Menjaga Budaya Jawa dengan Ngilangke Jawane Wong Jawa5 min read

Orang Jawa pasti tidak asing lagi dengan sebuah ungkapan yang terkenal yaitu “wong Jawa ilang jawane” yang dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan dengan kalimat “orang Jawa hilang kejawaannya”.

Ungkapan ini sering muncul sebagai sebuah tanggapan terhadap adanya suatu degradasi mengenai adat-istiadat, kebiasaan, pengetahuan, atau segala hal yang menyangkut etnis atau suku Jawa.

Memang tak dapat disangkal apabila derasnya arus globalisasi yang sedang berlangsung saat ini memengaruhi sebagian besar gaya hidup masyarakat Indonesia, pada pembahasan ini khususnya pada masyarakat yang berkebudayaan Jawa.

Globalisasi yang turut menyumbang dalam membuka muara sungai kebudayaan internasional ini memang salah satu arus dunia yang mau tidak mau harus diikuti oleh seluruh umat manusia di dunia demi mencapai apa yang mereka sebut dengan kemajuan.

Namun untuk mengikuti sebuah kemajuan, sebagai bangsa Nusantara kita tidak harus terpaku dan mengambil mentah-mentah segala hal dari luar, tidak semua itu baik atau pun cocok dengan peradaban Nusantara.

Oleh karena itu salah satu media yang digunakan para leluhur kita dahulu, khususnya orang Jawa, dalam rangka ngreksa atau menjaga manusia-manusia Jawa agar tidak terlalu jauh terjerumus dalam kubangan globalisasi yang semakin menjadi-jadi, mereka membuat suatu istilah ringkas namun sangat padat maknanya yaitu dengan sebuah ungkapan

wong Jawa aja nganti ilang jawane”

Apabila diterjemahkan “orang Jawa jangan sampai hilang kejawaannya”, dan kemudian dengan peringkasan menjadi “wong Jawa ilang jawane“ (orang Jawa hilang jawanya) yang berkonotasi lebih satir.

Sumber gambar: delpher.nl

Melalui pesan singkat ini para leluhur orang Jawa mengharapkan di masa itu juga atau di masa yang akan datang kelak, seseorang yang mendengarnya akan merasa tergugah, menyadari atau bahkan tersindir apabila seseorang itu sebenarnya sudah melewati batas-batas normal dari kebiasaan yang sepatutnya dilaksanakan dari nilai-nilai luhur kebudayaan Jawa.

Benteng Moral

Ungkapan itu sejatinya juga sebagai benteng moral wong Jawa di masa modern ini, apabila seseorang sudah tidak dapat berperilaku ala Jawa seperti yang terkandung dalam tata krama Jawa pada umumnya, maka ungkapan tersebut akan spontan keluar.

Sebagai contoh ketika ada seorang pemuda ketika ia sedang berjalan di depan orang tua namun ia berjalan dengan seenaknya sendiri tanpa membungkukkan badannya, pasti orang tua yang di depannya atau orang lain yang sedang melihatnya akan berkata atau setidaknya membatin dalam hatidengan ungkapan “bocah kok ra njawa” atau “dasar anak kok tidak tahu sopan santun”, varian ungkapan lain dari wong Jawa ilang jawane.

Kata “Jawa” selain bermakna nama sebuah pulau, pada umumnya memang mengacu pada suatu masyarakat atau etnis tertentu yang berdiam di Pulau Jawa dengan ciri khas tertentu dengan identitas utama penggunaan bahasa Jawa.

Sebenarnya kata “Jawa” juga dapat mengacu pada hal lain, yaitu “Jawa” dengan makna “mengerti”. “Mengerti” di sini tidak dapat dimaknai sebagai mengetahui sesuatu yang telah kita saksikan namun konteksnya lebih kepada “mengerti pada tata krama”.

Makna tersebut akan kembali kepada kebiasaan orang Jawa yang sebenarnya dituntut menjadi seseorang yang dapat bersikap dan berperilaku penuh dengan tata krama dan sopan santun.

Oleh karena itu ungkapan “wong Jawa ilang jawane” tidak selalu dimaknai dengan “orang Jawa hilang kejawaannya” namun bisa “orang Jawa hilang tata kramannya”.

Apabila ungkapan tersebut masih digaungkan berarti masyarakat setempat masih menjunjung nilai-nilai luhur kebudayaan Jawa, namun kalau sudah tidak bisa disimpulkan masyarakat telah melupakan atau sudah tidak mengerti bagaimana nilai-nilai luhur dari kebudayaan Jawa yang seharusnya diterapkan.

Sebagai contoh lagi, apabila berbicara kepada orang yang lebih tua, yang lebih dihormati atau kepada yang belum kenal sudah seharusnya pemuda-pemudi Jawa menggunakan bahasa krama atau bahasa Jawa halus.

Nyatanya kini sebagian dari mereka ada yang memakai bahasa Indonesia, karena sebenarnya mereka sudah kurang bisa berbahasa Jawa halus dan pilihan menggunakan bahasa Indonesia memang pilihan agar mereka tetap berada pada posisi “aman”, daripada menggunakan bahasa ngoko (biasa) yang terkesan kasar.

Apalagi lebih parah jika orang tersebut malah memakai bahasa ngoko (biasa), maka ini akan lebih berkonotasi tidak menghormati lawan bicaranya yang bisa jadi si penutur bahasa tersebut akan dicap “cah ra njawa blas” atau “anak yang tidak mengerti tata krama sama sekali”.

Selain itu ungkapan tersebut juga muncul dalam berbagai kesempatan mengenai hilangnya atau lunturnya sebagian keilmuan atau pengetahuan-pengetahuan tentang Jawa pada seseorang, misalnya pengetahuan mengenai pewayangan, hitungan Jawa, adat menikah Jawa, upacara adat Jawa, selamatan Jawa atau pun lainnya.

Pada kenyataannya, ungkapan tersebut dalam masyarakat Jawa tidak melulu disampaikan dengan nada yang tegas bahkan kebanyakan bernada humor, dan yang terpenting ialah makna sindiran yang terkandung di dalamnya itu.

Misal pada sebuah majelis cangkrukan atau ngopi kemudian ada pembahasan mengenai kejawaan lalu ada seseorang yang kurang atau tidak mengetahui suatu permasalahan atau pengetahuan kejawaan itu, biasanya ia akan menerima sindiran dari temannya, misal “woo wong Jawa ilang jawane” (ooo dasar orang Jawa sudah hilang jawanya).

Namun ada juga yang harus diakui bahwa ungkapan-ungkapan seperti itu sebenarnya tidak menjamin yang mengucapkan termasuk orang yang lebih tahu dan mengerti, bahkan malah biasanya sama saja.   

Sejatinya ungkapan tersebut memiliki konteks yang bisa jadi amat luas apabila kita tidak terpaku pada kata “Jawa” pada ungkapan tersebut, coba kita ganti kata “Jawa”-nya dengan nama suatu suku / etnis kebudayaan lainnya.

Seperti, wong Sunda ilang Sundane, wong Aceh ilang Acehe, atau wong Bali ilang Baline dan seterusnya. Artinya ungkapan tersebut apabila dilihat secara global tidak hanya berperan dalam menjaga kelestarian adat-istiadat atau kebudayaan Jawa saja namun bisa jadi seluruh kebudayaan yang ada di Nusantara, bahkan dunia.

Kalau di ranah internasional bisa juga seperti wong India ilang Indiane atau wong Korea ilang Koreane. Demikianlah gambaran singkat dari sebuah ungkapan sederhana masyarakat Jawa dahulu yang dapat berguna dalam mempertahankan eksistensi ciri khas, kebiasaan, peradaban, atau pun sejarah mereka di masa kelak yang penuh dengan gemerlapnya kehidupan modern.

Ilham Wahyudi
Latest posts by Ilham Wahyudi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *