Mengunjungi Rahasia Sedulur Papat11 min read

Mengenali diri sendiri tidak semudah berkenalan dengan lawan jenis yang hendak ditiduri. Bagaimanapun, hingga saat ini, musuh terbesar manusia memang dirinya sendiri. Sebanyak atau sekuat apapun seseorang yang dianggap musuh, manusia akan menemui momen kalah oleh dirinya sendiri, yakni oleh hasrat atau nafsunya sendiri. Bukankah kekalahan yang disebabkan oleh musuh tidak sememalukan kalah oleh diri sendiri?

Untuk memudahkan upaya mengalahkan diri sendiri, yang artinya adalah hasrat, orang Jawa memetakan hasrat menjadi empat komponen: Amarah, supiyah, aluamah, dan mutmainah. Orang yang mendudukkan diri sebagai pusat untuk mengalahkan empat komponen itu disebut dengan pancer (pusat). Empat komponen yang tadi tidak lebih dari sekadar manifestasi hasrat yang ‘dibahasakan’ supaya mencapai pemahaman dasar sifat-sifat natural manusia.

Dulur amarah dianggap sebagai komponen yang menyimbolkan nafsu mudah marah, tempramental, impulsif, dan kurang berpikir panjang. Komponen amarah lekat pada sifat manusia pada umumnya ketika manusia berada dalam situasi atau kondisi yang tidak mengenakkan, sehingga dia akan memuntahkan amarah, baik melalui kata-kata atau tindakan.

Dulur supiyah disebut sebagai komponen dulur yang menyimbolkan hasrat untuk berbesar diri, berpuas diri, dan berbagai bentuk kesombongan. Rumangsa, merasa diri lebih baik daripada orang lain, dan tidak memiliki saingan yang pantas. Hasrat menyombongkan diri bagaimanapun juga dimiliki oleh manusia pada umumnya, terlepas dari berapa besar rasio kesombongannya.

Berikutnya adalah dulur aluamah, sebagian besar masyarakat Jawa menganggap dulur aluamah sebagai dulur yang mendorong pancer untuk terus-menerus memuaskan kebutuhan perut hingga ke bawah perut, kemaluan. Kebutuhan primer berupa makan, bisa saja menjadi berlebihan, dan inilah posisi dulur aluamah. Begitu pula kebutuhan biologis berupa bercinta, orang yang terlalu berlebihan terhadap aktifitas bercinta pun berbahaya.

Terakhir adalah dulur mutmainah. Dulur mutmainah merupakan komponen yang menyimbolkan kesadaran dan mawas diri atau waspada. Kebanyakan orang menganggap dulur mutmainah bukan sebagai nafsu yang kurang baik, sebab dipersepsikan sebagai nafsu yang mengarahkan manusia pada kebaikan. Akan tetapi, kebaikan juga dapat menjebak manusia, sebab berbuat baik tanpa memandang konteks tertentu juga akan menimbulkan keburukan.

Lukisan Dewa Ruci. Sumber gambar: SugihArt

Di dalam lakon Dewaruci atau Bimasuci yang terkenal, keempat nafsu yang telah disebut di atas diidentifikasi melalui warna. Tepatnya ketika Werkudara berada dalam kondisi kultivatif, dia bertemu dengan empat warna yang disimbolkan sebagai dulur, yakni warna merah (amarah), warna kuning (supiyah), warna hitam (luamah/aluamah), dan warna putih (mutmainah).

Pancer dan empat sedulur atau kadang tersebut kemudian dirumuskan ke dalam konsep kebatinan masyarakat Jawa yang bernama sedulur papat lima pancer, keblat papat lima pancer, atau kadang pat lima pancer. Tiga penamaan konsep tersebut memiliki inti yang sama, hanya penamaannya saja yang berbeda.

Selain diidentifikasi menggunakan warna, sedulur papat, dan termasuk pancer, juga sering diidentifikasi secara fisik. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan orang Jawa yang menyatakan bahwa ketika manusia lahir, pasti disertai oleh sedulurnya, yakni kakang kawah (kakak air ketuban), adhi ari-ari (adik plasenta), getih (adik darah), dan puser (adik tali pusar).

Setelah jabang bayi lahir, keempat saudara yang sebelumnya selalu menemani di alam guwa garba akan menemui ajal. Karenanya jamak diketahui adanya kepercayaan bahwa keempat saudara yang menyertai kelahiran jabang bayi harus dihormati. Ada yang dipendam, ada pula yang digantungkan di atap rumah untuk kasus kelahiran tertentu.

Meski mereka telah mati, namun selama manusia atau jabang bayi itu hidup, keempatnya akan senantiasa menyertai. Dari sinilah, mungkin, muncul konsep khodam untuk manusia. Sayangnya kaitan sifat alamiah manusia dengan sedulur papat yang menyertai kelahiran belum diketahui. Maksudnya, belum jelas apakah kakang kawah merepresentasikan mutmainah atau tidak, seperti halnya dulur yang lain, sehingga bisa dianggap keduanya berada dalam domain pendekatan kebatinan Jawa yang berbeda.

Ada pula yang mengidentifikasikan sedulur papat menggunakan identitas malaikat, seperti Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail. Konsep jenis ini lebih sering dipercaya oleh masyarakat Jawa yang memeluk Islam secara bersamaan dan imbang, namun cenderung lebih berat pada aspek filosofi Jawa-nya. Konsep sedulur papat lima pancer ini dikenal dengan kanda pat bagi masyarakat Bali (I Kadek Dwi Noorwatha & I Putu Udiyana Wasista, 2019: 79).

Konsep mengenai sedulur papat lima pancer mengikuti alur religus masyarakat Jawa. Konsep sedulur papat lima pancer yang kebanyakan dikenal hari ini merupakan konsep yang telah diisi dengan pemahaman mistik Islam, padahal sebelum Islam masuk di Jawa, konsep semacam ini telah ada. Contohnya seperti pada bait ke-51, pupuh II, Kakawin Ramayana (T. Pudjiastuti, 2010: 84):


Sitā sěděng nya mětu ngūni laras dulur nya,

gaṇḍéwa dibya yatikā pinākaryyari* nya,

yapwan hanānun umětěn ya mayat ya śaktya,

ya swāmya sang Janarājasutā tatan lèn.  


Sita dahulu ketika lahir (bersama dengan) saudaranya (yang berupa) busur, busur sakti itulah yang menjadi plasentanya, adapun jika ada yang mampu (atau) yang mempunyai kesaktian dapat membentangkan (busur itu), ialah yang akan menjadi suami putri raja Janaka (itu), tak ada yang lain.


Dijelaskan oleh T. Pudjiastuti (2010) di atas bahwa Sita lahir bersama dengan plasenta yang kemudian ditakdirkan untuk berubah menjadi busur yang kelak menjadi penentu calon suami Sitta. Plasenta tersebut oleh pengarang Kakawin Ramayana dianggap sebagai saudara yang menyertai kelahiran Sita. Bila melihat posisi busur tersebut yang dijadikan syarat kecocokan suami, maka tidak berlebihan jika menganggap busur itu (plasenta) menyertai Sita semasa dirinya hidup.

Salah Satu Ritual Menemui Sedulur

Sedulur papat dipercaya sebagai entitas yang benar-benar ada. Bagaimanapun, sesuatu yang tidak terlihat, atau tidak pernah terlihat, bukan berarti tidak ada. Tidak bisa dilihat juga bukan berarti tidak bisa dirasa oleh pancadriya lain. Ambil contoh entut, memang entut tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi bukankah entut bisa dibau dan dirasakan sedikit hembusan anginnya?

Kurang lebih sedulur papat yang menyertai manusia Jawa bisa dipersepsikan seperti entut. Tingga seberapa prosentase kesadaran yang dibutuhkan untuk merasakan kehadiran sedulur papat atau bahkan hingga ke fase melihat sedulur papat. Karena beberapa ‘hukum alam’ yang menjadi syarat berjalannya alam, sedulur papat menjadi tidak terlihat.

Keberadaan ‘hukum alam’ yang membuat sedulur papat tidak terlihat atau bahkan tidak terasa kehadirannya bukan berarti tidak dapat disiasati. Salah satu cara menyiasati hal ini adalah dengan menggunakan mantra yang diiringi dengan jalan laku tirakat tertentu sebagai prasyarat pembacaan mantra.

Rapalan atau mantra untuk menemui sedulur papat cukup terkenal di tengah kalangan masyarakat Jawa. Sayangnya, ada kabar yang saya dapat dari seorang guru, bahwa manusia Jawa hanya dapat menemui sedulur papat-nya sekali seumur hidup, tapi informasi ini belum tervalidasi. Berikut mantra yang beredar di tengah masyarakat Jawa, ini hanya satu versi dari sekian banyak versi mantra untuk menemui sedulur papat (Teguh Budiharso, 2016: 4 – 8)


Mar-marti, Kakang Kawah, Adi Ari-ari

getih, otot, puserku sing metu soko margo ino

lan sing ora metu soko margo ino

sing metu bareng sedino

Nini among, Kaki among

sing ngemongi jiwo raganingsun

mban-mbanono aku rinten klawan ndalu

tak opahi kembang wangi.


Bapa kuwasa, ibu pratiwi kulo nyuwun sih pitulungan

sedulurku kang tuwa, kang ana wetan putih rupane,

kadadeane getih putih

sedulurku kang ana kidul, abang rupane

kedadeane getih

ari-ari sedulurkau kang ana kulon,

kuning rupane kedadeane getih kuning

sedulurku kang ana lor, ireng rupane

kedadean puser

aku njaluk derajat lan rejeki agung….


Om tirto dupa, ina yomo suwaha

Om Sri Guru papangan, ina yomo suwaha

sedulurku papat, lima sejatining Ingsun

Kakang Kawah, Adi Ari-ari

Kakangku Mbarep, Adiku wuragil

dinten pitu pekenan gangsal

lumunturipun danyang pekarangan ing …

Sakulawarga ingsun kaliso rubeda, ayenm tentrem salaminipun gesang

asal geni bali geni, asal bumi bali bumi

angin anthung, kayu, watu kutu-kutu, walang ataga

sumilak, sumingkir balu marang mula-mularina ….


Matek ajiku sedulurku papat putih upane,

wetan panggonane

perak lungguhku, perak payungku

Betara Kamajaya dewaku

Matek ajiku sedulurku papat abang upane,

kidul panggonane

tembaga lungguhku, tembaga payungku

Betara Brama dewaku

Matek ajiku sedulurku papat kuning upane,

kulon panggonane

wesi kuning payungku

Bambang Sakri dewaku

matek ajiku sedulurku papat ireng upane,

lor panggonane

wesi lungguhku, wesi payungku Wisnu betaraku

Aku njaluk ….


Bacaan mantra di atas menurut Teguh Budiarso (2016) menyerap dari konsep kepercayaan pra-Islam di Jawa. Adapun ketika Islam masuk, bacaan yang ada mengalami transformasi, namun tetap membawa inti yang sama. Berikut bacaan Aji Seduluran yang sudah menyerap konsep ajaran Islam.


Sedulurku kang ana wetan putih rupane,

kawahiyah arane bukaken gedong wetan,

jupukno sandanganku kabeh

sedulurku kang ana kulon kuning rupane,

sahariyah arane siro dak kongkon bukaken degong kulon,

jupuken kamuktenku gawanen mrene

sedulurku kang ana lor ireng upane,

hariyah arane

siro tak kongkon bukaken gedong lor

jupukno mas picis rojo bromo inten barleyan

podo gawanen mrene kabeh, saiki …


Bapa Adam, Ibu Kawa

Kula nyuwun sandang,

nyuwun tedha sarinane, sawengine,

salawase gesang sajeg kula gesang saking kersaning Allah

Ya hu Allah 3x


Bismillah hirohmanirahim

Sedulurku kang ana wetan putih rupane, mutmainah

sedulurku kang ana kidul abang rupane, amarah

Sedulurku kang ana kulon kuning rupane, supiyah

sedulurku kang ana lor ireng rupane, aluamah

siro cedeko lan ngatono

aku njaluk tulung ….

saking kersane Allah.


Rapalan mantra di atas dibaca pada kondisi tertentu, sebab ada keyakinan beredar bahwa sedulur papat akan memberi bantuan ketika manusia dalam kondisi yang terdesak secara tidak sadar. Entah ini benar atau tidak. Sementara untuk menemui wujud fisik dari sedulur papat syarat yang dilewati memang cukup berat. Antara lain berpuasa dalam jumlah hari tertentu, memilih hari yang tepat atau cocok untuk menemui sedulur papat, dan menyiapkan ubo rampe yang dibutuhkan.

Menurut pengalaman seorang guru, untuk menemui sedulur papat, kita harus dalam kondisi telanjang bulat. Selama kurang lebih satu hingga dua jam, kita dituntut berkonsentrasi dengan rapalan hingga tiba waktunya sedulur papat tersebut menampakkan diri. Konon, keempat sedulur itu memiliki perawakan dan wajah yang sama persis seperti kita! Sekali lagi, bagi yang sudah membuktikan, ada baiknya disimpan sendiri.

Konsep Pararelitas Sedulur Papat

Apa yang dituturkan oleh guru, bahwa sedulur papat berwujud identik dengan kita, selaku pancer, memang agak mustahil untuk diterima nalar, akan tetapi bukan berarti tidak demikian. Terdapat batas-batas terkait ‘hukum alam’ yang sulit untuk dipahami, sebab seseorang yang mengetahui suatu hal harus bertanggung jawab atas yang diketahui.

Katakanlah, benar bahwa sedulur papat memiliki wujud identik seperti kita, lantas apakah mereka berempat memang berposisi sebagi ‘dulur’? Tentu saja mereka memang ‘dulur’ selagi kita mengamati mereka dan mendudukkan mereka dari posisi kita, namun bagaimana dengan mereka memandang kita, apakah mereka akan serta merta mengakui bahwa kita adalah pancer (pusat)?

Bagaimanapun, secara tidak sadar, dalam konsep sedulur papat lima pancer, manusia menemui kenyataan tingginya ego pada diri. Sebab melakukan klaim bahwa dirinya adalah pancer (pusat) tanpa mempertimbangkan sudut pandang mereka yang dianggap ‘sedulur’.

Ego masyarakat Jawa yang tersimpan rapi di dalam konsep sedulur papat lima pancer ini melahirkan sikap arogan terhadap kehadiran entitas lain, hal ini semakin parah jika ditambahkan miskonsepsi terhadap ayat yang menyatakan bahwa manusia adalah makluk ciptaan paling sempurna.

Ilustrasi Parallel Universe. Sumber gambar: Redbubble

Kesampingkan dulu tentang ego manusia Jawa yang tersimpan rapi di dalam konsep sedulur papat lima pancer, sekarang kita mencoba pendekatan lain tentang konsep ini, yakni menggunakan teori dunia paralel yang sudah jamak diyakini oleh mayoritas ilmuwan fisika. Bagaimana seandainya ‘dulur’ yang dimaksud dalam konsep sedulur papat lima pancer itu adalah diri kita yang lain, yang keberadaannya memang ada, hanya saja antara ‘sedulur’ dengan kita (sebagai pusat) ada batas yang tidak dapat ditembus, sehingga hanya bisa sebatas meyakini satu sama lain?

Teori dunia paralel memang masih sebatas teori, atau selamanya akan tetap teori. Menyatakan bahwa selain dunia kita, terdapat dunia lain yang jumlahnya tidak terhingga. Di dunia itu, hukum yang berlaku sama seperti di dunia kita, bahkan kita juga ada di dunia itu, namun dengan realitas yang berbeda.

Para ilmuwan fisika sampai saat ini masih bekerja untuk membuktikan benar atau tidaknya teori dunia paralel ini. Namun secara filosofis, eksistensi dunia paralel telah lama diyakini. Kepercayaan Hindhu misalnya, percaya bahwa manusia tidak hanya kita, ada manusia-manusia lain yang sama seperti kita di tempat lain berupa gelembung, yang sebenarnya bersinggungan dengan kita. Mungkin ini seolah terdengar seperti teori konspirasi, masalahnya, tidak ada yang patut diremehkan di dunia ini, termasuk teori konspirasi.

Kembali pada persoalan konsep sedulur papat lima pancer yang bisa kita jadikan indikasi keberadaan dunia paralel. Seandainya memang benar kondisi dunia yang serba rahasia ini seperti demikian, bukankah tidak jelas siapa yang pancer dan siapa yang dulur?

Bisa juga momen ketika kita melakukan ritus untuk menemui sedulur papat adalah momen yang sama yang ingin dicapai oleh entitas yang kita anggap sebagai dulur. Artinya, di malam itu, di ritual itu, keempat diri kita memang sengaja menemui diri masing-masing, untuk tujuan tertentu.

Ada yang bertujuan agar membuka kekuatan spiritual, ada yang bertujuan mendapat bantuan, ada pula yang bertujuan agar memperoleh jalan yang lebih mudah mencapai kekayaan, namun dari sekian tujuan yang ‘mungkin’ itu, membuka tabir rahasia semesta adalah tujuan paling utama, bahwa di dunia yang mungkin paralel ini tidak ada pancer tidak ada dulur.

Referensi

Budiharso, T. (2016). SYMBOLS IN JAVANESE MANTRA AJI SEDULURAN:. Lingua, 13(1), 1-18.

I Kadek Dwi Noorwatha, I. P. (2019). PROJECTING THE SELF: KANDA PAT PHILOSOPHY AS BASIS OF. Journal of Social Sciences, II(II), 78-90.

Pudjiastuti, T. (2010). SITA: PEREMPUAN DALAM RAMAYANA KAKAWIN JAWA KUNA. Jumantara, 1(2), 81-96.

Gombalamoh

One Reply to “Mengunjungi Rahasia Sedulur Papat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *