Samudra Manusia Jawa4 min read

Secara geografis, Pulau Jawa berada pada titik pertemuan dua lautan yakni Laut Jawa Samudra Hindia. Selain itu, di sebelah barat terdapat Selat Sunda serta Selat Bali dan Madura yang turut mengapit Pulau Jawa. Walaupun Pulau Jawa dikelilingi oleh lautan, justru masyarakat Jawa memiliki mata pencaharian dominan pada sektor agraris.

Hanya sebagian kecil yang tinggal di kawasan pesisir yang bekerja di sektor perikanan atau maritim. Meskipun masyarakatnya dominan bekerja sebagai petani, akan tetapi keberadaan samudra atau laut tidak bisa dipisahkan jauh dari kehidupan budayanya.

Selain sudut pandang ekonomi, keberadaan laut memiliki kesinambungan dengan budaya masyarakat Jawa. Beberapa karya sastra maupun artefak budaya memberi bukti bahwa lautan dengan segala bentuk asosiasinya seperti kapal, memiliki pengaruh dalam menentukan pemikiran masyarakatnya.

Dalam sudut pandang teori Out of Taiwan yang menerangkan awal mula penduduk Nusantara, masyarakat Austronesia memiliki sudut pandang spiritual dalam memahami lautan dan kapal sebagai bagian dari kehidupan mereka. Bahkan, menurut penelitian Pierre Yves Manguin dalam Shipshape Societies: Boat Symbolism and Political System in Insular Southeast Asia disebutkan bahwa ada kesinambungan runtut antara perahu, rumah, dan relasi sosial.

Aspek ini mampu berdampak kepada sosial masyarakat, utamanya dalam sistem tata moral saat itu. Keterampilan menggunakan rasi bintang sebagai penunjuk jalan juga menjadi pertanda kemungkinan adanya unsur kepercayaan dalam pelayaran samudra.

Gambar teori out of Taiwan. Sumber: Prezzi

Pada zaman budaya tulis, terdapat karya sastra Jawa kuno yang dianggap sebagai tolok ukur sudut pandang spiritual manusia Jawa dalam mempersepsi lautan. Kita bisa mengamatinya dari relief Jataka-Avadana panel 86 di Candi Borobudur yang menjelaskan gambaran kapal sedang mengarungi samudra.

Dalam Kakawin Banawa Sekar dijelaskan adanya upacara srāddha yang dilaksanakan oleh Jīwanendrādhipa dan raja-raja lainnya, dimana satu dari sekian persembahan yang ada ialah perahu bunga yang indah. Dalam segi pemaknaan, perahu berasosiasi dengan lautan atau perairan. Manusia Jawa memaknai perahu sebagai kendaraan, lautan atau perairan dikonotasikan sebagai tempat yang luas tanpa tepi. Maka, konsep yang bisa dipahami adalah dalam mengarungi kehidupan alam baka hendaknya manusia memiliki bekal amal kebajikan yang utama.

Selain Kakawin Banawa Sekar dan relief candi, tentu kita mengenal Kitab Nawaruci yang berisi ajaran moral. Dalam teks tersebut, secara umum disebutkan bagaimana Bima mampu menemukan jati dirinya saat dia berada dalam samudra. Jika kita kaitkan dengan versi Serat Dewaruci, Bima menceburkan diri ke Samudra Minangkalbu pun ada maksudnya. Maksud yang bisa dipahami dari Samudra Minangkalbu adalah ketenangan dan kepasrahan.

Di masa Islam, ada yang memaknai kesinambungan Dewaruci dengan kisah Sunan Kalijaga dengan Nabi Khidir atau kisah perjalanan pencarian jati diri Syekh Siti Jenar ke Malaka dan Baghdad. Kendati nuansa Islam sudah memberikan sentuhan warna baru, esensinya masih sama yakni konsep lautan sebagai simbol kesejatian atau wujud makrifat yang melebur dalam tiga kata: heneng, hening, henung. Lautan adalah gambaran kekuatan adikodrati sebagai bagian kekuasaan Sang Pencipta yang sangat abstrak. Seseorang yang ingin mendekat kepada-Nya harus membersihkan diri dari segala bentuk kotoran atau dosa-dosa.

Dalam kebudayaan Islam Jawa setelah walisongo, konsep kerohanian lautan maupun perahu masih nampak dalam kebudayaan Jawa. KGPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama Pupuh Sinom menjelaskan bagaimana Panembahan Senapati mencari upaya memayu hayuning bawana dengan cara lelana lalading sepi atau mencari tempat-tempat sunyi untuk bertapa. Kemudian, dalam beliau mesu reh kasudarman atau menghayati sebuah ajaran luhur, beliau tirakat di tepian laut (ning tepining jalanidhi).

Dalam nuansa tirakat inilah beliau mendapatkan ilham (ketaman wahyu dyatmika). Dari hal inilah muncul sebuah ikatan batin yang kuat dan terus dilanjutkan oleh raja-raja Dinasti Mataram Islam sampai saat ini. Selain itu, sikap spiritual ini masih nampak melalui pusaka Cathik Kyai Rajamala yang sarat dengan sikap-sikap religiusitas masyarakat Jawa di Surakarta.

Selain sudut pandang masyarakat dalam karya tulis, ada idiom-idiom yang sering didengar di masyarakat seperti atine jembar kaya samudra, hatinya luas seperti samudra. Samudra sendiri adalah muara dari sungai-sungai daratan. Sekalipun mendapatkan kotoran, dia tetap menahan diri untuk tidak mengirim ombak ke daratan. Sama halnya ketika manusia mendapatkan cobaan atau ujian, dia tidak lekas mengumbar hawa nafsunya sembarangan.

Dari uraian tersebut, kita bisa memahami ternyata masyarakat Jawa dalam memahami lautan memiliki mata rantai yang sama sebagai pranata moral maupun spiritual yang mengatur tingkah laku masyarakatnya. Pemahaman konteks spiritual sebenarnya memiliki relasi dekat dengan penerapan moral, karena dalam menjalankan sebuah prinsip normatif memiliki konsekuensi logis menjalankan norma atau tata moral yang ada.

Nur Rokhim
Latest posts by Nur Rokhim (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *