Monsieur de Villefort ditimpa kesialan yang datang secara bertubi-tubi. Pertama mertuanya, Marquis of Saint-Meran, mati karena serangan kejang. Berikutnya, pembantunya yang bernama Barrois juga mati dengan cara yang sama, dan terakhir ia kehilangan putrinya, Valentine, dari istrinya yang pertama. Kesedihan telah menggerogoti keangkuhannya. Semua terjadi atas kehendak hukum Tuhan.


Kesialan yang dialami Villefort setidaknya senasib dengan Valentine yang juga anak perempuan satu-satunya dari istri pertama, walaupun nantinya Valentine bangkit dari kubur. Valentine adalah seorang putri yang statusnya ontang-anting. Terlahir sebagai manusia sukerta. Seandainya Monsieur de Villefort orang Jawa, kemungkinan dia sudah sejak dulu mengadakan ruwatan untuk menjaga Valentine supaya tidak jadi mangsa Batara Kala.


Sayang sekali, semua tokoh di atas bukan orang Jawa, melainkan orang Prancis yang direka Alexandre Dumas di dalam novelnya, Count of Monte Cristo, sehingga tentu saja tidak ada upacara-upacara suci penyelamatan jiwa-jiwa calon mangsa Batara Kala.


Semenjak runtuhnya Menara Babel, manusia terpencar, dan terpisah oleh sekat-sekat bahasa sekaligus budaya. Gambar kengerian praktek konspirasi dari Alexandre Dumas tentu saja berbeda dengan jalan ghaib yang dimiliki masyarakat Jawa. Di Jawa, kengerian hidup sering ditafsir sebagai datangnya kesialan beruntun, seolah tidak ada pangkalnya.


Hampir semua manusia pasti memiliki pengalaman na’as atau apes di dalam hidupnya. Datangnya masa apes bisa jadi karena memang sudah jadwalnya tertimpa apes dari Tuhan, dan bisa juga akibat garis sejak awal kelahiran yang menjadikan seseorang sebagai golongan manusia sukerta. Di luar dua kemungkinan tersebut, yang paling wajar dialami ialah ke-apes-an karena ulah diri sendiri.


Satu hal yang unik dari kita, manusia, adalah ketika masa apes datang, kita seketika merasa menjadi manusia paling apes di dunia. Apalagi ke-apes-an yang terjadi bersamaan dengan kebahagiaan yang diterima kawan-kawan terdekat. Serasa tidak ada Tuhan yang benar-benar adil.


Guna meringankan beban ke-apes-an, kita akhirnya mencoba mencari kambing hitam, semata demi pelampiasan rasa marah; Pertama, mengumpati masa lalu. Kedua, menyalahkan orang terdekat. Ketiga, menggugat nasib atau takdir. Keempat, menuduh Tuhan dengan prasangka yang bukan-bukan. Keempat kambing hitam yang disebut, selalu terjadi secara berurutan.


Tidak ada yang mau apes, termasuk yang menulis ini. Siapa juga yang dengan pentheng kelek berani memohon kepada Tuhan, “Oh Tuhan, beri hamba kesialan!!”, tidak ada bukan? Jadi jangan kira yang menulis ini seolah berposisi sebagai manusia paling beruntung di dunia, justru yang sedang terjadi adalah sebaliknya!


Apakah tidak ada jalan pembebasan terhadap serangan kesialan? Tentu saja ada. Saben sing teka bakale lunga, apa wae sing mlebu bakal duwe dalan metu. Itulah prinsip perputaran cakra manggilingan. Di Jawa, golongan sukerta diprediksi akan senantiasa mengalami kesialan semasa hidup, dalam beberapa hal yang spesifik, bahkan bisa juga mencapai titik yang paling mengerikan yaitu dimangsa Bathara Kala.


Jalan pembebasan yang pertama, mengesampingkan segalanya, menerima segalanya, berpikir logis pada setiap peristiwa, memikirkan matang-matang langkah berikutnya. Apabila langkah yang pertama belum memberi hasil yang optimal, melangkah ke jalan pembebasan kedua; Ruwatan. Ingat, manusia Jawa, termasuk yang ‘darah campuran’ atau ‘menetap di tanah Jawa’, secara otomatis kemungkinan besar akan memiliki ‘DNA mistik’ Jawa, dan salah satu ciri khas ‘DNA mistik’ Jawa ialah persenyawaan antara realitas dan superasionalitas (mistik-ghaib).


Ruwatan berasal dari kata ruwat yang mendapat sufiks ‘-an’, mengalami gejala metafisis dari kata luwar yang berarti pelepasan atau pembebasan. Maksud dari ruwatan ialah upacara suci yang diselenggarakan untuk menghindarkan seseorang dari marabahaya (Darmoko, 2002). Ruwat dilaksanakan pada 1 Sura atau 1 Muharram kalau dalam penanggalan Islam (Ninuk Kleden & Probonegoro, 2008).


Kaum Sukerta yang Mencari Keselamatan
Kiranya perlu ditekankan di sini, bahwa semodern apapun jaman, tetap akan ada kunjungan dari kesialan. Oleh karena itu, lebih baik tidak terlalu dumeh terhadap kemudahan jaman modern, karena semaju apapun zaman tidak akan memengaruhi waktu tiba kesialan.


Kesialan semata menjadi hak milik Sang Maha Ghaib yang bebas ditujukan kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Bagi pembaca yang memutuskan atheis atau menutup diri dari kemungkinan eksisnya daya supernatural, lebih baik kroscek diri sendiri sekali lagi secara lebih mendalam. Perhatikan, sekaligus camkan, menjadi atheis pun sebetulnya salah satu bentuk kesialan yang sedang Anda derita lho. Hehe


Setidaknya ada satu hal positif yang dapat dipetik dari kaum atheis, mereka tidak pernah menyalahkan takdir dan otomatis tidak pernah menyalahkan Tuhan. Mereka semata menyalahkan sebab-akibat, sehingga lebih realistis dalam memilih jalan penyesalan atau penyelesaian tatkala datang sebuah kesialan.


Memang nasib apes bersifat misterius. Akan tetapi masyarakat Jawa mencoba menguak misteri tersebut dengan mengelompokkan orang-orang yang dianggap punya kemungkinan mengalami kesialan dibandingkan orang lain.


Kepercayaan ini telah berlangsung sejak lama. Catatan pertama mengenai konsep awal ruwatan Jawa tertera dalam Kakawin Sudamala yang terbit pada masa kekuasaan Majapahit, yang mengisahkan anak sulung Pandawa meruwat Bathari Durga agar kembali menjadi Dewi Uma.


Manusia-Manusia Sukerta

Kelompok orang yang dianggap mempunyai tingkat kesialan yang lebih tinggi dibandingkan orang lain disebut dengan golongan sukerta. Sukerta berasal dari kata suker, ewuh, rekasa, angel, rereget, jenes, sedhih, susah-disusahake, yang memiliki makna dihalang-halangi untuk menggapai kebahagiaan (Zoetmoelder, 1995 dalam Lies Mariani, 2016).


Golongan sukerta merupakan sekelompok orang yang sepanjang waktu (kala) hidupnya diduga akan terus menerus mengalami kesusahan, bencana, atau kesengsaraan (Lies Mariani, 2016). Oleh karena itu kelompok sukerta perlu melakukan ritual ruwatan.


Di dalam Serat Centhini, edisi Kamajaya, 1985, telah dijelaskan pada episode Murwakala, bahwa orang-orang yang termasuk dalam golongan sukerta antara lain.


…Batara Kala nyuwun pepencen tedha awujud manungsa, kaparingan nanging boten sadhengah manungsa kajawi namung ingkang kalebet tiyang sukerta; ontang-anting, uger-uger lawang, kembang sepasang, gedhana-gedhini, lan sapanunggalipun wonten warni kalihwelas…


Adapun Relin, 2015, menguraikan kelompok orang sukerta hingga mencapai jumlah empat puluh. Jumlah yang cukup banyak. Akan tetapi hal tersebut wajar saja karena Relin juga melakukan studi lapangan berupa wawancara, disamping melakukan studi pustaka. Berikut uraian Relin.


Ontang-anting adalah seorang anak tunggal entah laki atau perempuan. Gedhana-gedhini adalah dua bersaudara yang satu lelaki yang satunya lagi perempuan. Uger-uger lawang, yaitu dua bersaudara laki semua. Lumunting, anak yang lahir tanpa ari-ari. Sekar sepasang, dua anak perempuan perempuan semua.


Sendhang kapit pancuran, tiga bersaudara yang tengah perempuan. Pancuran kapit sendhang, tiga bersaudara yang tengah laki-laki. Saramba, empat anak bersaudara lelaki seluruhnya. Sarimpi, empat anak perempuan semua. Pandawa, lima bersaudara laki-laki semua.


Pandawi, lima anak perempuan bersaudara. Pandawa ipil-ipil, lima anak, empat perempuan yang bungsu laki-laki. Julungpujut, anak yang terlahir ketika matahari terbenam. Julungwangi, anak yang lahir ketika matahari terbit.

Julungsungsang, anak yang lahir di tengah siang hari. Kembar gondhang-kasih, anak kembar salah satunya albino. Tawang gantungan, bayi kembar yang jarak kelahirannya satu hari atau lebih. Wungkus, bayi lahir yang terbungkus oleh ari-ari layaknya Bima.


Jempina, bayi yang lahir waktu kandungannya hanya tujuh bulan atau kurang. Margana, anak yang lahir saat berada di tengah perjalanan. Bayi yang lahir dengan berkalung usus lehernya. Tiba ungker, bayi yang lahir dengan badan terlilit usus. Made, bayi yang lahir di alas kayu tanpa tikar.

Kresna, bayi yang lahir dengan kulit cemani padahal bapak dan ibunya tidak hitam. Tuna bapa, bayi yang hari lahirnya bertepatan dengan kematian bapaknya. Bayi yang lahirnya bertepatan dengan pertunjukan wayang di desanya.


Kaum sukerta bukan melulu soal ketetapan Tuhan yang memilihkan waktu kelahiran dan momen kelahiran manusia. Akan tetapi, kaum sukerta juga berisikan orang-orang yang melakukan keteledoran. Sebagaimana berikut;


Orang yang membangun rumah, namun sebelum ditempati malah roboh. Orang yang membuat pagar sewaktu ia membangun rumah. Orang yang menggulingkan dandang. Orang yang menggulingkan jemuran tanaman. Orang yang gemar menyembunyikan sampah di kolong ranjang. Orang yang memecahkan gandhik (batu penggiling).


Orang yang membuat rumah tanpa tutup keong. Orang yang suka menyebarkan dan membuang garam di dalam rumah. Orang yang hobi membakar rambut, bulu, dan tulang. Perempuan yang menanak nasi namun sebelum nasinya matang malah ditinggal pergi ke rumah tetangga. Orang yang suka duduk di ambang pintu sambil bertopang dagu.


Relin juga menambahkan, bahwa selain ruwatan yang digelar pada umumnya. Sebenarnya ada hal lain yang juga harus ikut diruwat tanpa menunggu gelaran acara ritual ruwatan. Diantaranya meruwat diri, meruwat, lingkungan alam, dan meruwat suatu wilayah yang memiliki cakupan luas.


Seperangkat Mantra Sakti


Dalang ruwat bukanlah dalang yang sekadar biasa bermain wayang kulit. Ada beberapa syarat untuk menjadi seorang dalang ruwat. Salah satunya adalah, seorang dalang baru bisa atau berhak menjadi dalang ruwat apabila kakeknya seorang dalang, sedangkan ayahnya bukan seorang dalang, dan kemampuan mendalang kakek jatuh pada dirinya.


Prosesi sakral ruwatan tidaklah mudah. Peserta sukerta diwajibkan memakai pakian yang hanya berupa kain kafan yang dibelitkan pada tubuh. Lakon yang dimainkan adalah lakon wayang khusus ruwatan yakni lakon Murwakala atau Sudamala. Semua peserta tidak dibolehkan melepaskan perhatian dari wayang ruwat yang sedang dimainkan dalang.


Banyak versi tentang isi lakon Murwakala, setiap daerah mempunyai pakem cerita berupa nama tokoh yang berbeda, akan tetapi inti permasalahan yang diangkat tetap sama, yakni upaya orang Jawa untuk mengecoh niat Bathara Kala yang hendak memangsa. Tokoh yang dilibatkan tentu saja Bathara Kala.


Karena ruwatan adalah prosesi sakral, tentu saja di dalam pelaksanaannya melibatkan seperangkat mantra-mantra. Berikut adalah salah satu contoh mantra di dalam ruwatan yang dikutip dari Darmoko, 2002. Dari wawancara yang dilakukan Suparjo kepada salah seorang dalang ruwat di daerah Pracimantara, Wonogiri.


Ketika dalang sampai pada episode monolog dirinya yang bertemu dengan tokoh Bathara Kala, dalang kemudian akan membacakan mantra berupa caraka walik


Nga tha ba ga ma
Na ya ja dha pa
La wa sa ta da
Ka ra ca na ha


Setelah itu mantra dilanjutkan, tetap dengan struktur baca wolak-walik.


Ya midusa sadumiya
Ya miruda darimuya
Ya siyasa sayayisa
Ya liraya yaraliya
Ya dayuda dayudaya
Ya dayani niyadaya


Disambung mantra sepigeni.


“ingsun ambukak sadulurku sapigeni kang asal saka geni nurka, dim, kang dadi wijining sakehing urip, ingsun tamakke apa kang katon luluh geseng dadi awu saking kodratullah”


Dilanjutkan dengan mantra sepiangin.


“ingsun ambukak sadulurku sepiangin, kang asal saka angin ngabdul musamad, kang dadi wijining sakehing nyawa, ingsun sapokake mangetan terus segara wetan, mangidul terus segara kidul, mangulon terus segara kulon, mangalor terus segara lor, saking kodratullah”


Masih dilanjutkan ke mantra sepibanyu.


“ingsun ambukak sadulurku sepibanyu, kang asal saka banyu tahura, kang dadi wijining sakehing roh, ingsun siramake ing banjar pekarangane si….. adhem asrep saking kodratullah”


Diteruskan mambaca mantra sepibumi.


“ingsun ambukak sadulurku sepibumi, kang asal saka bumi bahura, kang wijining sakehing jisim, ingsun tamakake ing banjar pekarangane si…… kuwat santosa slamet saking kodratullah”


Dalang juga membaca mantra kalacakra.


Kalamusa samulaka
Kayaramu murayaka
Kadibuda dabudika
Kadibaya yabadika


Terakhir mantra pesinggihan atau singgih-singgih.


“hong singgah-singgah kala singgah, durga suminggah, kang cucuk wesi sirah, sing kama kalah, sakehing kala padha suminggah aku sajatining wasesa”


Mantra pamungkas ditutup dengan caraka walik lagi.


Meruwat Pikiran yang Utama


Tidak ada salahnya melangsungkan sebuah upacara ruwatan. Namun, hal pertama yang perlu diruwat sebelum pelaksanaan ruwatan ialah meruwat pikiran sendiri tanpa cawe-cawe pihak lain. Pikiran lah yang paling menentukan, nantinya, apakah ruwatan benar berhasil atau tidak.


Percuma ruwatan sudah dilakukan tapi pikiran masih terbiasa berpikiran yang negatif, prasangka buruk, dan penyakit hati yang masih tertambat. Pada dasarnya, ruwatan menopang sisi supernatural manusia, bukan jalan pikiran manusia. Jadi tanggung jawab seutuhnya perubahan diri tidak berada pada tangan dalang tapi pada pemikiran.


Batara Kala selaku penguasa waktu, yang terlahir dari nafsu tergesa tak terkendalikan Bathara Guru, mengincar kaum sukerta yang batinnya dikuasai kekhawatiran, kecemasan, dan pikiran yang negatif. Ruwatan sukerta menunjukkan bahwa manusia Jawa hampir menundukkan waktu, menunda dan mempercepat sesukanya.

Latest posts by jiwajawasastra (see all)