Mengungkap hasil penelitian filologi dan kajian sastra secara simultan terhadap satu objek penelitian yang sama tentu bukan kerja yang mudah. Butuh waktu yang relatif panjang sekaligus konsentrasi agar hasil kajian saling berkorelasi.

Terlebih jika objek yang diteliti belum memiliki sajian terjemahan yang memadai, sehingga mau tidak mau harus menuntaskan kerja alih aksara, kritik teks, perbandingan varian objek, dan terjemahan terlebih dahulu sebelum memasuki ranah analisis sastra. Meski demikian, sulit bukan berarti mustahil.

Kartika Setyawati adalah seorang peneliti bidang filologi Jawa dari Universitas Gadjah Mada yang telah mencoba meruntuhkan batas antara studi filologi Jawa dengan analisis teori sastra Jawa. Melalui disertasinya yang berjudul ​Kidung Surajaya, Kartika Setyawati setidaknya berhasil menyajikan sebuah analisis filologi dan sastra secara runtut terhadap salah satu produk sastra Jawa bergenre puisi berjudul Kidung Surajaya yang diperkirakan ditulis pada abad-16 M di sekitar lereng gunung Merapi-Merbabu.

Sesuai dengan pendapat Kartika Setyawati di bagian Pendahuluan disertasi, bahwa teks sastra Jawa produksi skriptorium Merapi-Merbabu tidak sepopuler teks karya sastra Jawa lain, sehingga studi teks sastra Jawa Merapi-Merbabu,baik dalam aspek filologi maupun sastra, masih jauh dari kata selesai.

Disertasi ​Kidung Surajaya karya Kartika Setyawati memiliki tebal 587 halaman. Ditulis dalam rangka memperoleh gelar doktor dari Universitas Leiden pada tahun 2015. Upaya Kartika Setyawati untuk menyajikan analisis secara filologi dan sastra dapat dilihat dari judul disertasi yang lugas. Judul disertasi disamakan dengan judul objek penelitian; Kidung Surajaya. Tanpa disertai keterangan lengkap apakah disertasi nantinya sekadar memuathasil analisis filologi, sastra atau justru keduanya.

Studi filologi dan sastra Jawa mestinya tidak seyogyanya dipisahkan. Meski demikian, bagaimanapun, hasil penelitian filologi atas suatu teks sastra Jawa akan terbatas pada sajian alihaksara dan terjemahan. Terlepas dari keterbatasan tersebut, lazimnya hasil kerja para filolog terhadap suatu teks sastra Jawa selanjutnya diteruskan oleh para peneliti bidang sastra Jawa guna menguak aspek-aspek sastrawi yang terdapat di dalam teks sastra Jawa yang bersangkutan. Alih-alih menganut kelaziman relasi filolog dan peneliti sastra Jawa, Kartika Setyawati memilih untuk menguak sekaligus kandungan sastra Kidung Surajaya di dalam disertasinya.

Secara keseluruhan, disertasi ​Kidung Surajaya menghadirkan suntingan teks, terjemahan, analisis makna isi, dan catatan teks dari Kidung Surajaya. Terkesan ambisius memang, akan tetapi upaya panjang Kartika Setyawati tersebut kiranya ditujukan sebagai ​pilot project atas iklim studi filologi dan sastra Jawa kuno-pertengahan yang serba minimalis di era modern.

Sebagai contoh, bila meninjau kondisi sastra Jawa di lapangan, menurut Kartika Setyawati banyak sajian alihaksara dan terjemahan dari karya sastra Jawa (kuno-pertengahan) yang ternyata tidak mencantumkan sumber naskahnya. Akibatnya, masyarakat awam terjebak pada bias pengetahuan budaya dan sastra Jawa.

Kidung Surajaya mengisahkan perjalanan fisik dan spiritual dari tokoh utama bernama Surawani atau Surajaya. Di dalam perjalanannya mencari kesejatian Sang Hyang Hayu, Surajaya ditemani oleh Ragasamaya. Surajaya dan Ragasamaya berpetualang dari satu kabuyutan ke ​kabuyutan lain​, menghadapi berbagai rintangan yang mengakibatkan kesengsaraan, dan berguru pada banyak​ ajar untuk menghapus rasa cinta pada dunia sebelum berhasil menyatu dengan Sang Hyang Hayu.

Ikhtisar Disertasi ​Kidung Surajaya

Teknis penulisan Kidung Surajaya, menurut Kartika Setyawati, serupa dengan teknis penulisan teks Bhujangga Manik dan Centhini. Mengingat teknis penulisan yang demikian, Kartika Setyawati mengategorikan Kidung Surajaya sebagai karya sastra Jawa bergenre​ siswa lelana brata, dengan berpijak pada konsep ​genre ​santri lelana ​ yang disampaikan Behrend.

Di dalam ​genre siswa lelana brata ​ maupun santri lelana tokoh utama selalu diceritakan sebagai petualang yang berusaha mengubah tingkah laku dan menghilangkan hawa nafsu demi mencapai kesempurnaan hidup.

Teks sastra Jawa Kidung Surajaya memiliki dua varian, yakni versi panjang dan versi pendek. Di dalam disertasinya, Kartika Setyawati meneliti Kidung Surajaya versi panjang. Versi panjang Kidung Surajaya diidentifikasikan menggunakan huruf D, F, dan H, sementara Kidung Surajaya versi pendek diidentifikasi menggunakan huruf B, E, G, I, dan J. Meski meneliti Kidung Surajaya versi panjang (D, F, H), Kartika Setyawati tetap menyajikan Kidung Surajaya versi pendek (B, E, G, I, J) sebagai pembanding terhadap versi panjang (D, F, H).

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Kartika Setyawati melakukan penelitian terhadap Kidung Surajaya dalam ruang kerja filologi dan sastra. Hasil kerja filologi ditandai dengan adanya sajian alihaksara, perbandingan teks, terjemahan, dan catatan teks atas Kidung Surajaya versi panjang (D,F,H).

Hasil analisis filologi tersebut kemudian dikaji secara sastra menggunakan teori semiotik Micheal Riffaterre. Salah satu alasan pemilihan Kidung Surajaya sebagai objek penelitian adalah karena Kartika Setyawati menganggap Kidung Surajaya memiliki nilai sastrawi yang menarik untuk disimak. Alasan lainnya, Kartika Setyawati merasa ‘dekat’ dengan Kidung Surajaya karena telah melakukan penelitian terhadap Kidung Subrata. ‘Dekat’ yang dimaksud adalah pola penulisan.

Pada Bab I Pendahuluan, terdapat dua sub-judul yakni konteks penelitian dan penelitian. Mulanya membahas iklim penelitian sastra Jawa dengan relevansinya terhadap kajian filologi dan sastra. Setelah memberi penjelasan relasi antara studi filologi dan sastra, Kartika Setyawati sedikit menginformasikan tentang situasi naskah-naskah skriptorium Merapi-Merbabu yang kurang populer, baik di kalangan peneliti Jawa maupun masyarakat umum. Pada awal Bab I ini Kartika Setyawati juga menyampaikan sinopis atau premis cerita Kidung Surajaya.

Pembahasan dilanjutkan pada latar belakang keputusan Kartika Setyawati menglasifikasikan Kidung Surajaya sebagai sastra Jawa bergenre ​siswa lelana brata , sembari berpijak pada konsep ​santri lelana yang telah diajukan Behrend. Istilah​ siswa lelana brata yang diajukan Kartika Setyawati dikukuhkan dengan cara membandingkan Kidung Surajaya terhadap karya sastra Jawa yang masih satu periode, dan karya sastra Jawa yang digunakan sebagai pembanding dari periode yang sama tersebut mengusung tema perjalanan spiritual.

Kartika Setyawati memprediksi bahwa Kidung Surajaya merupakan karya sastra Jawa pertengahan yang memadukan kisah Sri Ajnyana dan Bujangga Manik.

Kendala ketika meneliti Kidung Surajaya juga diungkapkan Kartika Setyawati di dalamBab I. Aksara yang belum dikenal dan isi cerita yang asing, itulah kendala terbesar penulisan disertasi ​Kidung Surajaya. Terlebih Kidung Surajaya merupakan karya sastra berbentuk puisi, sehingga dalam proses pengerjaannya tidak semudah dan seleluasa saat berhadapan dengan teks sastra Jawa yang berbentuk prosa. Aspek penelitian aksara berpengaruh pada studi filologi, sedangkan isi cerita menjadi pijakan analisis sastra.

Tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajiandisampaikan secara jelas di dalam Bab I Pendahuluan. Masuk ke Bab II, Kartika Setyawati menguraikan Kidung Surajaya menggunakan kerja filologis; deskripsi naskah, metrum, bahasa, kolofon, dan penulis Kidung Surajaya. Di dalam Bab II inilah detail informasi mengenai kondisi naskah hingga struktur teks Kidung Surajaya diungkapkan. Informasi seputar Kidung Surajaya yang diteliti bisa didapatkan secara penuh di Bab II.

Adapun informasi yang penting untuk diperhatikan dalam Kidung Surajaya di Bab II antara lain; Lokasi penyimpanan Kidung Surajaya berada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), Kidung Surajaya terdiri dari versi panjang dan versi pendek, rincian metrum yang digunakan oleh kedua versi Kidung Surajaya cenderung merujuk pada naskah versi panjang berkode F, ringkasan isi Kidung Surajaya dari kedua versi, bahasa yang digunakan dalam Kidung Surajaya adalah bahasa Jawa pertengahan dengandominasibahasa Jawa baru beraksara Buda (gunung), uraian sintaksis Kidung Surajaya, dan perbandingan Kidung Surajaya dari setiap versi.

Penelusuran terhadap waktu penulisan dan penulis Kidung Surajaya disajikan dengan runtut di Bab II. Kidung Surajaya ditulis pada​ paro terang, bulan Kartika, wuku manahil, ​ hari Minggu ​(Dite), ​pancawara Manis, ​ tahun 1607 MM (Merapi-Merbabu). Kidung Surajaya diprediksi ditulis di sekitar Sendhang Sanjaya yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Semarang. Penulis Kidung Surajaya bernama Ki Suranata (pada naskah D), Ki Sunata (pada naskah F), dan Ki Surawana (pada naskah H).

Naskah yang diteliti adalah naskah D, F, H. Hasil alih aksara disajikan menggunakan metode suntingan diplomatis. Dimaksudkan agar pembaca bisa lebih dekat pembacaannya terhadap naskah asli. Penyajian teks Kidung Surajaya versi panjang dimaksudkan agar pembaca memiliki kesempatan meninjau bacaan lain yang berbeda dengan peneliti sehingga pembaca dapat memberi ​feedback pada hasil penelitian.

Hasil kerja filologis berlanjut ke Bab III. Di Bab III, secara berurutan hadir sajian alihaksara, terjemahan, dan catatan. Teks yang dialihaksarakan adalah teks D, F, H dengan menitikberatkan pada teks F. Disusun secara menyamping. Catatan teks yang terdapat pada bagian akhir Bab III berupa perbaikan versi Kartika Setyawati terhadap bacaan-bacaan yang salah tulis atau silap, serta memberi alternatif bacaan.

Analisis sastra disampaikan pada Bab IV. Kartika Setyawati menganalisis makna isi Kidung Surajaya yang tersurat dan yang tersirat menggunakan teori semiotik Micheal Riffaterre. Metode analisis sastra Riffaterre memerlukan dua kali langkah; Level I​, heuristic (pembacaan seluruh teks secara berulang untuk mengetahui isi naratif karya sastra) dan level II, hermeneutic ​ (proses pencarian makna).

Di dalam ulasan makna tersurat, disertasi mengungkapkan tujuan esoteris penulis Kidung Surajaya, sementara itu di dalam bahasan makna tersirat disajikan hasil pembedahan makna dibalik nama para tokoh, proses perjalanan Surajaya, tempat, personalitas Surajaya, perhentian kelana, dan hubungan guru-murid.

Tanggapan

Disertasi ​Kidung Surajaya telah menyumbang gagasan besar bagi studi kebudayaan Jawa, khususnya sastra Jawa, tentang pola narasi sastra perjalanan khas peradaban Jawa abad-16 yang disebut Kartika Setyawati ​siswa lelana brata. Sekaligus menawarkan wacana baru analisis teks kasusastran Jawa yang cukup berhasil mendudukkan kajian sastra di tengah reniknya kajian filologi. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa daya tarik utama disertasi Kidung Surajaya terletak pada hasil kerja filologi dibandingkan kajian sastra yang berada di Bab IV.

Hal tersebut kiranya tidak perlu dipermasalahkan, sebab bagaimanapun wilayah kerja Kartika Setyawati sendiri memang berada di lingkup filologi Jawa. Terhadap hadirnya kajian semiotik di dalam disertasi Kartika Setyawati, pengaplikasian teori semiotik Riffaterre melewati urutan metode yang tepat dengan pola pencarian makna yang bersesuaian dengan konteks kebudayaan, sejarah, serta spiritualitas Jawa abad ke-16M, meski pada kenyataannya Riffaterre telah memperbaharui perspektif semiotiknya pada tahun 1990 melalui bukunya Fictional Truth.

Kebanyakan bentuk penulisan sastra Jawa klasik adalah puisi. Bukan sebatas puisi yang bersifat liris dan tidak berkronologis layaknya puisi-puisi modern Jawa yang sekadar mampu menciptakan antologi puisi. Faktanya puisi Jawa klasik cenderung selalu membentuk pola naratif. Terdapat keberadaan​ story ​ dan ​discourse ​ yang diolah penulis dalam posisinya sebagai narator (Chatman, 1980).

Selama ini, puisi Jawa klasik dikaji secara terpisah, diambil beberapa​episode, tanpa mengacuhkan keseluruhan wacana dari tiap pupuhnya. Kalaupun diacuhkan, umumnya hanya sepintas premis cerita dari puisi Jawa klasik yang dibahas.

Teori semiotik Riffaterre kerap menjadi pilihan pembedahan simbol pada teks puisi Jawa klasik tidak lain karena keterbatasan pembacaan secara utuh maka saat mengungkap ​sign berdasarkan ​signifier ​ sehingga perlu meninjaunya dari luar teks; ​”Traditional doctrine explains textual facts in term of their relationst of actor exterior to the text” ​ (Riffaterre,1993: 3).

Disertasi ​Kidung Surajaya ​ terlihat menerapkan doktrin tradisional seperti yang dijelaskan Riffaterre, akan tetapi dengan kehadiran pembedahan makna disub-bab perjalanan Surajaya, Bab IV, Kartika Setyawati sendiri telah tanpa sadar menjajaki langkah analisis makna teks secara naratif, dengan menautkan antara satu episode dengan episode lainnya hingga akhir cerita.

Meskipun yang menjadi titik fokus adalah tokoh Surajaya tanpa melibatkan peran narator ketika membawakan tokoh Surajaya. Dikatakan tanpa sadar karena analisis semacam itu justru dihadirkan Riffaterre lebih komperhensif di ​Fictional Truth, bukan di​ Semiotics of Poetry.

Disertasi ​Kidung Surajaya ditulis Kartika Setyawati untuk memperoleh gelar doktor di Universitas Leiden. Secara garis besar berhasil mengakomodir kajian filologi dan sastra terhadap satu teks karya sastra Jawa Kidung Surajaya. Kaya akan informasi teks yang membuka kemungkinan-kemungkinan pembentukan pola khas sastra Jawa klasik melalui teori ​genre ​ ​siswa lelana brata ​ yang jelas bermanfaat bagi penelitian lanjutan di masa datang.

Akan lebih baik apabila teori sastra Riffaterre yang digunakan dalam upaya analisis sastra pada teks Kidung Surajaya ditinjau kembali. Mengingat sifat Kidung Surajaya sendiri yang merupakan puisi naratif. Lebih tepatnya, pembahasan sub-bab perjalanan Surajaya perlu untuk dilengkapi, bagi peneliti sastra yang hendak meneruskan kajian sastra Kidung Surajaya dengan lebih menitikberatkan pada aspek naratif Kidung Surajaya secara keseluruhan.

Namun tantangan pertama yang harus dijawab sebelum beranjak ke kajian sastra yang lebih dalam dari disertasi ​Kidung Surajaya ialah mempopulerkan naskah-naskah skriptorium Merapi-Merbabu.

Referensi

  1. Chatman, Seymour, 1980, ​Story and Discourse Narrative Structure in Fiction and Film, ​ Ithaca & London: Cornell University Press
  2. Riffaterre, Micheal, 1978, Semiotics of Poetry, Bloomington & London: Indiana University Press
  3. ____, 1993, ​Fictional Truth, ​ London: Johns Hopkins
  4. Setyawati, Kartika, 2015, ​Kidung Surajaya, ​ disertasi, Universitas Leiden, Belanda
Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)