Nasehat Sunan Adi untuk Kesombongan Panembahan Senapati4 min read

Beberapa orang Jawa pasti mengetahui tentang Panembahan Senapati, Founding Father Mataram, tapi hampir semua orang Jawa pasti lebih tahu soal Sunan Kalijaga. Memang perlu diakui, bahwa dari sekian ratus juta orang Jawa, mereka pasti lebih familiar dengan Sunan Kalijaga daripada Panembahan Senapati.

Sebagai seorang Raja pertama Mataram versi Islam, Panembahan Senapati tentu saja tidak bertindak sendiri. Di sisinya selain ada patih ‘abadi’ Ki Juru Martani, juga ada sosok lain yang diduga menjadi penuntun spiritual Panembahan Senapati, yaitu Sunan Kalijaga.

Entah kenapa Sunan Kalijaga ini usianya begitu panjang, hampir dua ratus tahun! Mulai dari masa akhir Majapahi hingga masa awal berdirinya Mataram, nama Sunan Kalijaga pasti terdapat di dalam narasi penceritaan yang ada.

Namun sejarawan Barat, De Graff, punya pandangan bahwa Sunan Kalijaga sudah meninggal ketika tiba masa berdirinya Mataram Islam. Adapun nama Sunan Kalijaga yang muncul di cerita awal berdirinya Mataram adalah keturunan Sunan Kalijaga yang bernama Sunan Adilangu atau Sunan Adi.

De Graff mungkin saja benar, dan mungkin juga salah. Terhadap sejarah, orang Jawa punya tekniknya sendiri dalam membangun narasi.

Kesampingkan dulu soal fakta Sunan Kalijaga. Kita akan coba menengok Sunan Adi, yang oleh beberapa orang juga disebut Sunan Kalijaga, ketika memberi nasehat kepada Danang Sutawijaya yang telah berjuluk Panembahan Senapati.

Nasehat Sunan Adi kepada Panembahan Senapati ini disarikan dari Babad Tanah Djawa pada episode Sunan Adi memperingatkan agar Panembahan Senapati membangun pagar luar.

Diceritakan di dalam Babad Tanah Djawa, suatu ketika Panembahan Senapati menemui Sunan Adi yang sedang bertafakkur di Parangtritis.

Atas takdir Tuhan juga, saat itu Panembahan Senapati sedang ada keperluan di Parangtritis, sehingga memungkinkannya untuk menemui Sunan Adi

Saat itu Panembahan Senapati sedang galau. Dia berjalan terus menerus hingga akhirnya sampai di Parangtritis. Sesampainya di Parangtritis, Panembahan Senapati melihat Sunan Adi tengah duduk bertafakkur.

Tanpa menunggu lama, Panembahan Senapati bergegas menghampiri Sunan Adi lalu memberikan sembah sembari mengusap mata kaki Sunan Adi sebagai wujud penghormatan. Setelah itu, Panembahan Senapati duduk bersila dengan kepala tertunduk di hadapan Sunan Adi.

Terlihat di mata Sunan Adi, bahwa Panembahan Senapati datang dengan kegundahan. Tidak hanya kegundahan, Sunan Adi juga melihat adanya percik kesombongan di dalam diri Panembahan Senapati. Menyaksikan hal itu Sunan Adi berkata dengan lembut pada Panembahan Senapati

Nasehat tentang kekuatan

hèh Ki Senapati ing Matawis

aywa ngandêlakên yèn arosa

têguh sêkti digdayane

tumamèng sagaragung

kadya ngambah dharatan siti

dadya ujub myang riya

kibir wastanipun

tan wênang yèn lampahana

wali mukmin andohakên pangabêkti

pamor gusti kawula

Hei Ki Senapati, jangan mengandalkan kekuatanmu. Ketangguhan, kesaktian, dan kedigdayaan yang kamu miliki. Berjalan di laut luas bagai berjalan di tanah.

Itu menjadikan kesombongan dan riya’. Takabur namanya. Kamu tidak berwenang berbuat demikian. Hanya menjauhkan kebaktianmu dari bersatunya Tuhan dan kawula.

Sumber gambar: Harian Merapi

Sunan Adi tidak sekadar membeberkan nasehat tentang kesombongan secara mentah, tapi juga menjelaskan bahwa manusia jangan sombong atas kekuatan yang dia miliki, termasuk dalam hal kekayaan yang dimiliki.

Sunan Adi memperingatkan agar Panembahan Senapati tidak berlaku seperti langit, bumi, dan gunung. Ketiganya memiliki kekuatan yang terbatas, tapi kesabaran dan kepasrahan jangan dibatasi.

aja kaya sira bumi langit

myang sagara kalawan prawata

bumi iku wahanane

yèn janmaa amuwus

ngandêlakên jêmbaring bumi

kalawan kandêlira

 nanging mung puniku

tan ana prayoganing lyan

kadya gunung mung gêdhene lawan inggil

tan darbe pangulatan

Jangan kamu seperti bumi dan langit. Dan jangan seperti lautan dan gunung. Bumi hanya tumpangannya. Kalau manusia berkata mengandalkan luasnya bumi dan keberaniannya.

Apa lagi selain itu? Tidak ada. Bumi memang luas dan menjadi lambang keberanian, tapi benarkah itu sudah cukup bagi manusia yang bertakwa pada Tuhan? Lagi pula, dengan kekuatan sebesar itu, apakah ada manfaatnya bagi orang lain?

Lihatlah gunung yang begitu besar dan tinggi tapi tidak memiliki sandaran!

Sunan Adi juga menambahkan bahwa jangan pula menjadi langit ataupun samudra. Langit memang luas dan begitu luhur, tapi hanya itu kelebihannya.

Begitu pula lautan samudra. Begitu luas kalau diitari, dan begitu dalam hingga tak tersentuh. Gemuruhnya pelan, tapi besarnya bagai gemuruh gunung yang menakutkan. Tapi sekali lagi, hanya itu kekuatannya.

Kalau memang ingin lulus dan pantas menjadi raja, pakailah rasa syukur dan ikhlas. Eneba kena eninge. Dalamilah hingga mencapai kesucian, sehingga dunia dan segala isinya tidak berarti apapun, sebab semuanya tunduk padamu

Panembahan Senapati yang mendengar nasehat Sunan Adi tersebut menjadi sadar, bahwa selama ini dirinya salah sangka tentang makna dari kekuatan sejati. Setelah mendapat wejangan yang begitu mendalam itu, Sunan Adi berkenan untuk bertamu ke Mataram. Dan cerita pun bersambung. Kalau masih penasaran, mangga Babad Tanah Djawa diwaca.

Gombalamoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *