semakin tua usia bumi dan semakin dimanjakan oleh kehidupan modern, maka semakin manusia Jawa terkikis kesadaran tubuhnya. Belakangan ini, setelah kehilangan ‘Jawa’-nya, wong Jawa menuju tahap kehilangan tubuhnya yang Jawa.

Sejauh mana wong Jawa mengenal Jawanya mungkin ditentukan oleh seberapa kenal ia dengan tubuhnya sendiri. Tidak sebatas kenal, tapi memiliki kesadaran, pemahaman, dan kesadaran yang tepat atas tubuhnya. Mulai dari siklus hidup yang pasti akan dilewati, fungsi bagian tubuh, hingga anatomi struktur tubuh.

Pengendalian tubuh berbeda dengan penguasaan secara sadar terhadap tubuh. Wong Jawa sejak masa Jawa kuna hingga Jawa modern mengetahui hal ini, kecuali untuk wong Jawa yang kumalungkung karena dipercaya menjadi raja Jawa.

Ada jejak yang tidak dapat dihilangkan dari masa Jawa kuna sampai dengan masa Jawa modern hari ini, bahwa tubuh wong Jawa merupakan hasil kompilasi dari saripati alam yang dihimpunkan Tuhan.

Berbeda dengan wong Barat yang mayoritas memisahkan tubuhnya dari alam, wong Jawa pada dasarnya menyadari bahwa di dalam tubuhnya ada alam, dan dirinya sendiri adalah alam.

Tidak hanya itu, pada tahap penciptaan diri pribadi pun wong Jawa punya anggapan kuat bahwa segala struktur tubuhnya disusun dari elemen-elemen alam, sehingga tidak mengherankan jika wong Jawa, kebanyakan, pasti pernah mendengar istilah sangkan paraning dumadi.

Kesadaran sangkan paran menandakan keniscayaan tentang kepulangan tubuh dan jiwa wong Jawa menuju tempat ia dijadikan (dumadi) sekaligus pulang ke Yang Menjadikan.

Masing-masing elemen alam di dalam tubuh, kembali ke bhawana ageng-nya. Tubuh wong Jawa yang pasti mengalami sangkan paran tidak lain untuk menyusul kakang kawah, rah, puser, dan adhi ari-ari yang telah pulang terlebih dahulu.    

Wong Jawa memang punya pemahaman anatomis terhadap tubuhnya, akan tetapi apabila memerhatikan konstruksi nalar kejawaan, struktur anatomis tersebut dipahami sebagai hasil akhir olahan alam yang bersifat fana.

Karenanya, ilmu kelepasan (moksa) menurut masyarakat Jawa dapat dilakukan menggunakan beberapa pilihan sarana pelepasan. Sebagai contoh, ada moksa yang menggunakan perantara air, sehingga ia secara utuh, baik tubuh maupun jiwanya mengalami pelepasan lantaran elemen air. Hal yang sama juga berlaku pada  pelepasan yang menggunakan perantara api, tanah, dan angin.

Pengetahuan elemen alam di dalam tubuh wong Jawa sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran keagamaan yang dianut. Meski demikian, tidak ada perbedaan atau konversi yang banyak terjadi.

Paling hanya perubahan nama dan istilah. Malah, konsepsi pengetahuan elemen alam di dalam tubuh masyarakat Jawa modern dan berbahasa Jawa modern hari ini masih memiliki jejak yang runtut pada pengetahuan struktur tubuh manusia Jawa dari masa Jawa kuna.

Sumber gambar: Anjali Mudra

Pengetahuan struktur tubuh yang disusun menggunakan elemen alam diwariskan dari generasi ke generasi melalui medium sastra. Kebanyakan, pengetahuan tersebut diturunkan menggunakan jenis karya sastra Jawa yang memuat nilai-nilai religius dan spiritual.

Akibatnya, dimensi yang muncul sebagai dampak eksistensi karya sastra itu bukan sekadar terbatas pada wilayah wawasan ilmu melainkan juga menyentuh ranah praktek, melalui ritus-ritus keagamaan tertentu.

Tulisan ini tidak mungkin membahas semua konsep dan gagasan tubuh wong Jawa berdasarkan karya sastra Jawa, hanya penggalan, kutipan, dan potongan dari beberapa pemahaman. Informasi lengkap tentang pembahasan ini bisa didapat dengan mengajak ngobrol dulur-dulur yang berkuliah atau alumni di sastra Jawa.

Komposisi Penciptaan

Awal mula hidup manusia menurut teks Kunjarakarna tidak serta merta bermula dari titik pembuahan janin. Keterlibatan elemen alam yang menyusun tubuh baru dimulai ketika janin di dalam rahim sudah mencapai usia satu bulan kehamilan.

Kalau dalam kosmografis Islam, janin baru memperoleh kehidupannya dengan ditiup ruh oleh Tuhan setelah berusia empat puluh hari.

Terdapat perbedaan waktu terkait pemberian ruh dalam kepercayaan Islam dengan pelibatan alam yang tertera di dalam teks Kunjarakarna. Apabila kepercayaan Islam berjangka waktu empat puluh hari, teks Kunjarakarna memiliki jangka waktu tiga puluh hari.

Konon, ruh oleh masyarakat Jawa Islam dikatakan sebagai representasi senyawa angin yang ditiupkan ke daging. Setidaknya, ruh sebagai angin tersebut sama seperti yang disampaikan teks Kunjarakarna.

Ada lima unsur alam yang akan menghidupkan janin, menurut teks Kunjarakarna, antara lain: tanah, udara, air, api, dan angin, disebut pañca mahabuta.

Tubuh dan semesta. Sumber gambar: Parable vision

Kelima unsur tersebut dijejalkan pada tubuh janin yang sudah berusia satu bulan saat di dalam kandungan. Kelimanya saling bersinkronisasi sehingga secara simultan mengaktifasi fungsi organ tubuh yang hendak terbentuk.

            Kunaṅ duk śawulaņn iṅ wtĕṅ

            Si lalana ŋaranta,

            sammana rupanta,

            kadi hantiga kinulitan.

            Sapta diwasa kiteŋkana, tumurun ta

            pañca mahabuta;

            Akasa prtiwi

            ampaḥ teja bayu;

            matabwan. hakasa pinaŋka

            tĕndas, prtiwi minaŋkawak.

            hampaḥ minaŋkaraḥ teja

            pinaŋkapanon, bayu pinaŋka

            husoṣa.

            punaṅ paḍa ta ya masambuŋ urip

Kutipan teks Kunjarakarna tersebut telah dialihaksarakan sekaligus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem van der Molen dalam bukunya yang membahas tentang aspek filologis, kodikologis, dan isi teks Kunjarakarna. Adapun terjemahan yang untuk kutipan teks di atas kurang lebih sebagai berikut:

            Kemudian setelah sebulan di perut     

            …..      

            Nama anda si ‘bermain’.

            Rupa anda waktu itu seperti telur berkulit. Tujuh hari

            anda demikian. Datanglah

            kelima unsur:

            udara, tanah

            air, api, dan angin.

            Matabwan. Udara sebagai

            kepala. Tanah menjadi badan.

            Air sebagai darah

            Api menjadi penglihatan

            Angin menjadi nafas.

            Bersama mereka membentuk hidup

Tubuh manusia Jawa, selain dapat ditinjau dari aspek fisik yang berupa organ-organ tubuh, juga dapat ditinjau berdasarkan aspek filosofis yang mengisi. Teks Kunjarakarna sebagai karya sastra Jawa pertengahan (Merapi-Merbabu) yang bersifat religius menguraikan peranan elemen alam dalam proses penghidupan manusia, terus menjadi keyakinan hingga saat ini.

Bahkan, ada cukup banyak karya sastra Jawa baru yang merujuk pada teks Kunjarakarna untuk menyampaikan struktur anatomi tubuh yang disusun oleh alam. Salah satunya adalah teks Serat Wirid Purwa Madya Wasana yang dikarang oleh Widya Panitra, dan diterbitkan Boekhandel. R. Wakidjo Solo, 1934.

Elemen alam pembentuk tubuh. Sumber gambar: Devian art

Bahkan, uraian keterlibatan alam dalam proses penciptaan di dalam Serat Wirid Purwa Madya Wasana cenderung lebih kompleks dan lengkap, karena juga menampilkan kondisi tubuh manusia yang tersusun dari alam tadi pada saat menjalani hidup sehari-hari.

Berbeda dengan teks Kunjarakarna yang menyajikan wawasan pengetahuan berlandaskan kepercayaan Hindu-Buddha, pada teks Serat Wirid Purwa Madya Wasana yang lebih banyak dimasukkan adalah konsep-konsep kosmografi Islam.

Pun, teks Serat Wirid Purwa Madya Wasana hanya memasukkan empat anasir alam, berbeda dengan Kunjarakarna yang memasukkan lima unsur alam.

Empat anasir alam pembentuk tubuh menurut Serat Wirid Purwa Madya Wasana antara lain: api, air, angin, dan bumi. Keempat anasir tersebut kemudian meresap pada jiwa manusia, namun lokasi titik penempatannya berada di dalam wujud fisik manusia.

Geni (api) menjadi sebab manusia memiliki nafsu, banyu (air) yang berperan penting dalam pembentukan darah, bayu (angin) menjadi lantaran manusia dapat bernapas, dan terakhir bumi (tanah) menjadi bahan baku pembuatan daging manusia.

Gêni, dumados dados napsu.

Napsu, mahanani hawa 4 prakawis, inggih punika: 1. aluamah, 2. amarah, 3. supiyah, 4. mutmainah.

  • Aluamah, watêkipun ngăngsa-ăngsa, ngangge plawangan lesan, pamanggènipun ing usus.
  • Amarah, watêkipun sêrêng, brangasan, ngangge plawangan talingan, pamanggènipun ing rêmpêlu.
  • Supiyah, watêkipun kadêrêng, daya-daya, ngangge plawangan mripat, pamanggènipun ing limpa.
  • Mutmainah, watêkipun antêng, jinêm, ngangge plawangan grana, pamanggènipun ing ginjêl.

Konsep pembagian nafsu menjadi aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah ini tentunya sudah jamak diketahui oleh orang Jawa, baik Jawa yang kejawen maupun Jawa sinkretis.

Keberadaan empat nafsu tersebut bercabang menuju konsep sedulur papat lima pancer dan pelajaran yang disampaikan Dewa Ruci kepada Werkudara tentang pancawarna dalam Serat Dewa Ruci atau lakon pewayangan yang terinspirasi dari serat tersebut.

Masing-masing nafsu bertempat di dalam organ-organ tubuh yang berbeda. Perhatikan saja, aluamah bertempat di usus, amarah bertempat di liver, supiyah berada di limpa, sedangkan mutmainah berada di ginjal. Tidak sebatas itu, bahkan ada jalur yang harus dilewati oleh nafsu sebelum menuju ke organ.

Nafsu aluamah memiliki pintu lesan (mulut/ucapan), amarah berpintu talingan (telinga), supiyah melewati pintu mripat (mata), dan mutmainah melewati grana (hidung). Pintu-pintu tersebut yang membawa nafsu menuju atau mengakibatkan dampak pada masing-masing organ.

Angin, dumados mahanani 4 prakawis: 1. napas, 2. tanapas, 3. anpas, 4. nupus.

  • Napas, punika têtangsuling jisim, dumunung wontên manah suwedha, têgêsipun woding manah, wahananipun dados angin ingkang mêdal ing badan kemawon, ngangge plawangan lesan.
  • Tanapas, punika têtangsuling manah, dumunung wontên ing pusêr, wahananipun angin kang manjing dhatêng badan kemawon, ngangge plawangan grana.
  • Anpas, punika têtangsuling roh, dumunung wontên ing jantung, wahananipun dados angin ingkang têtêp wontên ing nglêbêt kemawon, ngangge plawangan talingan.
  • Nupus, punika têtangsuling rahsa, dumunung wontên salêbêting manah puat kang pêthak, inggih punika wontên woding jantung, wahananipun dados angin saking badan nunggil kalihan kêtêking jăngga, ngangge plawangan netra.

Sama seperti geni, elemen angin pada tubuh juga memiliki empat konsekuensi yang mengikat sarana hidup manusia berupa napas. Masing-masing napas bertempat pada organ tertentu, kemudian mengaktivasi empat lapis tubuh atau empat lapis jiwa.

Ilustrasi anasir alam dalam tubuh. Sumber gambar: Deborahking

Selain itu, jalur penggunaan napas juga melewati empat anggota tubuh yang hampir sama seperti elemen geni: lesan, grana, talingan, dan netra. Napas yang diaktifasi juga menentukan putaran angin, bisa diperhatikan ketika napas adalah angin yang ke luar dari tubuh; tanapas adalah angin yang beroperasi dalam tubuh; anpas adalah angin yang berdiam di dalam tubuh; dan nupus merupakan jenis napas yang memiliki kaitan dengan jangga.

Elemen yang bercabang menjadi empat perkara juga dapat ditemui pada elemen banyu (air). Di mana elemen air pada saat proses penciptaan menjadi sebab terbentuknya empat lapis ruh yang dimiliki manusia, antara lain: roh jasmani, roh nurani, roh kabati, dan roh kewani. Empat lapis ruh ini berkaitan dengan empat napsu yang telah disampaikan sebelumnya.

Banyu, dumados dados gêtih, mahanani roh 4 prakawis: 1. roh jasmani, 2. roh nurani, 3. roh kabati, 4. roh kewani.

Bumi, sarinipun dumados bangsaning kadagingan.

Satu-satunya elemen yang tidak bercabang adalah bumi (tanah). Menurut Serat Wirid Purwa Madya Wasana, elemen bumi berperan penting dalam pembentukan daging manusia. Tidak hanya daging, tapi juga kulit. Keberadaan daging dan kulit disebabkan oleh bumi (tanah).

Meninjau Ajaran Pātañjali

Andrea Acri, 2018, dalam bukunya Dharma Pātañjala Kitab Śaiva dari Jawa Zaman Kuno: Kajian dan Perbandingan dengan Sumber Jawa Kuno dan Sansekerta terkait, menampilkan sajian teks, alihaksara, dan terjemahan dari ajaran Siwa-Budha yang termuat di dalam Dharma Pātañjala, sebuah naskah Jawa kuna yang berasal dari Jawa Barat dan ditemukan dalam koleksi Merapi Merbabu.

Perbincangan panjang antara Batara dengan Kumara terkait ilmu pengetahuan hidup ajaran Siwa-Budha juga menyertakan pembahasan mengenai anatomi tubuh manusia berdasarkan elemen alam.

Bahkan, uraian yang disampaikan lebih kompleks dibandingkan Serat Wirid Purwa Madya Wasana. Apa lagi, dalam Dharma Pātañjala pengertian jiwa dan indra dibedakan secara tegas.

Indra itu berwujud  halus, sementara organ berwujud kasar. Keduanya adalah hal yang berbeda. Untuk menguatkan argumen ini, Batara memberi contoh pada saat manusia lelap tertidur. Bukankah orang yang tidur indranya mati namun organ tubuhnya tetap berjalan sebagaimana mestinya?

Karena indra dan organ dibedakan, maka unsur pembentuknya tentu berbeda, meski saling berkaitan. Berbeda dengan pengertian yang disampaian dalam Kunjarakarna dan Serat Wirid Purwa Madya Wasana yang keduanya berelasi sebagai sebab-akibat.

Memahami tubuh lewat yoga. Sumber gambar: Mindbodygreen

Keterwujudan seluruh indra dan organ berada di bawah mekanisme kerja asas Śiva (śivatattva). Di bawah asas Śiva terdapat asas Maya, tapi tidak dilengkapi kesadaran (Acri, 2018).

Asas kasar organ disebutkan secara mendetail oleh Batara, antara lain: aktivasi (kalātattva), kemelekatan (rāgatattva), kesadaran (vidyātattva), materi mentah pradhānatattva), tiga unsur pokok (triguņatattva), akal budi (buddhitattva), identitas diri (ahaṅkāratattva), isi pikiran (manaḥtattva), lalu sepuluh indra akal dan tindakan (daśendriyatattva),

Sementara itu unsur halus atau pañcatanmātratattva dibentuk oleh lima elemen alam yang isinya hampir sama dengan teks Kunjarakarna, yakni: eter (ākaśatattva), udara (vāyutattva), api (tejastattva), air (āpyatattva), dan terakhir adalah tanah (pŗthivītattva).

Keterlibatan udara dalam penciptaan dan mekanisme keteraturan hidup pada Dharma Pātañjala hampir mirip dengan yang dijelaskan oleh Serat Wirid Purwa Madya Wasana, namun jumlahnya ada lima, bukannya empat. Lima napas (pañcabāyu) itu menjadi instrument penting yang menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Melatih nafas. Sumber gambar: Pinterest

Menurut Dharma Pātañjala, lima napas tersebut beroperasi di dalam tubuh melalui tiga pembuluh utama (nāḑi), yakni: iḑā, piṅgalā, dan suṣumnā. Ketiga pembuluh darah memiliki sambungan dengan tenggorokan, iḑā berada di sisi kanan, tempat jalan masuk makanan; piṅgalā berada di kiri,jalur masuk air; dan suṣumnā berada di tengah, tempat akses udara.

Lima napas yang dimaksud oleh Batara untuk menjawab pertanyaan Kumara tentang pengindraan kemudian dijelaskan secara panjang lebar dan mendetail, termasuk fungsinya beserta letak organ yang mengoperasikan napas.

…pañcabāyu naranya, ri dadinyan lima gavenya, mataṅnyan lima kveh niṅ bāyu, nihan ṅaranya, prāņa, apāna, samāna, udāna, byāna…

Napas prāņa merupakan inti dari empat napas yang lainnya. Tempatnya di dada, batasnya sampai hidung. Napas apāna terletak di silit, di pusar tempat batas atas, dan turun sejauh kaki batas bawahnya, fungsi napas apāna adalah untuk mendorong turun apapun yang habis dimakan. Jika makanan berubah jadi tinja, sedangkan kalau minuman berubah menjadi air kencing.

Selanjutnya, napas samāna, letaknya di hati, tugasnya mendistribusikan sari makanan dan minuman yang telah dikonsumsi ke seluruh tubuh. Sari tersebut berubah menjadi empedu, darah, dan di hidung menjadi dahak.

Napas udāna adalah penyebab refleks tubuh, misalnya ketika mengedip atau mengerjang ketika kesakitan. Terakhir, adalah napas byāna yang tersebar di seluruh tubuh. Tugas napas byāna adalah mendatangkan penuaan, dan memusnahkan perasaan senang.

Kesadaran Tubuh

Sebelum teori Evolusi dicetuskan Darwin dan mulai menjadi kepercayaan manusia modern, hampir semua manusia meyakini bahwa dirinya tercipta sebagai emanasi Sang Pencipta dengan struktur tubuh yang sudah ditetapkan, tanpa perlu melalui fase evolusi, yang sebenarnya terjadi adalah cara berpikir yang makin kompleks.

Masyarakat modern kiranya tidak sedikit yang beranggapan bahwa teori evolusi adalah benar adanya. Sementara itu, kalangan agamis menolak dengan tegas kepercayaan yang demikian.

Adapun, kalau menurut Mas Zakariya Aminullah, bisa jadi keberadaan manusia sebenarnya bersamaan dengan manusia yang struktur tubuhnya menyerupai kera (kapi), bisa dilihat pada lakon Ramayana.

Teks sastra Jawa memberi informasi yang berharga bahwa di balik ornamen organ yang harus diperhatikan secara medik, perlu dipertimbangkan adanya kemungkinan-kemungkinan supranatural yang menyertai. Sebab bagaimanapun, pengetahuan modern tidak memiliki cara untuk menciptakan manusia yang struktur anatominya berasal dari alam.

Gambar diolah dari Etsy

Bagi masyarakat Jawa, khususnya para pujangga, yang berpedoman erat pada aspek pantheism, setiap organ tubuh, aktifitas tubuh, fungsi tubuh, dan dampak tubuh, semuanya merujuk pada unsur alam.

Karenanya ketika mengalami suatu kesakitan atau penderitaan, jalan terbaik penyembuhan adalah kembali ke alam, menyadari kehadiran alam sebagai kemanunggalan.

Tidak hanya dalam rangka penyembuhan, bahkan dengan menyadari tubuh sebagai alam, maupun sebaliknya, menurut kepercayaan kaum mistisme hindu-buddha, diyakini bahwa alam dan daya konsentrasi mampu mewujudkan keinginan paling dalam manusia. Tentu saja konsekuensinya adalah menggerakkan tubuh agar keinginan tersebut dapat direalisasikan.

Sekujur tubuh wong Jawa, melekat dengan sastra dan alam, tidak dapat dipisahkan. Banyak yang menyangka dirinya lupa akan hal itu, atau tidak menyadari, namun di alam bawah sadar, mereka mengakui bahwa dirinya, sebagai wong Jawa, mustahil mencampakkan peran dan fungsi alam pada tubuh.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)