Lamun Sumelang Menukar Kematian

Kalangan kejawen, yang terpengaruh oleh esensi Buddha, termasuk di Lamun Sumelang, memercayai bahwa manusia harus memahami anane mati sajroning urip, anane urip sajroning mati (ada kematian di dalam kehidupan dan ada kehidupan di dalam kematian). Kalau kata  biksu Tong San Cong, isi sejatine kosong, kosong sejatine isi.

Ada batas yang bukan batas antara kehidupan dengan kematian. Satu langkah ke salah satunya diharuskan meninggalkan langkah yang sebelumnya, seutuhnya.

Apakah keduanya adalah jalan satu arah, jalan yang melingkar (reinkarnasi), jalan yang digilir, atau justru jalan yang bercabang (paralel), tidak ada yang tahu kecuali yang diberi tahu.

Terlepas dari semua spekulasi tentang misteri kematian, film Lamun Sumelang mencoba mendudukkan kehidupan dan kematian sebagai tetangga, sebagai dua dunia yang bahkan mampu saling memengaruhi satu sama lain.

Silahkan tonton film Lamun Sumelang sendiri di Youtube karena di sini tidak akan membahas soal jalan ceritanya. Secara garis besar, dikutip dari rilis yang ditayangkan, film Lamun Sumelang mengangkat fenomena Pulung Gantung di Gunung Kidul.

Pertama kali menonton Lamun Sumelang yang terlintas pertama kali di dalam ingatan adalah novel basa Jawa karya swargi Iman Budi Santosa berjudul Pulung Gantung Tali Pati.

Di Pulung Gantung Tali Pati terdapat satu babak khusus berjudul Alasmati yang mengisahkan tokoh utamanya kesasar/keblasuk masuk ke suatu wilayah ghaib tempat para arwah ngayut tuwuh (gantung diri) hidup komunal dalam bentuk kampung atau desa.

Tokoh utama novel, Rini, dapat berkomunikasi dengan mereka layaknya berkomunikasi dengan manusia hidup pada umumnya. Bahkan digambarkan kalau mereka punya rumah, berkeluarga, dan beraktifitas seperti masyarakat desa Gunung Kidul.

Sementara itu di Lamun Sumelang, Agus rupanya juga bisa berinteraksi dengan para arwah secara sadar. Saya sempat menduga kalau ada interteks antarkeduanya, tapi entahlah.

Agus berbincang dengan para arwah

Novel Pulung Gantung Tali Pati mempertanyakan kenapa fenomena ngayut tuwuh di Gunung Kidul terjadi, dilalahnya film Lamun Sumelang mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Bahwa fenomena gantung diri di Gunung Kidul terjadi akibat desakan hidup dalam kemiskinan, kesehatan, kesepian, skandal perselingkuhan, dan salah satu yang pasti adalah ora anane pengarep-arep urip.

Apakah semudah itu jawaban atas fenomena ngayut tuwuh di Gunung Kidul? Kalau memang faktor-faktor tersebut yang jadi penyebabnya, tinggal pemerintah menaikkan derajat hidup masyarakat Gunung Kidul melalui UMP maka salah satu faktor penyebab ngayut tuwuh sudah cukup terselesaikan.

Tapi nyatanya tidak demikian, masih ada faktor lainnya, dan buktinya kita sendiri bahkan tidak tahu betul apa hubungannya ngayut tuwuh dengan jatuhnya sebuah pulung.

Pulung Harapan

Wujud pulung secara fisik hampir menyerupai lintang alihan, selalu nampak jelas arah lajunya. Bedanya, pulung bisa dibilang merupakan suatu peristiwa magis yang sulit terjelaskan sementara lintang alihan adalah fenomena alam.

Meski berbeda secara etimologis namun keduanya tetap dipercayai masyarakat Jawa sebagai tanda atau wangsit akan terjadinya suatu peristiwa, entah baik atau buruk.

Poerwadarminta dalam Bausastra Djawa, dikutip dari Sastra.org, menjelaskan bahwa pulung adalah:

  • 1 wahyu, lintang kang tumiba marang wong mracihnani yèn bakal olèh pangkat (kabêgjan)
  • 2 kabêgjan kêtiban [x] pc: olèh kabêgjan (pangkat lsp). II di-[x] êngg.
  • kn: 1 digèdhèngi (ditalèni) tmr. pari kang mêntas diênèni 2 dilêbokake (ut. diêntas) tmr. pari kang diêpe. III di-[x]
  • kw: 1 diklumpukake, dijupuk dipèk 2 dijupuk (ing dewa), dibanjut nyawane.

Penjelasan Poerwadarminta menunjukkan bahwa pulung itu dari dulu memang multitafsir. Tidak ada pulung yang membawa nilai konstan akan konsistensinya.

Jangankan mengurai fenomena ngayut tuwuh di Gunung Kidul, untuk memahami sifat dan warna pulung, yang dikaitkan dengan ngayut tuwuh, saja sudah amat rumit.

Sebuah pulung warna merah kerap diidentikan sebagai pertanda akan terjadinya nasib buruk bagi seseorang, namun bagi orang lain pulung merah tersebut bisa jadi merupakan keberuntungan baginya karena orang yang tidak dia suka mendapat keburukan, atau karena alasan lainnya.

Contoh kasusnya seperti yang dialami Agus. Dia sengaja duduk menatapi langit menunggu melintasnya sebuah pulung berwarna merah di tengah gelap hutan sebagai salah satu syarat agar putrinya yang sakit dapat sembuh. Pulung merah itu merupakan harapan untuk Agus.

Penampakan pulung gantung di Lamun Sumelang

Terkait warna pulung, terdapat penjelasan sifat pulung berdasarkan warnanya, seperti yang dijelaskan Warsadiningrat dalam Widyakirana:

  • I. Pulung, warninipun biru sumunar ijêm, punika cêcampuraning cahya manik, êmas, dêmbaga, ing têmbe pulung wau, badhe adamêl daya panggêsangan, ananging ingkang dipun luluti dhatêng băngsa tancêbing cipta ingkang wêlasasih.
  • II. Wahyu, warninipun pêthak sumunar ijêm, punika inggih cêcampuraning cahya manik, êmas tuwin salaka, ing têmbe wahyu punika badhe damêl daya panggêsangan, ananging ingkang dipun luluti dhatêng băngsa tancêbing cipta ingkang rila, lêgawa, têmên tarima.
  • III. Andaru, warninipun jêne amaya-maya, punika ugi cêcampuraning cahya manik, êmas, dêmbaga sarta timah, ing têmbe andaru wau badhe adamêl panggêsangan,ingkang dipun luluti tancêbing cipta marta darma mardiprana.
  • IV. Têluhbraja, warninipun abrit sumirat wungu, punika cêcampuraning cahya tosan, timah, dêmbaga sarta walirang, ing têmbe têluhbraja wau badhe adamêl daya panggêsangan, ananging ingkang dipun luluti băngsa tancêbing cipta drêngki jail, muthakil, bêsiwit.
  • V. Guntur, warninipun dadu sumirat wungu, punika cêcampuraning cahya tosan, dêmbaga, walirang sarta sarêm, ing têmbe guntur wau badhe adamêl daya panggêsangan, ananging ingkang dipun luluti băngsa tancêbing cipta angkara murka.

Di dunia Lamun Sumelang, andaikata ada tokoh di luar tokoh-tokohnya, kemungkinan besar tokoh tersebut akan menganggap bahwa pulung merah yang dilihat Agus adalah tanda celaka.

Pulung merah yang dilihat Agus selanjutnya akan memberi petunjuk arah ke tempat seseorang yang diperkirakan hendak melakukan bunuh diri dengan ngayut tuwuh.

Ketika memang ada orang yang hendak ngayut tuwuh, Agus segera bergegas menyelamatkan cara mati ‘tercela’ orang tersebut dengan cara dicekik.

Setidaknya, orang yang hendak bunuh diri itu tidak jadi mati karena bunuh diri tetapi dibunuh, sehingga nyawang orang yang mati tersebut ora ambrangan.

Sepanjang film ada dua kali pulung merah yang dikejar Agus. Satu berhasil, sementara untuk yang kedua kalinya, Agus gagal karena harus memilih satu dari dua ganti kehidupan.

Kenapa tidak ada pulung dengan warna lain di jagat Lamun Sumelang? Tentu saja ini tidak seberapa perlu ditunjukkan sebab satu jenis warna saja memberi ruang tafsir yang bermacam.

Dimana Tuhan?

Tuhan sedikit sekali dilibatkan dalam wacana maupun narasi yang dibawa Lamun Sumelang. Kalau tidak salah ingat, tepatnya ketika seorang arwah yang mampu berkomunikasi dengan Agus mengatakan bahwa setelah empat puluh hari dia akan menemui Gusti, saat menemui Gusti itulah dia akan meminta pada-Nya agar anak Agus diberi kesembuhan.

Namun bagi Agus, Tuhan yang dia hadirkan dalam hidup bukan Tuhan dalam wujud Dzat awang-uwung, melainkan entitas yang bekerja sebagai pengambil dan pemberi, sebagai pemimpin perusahaan barter dari satu kematian menjadi satu kehidupan, atau bahkan dari beberapa kematian untuk satu kehidupan.

Konsep kematian dan kehidupan di Lamun Sumelang kiranya diserap dari kepercayaan tumbal yang sampai kini masih lekat diyakini.

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, baik yang berkultur agraris maupun maritim, pemberian tumbal dapat melancarkan hajat tertentu.

Sehingga, adanya ruwah bumi, sedekah bumi, larungan, kenduren, bancakan, dan peringatan upacara lainnya, secara kasar, bagaimanapun, dapat dipahami sebagai ‘prosesi penyerahan tumbal’, hanya saja menjadi positif karena berada di alam pikiran berupa ‘ucapan rasa syukur’.

Seandainya memang demikian, terlepas dari dimensi positif-negatif tumbal, maka bisa ditafsirkan pula bahwasanya fenomena ngayut tuwuh di Gunung Kidul merupakan ‘tumbal kolektif’ untuk suatu hal besar yang sampai kini belum diketahui, dan belum diketahui siapa yang mensyarati.

Lain halnya dengan Agus, bagi Marni, istri Agus, Tuhan yang dia percayai manjalma dalam tubuh seorang shaman atau dukun yang telah memberi petunjuk untuk Agus agar membunuh tujuh orang demi kesembuhan putrinya, Ningsih.

Marni, istri Agus, sedang memasak thiwul

“Kandhaa dukunmu, kon mindhah larane Ningsih neng aku mas, aku ikhlas…” Begitu ujar Marni pada Agus saat mengetahui kalau sakit Ningsih, anaknya, semakin parah.

Alih-alih Tuhan, sebutan dukun-lah yang paling sering diucapkan sepanjang film Lamun Sumelang. Sosok dukun yang bahkan tidak pernah ditunjukan bagaimana wajah atau penampilannya. Dukun yang memang bagi Agus sudah seharusnya dituruti syarat-syaratnya, dan seorang dukun yang oleh Marni dianggap punya kapabilitas memindahkan sakit dari satu orang ke orang lain.

Ide-ide maupun aksi yang tersebar di kepala tiap tokoh Lamun Sumelang terpusat dan disatukan oleh sosok dukun ‘imajiner’. Dan yang membuat sedih adalah semua masalah berawal dari dukun, atau pendek kata dari Tuhan?

Sedikit Catatan pada Lamun Sumelang

Judul Lamun Sumelang memang mengungkap kegelisahan, kekhawatiran, dan rasa resah. Semuanya menjadi semakin kacau ketika terjebak di antara dua pilihan hidup.

Lamun merupakan kata dari bahasa Jawa yang artinya ‘jika’, ‘seandainya’, ‘andaikata’, ‘mungkin’, ‘ketika’. Sumelang berarti ‘khawatir’, ‘cemas’, ‘gelisah’, dan kata sejenis lainnya.

Tidak ada yang aneh melekatkan lamun pada sumelang. Justru memberikan nuansa sastrawi yang kental cita rasa ‘pujangga’ layar kaca.

Kalaupun ada yang kurang dari Lamun Sumelang, itu adalah sosok Ningsih yang diposisikan sebagai objek, bukan subjek. Ningsih secara tersirat dikondisikan sebagai ‘korban’ yang tidak tahu menahu bagaimana dia pada akhirnya menjadi ‘tumbal’ untuk dirinya sendiri.

Satu-satunya keinginan Ningsih adalah nasi, namun kurang nampak jelas betapa besar keinginannya untuk mengonsumsi sesuatu yang ‘sesederhana’ nasi.

Dalam terminologi Chatman, Lamun Sumelang akan makin nggerus andaikata Ningsih diberi sedikit saja ruang agar kemudian menjadi kernel, yakni dengan memberi Ningsih sedikit fantasi tentang nasi.

Selebihnya, jagat Lamun Sumelang telah berhasil menyayat sembari mengajak penonton menertawakan getir kehidupan. Dan kesembuhan bagi Ningsih, apakah itu berarti mari atau mati?

Tentang Lamun Sumelang

Poster Lamun Sumelang
Daftar pemain Lamun Sumelang
Daftar produksi Lamun Sumelang

Gombalamoh

nDilalah founder Jawasastra Culture Movement. Pecinta sastra Jawa, novel grafis, dan pengetahuan ekologi tapi tidak yakin dalam hal praktek lapangan. Penggembala dosa.

2 komentar di “Lamun Sumelang Menukar Kematian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas
%d blogger menyukai ini: