Isinya berupa hidangan-hidangan tertentu, dengan tujuan memohon kepada leluhur atau Dewa sebagai sarana terkabulnya keinginan atau keselamatan

Secara sederhana, sesaji dapat dimaknai sebagai wujud persembahan kepada leluhur atau kepada dewa. Isinya berupa hidangan-hidangan tertentu, dengan tujuan memohon kepada leluhur atau Dewa sebagai sarana terkabulnya keinginan atau keselamatan. Keberadaan sesaji di tengah kebudayaan Jawa sebagai salah satu instrumen upacara adat telah berlangsung sejak lama. 

Terutama apabila memerhatikan bahwa masuknya Agama Hindu dan Buddha memberikan corak dan praktek tersendiri dalam upacara sesaji masyarakat Jawa. Sementara itu, berdasar pendokumentasian sesaji dalam kesusastraan Jawa Kuna, adanya sesaji beserta perlengkapannya dapat diamati pada Kakawin Ramayana yang ditulis di masa Mataram Kuna.  

Di dalam kakawin Ramayana, diceritakan bahwa Dasarata sudah lama berkeinginan untuk memiliki anak. Maka, diadakanlah upacara korban atau upacara putrakama yadnya, atau dalam versi Serat Rukmawati, disebut upacara sedekah Aswameda yang dilakukan dengan harapan agar para dewa memberikan anak kepada Dasarata (Tedjowirawan, 2012).

Citra teks Kakawin Ramayana. Sumber gambar: British Library

Meninjau kutipan Kakawin Ramayana di bawah ini, disebutkan mengenai rincian perlengkapan sesaji dalam upacara tersebut.

Sajining yajña ta umadang/sri-wrĕksa samiddha puspa gandha phala/dadhi ghrĕta krĕsnatila madhu/mwang kumbha kusāgra wrĕtti wĕtih.

(Sesaji upacara telah dihidangkan, kayu cendana yang dibakar bunga, aroma, dan buah-buahan susu, mentega, wijen hitam, madu, serta periuk, ujung rumput, gabah dan jagung)

Konsep-konsep sesaji dalam susastra ini cukup menarik untuk diulas. Secara tidak langsung, karya sastra tersebut juga menjelaskan hubungan sosiokultural di masyarakat Jawa saat itu.

Menurut Grebstain, sebagaimana dikutip oleh Sapardi Djoko Damono (1978: 4), dalam membahas unsur sosio-kultural dalam sastra setidaknya harus mempertimbangkan beberapa hal, salah satunya adalah karya sastra tidak dapat dipahami selengkap mungkin jika dipisahkan dari lingkungan kebudayaan yang menghasilkannya. 

Potret sesaji. Sumber gambar: Cagar Budaya Kemdikbud

Artinya, dalam karya sastra terdapat sebuah relasi yang dibentuk karena budaya dan interaksi yang rumit. Ada kemungkinan unsur kebudayaan itu terdokumentasikan dalam karya sastra, walaupun dalam pandangan Wellek dan Warren sebagaimana disebutkan oleh Sapardi Djoko Damono (1978: 9), pendekatan ekstrinsik semacam ini cukup terbatas pada karya sastra bertemakan situasi sosial tertentu. 

Berpijak dari pendapat di atas, selanjutnya kita kaitkan dengan kutipan Kakawin Ramayana diatas. Jika kita analisis menurut sejarah kebudayaan, kutipan yang tersaji di atas mengindikasikan gambaran kehidupan religi masyarakat Jawa pada zaman Mataram Kuno dalam menjalankan sebuah ritus kepercayaan Hindu Syiwa.  

Uborampe Sesaji

Disebutkan beberapa ubarampe yang digunakan dalam sesajen seperti “puspa gandha phala”. Jika kita terjemahkan secara leksikal, kata puspa bermakna bunga, ganda bermakna bau atau aroma, dan phala yang berarti buah (Zoetmulder & Robson, 2006). Jika kita gali keterangan yang lebih lanjut, ketiga hal tersebut merupakan suatu konsep penting dalam religiusitas masyarakat Jawa yang masih eksis dan terus berkembang sampai saat ini.

Pertama, puspa atau bunga merupakan unsur pertama yang ada dalam sesaji. Hal ini terus menerus dilakukan sampai saat ini, yang mana dalam setiap upacara tradisional selalu menggunakan unsur bunga.

Ada bunga mawar, kenanga, melati, kanthil, telasih, sedap malam, dan sebagainya. Penggunaan bunga tersebut disesuaikan dengan tujuan apa upacara sesaji itu dilaksanakan, sebab dalam sebuah upacara tidak sembarangan bunga bisa digunakan. 

Secara filosofi, bunga adalah simbol keindahan dan keberagaman. Manusia yang hidup di dunia pada prinsipnya memiliki keinginan atau bahkan kewajiban untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Substansi doa adalah permohonan yang diwujudkan melalui puji-pujian sastrawi dengan media bahasa yang indah dan bisa didengar oleh indra pendengaran. Dalam kebudayaan Jawa, kita mengenal ada bunga mawar, kenanga, melati, dan kantil sebagai bagian dari upacara tradisional. 

Bunga Mawar apabila kita bedah menurut kerata basa saat ini, bisa dimaknai bahwa urip iku mawarna-warna.

Hidup itu memiliki beragam warna termasuk didalamnya ada beragam keinginan; Kenanga bisa dimaknai kena ngono kena ngene atau boleh bertindak apapun atau meminta apapun; Melati memiliki makna hati yang putih suci; serta kantil bisa dimaknai kumanthil atau terus tertambat.

Bunga-bunga sesaji. Sumber gambar: Tanah Nusantara

Secara umum dapat dipahami bahwa konsep bunga atau puspa akan membentuk suatu makna: apapun doa atau keinginan manusia, hendaknya harus diniati dari hati. 

Kedua, ganda atau aroma. Aroma dalam persembahan ini biasanya berasal dari sesuatu yang dibakar dan menimbulkan bau harum, seperti kemenyan atau dupa. Selain itu, juga bisa berasal dari minyak wangi atau bunga itu sendiri. Konsep ganda dalam aspek religiusitas bisa dimaknai sebagai rasa.

Hal ini dikarenakan dalam ganda itu sendiri bersifat abstrak dan hanya bisa dirasakan keberadaannya melalui indera penciuman. Maka, konsep ini mengajarkan bahwa dalam berdoa hendaknya menggunakan rasa atau menghayati betul apa yang sedang dilakukan sehingga benar-benar tercapai apa yang dimaksudkan.

Ketiga, phala atau buah. Kata phala ini dimungkinkan memiliki kesinambungan makna dengan kata “pahala” pada bahasa sekarang ini yang dimaknai sebagai anugerah. Phala yang dimaksud adalah terkabulnya permohonan seseorang yang berdoa dan keinginanya bisa terwujud tergantung apa yang diminta oleh orang tersebut. 

Kesimpulannya adalah, ketiga konsep tersebut merupakan perwujudan nilai religius yang abstrak dari perlengkapan sesaji yang ada dalam Kakawin Ramayana. Jika dinarasikan dari ketiga konsep utama tersebut akan membentuk siklus dalam sebuah doa, 

“ketika seseorang berdoa walaupun ada banyak keinginan, maka memohonlah dengan cara yang indah. Tidak cukup dengan cara atau bahasa yang indah, tetapi juga harus mampu merasakan atau menghayati dalam berdoa. Ketika dua hal itu sudah dipenuhi, maka ia akan memperoleh apa yang diharapkan.”

Nur Rokhim
Latest posts by Nur Rokhim (see all)