Rembug Ruwat Jagad10 min read

Tiga belas koma delapan miliar tahun lalu alam semesta terlahir. Forbes melansir angka tersebut berdasarkan riset terakhir yang dikerjakan Atacama Cosmology Telescope Team pada 14 Juli 2020. Sementara itu, setelah alam semesta lahir, berjarak beberapa miliar abad kemudian barulah bumi terlahirkan, kurang lebih lima miliar juta tahun yang lalu.

Lupakan sejenak tentang kelahiran alam semesta. Semua itu hanya perkiraan penelitian. Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan dan bagaimana alam semesta ini tercipta, dalam hal ini cukuplah kita memilih dogma yang mana tentang kapan dan bagaimana alam semesta tercipta.

Lagi pula, Adam dan Eve diciptakan pasca terbentuknya alam semesta. Jadi, total generasi dari Adam dan Eve hingga generasi milineal hari ini sama sekali tidak akan ada yang mengetahui secara pasti proses terciptanya alam semesta.

Mari mengingat, atau mungkin lebih tepatnya membayangkan, peristiwa lima miliar juta tahun yang lalu, ketika bumi mulai terbentuk. Meski bumi terlahir pada lima miliar juta tahun yang lalu, kita, manusia, justru menjadikan tahun 1970 sebagai patokan hari lahir bumi karena pada tahun 1970 tersebut dicanangkan seremoni Hari Bumi.

Bukankah kalau menjadikan tahun 1970 sebagai patokan berarti kita memperingati ketika ‘Hari Bumi’ digagas bukan merujuk pada bumi terlahirkan pada lima miliar juta tahun yang lalu?  

Di tahun 2021 Hari Bumi menginjak usia 51 tahun, sedangkan usia bumi tepatnya adalah 4, 54 miliar juta tahun. Kenapa kita sering salah sangka untuk memeringati 51 tahun ‘Hari Bumi’ bukan 5 miliar tahun hari lahirnya Bumi?

Kasus yang sama juga berlaku untuk seremoni peringatan hari besar lainnya, seperti Hari Buruh, Hari Air, Hari Pancasila, dst. Pertanyaan filosofis semacam itu kiranya tidak perlu terlalu dipikirkan. Bagaimanapun, kurang lebih seperti ujar Mas Tian dari Hutan Itu Indonesia pada saat pertemuan Eco Blogger Squad pada Rabu, 14 April 2021 kemarin, bahwa peringatan hari besar lebih merujuk pada peringatan akan kesadaran umat manusia terhadap isu tertentu, bukan merujuk pada fakta peristiwa kemunculan isu tersebut.

Kalau dipikir baik-baik, memang pada kenyataannya selalu demikian. Contohnya, ketika kita menikah, kita memeringati Hari Pernikahan bersama pasangan kita dengan berpatokan pada ‘kapan’ kita menikah secara resmi bukan pada ‘kapan’ kita berpacaran.

Memang pada saat berpacaran kita merayakan hari jadi kita menjalin kesepakatan untuk berpacaran, tapi ketika kita menikah kita mengubah paradigma pikiran kita bahwa yang perlu diperingati adalah hari kapan kita menikah. Lagi pula, untuk apa memperingati hari kita berpacaran ketika kita sudah menikah? Kita memperingati momentum munculnya kesadaran baru bahwa kita mengarungi fase baru hidup dengan menikah.

Bersiap Merayakan Hari Bumi

Di tahun 2021 ini mari kita merayakan 51 tahun hari lahir kesadaran kita terhadap betapa pentingnya bumi. Mengingat hari bumi sendiri lahir karena situasi krisis polusi yang terjadi di seluruh dunia akibat meningkatnya pembangunan industri di tahun 1970 tersebut.

Sadar akan terancamnya bumi akibat polusi, akhirnya beberapa perwakilan manusia menggagas Hari Bumi. Sebagai pengingat bahwa bumi sedang tidak dalam kondisi ‘biasa saja’.

Momentum peringatan Hari Bumi boleh saja dilaksanakan setahun sekali, tapi untuk kesadaran akan keberlangsungan bumi harus terbawa setiap hari di dalam kepala. Kiranya atas dasar pemikiran seperti itulah Eco Blogger Squad terbentuk, yakni untuk mengajak orang lain agar memerhatikan isu-isu lingkungan melalui tulisan.

Pada Rabu, 14 April 2021, Eco Blogger Squad mengadakan gathering online (rembugan onile) melalui Zoom untuk mempersiapkan peringatan kesadaran Hari Bumi. Rembugan dipandu oleh Mbak Oca dan diawali dengan kuis online berhadiah oleh-oleh. Tapi, gandheng, hapeku ra support, ya takliwati wae kuise…

Terdapat tiga narasumber yang dihadirkan untuk rembugan online tersebut. Ada Yuyun Harmono perwakilan dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), Gita Syahrani dari Sekretariat LTKL (Lingkar Temu Kabupaten Lestari), dan ada Christian Natali dari HII (Hutan Itu Indonesia).

Masing-masing narasumber mambawakan pembahasan isu yang menarik dan cukup panjang. Dalam setiap sesi khusus untuk narasumber, setiap narasumber membawa lebih dari dua isu lingkungan yang memang penting untuk diperhatikan.

Keseluruhan isu yang disampaikan penting untuk dibahas dan diurai, namun secara khusus saya mencatat satu isu untuk tiap pembicara yang menurut saya penting untuk diutarakan pada dulur semua.

Penyakit Komplikasi Bumi

Sesi pertama rembugan disampaikan oleh Yuyun Harmono. Di WALHI, Yuyun Harmono berposisi sebagai Manager Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional. Sesuai dengan posisi yang diemban, di sesi pertama tersebut Yuyun Harmono membawakan judul materi Krisis Iklim dan Transisi Berkeadilan.

Kalau melihat judul materi di atas, pada intinya Yuyun Harmono menjelaskan dua isu yang saling berkaitan. Pertama, ikhwal krisis iklim yang sedang terjadi. Kedua, isu transisi penggunaan energi alternatif yang berkeadilan bagi masyarakat Indonesia.

Dari dua isu tersebut, menurut saya yang penting untuk diuraikan di sini adalah isu krisis iklim. Terlebih, dengan menyelesaikan persoalan krisis iklim secara tidak langsung akan menuntun pada upaya eksekusi transisi energi yang berkeadilan.

Berbicara tentang krisis iklim jelas langsung merujuk pada wacana perubahan iklim. Terjadinya perubahan iklim itulah yang menjadi hakikat timbulnya krisis iklim. Yuyun Harmono menyampaikan bahwa perubahan iklim dipicu dari terjadinya revolusi industri.

Sejak revolusi industri itulah, dengan diiringi tumbuhnya industri-industri di berbagai negara, menimbulkan krisis terhadap iklim. Hal ini berkaitan dengan emisi gas, polusi udara, dan berbagai pencemaran lingkungan lainnya yang menyebabkan pemanasan global.

Tumbuhnya industri secara otomatis menumbalkan hutan untuk bukaan lahan.

Ibarat penyakit kompilasi, komplikasi, dalam tubuh, pemanasan global yang disebabkan oleh tumbuh liarnya industri berakibat pada berbagai hajat hidup manusia yang bergantung pada alam dan lingkungan. Pertumbuhan industri sampai saat ini terus terjadi, sehingga semakin tahun komplikasi penyakit bumi semakin parah.

Diagram presentasi yang dibawakan Yuyun Harmono di bawah ini kiranya dapat menjadi gambaran:

Berdasarkan Paris Agreement, diperkirakan pada tahun 2040, apabila manusia tidak segera melakukan tindakan preventif terhadap perubahan iklim, utamanya perubahan suhu akibat pemanasan global, suhu bumi pada tahun 2040 akan melewati ambang batas 1,5 C.

Kalau dilihat dari angka memang kecil, tapi memang hanya angka itulah yang mampu ditangani manusia terhadap perubahan iklim.

Seandainya di tahun 2040 manusia tidak mampu menekan perubahan suhu di bawah ambang batas 1,5 C, konsekuensiya bisa menakutkan.

Pulau-pulau kecil tenggelam, berkurangnya daya adaptasi manusia terhadap suhu bumi, punahnya spesies tertentu, kekeringan, gagal panen, kelangkaan air, bencana, permasalahan kesehatan, dst.

Menanggapi konsekuensi tersebut, bukankah terdapat kajian bahwa apabila persoalan ini tidak diatasi maka kota-kota bagian utara Jawa akan tenggelam di tahun 2040? Bahkan ada guyonan, yang didasarkan pada penelitian, bahwa di tahun 2040 tersebut Jepara akan menjadi selat!

Anehnya, entah kenapa dampak dari perubahan iklim akan lebih dirasakan negara-negara yang terletak di sebelah selatan bumi. Kenapa hal ini terjadi? Apa karena negara-negara sebelah selatan bumi kebanyakan adalah negara berkembang dan mayoritas orangnya kurang peduli terhadap lingkungan?

Ah, diamput, ini fakta menjengkelkan yang harus diterima secara paksa dengan lapang dada!

Seandainya kita tidak serius menanggapi persoalan perubahan iklim yang sedang terjadi hari ini melalui upaya-upaya penggunaan energi alternatif secara massif, pengurangan emisi gas, pengurangan plastik, dan optimalisasi pemakaian produk daur ulang, maka kita harus bersiap lahir dan batin.

Bahwa di tahun 2040 dan di tahun setelah 2040 kita harus mengonsumsi makanan pokok yang namanya ‘kesabaran’ (nrima ing pandum) tatkala kita menghadapi kekeringan, kelangkaan air, bencana alam, masalah kesehatan, pandemi berkelanjutan karena virus-virus yang berevolusi, dan kiamat-kiamat kecil lainnya.

Juru Selamat

Apa yang disampikan Yuyun Harmono seolah membenturkan kepala kita ke tembok hingga berdarah-darah. Kita melihat kumpulan album kengerian yang menanti di depan mata. Kengerian yang kita persembahkan dengan penuh kebanggaan untuk anak cucu di masa depan.

Untung saja di sesi kedua, tepatnya di sesi Gita Syahrani dari Sekretariat LTKL, terdapat obat yang kemungkinan besar mujarab untuk menghadapi perubahan iklim, yakni dengan lebih mengoptimalkan ketergantungan kebutuhan kita pada sumber daya alam yang tersedia. Bahkan, membangun ekosistem pasar yang bertumpu pada produk-produk alami.

Obat mujarab yang ditawarkan Gita Syahrani adalah melalui konsep pasar Ekonomi Lestari atau Donat, karena bagan konsep yang bentuknya menyerupai donat.

Konsep Ekonomi Lestari berpijak pada konsep Pembangunan Berkelanjutan, namun dengan pembenahan taktis yang lebih eksplisit.

Diagram Ekonomi Lestari bukan hanya mencakup kebutuhan ekonomi manusia, namun juga standar lingkungan hidup bagi manusia atau persoalan ekologis yang perlu diperhatikan sebagai batas pertumbuhan ekonomi.

Lingkaran dalam meliputi berbagai aktifitas dan hajat hidup manusia yang secara naluriah memang dibutuhkan oleh manusia. Seperti air, energi, makan, internet, politik, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, kesetaraan gender, dan isu perdamaian.

Keseluruhan kebutuhan hidup manusia yang disebutkan pada lingkaran dalam merupakan hal yang tidak dapat diingkari.

Apapun aktifitas manusia, harus tetap berada pada lingkaran hijau muda, tidak boleh sampai menginjak pada lingkaran hijau tua yang menyematkan berbagai persoalan hidup manusia.

Permasalahan tersebut antara lain seperti perubahan iklim, pemanasan global, polusi kimia, polusi udara, masalah biodiversitas, dst.

Aksi yang dapat dilakukan terkait diagram Donat tersebut adalah industri harus mengubah paradigma aktifitasnya berdasarkan optimalisasi industri alam. Lagi pula, industri alam memiliki pangsa pasar yang luas dan mencakup hingga ranah internasional.

Peluang ini masih jarang dilirik oleh industri-industri besar yang hanya mengacu pada benefit dan mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Secara otomatis, produk yang dihasilkan oleh industri berbasis alam adalah produk-produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Industri berbasis alam memiliki sumbangsih besar terhadap keberlangsungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat yang terkait.

Satu kali lempar, tiga pulau terlampaui. Kiranya paribasan tersebut menggambarkan efektifitas dari konsep Ekonomi Lestari. Semuanya terjalin simultan, baik untuk kebutuhan penyelamatan lingkungan maupun penyelamatan manusia.

Baik wanti-wanti terkait krisis alam maupun obat mujarab komplikasi penyakit bumi berupa Ekonomi Lestari, keduanya perlu untuk disampaikan, perlu disebarluaskan, dan menjadi wawasan umum bagi masyarakat luas. Memberi pemahaman terhadap masyarakat luas bahwa alam, khususnya hutan, adalah jawaban dari persoalan lingkungan yang tengah terjadi.

Di sesi ketiga Christian Natali dari Hutan Itu Indonesia menegaskan hal tersebut, yakni dengan memanfaatkan serta memaksimalkan kampanye kepedulian lingkungan melalui tulisan-tulisan di blog.

Dasar dari aksi kampanye melalui tulisan blog nampaknya sepela, namun efek yang ditimbulkan memberi pengaruh yang cukup besar terhadap aksi-aksi selanjutnya. Pemunculan kesadaran melalui tulisan tidak sekadar memberi wawasan.

Diagram di bawah ini menjelaskan umpan balik yang dihasilkan dari tulisan blog tentang isu lingkungan.

Pengetahuan atau wawasan terkait lingkungan akan menumbuhkan kesadaran. Setelah kesadaran berhasil ditumbuhkan dan bahkan ditingkatkan, tindakan selanjutnya yang terjadi adalah munculnya sikap untuk mencari irisan antara kepentingan individu dengan kepentingan lingkungan, mencari jalan tengah dan menemukan solusi untuk kebutuhan dengan kelangsungan alam.

Secara otomatis, tulisan juga berarti membentuk relasi pada orang lain sehingga membentuk jaringan dengan orang yang sama-sama memiliki interest terhadap isu lingkungan.

Setelah terjalinnya relasi dengan orang lain melalui tulisan, orang tersebut dapat dipastikan akan menyampaikan isi tulisan tentang lingkungan terhadap teman atau keluarganya.

Efek domino dari diagram diatas, yang ditimbulkan karena tulisan, tentu menjadi dasar gerak yang solid bagi upaya pembentukan kesadaran lingkungan.

Kiranya yang diungkapkan oleh Christian Natali di bawah ini merepresentasikan apa yang harusnya terjadi mengenai tulisan tentang lingkungan yang telah menjadi perbincangan.

Bahwa isu-isu lingkungan harus menjadi perbincangan warung kopi!

Christian Natali, Hutan Itu Indonesia

Dari panjangnya materi yang telah disampaikan seluruh pembicara selama dua jam, muncul pemahaman dalam diri saya bahwa saya sendiri sedang dituntut untuk menjadi juru selamat bagi lingkungan.

Mungkin pemahaman ini juga berlaku bagi dulur semua, bahwa kita sebagai orang mampir,-istilah dari Cak Nun, harus memayu hayuning bhawana. Dan saya menambahi, jangan sampai kita hanya memayu hayuning arta!

Kembali pada angan-angan di tahun 2040 kelak. Di tahun 2040, dan di tahun sesudah 2040, jangan harap Imam Mahdi turun ke dunia hanya untuk menyelesaikan masalah iklim!

Bumi ini tanggung jawab kita sebagai manusia, bukan tanggung jawab Imam Mahdi. Kitalah yang harus jadi Imam Mahdi sebelum semuanya terlambat!

Gombalamoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *