Jawa yang ngugemi ke-Jawa-annya itu bisa dikatakan rumit atau bahkan ruwet jika memandang dari sudut pandang modern.

Di dalam dunia manuskrip Jawa, perempuan Jawa sering didudukkan sebagai objek yang perlu untuk diarahkan menjadi sosok ideal wanita yang sesungguhnya.

Manuskrip-manuskrip tersebut mayoritas justru ditulis atau diprakarsai oleh laki-laki.

Bisa jadi praktek penulisan tuntunan untuk wanita yang ditulis atau diprakarsai laki-laki berangkat dari kepercayaan bahwa wanita di Jawa adalah second gender, makhluk yang lebih rendah daripada laki-laki (Sudartini, 2010: 5).

Karena posisinya yang lebih rendah itulah kemudian yang punya wewenang memberi tuntunan adalah laki-laki.

Praktek yang demikian bisa dimungkinkan melahirkan stigma bahwa wanita itu ber-kreta basa ‘wani ditata’ atau ‘wani ing tata’.

Sri Harti Widyastuti (2014) dalam tulisannya Kepribadian Wanita Jawa dalam Serat Suluk Residriya dan Serat Wulang Putri Karya Paku Buwana IX menyatakan bahwa wanita Jawa memiliki dimensi-dimensi problematis yang ‘wang sinawang’.

Untuk menjadi wanita Jawa ideal, Paku Buwana IX dalam karyanya Serat Suluk Residriya pada 1 pupuh 22 menuliskan:

Kêrantêné wong wadon dèn wêdi / basa wêdi-wêdi ing kanisthan /amrih luhura èstriné /

Karena perempuan dia takut / maksudnya takut pada kenistaan / supaya luhurlah (sebagai) perempuan/

Paku Buwana IX secara garis besar memberi ancer-ancer bahwa wanita Jawa yang ideal adalah wedok Jawa yang punya rasa takut berbuat nista.

Supaya harkat dirinya sebagai wanita tetap terjaga atau luhur, jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang berpotensi menistakan dirinya.

Tidak perlu menebak-nebak perbuatan nista macam apa yang dimaksud Paku Buwana IX di dalam Serat Suluk Residriya, sebab Paku Buwana IX dengan terang memberi contoh bahwa perbuatan nista besar yang dilakukan wanita Jawa adalah selingkuh.

Luwih gêdhé durtané wong èstri/ ingkang cidra rêsmi lanang liyan / ingkang jinaku têgêsé / iku wus mêtu tuhu/ ing namané èstri utami/ tan kêna ingapura/ séwa alanipun / pasthi binuwang ing priya / singgahana aja kongsi anyêdhaki / yèn polahira durta/

Lebih besar dosa seorang estri / yang mengkhianati perkawinan (dengan) lelaki lain / yang berzina itu maksudnya / itu sudah benar-benar keluar / dari (yang) disebut estri utama / tidak bisa dimaafkan / besar keburukannya / pasti dibuang oleh suami / jauhilah jangan sampai mendekat / pada perilaku dosa

Menurut Paku Buwana IX, seorang perempuan Jawa yang berselingkuh tidak pantas untuk dimaafkan dan jelas dibuang oleh pasangannya. Sayang sekali, Paku Buwana IX tidak mengenakan konsep tersebut pada laki-laki.

Gambar hanya ilustrasi. Sumber: Wikipedia

Seorang lelaki Jawa diperkenankan untuk beristri lebih dari satu, bahkan seorang perempuan Jawa yang kemudian dipilih untuk menjadi selir harus manut dengan statusnya sebagai selir.

Status wedok Jawa yang dipaksa untuk menjadi selir atau istri kesekian dari seorang lelaki juga ditegaskan oleh Ranggawarsita dalam Serat Candrarini karya Ranggawarsita.

Tidak hanya itu, di dalam serat tersebut seorang wanita yang di-wayuh harus lila dan nrima atas keinginan si suami (Pikatan, 2012: 1).

Memang kasus poliandri sangat jarang terjadi di Jawa, kalaupun ada hanya di cerita Mahabharata versi India. Namun pada dasarnya yang menjadi permasalahan bukan pada boleh tidaknya punya pasangan lebih dari satu, melainkan tabiat berselingkuh.

Harusnya Paku Buwana IX lebih menekankan bahwa praktek berselingkuh adalah dosa, berlaku bagi wanita maupun laki-laki.

Dalam konteks dunia penulisan manuskrip, memang ada perempuan Jawa yang menulis atau memprakarsai penulisan sebuah manuskrip, tapi belum ada, atau setidaknya belum ditemukan adanya manuskrip yang ditulis oleh perempuan Jawa dan membahas soal wong wedok.

Kewajiban Wanita Jawa

Ada begitu banyak stigma wedok Jawa ideal yang dilekatkan oleh budaya patriarki Jawa, sebut saja macak, masak, manak; kasur, pupur, sumur; kanca wingking; swarga katut neraka nunut; awan theklek bengi lemek, dan lain sebagainya.

Pelekatan stigma yang disebutkan di atas dapat dilihat berkutat di sektor domestik. Wedok Jawa dituntut bisa macak (dandan), masak, dan manak (melahirkan anak).

Selain itu, wedok Jawa juga diharuskan memiliki kemampuan terkait manajemen kasur (senggama), pupur (berdandan), dan sumur (mengurus rumah, merawat anak).

Perempuan Jawa adalah kanca wingking (teman di belakang) sebab yang punya kuasa untuk di depan (ngarep) adalah laki-laki, wedok Jawa tidak diperbolehkan maju ke depan apabila tidak dalam kondisi terdesak.

Terhadap lelaki atau suami, wedok Jawa pun sekadar buntut (ekor). Apabila si suami mendapat kebaikan maka baik pula yang didapat istri, begitu juga sebaliknya.

Stigmasisasi yang membuat jengkel adalah awan theklek bengi lemek, artinya seorang perempuan Jawa secara posisi dalam anatomi tubuh pun harus senantiasa berada di bawah kaki laki-laki.

Ketika siang perempuan menjadi alas kaki laki-laki, menjadi penjunjung martabat lelakinya, saat malam perempuan Jawa berubah menjadi alas tidur lelaki atau suami.

Supaya perempuan Jawa berhasil dalam memenuhi kewajiban-kewajiban, yang didasarkan pada stigmatisasi di atas, terdapat beberapa manuskrip Jawa berupa tuntunan.

Arsanti Wulandari (2016) dalam Piwulang Estri Sebagai Bentuk Reportase Tentang perempuan Jawa mengambil intisari ajaran tuntunan Jawa dari Serat Piwulang Estri yang berisikan tiga suluk piwulang, antara lain Suluk Tanen, Suluk Tenun, dan Suluk Bathik.

Serat Piwulang Estri. Sumber: Wikimedia

Suluk Tanen

Wanita Jawa diibaratkan lahan pertanian yang harus dirawat dan disiapkan segala sesuatunya agar siap untuk ditanami saat menikah kelak.

Sebagai ladang atau lahan pertanian, perempuan Jawa harus siap lahir batin ketika menjadi ibu (Arsanti, 2016: 7).

Proses menyiapkan diri dilakukan melalui pendekatan-pendekatan spiritual berupa pemenuhan ajaran agama secara ketat.

Suluk Tenun

Uraian mengenai dalam Suluk Tenun tersebut dapat dimaknai sebagai potret wanita untuk dapat mengendalikan hawa nafsu dalam menjalani hidup.

Sama halnya seorang penenun yang harus cukup cermat dan sabar serta pikiran selalu iman pada Tuhan sebagai tujuan utama (Arsanti, 2016: 8)

Konteks yang dimaksud di atas tentu konteks dalam berkeluarga. Kecermatan dan kesabaran harus senantiasa melekat pada diri perempuan Jawa apabila ingin menjadi wanita Jawa yang luhur.

Secara tidak langsung, ajaran yang demikian seolah meminta wanita Jawa menjadi sosok yang pasif dan terisolasi dari perannya di domain publik.

Suluk Bathik

Wanita yang mendidik dengan halus dan baik akan menghasilkan karakter anak yang halus dan baik pula, demikian sebaliknya (Arsanti, 2016: 11).

Suluk Bathik adalah akhir sikap perempuan Jawa setelah bertani dan menenun.

Wedok Jawa dituntut menjadi makhluk yang sempurna, tapi bagi sebagian lelaki tidak boleh melebihi sempurnanya lelaki, agar kelak kesempurnaannya menurun pada anak-anaknya.


Tiga suluk di atas ternyata merupakan fase yang ‘harus’ dilalui oleh wedok Jawa agar menjadi perempuan Jawa ideal sesuai dengan stigma-stigma yang dilekatkan padanya.

Nampak indah memang, mengingat karya-karya sastra Jawa yang berisi tuntunan wanita digubah di istana, namun dalam prakteknya, tidak semua wanita Jawa menganut nilai-nilai istana Jawa.

Hal yang menarik dalam Serat Piwulang Estri adalah sekalipun cukup menuntut wanita Jawa melewati fase-fase yang ketat tersebut, Serat Piwulang Estri juga menyajikan edukasi kesehatan reproduksi wanita.

Wanita Wani Nata

Tidak ada nilai konstan pada wanita, termasuk wanita Jawa. Pada konteks perempuan Jawa, tidak adil bila keseluruhan paradigma perempuan Jawa didasarkan pada pemahaman atas kehidupan wanita Jawa di istana

Wedok Jawa, terhitung juga semua perempuan, dibentuk oleh lingkungan geografisnya, lingkungan sosial sekitarnya, adat yang melingkupinya, dan bahkan pemanfaatan teknologi yang digunakannya.

Memang sebagai satu identitas, setiap perempuan Jawa dibentuk oleh lingkarannya, namun terlepas dari semua elemen pembentuknya, setiap lelaki Jawa (terhitung semua lelaki) harus memberikan sikap hormat pada perempuan selayaknya hormat pada ibu, saudara perempuan, atau bahkan sesama lelaki, tanpa menafikkan faktor-faktor biologis yang secara kodrati memang membedakan.

Stigma wanita Jawa yang paling melekat dan paling mudah dihafal adalah kreta basa-nya yang berupa ‘wani ditata’.

Melihat konteks hari ini yang masih belum imbang, perempuan bukan dalam posisi bebas menentukan dirinya untuk wani, melainkan dalam kondisi kudu wani atau gelem ra gelem kudu wani.

Gelem ra gelem perempuan Jawa harus menggeluti rasa takut nikah tua, gelem ra gelem wong wedok Jawa merasa tertuntut memberi kesopanan pada lelaki, gelem ra gelem wong wedok Jawa masih dilekati bayang-bayang kewajiban memuaskan di atas ranjang sekalipun lelakinya mengecewakan.

Di sisi lain, pembahasan mengenai wanita Jawa agar perempuan Jawa berada dalam posisi yang sederajat dengan lelaki di bidang-bidang tertentu kadang sering disalahartikan sebagai upaya ‘meliberalisasi’ atau membebaskan mereka dari ikatan budaya Jawa, padahal tidak seperti itu.

Tidak selamanya perlu memakai landasan sejarah maupun naskah untuk memikirkan kuwate perempuan Jawa di jaman modern. Pun rasanya tidak terlalu ada gunanya mengarahkan perempuan Jawa harus begini atau begitu di jaman modern ini.

Bagaimanapun, wong wedok Jawa juga memiliki naluri berkebudayaan untuk menentukan apa yang akan mereka lakukan dan posisi apa yang hendak mereka ambil di jaman modern ini.

Oleh karenanya, rumusan yang tepat bagi perempuan Jawa (terhitung semua wong wedok) dan selamanya tidak terikat konteks jaman adalah akronimnya sebagai sosok pribadi yang ‘wani nata’, bukan sekadar ‘wani ditata’.

Bacaan

  • Kumar, A., Johani, M., Kurniawan, F., & Nurdiarsih, F. (2008). Prajurit perempuan Jawa: kesaksian ihwal istana dan politik Jawa akhir abad ke-18. Komunitas Bambu.
  • Pikatan, I. (2012). Ajaran-Ajaran Berumah Tangga Bagi Wanita Jawa Dalam Serat Candrarini Karya Ranggawarsita (Tinjauan Sosiologi Sastra) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakrta).
  • Sudartini, S. (2010). Konsep kesopanan berbicara oleh wanita dalam budaya Jawa. Widyaparwa38(1), 27-34.
  • Widyastuti, S. H. (2014). Kepribadian Wanita Jawa dalam Serat Suluk Residriya dan Serat Wulang Putri Karya Paku Buwono IX. Litera13(1).
  • Wulandari, A. (2016). Piwulang Estri sebagai Bentuk Reportase tentang Wanita Jawa. Manuskripta6(2), 1-17.

Gombalamoh

nDilalah founder Jawasastra Culture Movement. Pecinta sastra Jawa, novel grafis, dan pengetahuan ekologi tapi tidak yakin dalam hal praktek lapangan. Penggembala dosa.

Satu komentar di “Kemelut Dunia Wanita Jawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas
%d blogger menyukai ini: