Tulisan pertama dari seri tulisan yang mengupas segala hal tentang kehidupan komik Jawa

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa komik adalah semata bacaan untuk anak-anak. Katakan anggapan tersebut benar, nyatanya banyak orang tua yang justru melarang anaknya membaca komik, alasannya, komik diperkirakan mampu memanipulasi otak anak sehingga anak yang membaca komik akan menjadi bodoh. 

Karenanya beberapa orang tua berusaha keras mencegah anak mereka terkontaminasi komik. Jejak cara berpikir Orde Baru nampaknya masih membekas di kepala beberapa orang tua.

Komik sebagai satuan gambar yang tersusun dan membentuk cerita (Will Eisner, 1985), merupakan salah satu produk kebudayaan dunia yang tidak boleh dipandang sebelah mata dan dihitung sebagai karya pop biasa (Karin Kukkonen, 2004).

Terlebih komik pun mempunyai sifat yang hampir mirip dengan sastra, dan kita bisa menyebut komik dengan istilah ‘sastra bergambar’ / ‘sastra visual’ (Marcel Boneff, 1998). Akan tetapi, Pascal Lefevre, 2010, menyampaikan bahwa perlu disadari bahwa komik tetaplah dapat berdiri sendiri sebagai komik.

Will Eisner, 1985, berpendapat kalau bentuk awak komik ialah gambar-gambar yang terdapat di dinding piramida Mesir. Scott McCloud, 1993, dalam Understanding Comic kurang sepakat jika bentuk komik pertama kali ditandai oleh gambar di piramida Mesir. Meski di piramida Mesir terdapat gambar, namun jika tidak membentuk satuan utuh cerita, maka bukan komik namanya. 

Menurut Scott McCloud, bentuk awal komik yang paling tepat adalah Bayeux Tapestry. Sebuah susunan cerita dalam bentuk gambar dengan panjang 230 gambar. Mengisahkan penaklukan Normandia. Dikerjakan pada awal tahun 1066.

Foto Bayeux Tapestry diperkecil. Sumber: Clan Rollo

Terlepas dari perdebatan historiografi, komik telah menjadi produk kebudayaan dunia. Setiap negara di dunia pasti memiliki komiknya masing-masing dengan ciri khas tersendiri. Di Jepang, komik disebut dengan manga.

Istilah manga dikenalkan oleh Kitazawa Rakuten pada tahun 1905. Kepopuleran pemakaian istilah manga menemui puncaknya saat Okamoto Ibbei memulai debutnya dengan manga manbun dan manga shosetsu (Rei Okomoto, 1997: 112).

Kitazawa dan Okamoto pernah belajar ilmu seni grafis di Amerika, namun ketika pulang, mereka membangun citra komik Jepang yang lekat dengan sebutan manga, dan memilih mengoptimalkan teknik gestalt.

Lalu bagaimana dengan di Jawa? Sayid Mataram dalam tulisannya Tinjauan Wayang Beber sebagai Sequential Art, meyakini bahwa bentuk awal komik Jawa diyakini bermula dari wayang beber. Mungkin yang diyakini Sayid Mataram tidak salah.

Namun, wayang beber punya beberapa persoalan jika ditetapkan sebagai bentuk awal komik Jawa. Persoalan yang sama juga akan muncul jika merujuk pada relief-relief bercerita di candi.

Pertama, gambar-gambar pada wayang beber lebih menyerupai simbol. Sampai wayang beber dikisahkan oleh dalang, kita sendiri tidak akan tahu kalau wayang beber tersebut ternyata memiliki cerita. Coba wayang beber didiamkan saja, apakah kita akan tahu ceritanya?

Scene pada Wayang Beber

Kedua, relief pada candi memang ada yang membentuk cerita, contohnya relief Borobudur yang mengisahkan perjalanan Buddha, masalahnya, apakah bentuk pahat termasuk dalam hitungan komik?

Persoalan pertama mungkin masih akan menjadi perdebatan, namun di persoalan kedua, kita bisa menegosiasikan pemahaman pahat sebagai karya seni rupa jika merujuk pada definisi seni rupa modern secara luas.

Komik Jawa Hari Ini

Belum ada kesepakatan tentang bagaimana menyebut komik Jawa dan indikator apa yang menentukan bahwa komik tertentu merupakan komik Jawa. Memang pada dekade 60’an s.d 90’an terdapat istilah cergam (cerita bergambar), namun istilah cergam tersebut kini sudah hampir tak digunakan, terutama oleh generasi millenial, dan istilah yang lebih banyak dipakai adalah ‘komik’.

Tergesernya istilah cergam, hingga hampir-hampir tidak lagi digunakan kiranya diakibatkan oleh gempuran komik-komik Jepang dan Korea. Di dekade 60 – 90’an, istilah cergam dapat meminimalisir lesakkan komik-komik Eropa dan Amerika. Para cergamis (komikus) yang menjadi penguatnya.

Sayangnya hari ini, penguat komik Jawa, Indonesia umumnya, bisa dibilang hampir habis. Terbias karakternya. Semata bertahan dengan cara klasik ‘beradaptasi’, padahal secara corak, cergamis 60-90’an telah menemukan karakter yang tinggal dilanjutkan dan diolah. Contohnya, komik wayang yang diinisiasi R.A Kosasih melalui komik Mahabharata-nya.

Kembali pada urusan komik Jawa. Untuk sementara, agar tidak melebar, komik Jawa yang dimaksud di sini adalah komik yang berbahasa Jawa dan komik berbahasa Indonesia yang mengangkat tema-tema dari sastra Jawa.

Komik Mahabharata karya R.A Kosasih. Sumber: Facebook Andy Wijaya

Apabila komik Indonesia saat ini dianggap sedang terancam, hal yang lebih parah sedang dialami komik Jawa. Pada satu titik tertentu, komik Jawa mengalami nasib yang lebih buruk dibandingkan sastra Jawa modern.

Mengandalkan formatnya sebagai bagian dari majalah, satu-satunya pertahanan komik Jawa saat ini hanya Panjebar Semangat, Jayabaya, Djaka Lodang, dan majalah-majalah bahasa Jawa lainnya.

Komik Jawa masih akrab dengan bentuk fisiknya. Memang ada beberapa platform atau komikus yang menyediakan komik singkat berbahasa Jawa melalui media sosial, namun komik Jawa yang disajikan secara daring tersebut belum menunjukkan tanda-tanda konsistensi. Pun kerangka cerita yang ditawarkan kebanyakan cerita-cerita yang ringan dan habis sekali baca.

Platform-platform seperti Webtoon, Ciayo, dan Kwikku memang menyediakan ruang untuk komikus menyajikan karya komiknya dalam bentuk digital. Sayangnya platform-platform yang disebut di atas belum ada satupun yang mengakomodir dan memberi ruang untuk komik-komik berbahasa daerah. Untuk platform Ciayo, menurut kabar terkini sudah mengalami kolaps.

Screenshoot komik pada platform Kwikku

Kiranya, dapat dipastikan, kejayaan komik Jawa berbanding lurus dengan kejayaan kalawarti yang memuat komik Jawa. Ketika Panjebar Semangat, Jayabaya, dan Djaka Lodang memiliki oplah yang tinggi, kepopuleran komik Jawa mengikut di belakangnya. Itu jika yang dimaksud komik Jawa adalah komik berbahasa Jawa.

Lain soal ketika komik Jawa dipahami sebagai komik bertema Jawa. Sebab jika menggunakan pengertian ini, komik Jawa juga terbit dengan format buku. Seperti yang dilakukan Teguh Santosa yang menerbitkan komik bertema pewayangan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya.

Komik Jawa dalam Jagad Kalawarti

Majalah menjadi media penyampai komik Jawa yang dianggap paling tepat hingga hari ini. Melalui majalah, komikus-komikus Jawa telah membentuk pasar dan terbebas dari konvensi ‘ribet’ layaknya syarat menampilkan komik melalui platform digital. Apalagi, komikus Jawa yang menggarap komik berbahasa Jawa masih banyak yang menggunakan teknik gambar manual.

Karakter komik berbahasa Jawa dalam majalah bahasa Jawa terikat pada pribadi komikusnya. Bukan pada karakter majalah yang memuat. Adapun majalah yang memuat hanya menyajikan karakter pemuatan komik, yang entah diselipkan di tengah majalah atau diletakkan sebagai cover belakang majalah. Soal warna dan corak, sepenuhnya di tangan kreatif komikus. Proses kurasi yang dilalui pun tidak terlalu njelimet

Komikus-komikus legendaris Indonesia, kebanyakan berangkat dari format komik majalah. Pun komikus legendaris Indonesia tidak segan membuat komik menggunakan bahasa daerah. Nama-nama seperti Wid NS, Hasmi, dan Teguh Santosa, merupakan sedikit dari banyaknya komikus Jawa yang melegenda. 

Mereka pernah menggarap komik-komik di kalawarti Panjebar Semangat, Jaya Baya, dan Djaka Lodang. Tiap kalawarti memiliki kecenderungan untuk memilih komikus mana yang dimintai komik. Setiap komikus akhirnya membentuk khas masing-masing. Wid NS dengan fiksi ilmiahnya, Teguh Santosa dengan gaya pendekar, dan Hasmi dengan superhero nya.

Komik bersambung Modang Kedu yang tayang di kalawarti Djaka Lodang tahun 90’an. Sumber: Facebook Mayat Komik Indie

Misal, Wid NS kerap mengisi rubrik komik di Djaka Lodang, Teguh Santosa di Jaya Baya, dan Hasmi seringkali dimintai komik oleh Panjebar Semangat. Sebelum wafat, Hasmi sempat merampungkan komik Sembadra Ilang untuk Panjebar Semangat. Bersama Jawasastra, kami pernah mencoba program reproduksi komik Cleret Wangi karya Wid NS dengan animasi seadanya di Youtube.

Selain beberapa nama legendaris komikus Jawa di atas, banyak juga komikus Jawa yang mengkhususkan diri menggarap komik bahasa Jawa, atau setidaknya dominan menggarap komik berbahasa Jawa dibandingkan komik berbahasa Indonesia. Komikus yang mengkhususkan diri pada pengerjaan komik berbahasa daerah jarang bisa lepas dengan keberadaan majalah daerah.

Di dalam majalah berbahasa daerah, kalawarti, format dan jenis komik yang disajikan beraneka ragam. Ada komik pembacaan bersambung, komik strip, dan ada pula komik bisu atau komik tanpa speech bubble.

Terkadang dalam satu edisi, suatu kalawarti dapat menyajikan beberapa format dan jenis komik sekaligus. Biasanya di bagian tengah diisi komik strip sementara komik bersambung diletakkan pada cover belakang.

Ketika komik yang disajikan berupa komik strip, kebanyakan ditempatkan pada bagian dalam kalawarti. Isu yang diangkat biasanya isu-isu ringan yang tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Adapun pada beberapa kesempatan komik strip Jawa menyajikan isu yang berat namun dibalut secara ringan atau jenaka.

Dua gambar komik strip dari kalawarti Jaya Baya di atas diunduh dari postingan Facebook Gunawan Aj di grup Komik Indonesia Semua Jaman.

Bisa dilihat pada komik strip berjudul Jamu Anyel Petruk Gareng di atas yang dimuat kalawarti Jaya Baya, 25 April 1976. Karya InIIIs. Komik strip disusun secara horizontal dengan empat panel, dibaca dari kiri ke kanan. Komik strip tersebut dapat dibaca sekali habis dan memberi kesan guyonan Jawa yang kuat.

Aspek kejenakaan dan ringan yang ditampilkan mengambil dari perspektif wujud sekaligus karakter wayang punakawan, Gareng dan Petruk. Di samping sebagai representasi ‘wong cilik’, tokoh Gareng dan Petruk memang lekat dengan kelucuan. Pemahaman tersebut berangkat dari paradigma lakon wayang ketika masuk adegan dagelan yang biasanya melibatkan punakawan.

Di gambar komik Jamu Anyel Petruk Gareng edisi 04 April 1976, komik strip disajikan secara episodik. Aliran waktu meloncat dari satu peristiwa ke peristiwa lain dengan setting yang berbeda. Jumlah panel tetap terdiri dari empat panel. Dibaca dari kiri ke kanan secara horizontal.

Menggunakan pemahaman komik dari Scott McCloud, transisi antar panel pada gambar Anyel Petruk Gareng edisi 04 April 1976 dapat dimasukkan dalam transisi aspect to aspect dan action to action.

Secara berurutan, Petruk sedang membagikan makanan pada beberapa orang. Di panel pertama dan kedua, Petruk memberikan nasi pada seseorang. Karena tidak ada petunjuk latar yang jelas, dan langsung menunjuk tokoh yang berbeda, gambar panel 1-2 merupakan aspect to aspect.

Sementara itu, panel 3-4 merupakan satuan utuh, sehingga masuk dalam kategori action to action, karena menunjukkan adegan saat Gareng menerima wadah nasi lalu melemparkan wadah nasi tersebut ke kepala Petruk.

Format komik strip bahasa Jawa cukup digemari oleh pembaca kalawarti. Mudah dipahami dan dibaca sekali habis. Isu ringan yang dibawa menjadi sarana pelepas penat. Contoh lainnya bisa dilihat pada empat gambar komik strip di bawah ini. Komik strip berjudul Pak Sotol, yang disajikan dalam kalawarti Jaya Baya, karya Indri Soedono.

Selain komik strip bahasa Jawa yang mengambil karakter khas pewayangan. Kalawarti juga sering menawarkan komik bersambung dengan teknik pewarnaan yang variatif berdasarkan corak komikus Jawa masing-masih. Meski bervariatif, komik bahasa Jawa tetap konsisten pada gaya penggambaran realis.

Teguh Santosa, komikus Jawa kelahiran Malang, karena mendapat pengaruh dari pekerjaannya pelukis tobong kethoprak, dia lebih mengandalkan teknik gelap terang pada komik-komiknya. Namun, pada dekade 80’an – 90’an, umumnya komik bahasa Jawa memang cenderung memilih menggunakan teknik gelap terang.

Baru pada akhir tahun 90’an, menjelang tahun 2000’an, komik-komik Jawa mulai memasukkan pewarnaan yang lebih realistis sehingga menimbulkan kesan yang lebih dramatis. Pun tema yang dihadirkan bukan lagi terbatas pada tema-tema wayang.


Tulisan ini akan berlanjut dalam seri pembahasan komik Jawa.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)