Industri-Manusia Jawa Kultur Industri

Industri dan kebudayaan jawa di Gerbangkartasusila

Geliat pengamatan kebudayaan manusia Jawa biasanya terkonsentrasi pada kultur-kultur agraris, bisa juga ke kultur pesisir kalau amatannya terkait sejarah, migrasi manusia, masa awal dakwah agama-agama, peradaban prasejarah, atau kemaritiman.

Sastrawan Iman Budi Santosa pernah mengatakan bahwa jiwa orang Jawa adalah jiwa agraris, sementara itu, di masa lalu, Tome Pires mengungkapkan kedahsyatan kekuatan maritim Jawa.

Seiring dengan bergantinya abad, revolusi industri yang terjadi di Eropa, terasa pengaruhnya hingga ke Jawa. Jiwa agraris sekaligus power maritim Jawa perlahan terganti dengan mental industri.

Sejauh pengamatan, industri-indsutri di Jawa kebanyakan bercokol subur di daerah yang dekat atau relatif dekat dengan kultur maritim, tapi bukan berarti di wilayah dengan kultur agraris tidak ada industri sama sekali.

Dalam hal ini yang dijadikan acuan adalah industri-industri berskala besar, terpusat di satu tempat dengan jumlah cukup banyak, berskala nasional bahkan multinasional, bukan industri berupa home made, atau industri yang dikelola kelompok maupun komunitas tertentu.

Selama ini banyak anggapan yang menyatakan bahwa manusia Jawa yang berkultur agraris lebih njawani dibandingkan yang berkultur maritim. Mengingat cepatnya dinamika kebudayaan di kultur maritim, kiranya agak sulit memertahankan ‘warisan’ kebudayaan Jawa.

Di sisi lain, apabila masyarakat Jawa berkultur agraris dibandingkan dengan  masyarakat Jawa kultur industri, banyak yang berpikiran bahwa masyarakat Jawa dengan kultur industri lebih cenderung ilang Jawane.

Ilustrasi kekangan industri dalam pikiran
Ilustrasi kekangan industri. Sumber: DevianArt

Sebagai buktinya, masyarakat Industri di Gerbangkartasusila (Gresik, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan), dan mungkin juga di daerah lain yang banyak industrinya, cenderung ‘mengklibatkan’ kebudayaan Jawa yang ‘sejati’ pada Yogyakarta dan Surakarta.

Mereka seolah tidak yakin apakah masih ada sisa ke-Jawa-an dalam diri mereka ketika hidup sudah relatif mutlak berorientasi pada materi dan menjadi pesuruh industri.

Selama mereka masih berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa, menerapkan praktek tata krama yang bersesuaian dengan ke-Jawa-an meski berbeda dengan praktek tata krama di kultur agraris, dan selama mereka masih mengadakan slametan, mengapa mereka ragu terhadap ke-Jawa-an mereka sendiri?

Memang hadirnya industri pasti mengubah sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat, namun tentu tidak berarti hilang begitu saja dan seketika berganti dengan kultur yang sama sekali berbeda dibanding sebelum datangnya industri.

Menyangkut tentang masyarakat Jawa dengan kultur Industri, pertanyaannya adalah bagaimana rupa kebudayaan Jawa yang berada dalam kungkungan rutinitas kerja industri?

Wujud Lahiriah Budaya Jawa

Sebenarnya, nek jareku, saat ini kebudayaan Jawa sedang mengalami semacam peyorasi, di mana ‘kebudayaan’ Jawa diterjemahkan berupa tari-tarian, aksara, musik, bahasa, pertunjukan tradisi, sastra, sopan santun, dan apapun itu yang ada ‘Jawa’-nya serta memiliki nilai adi luhung

Tidak salah jika menafsirkan kebudayaan Jawa secara demikian, akan tetapi hal tersebut seolah menafikkan bahwa kebudayaan Jawa juga meliputi bagaimana cara hidup orang Jawa itu sendiri, terlepas dari tingkat sosial-ekonomi, bukan sekadar gebyar kasat mata.

Boleh saja berpandangan bahwa kebudayaan Jawa perlu untuk ditunjukkan atau ditegaskan pada bagian apa suatu budaya Jawa itu disebut ‘budaya Jawa’.

Hanya saja konsekuensinya, kebudayaan Jawa diidentifikasi oleh kebanyakan orang Jawa sendiri sebagai segala macam hal yang melekat pada dimensi lahiriah.

  • “nJawani tenan, omahe wong iku isih limasan lho.”
  • “Cah wedok kae cen ngrumat budaya Jawa banget amerga bisa nari bedhaya.”
  • “Komunitase sangar banget amerga isih nglestarekake aksara Jawa.”

Ucapan-ucapan di atas menunjukkan budaya Jawa diidentifikasi berdasarkan kemelekatannya pada masa lampau sekaligus sifatnya yang ‘arkaik’.

Memang upaya penjagaan terhadap aspek materi atau lahiriah mutlak perlu dilakukan, namun itu hanya bisa terjadi apabila kultur yang melingkupinya memang mendukung.

Di Yogyakarta, Surakarta, serta sekitarnya, dan beberapa daerah lain yang masih terjaga kultur pedesaannya, melakukan penjagaan aspek lahiriah budaya Jawa sangat dimungkinkan.

Ilustrasi sebuah tarian Jawa
Sebuah tarian Jawa

Ada kemauan, ada kolektifitas, ada jaringan yang saling tertaut, ada militansi, sekaligus bila memang memungkinkan, ada dana, untuk menghidupi aspek-aspek lahiriah budaya Jawa di wilayah-wilayah tertentu.

Pertanyaannya adalah, apakah kemudian faktor-faktor tersebut dapat ditemukan pada masyarakat Jawa yang berkultur industri? Jawabannya, bisa iya bisa tidak.

Jika suatu ekosistem masyarakat Jawa yang begitu menyokong eksistensi kebudayaan Jawa dihadapkan dengan masyarakat Jawa berkultur industri, besar kemungkinan masyarakat Jawa berkultur industri terpana dengan situasi budaya Jawa yang memiliki dukungan ekosistem tersebut.

Masyarakat Jawa yang merawat budaya Jawa dengan dukungan ekosistem yang mumpuni mampu bicara sampai ke ranah falsafi.

Di lain pihak, bagi masyarakat Jawa berkultur industri, budaya Jawa adalah apapun itu yang memang direpresentasikan secara lahiriah dan membawa nilai Jawa yang dipercaya, entah melalui medium tari, musik, atau tulisan.

Setelah mengagumi, masyarakat Jawa berkultur industri umumnya akan menaruh hormat pada masyarakat Jawa yang punya kapabilitas menjaga aspek lahiriah budaya Jawa sembari berucap, “gak koyok aku, wong Jawa tapi ilang Jawane.”

Corak Budaya Jawa Industri

Soal profesi, jelas masyarakat Jawa dengan kultur industri mayoritas bekerja sebagai buruh. Senin sampai dengan Jum’at berangkat kerja, entah pada pukul berapa tergantung shift kapan.

Kalau beruntung, Sabtu dan Minggu mereka akan libur, tapi kalau sedang apes mereka mau tidak mau harus lembur.

Sepanjang hari mereka merasakan lelah, baik tubuh maupun pikiran. Ketika sudah lelah mereka akan beristirahat, tidur, untuk kerja lagi di keesokah hari.

Hampir tidak ada ruang untuk mengidentifikasi pada waktu kapan ‘budaya Jawa’ mereka pegang kecuali saat berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dengan rekan kerja atau tetangga.

Untuk urusan budaya Jawa berupa sopan santun dan tata krama, usia tidak lagi menjadi penentu tetapi pangkat dan kedudukan di lingkungan maupun di tempat kerja

Di lingkup industri, berbicara menggunakan bahasa Jawa krama secara utuh dengan orang yang berusia lebih tua, juga orang yang baru dikenal dinilai terlalu bertele-tele. Memang tetap ada kosakata dari bahasa Jawa krama, tapi tidak dominan.

Sebagai gambaran, di wilayah industri Gerbangkartasusila, kebanyakan anak sudah enggan bicara menggunakan bahasa Jawa krama dengan orang tuanya, mereka memilih menggunakan bahasa Jawa ngoko, dan sesekali bercampur bahasa Indonesia.

Sementara itu, di dalam ranah spiritualitas budaya Jawa, setidaknya ada NU yang menopang keberlangsungan budaya Jawa di tengah masyarakat Jawa berkultur industri.

Di masjid dan mushalla, ada pujian antara adzan dengan ikomah, dan pujian yang dilantunkan biasanya pujian-pujian berbahasa Jawa. Menjelang adzan Subuh, tembang Syi’ir Tanpa Waton rutin dikumandangkan.

Kalau mencari spiritualitas budaya Jawa yang condong ke arah mistis di lingkup industri, sampai sekarang tidak sedikit masyarakat yang berkunjung ke pundhen, candhi, atau, pesareyan yang dianggap sakral dengan hajat khusus tertentu.

Gambar pundhen Gagak Serut di Mojosari
Punden Gagak Serut di Mojosari. Sumber: Twitter

Di wilayah industri daerah Mojosari, Mojokerto, nyatanya terdapat pundhen sakral yang bernuansa sangat kejawen bernama pundhen Eyang Saloka Gading, dipercaya bahwa dia adalah salah satu dari Sapta Rsi era Majapahit.

Sampai hari ini, masyarakat yang bekerja sebagai buruh di Mojosari dan sekitarnya sering manekung di pundhen tersebut demi terwujudnya suatu hajat.

Dari sedikit deskripsi di atas, hampir tidak ada pelibatan kebudayaan Jawa yang berupa pertunjukan semacam tari-tarian, wayang, dan pertunjukan tradisional lain.

Tontonan-tontonan semacam itu memang masih ada, namun biasanya digelar dalam rangka peringatan tertentu. Ketika pertunjukan tradisi digelar masyarakat akan berbondong-bondong menonton.

Uniknya, iki tahu taktakonke neng wong-wong, mereka datang ke suatu pagelaran acara tradisi itu bukan untuk menonton pertunjukan yang digelar, melainkan menikmati ‘keramaian’.

Batiniah Jawa Masyarakat Industri

Pada aspek lahiriah, masyarakat Jawa berkultur industri memang relatif tidak lagi memegang ‘perwujudan’ budaya Jawa.

Aspek lahiriah budaya Jawa yang berbentuk pertunjukan kebanyakan dianggap sebagai momen melepas penat dari rutinitas kerja.

Sementara itu untuk aspek lahirah budaya Jawa berupa teks (aksara dan bahasa Jawa tulis) dinilai sebagai sebuah mata pelajaran yang kalau bisa dikuasai waktu duduk di bangku Sekolah Dasar.

Ketika sudah beranjak SMA, lalu masuk ke dunia kerja, mereka sudah tidak ada lagi kepentingan dengan aspek-aspek lahiriah budaya Jawa. Bukannya tidak bersedia merawat, tapi tidak sempat.

Ilustrasi orang Jawa dalam kultur industri
Orang Jawa dalam kultur industri

Meski demikian, mereka sangat mengapresiasi sekaligus hormat (dan cenderung gumun) pada orang maupun kelompok yang konsisten merawat aspek lahiriah budaya Jawa.

Sadar akan terbatasnya waktu, dana, dan skala prioritas, sebagai gantinya masyarakat Jawa berkultur industri mengalihkan kesempatan yang ada serta kemauan yang ada untuk menggeluti ke-Jawa-annya pada aspek batiniah budaya Jawa.

Bila ada waktu luang yang cukup banyak, selain ngopi, mereka juga akan berkunjung ke tempat sakral untuk menjalankan amalan tertentu. Praktek seperti ini memang sulit dijumpai di wilayah industri, namun bukan berarti tidak ada.

Akhirnya, yang menentukan wujud budaya Jawa di masyarakat Jawa berkultur industri tidak lain adalah waktu dan skala prioritas.

Ketika waktu serta skala prioritas berhasil dinego, budaya Jawa yang digeluti masyarakat Jawa berkultur industri condong pada aspek batiniah Jawa.

Semua ini masih dugaan, dan berdasar pada pengamatan pribadi. Belum tentu juga bersesuaian dengan masyarakat Jawa berkultur industri yang berada di luar Gerbangkartasusila.

Gombalamoh

nDilalah founder Jawasastra Culture Movement. Pecinta sastra Jawa, novel grafis, dan pengetahuan ekologi tapi tidak yakin dalam hal praktek lapangan. Penggembala dosa.

Satu komentar di “Industri-Manusia Jawa Kultur Industri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas
%d blogger menyukai ini: