Sebuah cerita tentang mbako Temanggung yang dibawa oleh Mbah Makukuhan. Sebuah anugerah wahyu bagi wong cilik yang berwujud tanaman tembakau

Sejarah tembakau di Nusantara hingga saat ini masih menjadi perdebatan, ditilik dari kebudayaan masyarakat dan kesejarahan tembakau, keduanya memiliki versi masing-masing.

Dalam budaya masyarakat petani mbako, tembakau diidentikan dengan fungsi awalnya yaitu sebagai bahan tambahan dalam kebiasaan nginang atau mengunyah campuran sirih, pinang, dan kapur yang diakhiri dengan membersihkan mulut menggunakan tembakau. 

Budaya menyirih sendiri telah dikenal lama di peradaban Nusantara dengan bukti pahatan relief candi Borobudur dan candi Sojiwan. Sedangkan dari penelitian kesejarahan, tembakau pertama kali dikenalkan oleh penjelajah eropa, baik itu Portugis, Spanyol, maupun Belanda.

Belum ada kesepakatan terpadu atas bangsa mana yang lebih dahulu mengenalkan tembakau di Nusantara. Mungkin saja malah bangsa Tiongkok yang membawa pertama kali, walaupun hanya dugaan, tiada salahnya menerka sahabat bangsa yang satu itu.

Sementara itu dalam Babad ing Sengkala, termuat bahwa semenjak meninggalnya Panembahan Senopati, masyarakat Jawa sudah mulai mengenal tembakau dan merokok.

Ladang tembakau dan gunung Sumbing

Pada masa sekarang, tembakau yang lekat dengan rokok dan sentimen negatif tentang gangguan kesehatan ternyata memiliki tempat tersendiri dalam kebudayaan masyarakat Desa Legoksari, Tlogomulyo, Temanggung.

Legoksari yang juga dikenal dengan Lamuk merupakan penghasil salah satu tembakau terbaik yang ada di dunia dengan bernama “Srinthil”.

Sebagai salah satu motor penggerak ekonomi di Temanggung, tembakau merupakan tanaman yang panennya paling diidamkan oleh masyarakat di Temanggung. Bayangkan saja setiap panen raya tembakau, hasilnya tidak hanya dinikmati oleh petani, tengkulak, maupun pemilik gudang.

Panen raya tembakau dapat dinikmati seluruh kalangan mulai dari pasar tradisional hinggal dealer-dealer motor yang kebanjiran rezeki.

Bagi tiap petani, hal tersebut merupakan salah satu alasan mengapa mereka tetap berjuang menanam tembakau meski digempur dengan berbagai kampanye anti tembakau. Lebih lagi bagi masyarakat Lamuk, tembakau yang dianggap sakral tidaklah boleh diperlakukan dengan serampangan.

Dimulai dari pemilihan biji hingga panen, setiap tahapan dalam proses pertanian tembakau dimaknai secara filosofis dan paripurna. Selain itu, tiap prosesnya selalu melalui slametan-slametan tertentu sebagai bentuk kekhusyukan petaninya.

Ladang tembakau dan gunubg Sumbing ii

Filosofi ini sebenarnya sudah dikenal secara turun-temurun, akan tetapi hingga saat ini hanya segelintir orang tua yang memahami dan memaknai berbagai filosofi dalam prosesi tanam tembakau.

Pada akhirnya, urusan tembakau oleh petani Temanggung disebut dengan rajane penggota atau raja dari segala usaha yang dilakukan oleh petani agar mendapatkan berkah dari tanaman tembakau. Berkah yang berupa rezeki ataupun yang lain, bahkan kemakmuran masyarakat.

Untuk itu, para petani biasanya harulah memiliki hati yang bersih dan tidak terburu nafsu saat menggarap tembakau agar mendapat hasil yang maksimal, begitulah kepercayaan para petani.

Kisah Dewi Sri hingga kisah Ki Ageng Makukuhan

Dalam prosesinya, setiap upacara yang berkenaan dengan tanam tembakau tidak lepas dari dua tokoh kunci dunia pertanian tembakau di Temanggung, ialah Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran pertanian dan Ki Ageng Makukuhan (ada yang menyebutnya Ma Ku Kwan dan dianggap berasal dari Tiongkok) yang merupakan pembawa tembakau pertama di lereng Gunung Sumbing.

Kisah Dewi Sri kemudian disimbolkan dengan ubo rampe yang ada pada tiap prosesi upacara pada tahap-tahap penebaran tembakau, penanaman tembakau, hingga panen merupakan salah satu kaidah kearifan lokal yang saat ini mulai dikhawatirkan oleh sesepuh adat Lamuk akan segera luntur.

Potret bersama tembakau

Kisah tentang Dewi yang dinukil dari lakon carangan Sengkan Turunan ini diadaptasi dengan apik oleh warga Lamuk sebagai mitologi budaya  yang dipercaya secara filosofis.

Sedangkan kisah kisah tutur rakyat tentang Ki Ageng Makukuhan dipercayai sebagai dongeng klasik turun temurun sebagai upaya menumbuhkan kecintaan terhadap tembakau.

Bahwa zaman dahulu kala Ki Ageng Makukuhan dibekali tiga jenis bibit tanaman yang harus ditanam di daerah Kedu, dua bibit berupa jenis padi dan satu bibit tidak diketahui jenis tanaman apa.

Singkat cerita bahwa bibit yang terakhir ini diberi nama “tambaku” karena awal penggunaannya digunakan untuk obat orang sakit.

Potret petani mbako Temanggung

Kemudian kisah berlanjut tentang ndaru rigen yang hingga saat ini dipercayai betul bahwa “wahyu” tembakau merupakan ndaru rigen yang berbentuk seperti rigen atau tempat yang terbuat dari bambu untuk menjemur tembakau berbentuk lembaran persegi panjang yang bercahaya dan jatuh dari langit menuju ke ladang petani yang terpilih.

Konon, ndaru rigen ini merupakan pertanda bahwa tembakau di ladang tersebut akan menjadi tembakau bermutu baik. Banyak kesaksian petani yang sedang menengok tembakau pada tengah malam berkata pernah melihat wujud dari ndaru rigen ini. 

Begitu lekatnya tanaman tembakau di Temanggung hingga melahirkan banyak budaya ritus yang membuat masyarakat khusyuk menjalankan pertanian tembakau.

Bukan sekadar tanaman biasa, tembakau bagi masyakat tembakau ialah “wahyu” yang berwujud tanaman.


Tulisan ini merupakan ajakan bagi pembaca yang mencintai tembakau, untuk ikut serta dalam perayaan penjagaan tembakau Temanggung melalui media film. Digarap oleh Hendry Sulistyo & Farizal Famuji. Informasi mengenai proyek film tentang mbako Temanggung dan Raja Penggota bisa dibaca melalui link ini.

Rega Bagoes
Latest posts by Rega Bagoes (see all)