Sedikit cerita dari hutan. Menguak peran sastra sebagai media adopsi hutan. Menyambut Hari Hutan Indonesia

Inilah sedikit cerita dari hutan. Suatu hari, Dewi Suretna minggat. Berjalan cepat, seorang diri di tengah hutan gunung Lawu. Saat itu, ia kabur dari istana karena menolak rencana perjodohan yang disiapkan kedua orang tuanya. Na’as, tatkala berada di tengah hutan, Dewi Suretna tersesat.

Di sekeliling, hanya ada tegap pepohonan yang tinggi menjulang. Akan tetapi dedaunan yang saling menutup, membuat Dewi Suretna terlindung dari sengat matahari.

Angin sejuk berhembus, menuruni puncak Lawu, menyebar ke lembah-lembah. Suara burung bersahutan seolah memberitahukan para penghuni hutan kalau ada seorang wanita yang tersesat.

Lama kelamaan, Dewi Suretna dilingkupi rasa takut. Berada di tengah hutan yang sunyi pada waktu siang hari sungguh menyalahi tabiatnya sebagai wanita priyayi. Seandainya dari balik belukar ada macan yang mengendap, lalu meloncat menerkam tubuhnya, Dewi Suretna hanya bisa pasrah, menyerahkan takdir kematian pada Tuhan.

Di tengah rasa putus asa itulah, ternyata suara burung yang bersahutan tadi direspon oleh beberapa penghuni hutan. Dari balik semak, muncul tiga hewan, yaitu Kijang, Bangau, dan Banteng.

Seekor macan tutul sedang minum air sungai di belantara hutan Jawa, koleksi Abraham Salm (Schilder). Sumber: Tropen Museum

Dewi Suretna sempat khawatir, namun beberapa saat kemudian kekhawatirannya berubah menjadi ketakutan, karena ketiga hewan yang mendatanginya dapat berbicara layaknya manusia. Lebih dari sekadar berbicara, bahkan ketiga hewan tersebut mampu berpikir!

//inggih amba pun sato sayekti, sagede miraos, amung saking asring mirengake, rerasaning janma sawatawis, ing alamilami saged imbal muwus//

//angandika kusumaning ati, teka bisa kang wong, lan manusa paran kamulane, dene sipating sato sirekim bantheng anauri, saking atutulung//

//saben wonten janma kawlas asih, mbebekta rekaos, amba ingkang tulung nggawakake, tuwin lelampah bingung ing margi, kula anjalari, asuka pitulung//

Cerita dari hutan belum berakhir. Dialog di atas keluar dari mulut Banteng. Tersusun dalam bait tembang macapat Jawa, bermetrum Mijil.

Banteng menginformasikan pada Dewi Suretna tentang awal mula bagaimana dirinya dapat berbicara dan bersikap layaknya manusia. Apabila diterjemahkan secara bebas, dialog Banteng tersebut dapat dipahami seperti berikut:

//sungguh hamba ini hewan, bisa mengerti ucapan manusia, hanya karena sering mendengar, manusia yang saling berbicara, namun lama kelamaan dapat ikut berbicara//

//berkata sesuka hati, mendadak bisa seperti manusia, dan layaknya manusia awalnya, sementara sifat hewan ini dijelaskan banteng, karena memberi pertolongan//

//setiap ada manusia baik hati, kesulitan membawa barang dari hutan, saya membantu mengangkat barang bawaan, termasuk ketika ada yang tersesat, saya dengan senang hati memberi pertolongan//

Di luar dugaan, bukan manusia yang memberi bantuan pada Dewi Suretna tatkala tersesat di dalam hutan, melainkan tiga hewan penghuni hutan: Kijang, Bangau, dan Banteng. Dewi Suretna kemudian diarahkan ketiga hewan tersebut menuju rumah sepasang suami istri yang sudah tua, bernama Kyai Buyut dan Nyai Buyut. 

Tinjauan Perspektif Historis

Cerita yang tersaji di atas sekadar cuplikan singkat dari Serat Tjemporet. Sebuah cerita dari hutan yang tersemat dalam karya sastra Jawa berbentuk tembang macapat ciptaan Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga Kraton Surakarta.

Cover majalah ‘Kejawen’, 19-02-1928, dengan edisi pembahasan Serat Tjemporet. Sumber: Digital Arsip Sastra.org

Serat Tjemporet ditulis pada 1799 Jawa atau 1871 AD. Menurut bait manggala di bagian pembuka, diketahui bahwa Serat Tjemporet ditulis atas perintah Sunan Pakubuwana IX, Raja Surakarta. Pertanyaannya, kenapa Sunan Pakubuwana IX memerintahkan Ranggawarsita menulis karya sastra berupa cerita dari hutan yang bertema alam? 

Bila meninjau perspektif historis, menurut penelitian Peter Boomgard terkait kondisi alam Jawa abad 19, pada sekitar periode 1870 – 1880, pemerintah Kolonial Belanda memang sedang gencar-gencarnya melakukan program pembalakan hutan untuk kepentingan bisnis kayu dan membuka lahan guna dijadikan hunian.

Maraknya deforestasi Jawa membuat Sunan Pakubuwana IX gelisah, sehingga memerintahkan Ranggawarsita menulis karya sastra bertema alam.

Sunan Pakubuwana IX juga sempat menuliskan kegelisahannya sendiri tentang krisis ekologi yang sedang terjadi di pulau Jawa dalam Serat Wulang Dalem Warna-Warni. Sunan Pakubuwana IX memberi peringatan tanda-tanda datangnya zaman celaka (kalatidha) karena tindakan perusakan alam:

Ruk tang campaka angsoka angsana candhan, wungwu bakula surabi nagapuspa, sakweh punya winadung tinegor tinutwan, pinereh rinikang pung piger lawan pilang

Terjemahan:

Semua bunga tumbang, misalnya: bunga cempaka, soka, sana, cendana, wungu, kenanga, surastri, dan nagasari. Semua pohon musnah dikampak orang, ditebang, ditebang dahannya duri epung, secang dan pilang dipapras dihilangkan. (Sekar Kusumawicitra lampah 12, bait 10)

Ada fakta dan wacana ekologis yang berkelindan antara Serat Tjemporet karya Ranggawarsita dengan Sekar Kusumawicitra karya Sunan Pakubuwana IX. Keduanya sama-sama mengangkat tema cerita dari hutan. Bedanya, Sunan Pakubuwana IX menyampaikan krisis ekologis secara eksplisit, sementara Ranggawarsita melalui Serat Tjemporet menyajikan pembacaan kisah yang satire.

Lagipula, bukankah adegan Dewi Suretna yang diberi pertolongan oleh hewan-hewan penghuni hutan merupakan suatu ironi? Satu ironi lainnya di dalam Serat Tjemporet adalah, hewan-hewan tersebut dapat bersikap seperti manusia hanya karena sering melihat dan mendengar perbincangan manusia!

Dokumentasi pribadi. Serat Tjemporet terbitan Balai Pustaka, alihaksara dan alihbahasa oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto, 1986

Setiap pembaca berhak mengintepretasikan maksud dari teks adegan Dewi Suretna yang ditolong hewan. Akan tetapi, menurut saya, ada rahasia yang disembunyikan Ranggawarsita, dan rahasia tersebut adalah kenyataan yang sangat pahit.

Bahwa hutan beserta seluruh isinya tidak memiliki ketergantungan apapun pada manusia, yang ada justru sebaliknya. Bisa jadi, Ranggawarsita merupakan salah seorang perwakilan masyarakat lokal yang mengimani teori gaia, teori yang mengajukan konsep bebas – kehendak yang dimiliki bumi.

Kecerdasan yang dibanggakan manusia tidak lantas jadi jaminan untuk keselamatan dan kelestarian hutan. 

Kondisi Hutan Terkini

Di dalam video Youtube berjudul Kemitraan untuk Hari Hutan Indonesia yang diunggah akun Hari Hutan Indonesia, Laode M Syarif selaku Direktur Eksekutif Kemitraan memaparkan bahwa demi menjaga keberlangsungan seluruh aspek kehidupan maka hutan harus dijaga kelestariannya.

Aspek kehidupan yang dimaksud di sini tidak terbatas pada pengertian materi saja, tapi juga mencakup aspek-aspek budaya, spiritual, dan religius manusia.

Memang jika mempertimbangkan kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, banyak penelitian yang menyatakan bahwa kondisi bumi mulai membaik, pertanyaannya, apakah seusai Covid-19 nanti kita kembali mempraktekkan sifat destruktif pada hutan?

Perlu diingat, bahwa keanekaragaman hayati hutan yang lebih dari sekadar pohon, telah sejak lama, secara turun temurun, membentuk keberagaman adat dan budaya. Berkat hutan, kita memiliki warisan pengetahuan, dan secara spesifik dapat dikatakan bahwa pada hutan-lah kita menggantungkan kehidupan.

Ada hubungan resiprokal antara manusia dengan hutan. Selaras dengan teori gaia yang diajukan James Lovelock pada 1974 melalui artikelnya Atmospheric homeostasis by and for the biosphere: the gaia hypothesis. Berdasarkan teori gaia tersebut, memang pada dasarnya hutan tidak membutuhkan eksistensi manusia, sebab kalau pun terjadi kerusakan, hutan selalu dapat memulihkan diri.

Namun lain soal saat hutan sedang mengalami krisis dan krisis tersebut ternyata diakibatkan oleh sifat destruktif beberapa manusia, sehingga memberi dampak buruk pada kelangsungan hidup seluruh manusia.

Meme karya sendiri. Suara umpatan hati orang Jawa yang kehilangan tempat bertapa karena hutan di Jawa makin habis

Bila sudah demikian, maka kita, mau tidak mau harus memanfaatkan kecerdasan serta kesadaran kita untuk membalas jasa pada hutan, dengan cara menekan tingkat deforestasi agar kehidupan bisa terus berjalan.

Kerusakan hutan bukan imajinasi, meski kita yang tinggal jauh dari hutan tidak terlalu merasakannya. Perubahan iklim yang diakibatkan oleh deforestasi pun bukan isapan jempol belaka.

David Wallace-Wells, 2019, dalam bukunya The Uninhabitable Earth; A Story of the Future meramalkan bahwa kiamat di masa depan merupakan konsekuensi atas kerusakan alam yang diperbuat umat manusia sejak masa revolusi industri.

Sementara itu di Indonesia, keberadaan hutan semakin terancam. Tergantikan oleh mega proyek kelapa sawit, pembukaan lahan untuk industri, dan pembukaan lahan untuk hunian.

Berpijak pada data lembar fakta yang dirilis Forest Watch Indonesia tahun 2019, berjudul Angka Deforestasi sebagai “Alarm” Memburuknya Hutan Indonesia, diketahui bahwa dalam periode tahun 2013-2017, luas tutupan alam hanya tersisa 43% dari luas daratan Indonesia.

Screenshots rilis Forest Watch Indonesia, Angka Deforestasi sebagai “Alarm” Memburuknya Hutan Indonesia

Beruntungnya, menurut data yang disajikan WRI-Indonesia, pada Mei 2018 pemerintah Indonesia telah mempublikasikan data hasil peninjauan deforestasi yang menyatakan bahwa terjadi penurunan deforestasi sebesar 40% di hutan primer Indonesia dibandingkan rata-rata tingkat kehilangan tahunan pada 2002-2016. Rilis data tersebut bersesuaian dengan data yang dikeluarkan oleh Global Forest Watch.

Meninjau data yang terakhir, terdapat upaya nyata yang dilakukan oleh pemerintah bersama stakeholder yang berfokus pada hutan untuk mengurangi deforestasi di Indonesia.

Tinggal bagaimana langkah memperluas kampanye penjagaan hutan, restorasi hutan, dan menyusun metode yang tepat untuk mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi milenial, agar memiliki kesadaran tentang betapa vitalnya keberadaan hutan bagi keberlanjutan hidup.

Mengurai Makna Adopsi Hutan

Langkah nyata untuk menjaga kelestarian hutan yang patut diapresiasi adalah penetapan Hari Hutan Indonesia setiap tanggal 07 Agustus. Penetapan ini dilaksanakan pada tanggal 07 Agustus 2020.

Tanggal 07 Agustus dipilih karena pada tahun 2019 lalu presiden telah menerbitkan instruksi Nomor 5 Tahun 2019 terkait Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Primer dan Lahan Gambut. Hari Hutan Indonesia atau Hari Hutan Nasional diinisiasi oleh Komunitas Hutan Itu Indonesia.

Menyusul ditetapkannya Hari Hutan Indonesia, salah satu dari program yang dicanangkan sebagai representasi langkah strategis dan taktis untuk menjaga kelestarian hutan dan mengampanyekan kesadaran terkait pentingnya hutan adalah program adopsi hutan.

Nama program adopsi hutan agaknya berasal dari adopsi pohon. Maksud dari adopsi hutan atau adopsi pohon dijelaskan dengan ringkas oleh Hutan Itu Indonesia di laman websitenya, yaitu:

Mengadopsi pohon adalah mengapresiasi kehidupan Kehidupan alam liar yang telah tumbuh berpuluh-puluh tahun dan kehidupan masyarakat sekitar hutan yang secara arif menjaga dan memelihara pohon-pohon di sekitar mereka.

Dinyatakan secara lebih lanjut bahwa mengadopsi hutan atau pohon berarti mengurangi potensi hilangnya pohon dan membantu menciptakan sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat yang menjaga hutan. Konsep dari adopsi hutan memang terbilang menarik.

Poster resmi Festival untuk menyambut Hari Hutan Indonesia. Sumber: Harihutan.id

Program adopsi hutan secara tidak langsung menentang teori gaia, sebab hutan diposisikan sebagai entitas yang harus dirawat, layaknya anak, seolah tidak percaya bahwa bumi punya kekuatan pemulihan diri. Namun, sebentar, ada hal lain di balik program adopsi hutan.

Bila pengertian dari program adopsi hutan direlevansikan pada kondisi abad 21 saat ini, maka istilah adopsi hutan sudah tepat. Mari sejenak kita pikirkan bersama, bukankah semakin sedikit manusia yang menjalin interaksi secara langsung dengan hutan?

Bukankah lama kelamaan hutan bukan hanya tersingkirkan namun juga terlupakan? Bukankah bagi manusia abad 21 terdapat logika aneh yang menyatakan bahwa hidup hanya memerlukan oksigen tanpa diiringi kesadaran bahwa hutanlah yang menghasilkan oksigen?

Berdasarkan penjabaran terkait program adopsi hutan, dapat diketahui bahwa jumlah manusia yang menjalin hubungan dengan hutan sudah semakin berkurang, yang tersisa dan masih menggantungkan hidup dari hutan adalah masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Kita sebagai manusia yang sudah terlanjur jauh dari wujud fisik hutan memang tidak memungkinkan secara konsisten berkontak fisik dengan hutan, akan tetapi melalui program adopsi hutan, kita dimungkinkan untuk ikut berperan menjaga hutan sekalipun dari kejauhan.

Sementara masyarakat yang tinggal di sekitar hutan berupaya menjaga hutan, kita yang berada jauh dari hutan dapat tetap ikut bergotong royong melestarikan hutan, melalui penyebaran gagasan, ide-ide, dan karya reflektif menjaga hutan melalui sarana internet. Selain itu, kita juga dapat memberi bantuan berupa materi atau non-materi pada masyarakat sekitar hutan agar mereka tidak merasa sendirian. 

Apabila dukungan kita untuk gerakan adopsi hutan bersifat materi, kita dapat menitipkannya pada komunitas Hutan itu Indonesia. Hasil yang terkumpul dialokasikan untuk memberi dukungan pada program adopsi hutan dan secara khusus disalurkan pada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Karena kebanyakan masyarakat abad 21 sudah terlanjur berjarak dengan hutan, satu-satunya pilihan adalah mengadopsi hutan. Setiap orang memiliki kapasitasnya masing-masing, apakah hendak mengadopsi hutan dalam gagasan atau mengadopsi hutan melalui tindakan.

Dokumen grafis karya sendiri. Kyai Semar memberi wejangan dan peringatan.

Keduanya tidak dapat dipertentangkan. Sebab, tidak mungkin kita menuntut orang yang tidak terlalu mengerti medan di hutan untuk ikut serta secara aksi memasuki hutan kemudian merawat hutan, yang ada malah membahayakan diri dan kelompok.

Sehingga biarlah orang yang tidak terlalu mengerti medan lokasi hutan sebagai agen pengampanye pentingnya hutan. Membuka mata publik tentang kondisi hutan saat ini, mengajak publik untuk mengurangi polusi, dan mengabarkan tentang adanya program adopsi hutan.

Melalui karya-karyanya, entah yang berupa gambar, video, audio, tulisan fiksi, maupun non-fiksi. Agen pengampanye adopsi hutan memiliki peranan tersendiri.

Jangan sampai di abad 21 dan di masa yang akan datang, peradaban anak cucu kita tidak memiliki khazanah pengetahuan dan adat budaya yang lepas dari hutan.

Pokoknya, jangan bercerai dengan hutan, karena proses rujuknya terlampau mahal. Setiap orang memiliki kapasitas dan caranya masing-masing, berdasarkan minat maupun pekerjaannya, untuk mengadopsi hutan. Mengadopsi hutan beserta isinya.

Menjaga hutan yang saat ini tinggal sepetak layaknya anak hasil percintaan kita dengan ibu pertiwi. Menanam yang telah tumbang. Menanam 100 bibit pohon baru setiap ada 1 pohon yang entah tumbang atau ditumbangkan.

Dokumen grafis karya sendiri. Kanjeng Ratu Kidul menyampaikan kegundahan tentang alam

Menerapkan adopsi hutan bukan berarti mengabaikan aspek lain dalam gambar besar kelestarian lingkungan. Adopsi hutan akan menjadi semakin memiliki makna apabila dibarengi dengan aktifitas sehari-hari yang diupayakan dapat menekan polusi.

Mengadopsi Hutan: Membentuk Ekosistem Cerita Hutan

Sudah banyak data yang dirilis tentang kondisi hutan. Pun sudah banyak gagasan yang dimunculkan untuk menjaga hutan. Namun, kenapa hasil dari data dan gagasan tersebut terasa kurang memberi dampak positif yang signifikan? Apakah data dan gagasan yang sudah ada kurang mampu menggerakkan kesadaran manusia?

Guna menjawab sedikit pertanyaan di atas, mari sedikit flashback ke cerita Dewi Suretna. Anggaplah Serat Tjemporet merupakan wujud ideal dunia.

Setelah kita dimanjakan dengan cerita hubungan yang harmoni antara hutan, penghuni hutan, dan manusia, rasanya saat melihat kondisi abad 21 gambaran ideal yang ditawarkan Ranggawarsita melalui Serat Tjemporet masih ada kemungkinan untuk terwujudkan.

Kekayaan dan kelestarian hutan mewariskan pengetahuan. Dalam bingkai besar adat dan budaya,  setiap daerah pasti memahami hal ini. Salah satu contohnya, pengetahuan yang berasal dari hutan tercermin pada bahasa dan sastra.

Ilustrasi Gaia Theory by Karen Koski. Sumber: Fine Art America

Meski terlihat remeh, bahasa dan sastra dapat dijadikan tolok ukur kondisi hutan. Misal, di Jawa, kita generasi millenial yang lahir pada sekitar tahun 1990-2000’an dapat dipastikan tidak banyak yang tahu leksikon-leksikon Jawa yang berasal dari hutan.

Sedikit sekali dari kita yang tahu kalau anak macan disebut gogor, burung merak disebut manyura, anak gajah dipanggil bledhug, dan anak monyet bernama koe. Bahkan kita belum tentu tahu seperti apa wujud pohon anjangsana, candhan, dan nagapuspa.

Semua itu terjadi karena kita bahkan tidak tahu kata-kata tersebut merujuk pada makhluk yang mana. Kita tahu anjangsana itu jenis pohon, tapi kita tidak punya referensi pengalaman melihat secara langsung pohon anjangsana.

Semakin hilangnya kosakata lokal tentang alam selaras dengan makin hilangnya hutan beserta isinya.

Di sisi lain, jika bahasa dan sastra diolah dengan tepat maka akan memiliki daya persuasif yang besar untuk mengajak segenap pembacanya mengadopsi hutan. Bermediakan mitos, legenda, gugon tuhon, dan tulisan, hutan-hutan bisa dijaga.

Dokumen grafis karya sendiri. Ngrumat jagad (merawat semesta). Menampilkan sosok-sosok ghaib penjaga alam

Hutan yang dikeramatkan mengandung arti bahwa pengeramatan tersebut merupakan wujud penghormatan pada hutan. Hanya segelintir orang yang tidak mengacuhkan kekeramatan hutan. Sayangnya segelintir orang tersebut memiliki kekuatan politis yang terbilang besar.

Bahasa dan sastra sebagai bagian dari ruang adat-budaya dapat dijadikan media untuk mengadopsi hutan. Penyebarannya memanfaatkan platform media sosial secara massif, sehingga pada titik tertentu semakin banyak orang yang tergerak untuk ikut serta dalam adopsi hutan. Bersaranakan cerita dari hutan.

Data dan gagasan terkait hutan yang telah terkumpul bisa diolah menjadi bentuk sastra. Sebuah karya sastra yang memuat cerita dari hutan.

Mengingat kondisi Indonesia yang memiliki keragaman luar biasa, upaya menambah simpatisan adopsi hutan akan lebih efektif jika menimbang aspek lokalitas dan religiusitas. Seluruh karya sastra yang berisi cerita dari hutan dihimpun dalam satu platform sehingga memiliki daya dongkrak yang lebih kuat.

Tidak menutup kemungkinan dengan langkah yang diajukan di atas terdapat salah satu karya sastra yang menjadi landasan kebijakan politik untuk melestarikan alam, seperti kekuatan novel Silent Spring (1962) karya Rachel Carson, di mana novel Silent Spring tersebut berhasil menarasikan sepi, seram, dan suramnya musim semi di Amerika.

Diceritakan dalam Silent Spring bahwa burung-burung berhenti bernyanyi dan hampir semua burung mati, sementara burung yang masih hidup memilih bermigrasi.

Kondisi tersebut terjadi lantaran kebun hutan yang telah tercemar limbah kimiawi. Gara-gara gambaran suasana novel Silent Spring itu, beberapa negara bagian Amerika Serikat melarang penggunaan DDT dan pestisida. 

Di masa depan, Hari Hutan Indonesia bersama program adopsi hutan akan memainkan peranan penting untuk menjaga kelestarian hutan. Melalui taktik memperbanyak aksi, baik dari sisi dimensi gagasan maupun tindakan. Karena:

Keindahan hutan adalah satu hal yang layak diperjuangkan


Referensi Bacaan

  1. Boomgaard, P. (1999). Oriental nature, its friends and its enemies: Conservation of nature in late-colonial Indonesia, 1889-1949. Environment and history, 5(3), 257-292.
  2. Dewi, N. (2016). Ekokritik dalam Sastra Indonesia: Kajian sastra yang memihak. Adabiyyāt: Jurnal Bahasa dan Sastra, 15(1), 19-37.
  3. Juanda, J. (2019). Ekokritik Film Avatar Karya James Cameron Sarana Pendidikan Lingkungan Siswa. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(1), 1-9.
  4. Lovelock, J. E., & Margulis, L. (1974). Atmospheric homeostasis by and for the biosphere: the Gaia hypothesis. Tellus, 26(1-2), 2-10.
  5. Susilo, J., Suwarta, N., & Taufiq, W. (2019). Representasi Kemakmuran Alam Dalam Serat Cemporet. PARAFRASE: Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan, 19(1).
  6. Wallace-Wells, D. (2020). The uninhabitable earth: Life after warming. Tim Duggan Books.

Referensi Website

  1. https://hutanitu.id/2020adopsihutan/ diakses pada pukul 19.15 WIB, 27-08-2020
  2. https://bloggerperempuan.co.id/hari-hutan-indonesia/ diakses pada pukul 19.00 WIB, 24-08-2020
  3. https://harihutan.id/ diakses pada pukul 19.30 WIB, 26-08-2020
  4. http://fwi.or.id/ diakses pada pukul 12.30 WIB, 27-08-2020
  5. https://wri-indonesia.org/id/blog/indonesia-telah-mengurangi-penggundulan-hutan-tetapi-masalah-masih-ada#:~:text=Pemerintah%20telah%20mengeluarkan%20data%20resmi,2017%20yang%20mencapai%20480.000%20hektar. diakses pada pukul 14.55 WIB, 27-08-2020
  6. https://www.sastra.org/koran-majalah-dan-jurnal/kajawen/2050-kajawen-balai-pustaka-1928-02-15-72?k=serat%20cemporet diakses pada pukul 16.35 WIB, 27-08-2020
  7. https://www.google.com/amp/s/www.mongabay.co.id/2020/07/27/hutan-itu-indonesia-gagas-hari-hutan-nasional-7-agustus/amp/ diakses pada pukul 17.40 WIB, 27-08-2020
Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)