Sebelas Tulisan Terpopuler 2020 di Jawasastra7 min read

Taun 2020 akhirnya telah terlewati. Saat kita menyebrangi malam terakhir tahun 2020 menuju pagi pertama tahun 2021 hampir tidak ada hiruk pikuk seperti pada peringatan pergantian tahun sebelum-sebelumnya. Berbagai kesulitan yang terjadi pada tahun 2020 bisa jadi akan hilang sepenuhnya di tahun 2021, namun bisa jadi juga justru sebaliknya, tahun 2021 menjadi tahun 2020 versi kedua.

Waktu berlalu begitu cepat. Bagi kebanyakan orang, tahun 2020 dianggap sebagai tahun terburuk, tapi bagi sebagian orang yang lain, tahun 2020 adalah tahun yang sama seperti tahun yang lain. Terserah betapa buruk dan betapa baik kejadian yang menimpa kita di tahun 2020, yang pasti kita mau tidak mau harus menyambut tahun 2021 dengan segala misterinya.

Ki Bawol pernah memberi satu kalimat sengkalan di awal tahun 2020, dia menyebut tahun 2020 Masehi dengan sebutan sirna ing asta murca ing paningal, artinya ‘hilang dari tangan musnah dari mata ‘. Entah apa itu maksudnya, bisa dibilang pada tahun 2020 kita memang kehilangan banyak hal, dengan mudah sesuatu yang sudah ada di genggaman hilang begitu saja dari genggaman dan sama sekali tidak diketahui letaknya.

Memang kalau direnungkan kembali, kita sudah cukup banyak kehilangan banyak hal di tahun 2020. Secara personal, setiap orang mungkin merasakannya, namun sebagai contoh kita bisa melihat pada banyaknya aktor-aktor intelektual budaya Jawa yang berpulang ke Swargaloka.

Selamanya, tidak peduli di tahun berapa, kita hanya bisa menunggu, mana yang lebih tepat, apakah kita yang melintasi waktu atau kita yang dilintasi waktu.   

Mari cukupkan pikiran-pikiran yang berjejak di tahun 2020. Nut ilining banyu, mengikuti arus air sungai, menjadi metode yang cukup tepat untuk menggambarkan ketidakberdayaan kita di hadapan Penguasa Waktu. Betapa buruknya sesuatu, pasti ditakdirkan untuk berlalu. Setiap yang jatuh, lagi pula pasti ditakdirkan untuk bangkit.

Pandemi di tahun 2020. Sumber ilustrasi: Deviantart

Di dalam tulisan ini, kami telah merangkum sebelas tulisan terpopuler yang termuat di Jawasastra. Empat untuk tulisan yang berjenis artikel, empat berikutnya untuk tulisan terpopuler yang berjenis sastra, dan tiga tulisan karya sastra geguritan terpopuler. Melalui tulisan-tulisan ini, semoga dulur dapat menemui refleksi sepanjang tahun 2020.

Tulisan Artikel Terpopuler di Jawasastra

Dewi Lathi dan Wilwatiktok

Tahun 2020 pernah digemparkan dengan sebuah lagu yang digarap oleh Weird Genius berjudul Lathi. Lagu ini menjadi sangat populer, baik di Youtube maupun di Tik Tok. Begitu banyak apresiasi yang diberikan pada pencapaian ini, bahkan orang-orang dari luar negeri juga tidak ketinggalan memberi apresiasi.

Sebagai platform yang membawa nafas budaya Jawa, Jawasastra memuat tulisan terkait lagu Lathi itu, berjudul Dewi Lathi Lair ing Jaman Wilwatiktok. Tulisan yang memberi apresiasi dan sedikit amatan tentang keberkaitan antara lirik yang dominan bahasa Inggris dengan lirik yang berbahasa Jawa. Di luar dugaan, artikel itu ternyata mendapat sorotan.

Menjadi kebanggan tersendiri bagi Jawasastra karena artikel tersebut menjadi populer, bahkan mencakup hingga ke level nasional, padahal bahasa yang digunakan di dalam artikel tersebut adalah bahasa Jawa. Pada media sosial, tidak sedikit orang yang memberi komentar ingin mendapat versi bahasa Indonesianya. Akan tetapi, Jawasastra tidak bisa memenuhi permintaan itu.

Artikel berbahasa Jawa yang mendapat sorotan, termasuk dari Weird Genius, menjadi langkah pertama Jawasastra mengarungi waktu di tahun 2020. Sebelumnya, artikel tersebut ditulis di blog non-berbayar di platform wordpress gratisan, namun karena ada sedikit rezeki, artikel tersebut langsung dipindahkan ke website jawasastra.com. Dulur-dulur yang penasaran isinya bisa klik di link ini Dewi Lathi Lair ing Jaman Wilwatiktok.

Lakon Kontroversial

Artikel berikutnya yang menjadi populer adalah artikel berjudul Lakon Matine Gusti Allah. Memberi uraian tentang lakon ludruk dan kethoprak yang diduga terafilisasi dengan Lekra. Lakon tersebut menampilkan bahwa Sang Pencipta telah tiada.

Karena judulnya memang demikian, ternyata mengundang banyak pengunjung yang membaca tulisan tersebut. Meski artikel menggunakan bahasa Jawa, tidak sedikit juga pengunjung website yang berasal dari non-Jawa bersedia membacanya. Apabila dulur-dulur penasaran dengan isi tulisannya, silahkan klik link ini lur Lakon Matine Gusti Allah.

Leluhur Orang Jawa

Artikel populer nomor tiga adalah artikel berjudul Leluhure Wong Jawa, mengajak berpikir tentang asal mula eksistensi orang Jawa, dikaitkan dengan keberadaan manusia purba Jawa. Tulisan ini cukup kontroversial, sehingga menjadi populer. Membenturkan konsepsi asal mula manusia Jawa antara agama, budaya Jawa, dengan penelitian ilmiah.

Di facebook, artikel ini pernah menjadi bahan olok-olok oleh beberapa kelompok orang penganut saklek budaya Jawa dan agama samawi, namun memang di dalamnya, mengajak kita berpikir ulang tentang keterpaduan sumber-sumber mengenai asal usul manusia Jawa, dan dari garis darah mana orang Jawa hari ini berasal. Bagi dulur-dulur yang penasaran dengan artikelnya silahkan klik link ini Leluhure Wong Jawa.

Kidung Surajaya

Di nomor empat, ada sebuah artikel yang sebenarnya sebuah resensi disertasi, tapi ternyata malah menduduki peringkat populer di Jawasastra. Artikel itu berjudul Resensi Kidung Surajaya. Membahas secara singkat tentang disertasi berjudul Kidung Surajaya yang ditulis oleh Kartika Setyawati swargi.

Kidung Surajaya merupakan karya sastra Jawa dari skriptorium Merapi-Merbabu yang menjadi objek penelitian bagi disertasi Kartika Setyawati. Resensi yang dimuat Jawasastra hanya membahas secara garis besar isi disertasi tersebut. Dulur yang penasaran dengan artikelnya mangga klik ini Resensi Kidung Surajaya.

Tulisan Sastra Populer di Jawasastra 2020

Nalika Gagat Enjang

Merupakan karya sastra Jawa berbentuk cerkak yang ditulis oleh Yofi Prayoga. Cerkak ini secara garis besar berkisah tentang seorang wanita yang mengalami konflik batin ketika menumpang sebuah truk di jalanan sepi. Karya ini mengandung unsur plottwist yang cukup mengejutkan dengan nuansa yang memang agak suram. Dulur yang penasaran dengan cerita ini bisa klik link Nalika Gagat Enjang.

Baya Lamis

Karya sastra berikutnya masih berbentuk cerkak, ditulis oleh Rio Wahyusandy. Cerkak ini membawa bentuk yang unik, karena mengadopsi bentuk penceritaan fabel, dan dipenuhi dengan nuansa satire yang menggambarkan kondisi perpolitikan Indonesia. Dinarasikan secara menyenangkan, tapi menyakitkan di bagian akhir cerkak. Dulur yang penasaran mangga klik link ini Baya Lamis  

Katresnan Cap Bathang

Tulisan sastra terpopuler berikutnya adalah karya Sri Suryani berjudul Katresnan Cap Bathang. Sebuah cerkak yang begitu gelap dan memiliki kekuatan instensi dalam penggambaran adegan-adegan yang cenderung mengerikan, dan lumayan berdarah. Berkisah tentang sejoli yang hidupnya tengah dipojokkan oleh takdir. Sebelum menemui akhir, sejoli ini saling berbicara mengenai arti keberadaan mereka di dunia. Dulur-dulur yang penasaran dengan cerkak ini bisa klik link ini Katresnan Cap Bathang.

Bangsat, Lelakon Bangsat

Tulisan sastra terpopuler terakhir berjudul Bangsat, Lelakon Bangsat karya Aprianto D Santoso. Cerkak ini menyenangkan untuk dibaca. Menghadirkan kisah cinta yang bersemi antara seorang lelaki preman dengan seorang gadis kembang desa. Di bagian akhir cerkak, kisah yang diuraikan di awal akan menjadi sangat menjengkelkan, tapi memang plot yang dibangun cukup menarik. Dulur yang penasaran dengan cerkak ini bisa klik link ini Bangsat, Lelakon Bangsat.

Bonus Tiga Gurit Terpopuler

Rapal Mantra Jagading Asmara

Karya geguritan ini ditulis oleh Sri Suryani, geguritan ini menjadi tanda cinta antara manusia dengan jagad yang ada di sekelilingnya. Membangun narasinya menggunakan atensi-atensi diksi yang bermuatan romantis dengan konsepsi kebatinan Jawa. Dulur yang penasaran bisa klik link Rapal Mantra Jagading Asmara.

Gurit-Gusit Kasunyatan

Berikutnya adalah geguritan karya Aprianto D Santoso yang berjudul Gurit-Gurit Kasunyatan. Geguritan ini menghadirkan kisah perjumbuhan antara titah dengan Gusti-nya. Membangun kesepian dan keheningan di dalam tiap diksi yang dipilih. Membawa nuansa religius dan spiritual yang cukup mendalam. Dulur yang penasaran dengan gurit ini bisa klik link Gurit-Gurit Kasunyatan.

Kandha Manyura

Lalu ada geguritan karya Haru Siswanto berjudul Kandha Manyura. Geguritan ini ditulis dengan episodik pada setiap baitnya. Pada bagian akhir, geguritan bertransformasi menjadi puisi. Ada kreatifitas keterpaduan antara konsep bahasa Jawa dengan penggunaan bahasa Indonesia di dalam gurit Kandha Manyura, sehingga menjadikannya sebagai geguritan yang unik. Dulur yang penasaran isinya bisa klik link Kandha Manyura


Sumber gambar: Mindfull

Itulah susunan sebelas tulisan terpopuler di website Jawasastra. Disusun berdasarkan amatan pada Google Analytics website Jawasastra. Semoga susunan sebelas tulisan terpopuler Jawasastra di atas dapat menjadi refleksi bagi dulur-dulur semuanya.

Di tahun 2021 penanggalan Masehi, dengan harapan agar semua kegelapan menemui titik terang, kami mengambil sengkalan berbunyi Bumi ing Asta Luhuring Panembah.

Pada bahasan ini, Jawasastra juga memiliki berbagai hal yang baik dan buruk yang terlewati di tahun 2020. Jawasastra mengadakan sebuah event, tapi hingga hari ini belum sempat mengirimkan hadiah dari event itu kepada para pemenang, kemudian kami juga membuka pesanan kaos tapi belum terkirimkan, dan terakhir, kami masih terus berproses menggarap kartu wuku. Semuanya tertunda karena sebab yang belum dapat dijelaskan secara terang-terangan.

Banyak tanggungan di tahun 2020 yang belum terselesaikan oleh Jawasastra, oleh karena itu Jawasastra memohon maaf kepada para dulur yang punya kaitan terhadap hal ini. Di semester awal tahun 2021, Jawasastra bertekad untuk menuntaskan semua tanggungan yang tersisa dari tahun 2020. Semoga para dulur dapat berlapang hati menerima kondisi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *