Tidak sedikit masyarakat Jawa yang ngugemi Islam, belakangan ini, meyakini bahwa sejak dulu kala, sejak masa Jawa kuno, tepatnya sejak zaman sebelum datangnya Islam, wong Jawa sudah memiliki bibit-bibit pemahaman teologis yang bercorak monoteistik.

Atas dasar inilah bermunculan banyak pendapat yang menyatakan, bahwa sebelum Islam sampai di Jawa mengenalkan keesaan, orang Jawa sendiri telah ‘Islam’ (selamat).

Penelusuran terhadap konsep monoteisme di Jawa sebelum Islam datang di Jawa telah dilakukan melalui pendekatan etimologis oleh Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo. Deskripsi terkait Sanghyang Taya beserta elemen kekuatannya yang berwujud ‘Tu’ dan ‘To’ tersebar dengan cepat melalui laman-laman media sosial. Tentu saja, beberapa penelitian juga mengutip apa yang disampaikan Agus Sunyoto tersebut.

Menurut Agus Sunyoto, Sanghyang Taya merupakan entitas yang dieesakan oleh masyarakat Jawa kala itu. Ajaran yang menyembah Sanghyang Taya kemudian disebut Kapitayan. Kata ‘Taya’ diartikan sebagai kekosongan, kesuwungan, dan yang absolut. Arti tersebut bersesuaian dengan yang tertera dalam Old Javanese Dictionary susunan Zoetmulder.

Selain menguraikan tentang Sanghyang Taya, di dalam Atlas Walisongo, Agus Sunyoto juga mendeskripsikan laku peribadatan pemeluk Kapitayan. Antara lain dengan gerakan-gerakan yang hampir menyerupai shalat. Bahkan penyebutan istilah-istilah untuk laku ibadat yang disajikan Agus Sunyoto memakai istilah dari bahasa Jawa kuno.

Sisa-sisa Kapitayan. Sumber: Atlas Walisongo

Sebut saja seperti swadikep, tulajeng, tutuk, tutud, dan tondhem. Entah bagaimana alurnya Agus Sunyoto mencapai pemahaman semacam ini. Namun, hampir semuanya dapat dicari di Old Javanese Dictionary, kecuali untuk istilah swadikep dan tondhem.

Selain itu, Agus Sunyoto memberi arti, yang kemungkinan besar adalah baru, untuk tutuk. Istilah tutuk diartikan sebagai ceruk di dinding, sedangkan di Old Javanese Dictionary arti dari tutuk adalah rongga mulut.

Upaya yang dilakukan Agus Sunyoto, bagaimanapun, patut diapresiasi. Masalahnya, sekalipun buku Atlas Walisongo mendapat predikat sebagai buku yang pertama kali menguraikan untaian historis secara lengkap tentang walisongo, nyatanya Agus Sunyoto tidak menyertakan bukti teks sakral yang berasal dari masa pra-Islam untuk menguatkan pendapatnya mengenai monoteisme di Jawa pra Islam yang berjejak dari ajaran Kapitayan.

Memang, terdapat beberapa data yang merujuk pada naskah serta prasasti, namun deskripsi yang dihadirkan atas data tersebut tidak diurai secara final, penuh dengan kontradiksi, bahkan data yang digunakan, bisa dikatakan, tidak memiliki relasi dengan gagasan yang ditawarkan. 

Sumber: Atlas Walisongo

Bukti teks yang dihadirkan pertama kali adalah sebuah screenshot dari Babad Tanah Jawi dan Serat Kandaning Ringgit Purwa pada halaman 29. Topik yang dibahas adalah kedatangan orang Champa beragama Islam ke Jawa, namun bukti teks yang dipakai adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Kandaning Ringgit Purwa, tanpa menyinggung sama sekali terhadap dua teks tersebut. Ada juga lampiran foto teks dari nipah Kunjarakarna yang digunakan untuk memperkuat argumen terkait makam Fatimah binti Maimun di Gresik. 

Lebih kacau lagi ketika kutipan teks Hariwangsa dihadirkan untuk melegitimasi kisah di dalam Serat Jangka Jayabaya. Selain terjemahannya yang tidak beraturan, dikatakan juga oleh Agus Sunyoto bahwa Rsi Agastya, guru Jayabhaya, sebenarnya adalah Syaikh Syamsudin al-Wasil.

Pokok gagasan yang hendak disajikan dalam Atlas Walisongo adalah fakta tentang eksistensi walisongo. Salah satu caranya dengan menghadirkan prediksi tentang konsep religiusitas di masa Jawa pra-Islam.

Sayangnya, cara tersebut sebenarnya tidak terlalu perlu dilakukan untuk tujuan menegaskan keberadaan walisongo. Termasuk penyajian data-data teks dan prasasti Jawa pra-Islam, yang ‘dipaksa’ didudukan sebagai penguat argumen.

Terjemahan Kakawin Hariwangsa. Sumber: Atlas Walisongo

Untuk mengukuhkan sekaligus mempopulerkan teori ‘Kapitayan’ Agus Sunyoto menggunakan dalih yang mengatakan bahwa ajaran Kapitayan merupakan agama rakyat, sehingga tidak banyak tercatat dalam sastra maupun bangunan. Menurutnya, ajaran rakyat di masa dulu tidak sama seperti ajaran yang ada di dalam istana.

Adapun yang terjadi Atlas Walisongo bukannya memperkuat legitimasi walisongo, namun justru membiaskan pengetahuan sejarah Jawa pra-Islam.

Terlebih, jika bukti-bukti sejarah Islam, seperti batu nisan, dikatikan dengan teks-teks sakral yang berasal dari ajaran yang berbeda sama sekali. Meski demikian, Atlas Walisongo memang menawarkan perspektif baru atas sejarah Islam di Jawa.

Entitas yang Tersembah

Berdasarkan rekam jejak dari masa lalu, baik teks maupun bangunan, yang telah melewati rentang panjang penelitian, sebelum kedatangan Islam, masyarakat Jawa diprediksi memeluk kepercayaan Hindhu atau Buddha. Perkembangan selanjutnya, penelitian terkait religiusitas masyarakat Jawa menyebutnya secara beriringan, Hindhu-Buddha.

Artinya masyarakat Jawa di masa lampau memeluk Hindhu sembari memeluk Buddha, pun sebaliknya, sehingga istilah Hindhu-Buddha berlaku hingga saat ini. Adapun malah lebih spesifik menjadi Siwa-Buddha, karena ajaran Hindhu yang dipeluk adalah Siwaisme.

Selain menunjukkan fakta dua ajaran yang dijalankan secara beiringan di Jawa, istilah Siwa-Buddha juga mengindikasikan pencampuran.

Pola pencampuran dalam praktek maupun konsepsi teologis pada ajaran Siwa dan Buddha berlanjut hingga Islam merasuk di Jawa. Istilah ‘pencampuran’ sendiri bermula dari tawaran Krom dan Rassers setelah mengkaji Sutasoma.

Sementara itu, Pigeaud lebih cenderung menggunakan istilah pararelisme, sedangkan Zoetmulder menggunakan istilah sinkretisme. Istilah terbaru diajukan Gonda untuk menggantikan istilah-istilah yang merujuk pada pencampuran ajaran di Jawa, yakni dengan kata ‘coallition.

Sebab bagi Gonda pencampuran, peleburan, atau penggabungan ajaran di Jawa apabila dilihat dalam sudut pandang teologi menyiratkan pencarian untuk tujuan akhir yang sama namun dengan menggunakan metode yang berbeda (Andrea Acri, 2015: 262).

Guna mencari akar konsep monoteisme pra-Islam, tentu perlu menimbang konsep religiusitas yang terdapat dalam ajaran Siwa-Buddha, berdasarkan teks yang telah tersedia.

Seperti kata A. Teeuw, bahwa untuk membuka tabir masa lalu peradaban Jawa caranya adalah melalui intepretasi pada teks-teks berbahasa Jawa kuno, baik yang berwujud sastra maupun tradisi teks tutur dan tattva yang lebih spesifik. 

Tulisan ini sekadar pembuka, sama sekali tidak bertujuan menguraikan secara rinci terkait konsep monoteisme pra Islam di Jawa. 

 ‘Tuhan’ Jawa Pra-Islam

Pemahaman kita untuk kata Tuhan di jaman sekarang berbeda dengan arti Tuhan di masa Jawa kuno. Menurut Old Javanese Dictionary, kata Tuhan merujuk pada raja, seseorang yang dihormati, serta wanita yang dicintai, sama sekali tidak merujuk pada Dzat. Penggunaan kata Tuhan bisa ditemui pada teks Adiparwa yang disarikan Zoetmulder dalam Sekar Sumawur.

Menurut teks-teks Jawa yang berasal dari masa lampau, dan masih diteruskan hingga saat ini, untuk menyebut nama Dzat, digunakan istilah Sang Hyang. Biasanya di belakang istilah Sang Hyang akan diteruskan dengan istilah-istilah yang mensifati Sang Hyang tersebut. 

Karenanya ada istilah Sang Hyang Kamahayanikan, Sang Hyang Parameswara, Sang Hyang Paramarta, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Sang Hyang tidak melulu merujuk pada ‘Yang Maha’, sebab bisa juga dilekatkan pada suatu entitas penguasa elemen atau suatu hal, dalam hal ini adalah Dewa, sehingga berkelindan dengan istilah Dang Hyang.

Tidak hanya Sang Hyang, untuk menyebut Dzat, teks-teks Jawa dari masa lampau juga menggunakan istilah Bhatara atau Batara yang berasal dari bahasa Sansekerta Bhaṭāra yang berarti Dzat, Dewa, atau seorang yang pantas disembah, dan biasanya mengindikasikan maskulinitas. Apabila merujuk pada entitas yang dianggap feminim, yang digunakan adalah Bhaṭārī.

Menurut Hooykaas, Dzat yang dikenal oleh masyarakat Jawa, bahkan sebelum kedatangan Siwa-Buddha, dan bertahan hingga saat ini adalah Batara Guru.

Imanensi Dzat jarang terjadi di masa lampau, yang sering ditemui justru suatu laku transendensi, keberjarakan antara hamba dengan Sang Hyang. Ajaran-ajarannya, selaras dengan pernyataan Zoetmulder, cenderung lebih pantheistic ketimbang monistic.

Candi Sari, sebuah candi Buddha, di Yogyakarta. Sumber gambar: Rijks Museum

Persepsi mengenai Tuhan di masa pra-Islam berlaku sesuai konsep teologi yang dibawa Siwaisme dan Buddhisme. Memang pada karya sastra Jawa, biasanya cenderung menggunakan konsepsi teologis tentang Dzat sesuai dengan ajaran yang dipeluk pujangga, akan tetapi tidak sedikit pula karya sastra yang menyertakan keberadaan Dzat yang lebih dari satu.

Misalnya dalam Tantu Panggelaran yang mengisahkan pemindahan Mahameru dari Jambudwipa ke Jawadwipa. Sekelompok ‘Dzat’ bekerja sama untuk mengurusi perpindahan tersebut. Tentang Dzat Tantu Panggelaran akan diulas pada tulisan selanjutnya.

Sementara itu di dalam Pararaton dan prasasti Mula Manurung, julukan Sang Hyang tidak semata melekat pada Dzat, namun juga melekat pada seorang Raja Tumapel yang berjuluk Sang Hyang Parameswara.

Berdasarkan penelaahan terhadap ajaran-ajaran di Jawa kuno, untuk ajaran Hindhu, masyarakat Jawa ada yang menerapkan laku Siwaisme, yang memuja Siwa sebagai Batara, ada juga yang menerapkan Waisnawa, yang menitikberatkan pemujaan pada Wisnu.

Untuk ajaran Buddha dipersepsikan sebagai Jinaisme, meski sebenarnya di tanah kelahirannya, keduanya memiliki ide berbeda dengan. Kendati demikian, di Jawa, Buddha sering difahami sebagai Jina.

Bersambung

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)
Last modified: November 23, 2020

Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.