Tulisan ini memberi sedikit gambaran tentang hubungan para raja Jawa dengan gajah. Berdasarkan catatan-catatan dari masa lampau. Lanjutan tulisan seri ekologi Jawa

Sembilan bulan yang lalu, channel Youtube Kisah Tanah Jawa mengunggah video berjudul Titik Awal Peradaban Majapahit. Di dalam video itu, Om Hao menjelajah beberapa situs dan titik wisata Majapahit di Trowulan bersama, Dodit Mulyanto. Agak aneh memang, tim Kisah Tanah Jawa memilih bermain skenario daripada menghadirkan sajian video yang dokumentatif.

Om Hao ditempatkan sebagai seorang ‘juru kunci’ yang memaparkan kesejarahan Majapahit pada Dodit Mulyanto yang berperan sebagai wisatawan. Kemungkinan tim Kisah Tanah Jawa punya pertimbangan tersendiri untuk hal ini. Tentang kenapa tidak melibatkan BPCB atau juru kunci asli.

Di video berdurasi tepat 48 menit lebih 56 detik tersebut, Om Hao mengajak Dodit Mulyanto berkeliling ke beberapa situs candi peninggalan Majapahit dan beberapa situs yang ‘dipercaya’ sudah ada sejak jaman Majapahit.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Pendhapa Agung. Om Hao mengatakan kepada Dodit bahwa Pendhapa Agung tersebut merupakan bangunan peninggalan Majapahit dan tempat diucapkannya Sumpah Palapa.

Tidak salah memang, tapi tidak sepenuhnya betul. Pendhapa Agung yang dikunjungi Om Hao, Dodit, dan tim Kisah Tanah Jawa tidak lain sekadar bangunan anyar, dibangun pada tahun 1964 s.d 1973 oleh Kodam V Brawijaya.

Screenshoot pada video Kisah Tanah Jawa

Menurut cerita lisan, Pendhapa Agung tersebut memang benar adanya berdiri di atas bekas Pendhapa masa Majapahit. Sementara itu, di bagian belakangnya, tepat setelah melewati kompleks kuburan, terdapat bangunan tertutup pintu kayu yang dipercaya oleh banyak orang sebagai lokasi Gadjah Mada mengucapkan ikrar Palapa.

Di dalam video, mulai dari menit ke 32.20 (-16.40) sampai menit ke 33.09 (-15.51) Om Hao menjelaskan tentang Gajah di Nusantara, khsusunya Jawa masa Majapahit.

Munculnya penjelasan tersebut karena Dodit Mulyanto sebelumnya bertanya kepada Om Hao tentang keberadaan Gajah di masa Majapahit, “Itu gajah Sumatra apa gajah Jawa?” Begitu tanya Dodit Mulynto, saat memotong penjelasan Om Hao terkait situs umpak sanga.

Om Hao kemudian memberi pemaparan bahwa sebenarnya tidak ada gajah di Nusantara. Adapun, gajah-gajah di Nusantara merupakan pemberian dari suatu kerajaan dari Afrika.

Secara jelas, Om Hao memberitahukan bahwa pada waktu itu terdapat suatu kebiasaan tukar menukar flora dan fauna antara satu kerajaan dengan kerajaan lain. Saat itulah Majapahit mendapatkan gajah dari Afrika. Namun, akibat perbedaan iklim, gajah-gajah pemberian dari kerajaan Afrika yang tubuhnya berukuran besar lama kelamaan menyusut. 

Apabila bicara dalam konteks geografis saat ini, Om Hao yang menyatakan bahwa gajah bukan hewan asli Nusantara, khususnya Jawa, memang ada benarnya. Akan tetapi, bila di tarik ke masa yang lebih jauh ke belakang, sebelum adanya garis-garis demarkasi pembagian wilayah politis-geografis, pernyataan Om Hao tidaklah tepat.

Malah, berdasarkan penelitian yang dilakukan Koenigswald, 1975, berjudul Early Man in Java: Catalogue and Problems, diketahui bahwa sejak masa Pliosen, di daerah Jetis, Mojokerto, ditemukan tulang belulang mastodon dan stegodon (leluhur gajah).

Fosil gajah purba di Museum Sangiran

Untuk menyebut bahwa gajah pada masa Majapahit bukanlah hewan asli Jawa setidaknya Om Hao perlu menginformasikan untaian kurun waktu yang dimaksud. Terlebih, Om Hao mengatakan kalau gajah pemberian dari kerajaan dari Afrika tersebut mengalami proses evolusi tanpa menunjukkan urutan evolusi yang terjadi.

Lagi pula, apa nama kerajaan dari Afrika yang dimaksud Om Hao yang memiliki hubungan dengan Majapahit? Yang memberikan gajah pada Majapahit?

Lumakuning Gajah Jawa

Ukuran tubuh yang besar, kekuatan yang luar biasa, dan daya tahan hidup yang panjang, membuat gajah menjadi simbol kedigdayaan di daerah Asia Tenggara, termasuk di Jawa. Meski gajah Jawa telah lebih dulu punah sebelum macan Jawa, akan tetapi rekaman tulisan tentang gajah-gajah di Jawa sempat dituliskan dalam beberapa arsip kolonial dan karya sastra Jawa.

Adanya gajah di Jawa, termasuk gajah purba, diduga berasal dari migrasi gajah-gajah yang sebelumnya berdiam di dataran Cina. Sementara itu, juga terdapat jejak perdagangan gajah melalui jalur maritim dari India ke Asia Tenggara (Thomas Trautman, 2015: 2-5).

Sketsa gajah dalam naskah Arjuna Sasrabahu, dari Kraton Yogyakarta. Sumber: Koleksi British Library

Dalam bukunya Elephants & Kings an Environmental History, Thomas Trautman, 2015, berpendapat bahwa penggunaan gajah di Asia Tenggara sedikit banyak meniru India, tentu saja melalui epos Mahabharata & Ramayana.

Di Jawa, gajah juga disebut dengan liman. Menurut Peter Boomgard, 1994, kata liman muncul dari persepsi masyarakat Jawa yang menghitung belalai gajah sebagai kaki, sehingga gajah terkesan memiliki lima kaki, dari situlah muncul penamaan liman.

Gajah di Jawa, dengan terinspirasi dari Mahabharata & Ramayana, seringkali difungsikan sebagai kendaraan perang, di samping menjadi hewan peliharaan raja. Di dalam Babad Tanah Djawa dan Serat Kandha, pun diceritakan ketika Sultan Hadiwijaya melakukan penyerangan ke Mataram dengan menunggang gajah.

Babad Pajang memberi gambaran suasana saat prajurit Mataram dalam perjalanan menuju pesisir utara Jawa. Pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sultan ing Mataram tersebut membawa ratusan kuda dan puluhan gajah. Jumlah pasukan yang begitu banyak, disertai lengking suara kuda dan gajah ibarat debur ombak.

Kangjeng sultan parentah nembang tengara | ambudhalaken baris | sigra tinengaran | budhal baris pangarsa| kadya obah bumi gonjing | swaraning wadya | anguwuh anauri ||

Asauran pangriking kuda lan liman | lir ombaking jaladri | lan kriciking watang | kumrebet kang duwajwa | dinulu kagiri-giri | lampahing wadya | lir wredu angga sasra | sajuru-juru ngebaki | para sentana | ingkang lumampah wingking

Gambaran pasukan penunggang gajah dalam manuskrip koleksi Pakualaman. Sumber: Ronit Ricci, 2012, “Thresholds of Interpretation on the Threshold of Change: Paratexts in Late 19th-century Javanese Manuscripts”

Peran gajah sebagai kendaraan perang banyak tercatat dalam karya-karya sastra Jawa. Di luar peranan sebagai kendaraan perang, gajah juga menjadi kendaraan pribadi raja. Hal ini tercatat dalam Kakawin Desawarnana, Prapanca mencatat ketika Ratu Majapahit menyelenggarakan pertemuan agung, Ratu Majapahit, Hayam Wuruk, mengendarai gajah.

B. E. Colles, 1975, di dalam tulisannya Majapahit Revisited: External Evidence on the Geography and Ethnology of East Java in the Majapahit Period, Colles mencatat sumber-sumber pengakuan dari para penjelajah luar negeri yang datang ke Majapahit.

Terkait hewan gajah, Colles menemukan catatan dari Marignolli, seorang penjelajah yang bekerja untuk Kaisar Charles V di Praha, bahwa saat berkunjung ke Majapahit dia menyaksikan sebuah karnaval, di karnaval tersebut para wanita duduk di atas kursi yang diletakkan di punggung gajah, sementara para laki-laki mengiring dengan berjalan kaki. 

Ma Huan juga memberi kesaksian yang serupa, dia menyaksikan sendiri ketika raja Majapahit lewat jalanan dengan menaiki gajah. Barbossa, penjelajah dari Portugis, dalam kesaksiannya meyakini kalau gajah saat itu merupakan kendaraan yang hanya pantas dimiliki raja, dan hanya raja yang memiliki hak untuk memelihara gajah.

Kesaksian Barbossa dapat disandingkan dengan kesaksian Ibn Batutah, penjelajah dari Timur Tengah, ketika menetap di Mul-Jawa, bahwa tidak ada kuda dan gajah yang bukan milik penguasa. Sayangnya, kesaksian Barbossa tersebut sedikit bias karena Ibn Batutah sendiri hanya berkunjung ke Sumatra, dan dia menamai Sumatra dengan nama Mul-Jawa.

Adapun Pigeaud berasumsi kalau keberadaan gajah di tangan raja pada masa Majapahit dan pasca-Majapahit memiliki perbedaan sikap. Di masa Majapahit, gajah secara umum selalu difungsikan sebagai kendaraan perang.

Pangeran Sela Rasa menumbangkan gajah. Sumber: British Library

Akan tetapi, di masa pasca-Majapahit, khususnya masuknya era Mataram, gajah sekadar dipelihara, dan jarang diikutsertakan dalam perang. Nampaknya yang diasumsikan Pigeaud selaras dengan pernyataan Peter Boomgaard, bahwa sejak abad 17, di Jawa, perlahan muncul kesadaran untuk menjaga kelangsungan hidup hewan-hewan liar.

Sebab, tentu saja agar raja dapat memelihara gajah dan menguasainya, ia perlu berburu gajah. Biasanya para prajurit yang akan diperintahkan melakukan perburuan gajah.

Apabila telah ditangkap, maka gajah selanjutnya akan dilatih agar dapat memenuhi kebutuhan raja akan perang atau seremonial. Tentang penggambaran pertempuran antara manusia dengan gajah, Serat Sela Rasa menampilkan ilustrasi yang menarik. Dapat dilihat pada gambar di atas.

Jejak keterlibatan gajah dalam perjalanan historis raja-raja Jawa paling terakhir tercatat di Babad Tanah Djawa, padahal banyak sekali catatan dari masa Majapahit yang menunjukkan peran gajah dalam peperangan atau acara-acara serimonial kerajaan.

Agaknya, pendapat Peter Boomgaard sendiri tentang kesadaran menjaga kelangsungan hidup hewan liar di Jawa pada abad 17 semata asumsi, sebab gajah Jawa saat ini sudah punah.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)