Pergi Haji ke Imogiri
Pergi Haji ke Imogiri

Pergi Haji ke Imogiri15 min read

Jaraknya kurang lebih 17 KM dari Tugu Yogyakarta. Jalanan ramai dan hampir semua pengendara sudah move on dari persoalan pandemi Covid-19. Cuaca sedang cerah, tanpa mendung tapi tidak terlalu panas.

Entah berapa suhunya, yang jelas terasa dingin, mungkin karena AC mobil yang kami tumpangi. Seandainya kami jalan kaki seperti Yesus yang ngisi waktu muter padang pasir atau meniru petualangan Tong Sang Cong, tentu saja rasa lelah pun panasnya akan jauh berbeda.

Kami bukan para Rasul suci murid Yesus maupun rombongan pencari kitab Suci Boddhisatva, kami sekelompok cah enom yang sedang berniat melepaskan beban-beban hidup. Bisa saja kami pergi ke pantai, atau ke candi, namun pilihan jatuh pada Imogiri.

Sasanalaya Imogiri merupakan tempat rebahnya Raja-Raja Mataram. Pembangunannya diinisiasi Sultan Agung Hanyrakusuma kemudian pengerjaannya dipimpin oleh pamannya, Pangeran Juminah atau Pengeran Blitar sekitar tahun 1624.

De Graaf bilang makam Imogiri yang sekarang itu merupakan makam pindahan dari kompleks sasanalaya yang lebih awal direncanakan. Sebab, di kompleks makam yang pertama, yang sebetulnya direncanakan sebagai peristirahatan terakhir Sultan Agung, justru ditempati Pangeran Juminah, pamannya sendiri, yang wafat ketika dalam masa pembangunan Girilaya pertama. Sultan Agung kecewa karena bukan dirinya yang dimakamkan di situ, sehingga Sultan Agung terpaksa menggeser letak calon makamnya di kaki bukit Imogiri.

Dokumentasi Jawasastra Mlaku-Mlaku

Kami berangkat pada hari Jum’at, pukul 12.50 WIB, mobil lepas landas dari kos. Perjalanan transit ke warung mie ayam utara Terminal Giwangan. Sopir mobil, Anas, mengajak sarapan terlebih dahulu. Mie ayam kenyal, kuah yang kental serta bumbu-bumbu manis tanpa sambal yang pedas khas makanan Yogyakarta setidaknya cukup menghentikan laju asam lambung menuju tenggorokan. Kami tidak menyesal makan mie ayam itu, saya yang malah menyesal. Sebab baru sadar kalau dompet coklat milik saya tertinggal di ruang tamu kos.

Momen ketersadaran saya atas dompet yang tertinggal tersebut memberi satu pelajaran penting; install aplikasi M-Banking di hape kapasitas kentang bukanlah kesalahan.

Perjalanan berlanjut, meski saya harus menjalani konsekuensi nunut kanca. Mobil hitam melesat cepat, hampir 75% selalu ambil lajur kanan. Nyelap-nyelip ra karuwan. Untung saya sudah terbiasa dan memberi pemakluman; bahwa memang begitu karakter berkendara orang Jawa Timur garis keras Gerbangkertasusila + Madura. Selama Anas tidak menjajal kesaktian menyetir sambil merem, tidak masalah. Kalaupun nanti, misalnya, takdir membuat mobil menabrak sesuatu, tidak masalah.

Anas menyetir ditemani Habibi, duduk di bangku depan. Di bangku belakang, deret ketiga diisi Bontang dan Simo. Sementara di kursi deret tengah, ada saya, Yani, dan Mas Faisol. Sepanjang perjalanan, Anas, Gus Hab, Bontang, dan Simo asyik bercengkrama. Mereka tertawa riang gembira, bayangkan saja mereka begitu gembira sampai-sampai menyanyikan lagu ‘naik-naik ke puncak gunung’ atau ‘naik delman istimewa’. Mereka menyeret paksa kami, tiga orang di deret kursi tengah mobil, masuk ke dunia lain.

/Sengko’/, /bedi’/, /gih/, /be’en/, /cong/, dan masih ada ratusan kosakata lain yang tidak terdeteksi bahasa Jawa meski susunan frasanya hampir mirip. Ya, kami yang di tengah diapit oleh obrolan Bahasa Madura. Sebenarnya kami yang berada di deret boleh saja mencari topik tersendiri dan melakukan perbincangan, akan tetapi kami sudah terlanjur terhisap oleh obrolan Bahasa Madura. Entah seperti apa perasaan Yani, mungkin dia frustasi. Lain halnya dengan saya dan Mas Faisol yang sebelum pindah ke Yogyakarta sudah bersinggungan dengan Bahasa Madura.

Seandainya pembicaraan mereka diperlambat atau dibikin slowmotion, saya sendiri kemungkinan besar memahami pembicaraan mereka, sekadar maksud konteks kalimatnya, bukan utuh per-kosakata. Atau seumpama percakapan mereka dikonversi sebagai teks, saya akan lebih cepst memahaminya. Ngalhamdulillah saya pernah belajar Bahasa Madura di kelas kuliah, meski hanya satu semester, setidaknya saya sedikit tahu mengenai pola pembeda bahasa Madura dengan bahasa Jawa.

Beberapa Cerita Seputar Imogiri

Lazimnya tempat keramat di semua tempat. Selalu ada daya tarik historis dan mitos yang tumpang tindih, sekaligus pengkultusan. Daya tarik tersebut nyatanya yang justru menghidupi masyarakat sekitar. Imogiri juga punya berbagai mitos yang mungkin sukar dipercaya bagi manusia males lelaku dan tirakat seperti kita. Lelaku dan tirakat di sini maksudnya mencari ilmu, baca buku, dan srawung manungsa, boleh sesekali menyepi. 

Meski nampaknya sama seperti tempat keramat di lain tempat, Imogiri sejak awal pembangunannya sudah memiliki satu keunggulan yang belum tentu dimiliki tempat keramat lain; yakni catatan teks.

Ketika tempat keramat lain bersandar pada kepercayaan lisan, tradisi lisan atau sastra lisan, yang intinya tembung jare, Imogiri dibangun bukan sekadar di atas tanah perbukitan tapi juga di dalam ingatan. Melalui serat, babad, dan arsip kolonial. Data dan sumber tentang Imogiri yang begitu kaya, selaras dengan tradisi lisan atau sastra lisan yang tersebar.

Seorang Raja Mataram, yang sekarang diwakili Kasunanan dan Kasultanan, setelah jumeneng ratu tidak boleh melangsungsungkan nyekar di Imogiri. Itu larangan yang berlaku hingga sekarang di lingkungan Kraton Surakarta maupun Yogyakarta. Entah apa yang akan terjadi seandainya melanggar larangan itu. Namun, semisal saya jadi raja, mungkin saya akan mencoba melanggarnya.

Ada pula kepercayaan yang menyatakan kalau berkunjung ke Imogiri sebanyak tujuh kali sama seperti naik haji. Malah beberapa versi ada yang bilang kalau pengunjung menapakkan kaki melewati tangga Imogiri sudah termasuk haji. Kepercayaan ini bukan sekadar lisan, bahkan di teks pun bisa ditemukan.

Hal ini bermula karena Raja Mataram waktu itu, Sultan Agung, tidak diperkenankan naik haji. Menurut Mas Galih, pergi haji sama saja bunuh diri, karena raja sama dengan meninggalkan kekuasaannya, apalagi untuk pergi berhaji memakan waktu relatif lama. Jadi, menurut Mas Galih, prinsipnya tidak ada Sultan Yogyakarta maupun Surakarta yang boleh pergi haji pada konteks abad 17-19.

Gambar Sultan Agung. Sumber: Google Image

Menyiasati keadaan politik Jawa yang masih rentan, Sultan Agung memutuskan tetap tinggal di Jawa. Ia memerintahkan abdi untuk mewakili haji. Selain ingin menjadi haji, Sultan Agung juga berpesan supaya abdinya menemui salah seorang kerajaan Ottoman biar dapat gelar sultan.

Abdi itu berangkat ke Makkah mewakili Sultan Agung, dan berhasil bertemu dengan seorang petinggi Ottoman. Dari situlah Sultan Agung mendapat gelar ‘sultan’. Beberapa sejarawan ada yang mengatakan kalau Sultan Agung meri pada raja Cirebon yang malah lebih dulu dapat gelar sultan.

Sekembalinya dari Tanah Suci, si abdi juga membawa beberapa tanah Makkah. Konon kata Sunan Kalijaga, dengan tanah itu Sultan Agung tidak perlu pergi haji ke Makkah. Hingga hari ini, tanah tersebut ada di Imogiri dan terletak di samping persis pusara Sultan Agung. Orang-orang yang berkunjung ziarah seringkali sujud di atas tanah Makkah itu. Hasilnya? Setiap pengunjung Imogiri mendapat ganjaran haji.

Narasi haji tersebut mengingatkan saya pada tradisi ziarah Walisongo di Jawa Timur. Tidak sedikit ulama Jawa Timur yang mengatakan bahwa berkunjung ke makam Walisongo sebanyak sembilan kali sama halnya telah melakukan ibadah haji.

Hanya saja, akar kultural Islam di Jawa Timur yang begitu kuat menyebabkan narasi terkait ganjaran ibadah haji di Imogiri tidak semassif kunjungan ziarah di makam wali-wali.

Ilustrasi Walisanga. Sumber: Google Image

Makam Imogiri merupakan sasanalaya Raja dan keluarga Mataram. Tatkala pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, makam Imogiri kemudian dibagi, dua Kraton tersebut mengirim masing-masing abdi dalem untuk merawat makam. Abdi dalem Surakarta untuk merawat kompleks makam Surakarta, dan abdi dalem Yogyakarta untuk merawat kompleks makam Yogyakarta. Jadi di Imogiri ada dua jenis abdi dalem; Surakarta dan Yogyakarta.

Secara pakaian jelas berbeda, sehingga pengunjung bisa melihat perbedaan gaya berpakaian dua Kraton Jawa yang tersisa itu di Imogiri. Masing-masing juga menyediakan tempat sewa pakaian untuk masuk ke makam Sultan Agung. Pengunjung bebas memilih hendak pakai gaya pakaian Surakarta atau gaya berpakaian Yogyakarta. 

Bukan hanya dari segi pakaian, bahkan di tataran kebahasaan pencampuran dua abdi dalem itu juga mengakibatkan terjadinya blending bahasa. Sulistyowati, pengajar sastra Jawa, UGM pernah mengkaji pola kebahasaan masyarakat Imogiri dan menunjukkan fakta bahwa di Yogyakarta ada komunitas yang memiliki komunikasi Surakarta. Kasarnya, ketika di Imogiri pengunjung bisa menyerap kata je dan nda secara bersamaan.

Sampai di Sasanalaya Imogiri

Kurang lebih pukul 02.30 WIB kami tiba di Imogiri. Seharusnya, jika sesuai rencana, kami parkir di atas. Sayangnya karena miskomunikasi mobil justru parkir di parkiran bawah. Mau tidak mau perjalanan naik bukit wajib ditempuh. Kami melakukannya, sekalipun ada beberapa peserta rombongan yang salah kostum karena memakai sepatu ala model bukannya malah sandal jepit.

Di sepanjang jalan tertempel banyak baliho, isinya himbauan agar memakai masker. Beruntungnya kami semua memang sudah siap masker. Tidak ada masalah soal masker, tapi setelah dipikir-pikir, memakai masker dengan kondisi jalan menanjak dan berjalan kaki rasanya lebih banyak menguras tenaga, baik fisik maupun batas ambang kesabaran.

Kami semua memutuskan melepas masker dan hanya menggantungkannya di janggut. Udara sesegar Imogiri sayang sekali kalu tidak dihirup lepas nan bebas. Toh, ketika kami lepas masker tidak ada masyarakat yang marah.

Jalanan yang kami lewati mulanya beraspal. Setelah lurus dari parkiran kami masuk loket tiket. Saya kurang tahu berapa biaya masuknya, sebab yang bayar Anas dan Rival yang sudah berangkat lebih dulu dari parkiran naik motor, sementara kami jalan kaki, bajingan! Tapi tidak masalah, sudah lama tidak menggerakkan kaki sejauh ini semenjak pandemi.

Setelah dari loket, kami meneruskan langkah. Dari loket jalan lurus kemudian belok kiri. Sampailah di gapura masuk kompleks makam Imogiri. Di hadapan kami, bukan makam yang kami lihat, tapi susunan vertikal anak tangga yang kemiringannya sekitar 45 derajat. Kami berdiri di depan anak tangga, terpana sekaligus terkesima yang bercampur kemalasan, kami terpaku memandangi ujung anak tangga tempat bersemayam jasad Raja Jawa. 

Dokumentasi Jawasastra Mlaku-Mlaku

Sementara itu di depan anak tangga pertama ada kotak amal yang ditunggu dua orang abdi dalem, yang satu abdi dalem Yogyakarta yang satu lagi abdi dalem Surakarta.

Perjalanan dimulai. Langkah demi langkah sembari mengabaikan rasa lelah. Kempol ini masih kuat. Untungnya ada dua transit anak tangga, sebuah latar luas yang dilengkapi kursi duduk. Kami beristirahat dua kali, kemudian memaksa diri meneruskan langkah. Puji Tuhan, kami sampai di atas, di anak tangga paling atas, entah ada berapa anak tangga, diantara kami tidak ada yang terpikir menghitungnya. 

Anak tangga sebanyak itu, dengan tingkat kemiringan yang luar biasa, saya mendadak membayangkan bagaimana rasanya abdi dalem yang mengangkat bandosa Raja Jawa atau keluarga Raja yang wafat. Mereka pasti juga merasakan lelah, namun kemungkinan besar tingkat kelelahan mereka berbeda jauh dengan apa yang saya rasa.

Mereka terbiasa bergerak, sehingga ketika menaiki anak tangga bukan perkara berat sekalipun menggendong bandosa, sementara saya lebih banyak klemprak-klempruk dengan harapan besar ingin jadi gemuk dan ginuk-ginuk.

Wajah kami pucat, kecuali Mas Faisol yang wajahnya lebih pucat. Biasanya jika seseorang kelelahan dan wajahnya pucat, akan berdampak pada urusan perut yang tiba-tiba mulas dan ingin buang air. Tebakan saya tepat, dan memang begitu keluh Mas Faisol. Sebab biasanya saya juga mengalami gejala yang sama ketika melakukan pekerjaan yang terlampau melelahkan.

Yani anak tangga. Dokumentasi Jawasastra Mlaku-Mlaku

Di hadapan kami, masih ada anak tangga lagi, tidak banyak jumlah anak tangganya. Di sisi kanan juga ada anak tangga menuju makam Raja dan keluarga Kasultanan Yogyakarta. Sementara di sisi kiri ada anak tangga yang mengantar pengunjung menuju kompleks makam Raja dan keluarga Kasunanan Surakarta. Tujuan kami adalah makam Sultan Agung, sehingga kami memutuskan naik lurus.

Beberapa orang baru keluar, sepertinya orang-orang agamawan. Mereka baru saja nyekar di makam Sultan Agung. Setelah berpapasan mereka turun melalui anak tangga yang mengarah ke makam Raja dan keluarga Kasultanan Yogyakarta. Sebenarnya mereka tidak terlalu penting, tapi masalahnya mereka berdiri dan bercakap-cakap di tengah anak tangga menghalangi lalu lintas pengunjung! 

Kami maju terus, masuk ke ruang lain. Ada pendhapa di sisi kanan dan kiri, saya tidak tahu bedanya, saya kira mereka hanya membagi tugas saja. Keduanya merupakan tempat untuk berganti busana sebelum masuk ke makam Sultan Agung.

Saya sejak awal memang tidak punya niat untuk masuk ke cungkup makam Sultan Agung, sebab Habibi bilang ruangannya sempit dan panas. Masalahnya, Yani memaksa saya, katanya, “eman wis tekan kene barang, biyen jaluk-jaluk”.

Ya sudah, saya bersedia. Namun muncul persoalan lain, kawan-kawan dari Madura sama sekali tidak ada yang ingin masuk kecuali Anas. Saya pikir, mengingat mereka kebanyakan muslim taat, mereka enggan jika harus sujud di tanah makkah sebelah makam Sultan Agung, seperti kata Habibi. Hasilnya, yang masuk hanya saya dan Anas.

Habibi di depan gerbang kompleks makam Surakarta. Dokumentasi Jawasastra Mlaku-Mlaku

Karena kami terlanjur duduk di pendhapa sebelah kanan pintu masuk, saya dan Anas langsung berganti kostum di situ. Bersorjan biru bergaris kelabu, jarik coklat, dan blangkon dengan cepol masuk ke bagian dalam.

Setelah ganti kostum, kami masuk ke ruang tersendiri lagi, akan tetapi kami menyempatkan foto lebih dulu. Seorang abdi dalem menyuruh agar kami segera masuk saja karena waktu sudah menunjuk pukul tiga sore, sebentar lagi tutup, katanya. Saya mengindahkan peringatan itu, tapi Habibi dan Anas bersikap lain, mereka justru nekat berfoto terlebih dulu sebelum masuk, bahkan Habibi sempat membalas peringatan itu dengan suara tajam dan dibalas lagi oleh si abdi dalem dengan tatapan menusuk.

“Dadi kaya ngene kurang luwihe pengkerengan antara Trunajaya karo Mataram“, ujar batin saya menelisik masa lalu, ketika Kraton Mataram dibedhah Pangeran Trunajaya.

Baru setelah berfoto, saya dan Anas masuk. Dari pintu masuk makam sudah diteriaki agar cepat, karena memang hampir tutup. Kami pun bergegas, dengan kostum nggatheli yang bikin susah melangkah melewati anak tangga. Apa Kraton tidak mau menerapkan inovasi membuat model celana dengan motif berjarik saja biar tidak menyusahkan pengunjung, keluh saya. Soalnya, kalau mendadak robek karena dipakai naik tangga, siapa yang rugi? Jariknya robek, pengunjung terjengkang, pengunjung ganti rugi, dan pihak abdi dalem Kraton beli jarik baru lagi.

Sesampainya di cungkup luar, ternyata benar kata Habibi, pintu masuknya hanya sedada. Bahkan sebelum masuk banyak abdi dalem yang menyodorkan mangkok atau kotak amal. Siapkan uang setidaknya sepuluh ribu dengan pecahan dua ribuan, untuk mengisi kotak-kotak itu. Saya sendiri waktu itu ketinggalan dompet, jadi kalau ditagih saya bilang nunut Anas, jadi satu dengan uang yang diberikan Anas.

Pintu masuk yang hanya sedada memaksa kami jalan menunduk. Sekali lagi, ucapan Habibi benar, makam Sultan Agung di dalam cungkup ukuran kecil dengan dikelilingi blabak kayu yang rapat. Sama sekali tanpa ventilasi. Saya bersila, begitu pun Anas. Saya baru saat itu bingung membedakan bagaimana caranya menata nafas akibat kelelahan dengan menata nafas untuk fokus merapak doa, batase ra jelas.

Beberapa orang ada yang melangkah ke tanah makkah, kemudian bersujud di tanah itu seperti kata Habibi. Belum sampai lima menit, Anas memutuskan keluar dari cungkup. Saya masih mencoba memperjelas garis demargasi antara penataan nafas akibat lelah dengan konsentrasi doa, tapi hasilnya sia-sia, saya malah salah sasaran, bukannya merapal Al-Fatihah, saya malah membaca rapalan doa bissmika allahuma ahya wabismikaamuudz!!! Akhirnya saya menyerah, saya memutuskan keluar dari cungkup.

Sesampainya di luar, Anas sudah tidak terlihat. Saat berjalan menuruni anak tangga menuju pendhapa, saya melihat tanah coklat semu oranye, berpahat nisan tanpa nama. Syahdu memang sore itu. Di makam Imogiri selama baik niatnya tidak ada yang perlu ditakutkan apalagi dikhawatirkan. Dalam perjalanan menuju pendhapa itulah saya berpapasan dengan seorang pengunjung yang entah baru masuk atau masuk kembali. Dia memakai sorjan yang sama dengan saya, namun jariknya berwarna putih dan mondol blangkonnya terlihat menonjol ke luar.

Saya kira dia memakai setelan abdi dalem Yogyakarta, lalu saya menerka diri saya sendiri, “Oh, berarti klambiku iki setelan Kasunanan Surakarta” Layaknya orang Jawa tulen nyel, saya mencoba menggathukkan, “Kok bisa aku nganggo sandhangan gaya Surakarta, umpama ngerti bedane rong pendhapa neng ngarep ket mau, mesthine aku malah milih sing gaya Yogyakarta. Tapi kena ngapa aku ra sengaja milih sing gaya Surakarta? Apa gara-gara aku nganggo kaos gambar Ranggawarsita?”

Kaji Jawa. Dokumentasi Jawasastra Mlaku-Mlaku

Sebelum pulang, satu jam lamanya kami melakukan Live Instagram. Sore itu bertepatan dengan agenda diskusi tentang difabel atau disabilitas. Saya yang memandu, sementara Habibi yang jadi narasumber. Kami melakukan live di pendhapa bawah, sebab sinyal lebih mudah didapat daripada saat berada di atas. Lewat satu jam, dengan animo yang cukup tinggi, kamu memutuskan melanjutkan perjalanan, entah kemana.

Di perjalanan pulang Yani bilang bahwa memang sebaiknya seperti itu, sudah benar kalau tadi menyewa yang pakaian Surakarta, sebab, kata Yani lagi, mereka sempat mengeluh soal pendapatan yang berkurang drastis sejak pandemi. Terlebih, memang para pengunjung umumnya lebih banyak yang menyewa pakaian gaya Yogyakarta. Bisa jadi akibat instruksi agen pariwisata atau mungkin perasaan kemauan yang muncul otomatis dari si pengunjung karena Imogiri sendiri terletak di wilayah Yogyakarta.

Saya membatalkan penyesalan setelah mendengar fakta dari yani tersebut, yang memang masuk akal. Lagipula, tadi ketika mengembalikan pakaian dan membasuh anggota badan di sebelah pendhapa persewaan pakaian gaya Surakarta, saya tidak sengaja mendengar sendiri beberapa abdi dalem Surakarta yang ngudarasa tentang status kekancingan yang mengambang.

Lepas dari cerita panjang di atas, saya masih bertanya-tanya, saya sudah sah jadi haji belum?

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *