Tulisan ini menjelaskan sedikit tentang bagaimana tahun Jawa tersusun seperti saat ini. Sebuah racikan yang eksentrik dihasilkan oleh para leluhur Jawa untuk menetapkan hitungan kalender Jawa

Sesaat setelah John Crawfurd menggantikan Raffles, dia langsung punya anggapan bahwa metode penulisan History of Java yang ditulis Raffles dengan berdasarkan sumber lokal adalah kesia-siaan. Bagi Crawfurd, memanfaatkan sumber lokal Jawa untuk menceritakan sejarah Jawa adalah metode ngawur.

Sumber lokal Jawa sekadar berupa hidangan mistis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. John Crawfurd selanjutnya menulis History of the Indian Archipelago yang sebagian isinya mengajak para peneliti Barat agar di kemudian hari saat meneliti Jawa hanya mengandalkan catatan kolonial.

Pada kesempatan lain, John Crawfurd bahkan mempunyai anggapan bahwa orang Jawa itu tidak tahu apa-apa tentang ilmu penghitungan. Raffles memang punya pemikiran kalau orang Jawa selain yang tinggal di Kraton adalah orang-orang barbar, tapi yang diungkapkan Crawfurd ternyata lebih agresif. Hal itu wajar saja, mereke berdua termasuk pelopor penelitian Jawa. Pada masa itu mereka belum memiliki alternatif tinjauan yang bervariatif. 

Bahkan kemungkinan besar mereka tidak pernah tahu kalau Borobudor dibangun berdasarkan hitungan presisi aritmatika dan pertimbangan astronomi.  Seandainya John Crawfurd masih hidup hingga abad 21 sekarang, mungkin dia sudah menarik opini tendensiusnya tentang orang Jawa yang bunyinya: “They were wholly ignorant of arithmetic as a science, and indeed know nothing of the common rules of calculation” (Gerry van Klinken, 2013: 110).

Mungkin Raffles dan Crawfurd berujar kalau mayoritas orang Jawa kurang peduli pada ilmu penghitungan karena mereka kurang lama tinggal di Jawa, padahal bila mereka menulis karya yang sedemikian monumental, harusnya mereka tidak akan meninggalkan begitu saja keberadaan teks maupun kepercayaan orang Jawa yang terkait dengan sistem penghitungan.

Khususnya penghitungan kalender. Bukankah di naskah-naskah yang mereka terima, atau ketika mereka berkunjung ke candi, selalu ada penanda waktu, entah berupa konogram atau mungkin kepercayaan pranata mangsa?

Setiap bangsa yang berkebudayaan pasti memiliki kebijakan kalender sebagai penunjuk waktu. Ian Proudfoot, 2007, bilang kalaiu kalender berfungsi untuk penunjuk waktu berupa hari, bulan, dan tahun. Mengurai ilmu pengetahuan tentang hitungan kalender selalu relatif.

Kalender Jawa tidak lebih rumit daripada sistem penanggalan Bangsa Maya, akan tetapi, di saat yang sama, juga dimungkinkan untuk lebih rumit dibandingkan sistem penanggalan Bangsa Mesir.

Jelasnya, tidak ada yang istimewa di dalam hitungan kalender Jawa, sebab setiap sistem penanggalan di setiap kebudayaan memiliki keistimewaan masing-masing, sekaligus memiliki teknik hitung rumitnya masing-masing.

Sistem penanggalan masyarakat Islam didasarkan pada Bulan, sedangkan masyarakat Kristen memiliki sistem penanggalan yang merujuk pada Matahari (Ian Proudfoot, 2007: 86).

Akan tetapi bagi masyarakat Asia Selatan, Asia Timur, hingga Asia Tenggara, teknik hitung kalender yang berbeda antara masyarakat Islam dan Kristen justru digabung, dan digunakan keduanya. Contohnya masyarakat Hindhu di India dan masyarakat Cina yang menggunakan teknik hitung kalender suryasengkala dan candrasengkala sekaligus sebagai penunjuk waktu.

Masyarakat Jawa pun demikian, mengenal dan menggunakan hitungan sistem kalender suryasengkala dan candrasengkala. Zoetmulder, 1986, di dalam Kalangwan, mengatakan bahwa sistem kalender Jawa mengadopsi dari sistem penanggalan India yang kemudian dimodifikasi oleh para intelektual Jawa yang tinggal di Kraton.

Gerry van Klinken, 2013, di dalam artikelnya Why Was There No Javanese Galileo, menjelaskan bahwa memang di Jawa mengenal sistem hitung muhurta seperti di India, satu muhurta totalnya 48 menit, dalam sehari berisi 30 muhurta, dapat dilihat di teks Brahmandapurana. Akan tetapi hitungan tersebut masih berdasarkan longitude di India, bukan di Jawa, sehingga harus dilakukan banyak penyesuaian. 

Meramu Penanggalan Jawa

Suatu hari, Mas Galih pernah bercerita, “Sultan Agung mbiyen nglumpukake para pujangga lan para ahli nujum kanggo ngrumusake penanggalan Jawa sing saiki. Dadi ya ibarat konferensi ngono.” Sebagai wong modern, tentu saja cerita dari Mas Galih terdengar sangar.

Di saat masyarakat Jawa modern banyak yang terjebak pada narasi-narasi mistis tentang penanggalan Jawa, ternyata ada kemungkinan lain yang menyatakan bahwa kelahiran penanggalan Jawa adalah semata secara rasional dan ilmiah.

Konon sistem penanggalan Jawa saat ini adalah hasil oplos antara sistem kalender Hindhu dengan sistem kalender Islam. Mungkin karena hal inilah, kalender Jawa memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi untuk dipahami.

Keberadaan sistem hitung kalender menurut Hindhu tetap digunakan namun di sisi lain ada khazanah penentuan kalender berdasarkan kebudayaan Islam. Titik tolak dari penyatuan dua sistem kalender ini adalah sosok Ajisaka yang, konon, melekat pada pribadi Sultan Agung.

Kedatangan Ajisaka di pulau Jawa sebanyak tiga kali tidak sebatas mengenalkan pendidikan agama, penulisan, dan jasa menghancurkan Dewatacengkar (Anung Tedjowirawan, 2010: 3), akan tetapi juga mengajarkan sistem penanggalan.

Sementara itu Brandes menyatakan bahwa baiknya cerita Ajisaka dimaknai sebagai cerita yang menyimbolkan tentang awal mula masuknya peradaban Hindu di pulau Jawa yang dibawa oleh kaum Brahma dari suku Sakya. R. Tanaja, 1971, dalam Kabudayan Paugeraning Taun Jawa menguraikan dengan cukup rinci:

Dene taun Saka iku awewaton taun Syamsiah, iya iku taun miturut petungan srengenge, wiwit tumapake taun 1 Saka, kapetung wiwit jumenenge Nata Prabu Saliwagna ing tanah Hindhu, marengi 14 Maret 78 Masehi, panjenengane nata iku narendra bangsa Sakya, misuwure asmane nganti tumeka ing nusa Jawa kasebut Sang Prabu Saka iya Sang Aji Saka.

Bereng tumeka jaman Karaton Jawa Islam ing Mataram, ing sajumeneng dalem Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, ana keparenging karsa nata yasa paugeraning taun Jawa, awewaton taun Kamariyah, iya iku taun miturut petungan rembulan, kang bisa nyakup antarane kabudayan Jawa, Hindhu, lan arab.

Dari teks di atas R. Tanaja beranggapan bahwa Sultan Agung memiliki keinginan untuk meracik tahun Jawa yang mandiri. Bukan menciptakan namun merangkai sistem penanggalan yang telah dikenal oleh orang Jawa secara simultan. Mencakup sistem penanggalan asli Jawa, Hindhu, dan Islam. Kenapa hal ini dilakukan? R. Tanaja memiliki asumsi:

  1. Panyukupe kabudayan Jawa: Anggone bisa mengku dina lan pasaran kang bisa tumbuk saben sawindu, sarta bisa mengku pawukon kang bisa tumbuk saben rong windu, tuwin bisa mengku masa wuku kang bisa tumbuk saben patang windu
  2. Panyukupe kabudayan Hindhu: Anggone nglestarekake tumindake angkaning taun Saka 1555 kang maune awewaton taun Syamsiah banjur kadadekake angkaning taun Jawa 1555 kang awewaton taun Kamariyah
  3. Panyukupe kabudayan Arab: Anggone migunakake wewaton taum Kamariyah, nganggo sasi 12 miturut aran lan tataning sasine taun Arab, kang wigati tumrap kanggo nindakake preluning agama Islam

Cerita dari Mas Galih lalu terkonfirmasi, yakni di tulisan Kabudayan Paugeraning Taun Jawa, R. Tanaja mengatakan bahwa untuk menuntaskan misi meracik tahun Jawa tersebut, Sultan Agung bermufakat dengan sarjana ahlu’nnujum.

Dari tiga poin di atas yang telah disampaikan R. Tanaja, dapat dipahami bahwa setiap penggunaan teknis penanggalan dalam hitungan taun Jawa memiliki fungsinya masing-masing.

Bila diperhatikan dengan seksama, poin nomor 1, merupakan poin paling pokok yang harus bisa terjawab. Hitungan pawukon yang merupakan asli Jawa saat itu belum mengenal siklus tetap untuk hitungan delapan tahunan, oleh karena itu, untuk merumuskan hitungan berulang windu, diperlukan masukan dari sistem penanggalan Hindu.

Adapun tahun Hindu yang sebelumnya bersifat syamsiah dikonversi menjadi kamariyah. Penyebutan dan penamaan waktu di dalam taun Jawa yang berkaitan denga keperluan ibadah Islam menggunakan istilah-istilah Arab.

Lebih lanjut, dapat ditarik satu kesimpulan, bahwa sistem penanggalan di Jawa yang memang diadopsi dari dua kebudayaan, sekarang telah menjadi sistem kalender tersendiri. Dan perumusannya tetap merujuk pada benda-benda langit.

Secara historis, di masa Jawa pra-Islam  dahulu, selain lekat dengan sistem penanggalan Hindhu, para pujangga Jawa juga tetap mempertahankan sistem penanggalan Jawa, seperti pancawara, sadwara, maupun saptawara.

Kenyataan tersebut menandakan bahwa kehadiran kebudayaan luar Jawa merupakan unsur yang akan memperkaya khazanah kebudayaan Jawa itu sendiri.

Gerry van Klinken, 2013, menyampaikan fakta yang menarik, bahwa orang Jawa secara aktif memahami teknis penghitungan kalender sabagi proyeksi paham totemisme. Oleh karenanya angka-angka didapat dari sifat atau watak suatu obyek, sehingga dikenal sengkalan.

Di dalam majalah bulanan Kawi yang dikelola oleh Poerbatjaraka, terdapat kolom tanya jawab antara pembaca dengan Poerbatjaraka. Salah satu pertanyaan tersebut adalah “Aji = ratu, Saka = taun, punapa sababipun kawastanan Ajisaka?”

Oleh Poerbatjaraka kemudian dijelaskan bahwa untuk mengartikan ‘saka’ sebagai ‘tahun’ merupakan kesalahan. Saka adalah penamaan bilangan tahun dalam lingkup budaya tertentu, bukan ‘saka’ diartikan secara literal sebagai ‘tahun’. Lebih lengkapnya, Poerbatjaraka berujar:

Saka leresipun Saka, punika miturut Wdb. Sanskrit damelanipun Apte. Name of a king (especially applied to Saliwahana:…) namaning ratu. Ingkang limrah dipun anggep jejulukipun Prabu Saliwahana. Saka = Taun, punika kirang leres. Wonten ungel-ungelan Saka warsa = taun saka, punika pepetanganing taun wiwitan kala jumenengipun Prabu Saliwahana wau, dhumawah ing taun Walandi 78. Saka warsa sok dipun cekak Isaka, tegesipun ‘ing saka’ (warsa).

Menurut Poerbatjaraka, Prabu Ajisaka tidak pernah secara fisik datang sendiri ke pulau Jawa. Adapun namanya hanya digunakan sebagai penanda waktu tahun di Jawa. Orang yang membawa hitungan tersebut adalah bangsa India yang berkunjung ke Jawa.

Poerbatjaraka menambahkan bahwa teknis hitungan Saka di Jawa sudah bergeser. Hitungan Saka yang masih asli dapat dijumpai di pulau Bali. Di Jawa, sistem penanggalan Saka telah bercampur dengan Jawa dan Islam. Sementara itu, sisem penanda waktu yang benar-benar asli Jawa hanya Pawukon.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)