Tulisan pertama dari tiga tulisan yang mengulas secara kronologis dari awal berdiri Mataram, eksekusi ambisi besar Sultan Agung, hingga proyek pembangunan Segarayasa (laut buatan).

Pada pertengahan kedua abad XVI, di Jawa bagian tengah terjadi pergeseran kekuasaan yang cukup signifikan. Jika pada masa sebelumnya kekuasaan di wilayah ini berpusat di sepanjang pesisir pantai utara Jawa, maka kekuatan baru ini berpindah lebih ke wilayah pedalaman. 

Setelah turunnya hegemoni Kerajaan Demak maka berpindahlah kekuasaan Jawa ke wilayah Pajang yang nantinya berpindah lagi ke wilayah Mataram yang lebih ke wilayah Jawa Tengah bagian selatan (M.C. Ricklef, 2010, hlm 77). 

Dua wilayah ini merupakan daerah dengan kondisi pertanian yang subur dan memiliki kebudayaan agraris yang maju dibandingkan budaya maritim. Hal ini tentu saja dikarenakan perbedaan kondisi geografis yang dimiliki oleh kerajaan-kerajaan tersebut.

Mataram merupakan wilayah yang menghasilkan dinasti kekuasaan paling kuat dan paling lama hingga saat ini. Awal terbentuknya dinasti ini tidak lepas dari percobaan perebutan kekuasaan yang sering kali terjadi dalam perpolitikan di Jawa. 

Menurut Babad Tanah Jawa, Dinasti Mataram dibangun oleh seseorang yang bernama Ki Ageng Pamanahan beserta anaknya Danang Sutawijaya. Mereka berhasil membasmi pemberontakan yang dilakukan oleh penguasa Jipang, Arya Penangsang, terhadap kekuasaan Pajang, perang ini diperkirakan berlangsung pada tahun 1540-an atau 1550-an. Atas keberhasilannya membunuh Penangsang, maka raja Pajang memberikan hadiah berupa wilayah Mataram kepada mereka (H.J. De Graaf, 1987, (A), hlm. 38-40).

Ilustrasi Panembahan Senapati. Sumber gambar: Wikipedia

Setelah melewati banyak pertempuran untuk lepas dari Pajang hingga memperluas wilayah dan mempertahankan kekuasaan maka wilayah Mataram akhirnya bisa berdiri sendiri dan cukup stabil di bawah kepemimpinan Danang Sutawijaya atau yang lebih dikenal dengan Panembahan Senapati.

Oleh Panembahan Senapati dipilih Kota Gede sebagai ibukota Mataram. Hingga akhirnya Senapati meninggal sekitar tahun 1601 dan dimakamkan di Kota Gede (H.J. De Graaf & Th. G. Th. Pigeaud, 1989, hlm. 283-293).

Masa Pemerintahan Sultan Agung

Sepeninggalnya Panembahan Senapati kekuasaan Mataram beralih ke tangan anaknya Panembahan Seda ing Krapyak. Memerintah dalam waktu yang singkat, kurang lebih hanya 13 tahun. Setelah wafatnya Panembahan Krapyak kekuasaan Mataram berpindah kepada anaknya yakni Sultan Agung. 

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram memulai ekspansinya untuk memperluas wilayahnya. Sultan Agung banyak melalukan ekspedisi militernya menuju ke wilayah pesisir Jawa Tengah bahkan mencoba untuk menguasai wilayah-wilayah yang ada di Jawa Timur.

Pada masa tersebut Mataram yang dipimpin Sultan Agung juga mencoba untuk menghalau ekspansi kekuasaan kolonial dengan menyerang Batavia dalam beberapa ekspedisi militer (M.C. Ricklef, 2002, hlm 84-90).

Dari tahun 1614-22, Sultan Agung memindahkan wilayah ibukota Mataram dari yang awalnya berada di Kota Gede digeser lebih ke selatan yakni wilayah Kerta, yang saat ini berada di Kecamatan Plered, Bantul. Pemindahan ibukota ini tentu saja bertujuan sebagai penambah legitimasi atas kekuasaan Sultan Agung. 

Reruntuhan yang diduga kraton Plered, Bantul. Sumber gambar: Tribun Jogja

Pembangunan ibukota Kerta ini tentu saja memerlukan waktu yang cukup lama dan dilakukan secara bertahap, prabayeksa atau tempat tinggal raja baru selesai dibangun pada tahun 1620 (Alifah, 2009). 

Ibukota Kerta ini pun tidak berumur panjang, setelah Amangkurat I naik tahta pada tahun 1646 tidak lama kemudian ibukota berpindah ke wilayah Plered yang tidak jauh dari Kerta. Oleh Babad Momana perpindahan ibukota ke Plered ini berlangsung pada tahun 1570 Jawa atau 1648 Masehi (H.J. De Graaf, 1987, hlm. 11).

Gambaran mengenai Kraton Kerta yang dibangun oleh Sultan Agung diperoleh dari utusan Belanda Jan Vos pada tahun 1624. Saat ia berkunjung ke Kerta wilayah tersebut sudah terdapat alun-alun dan bangunan-bangunan yang berdiri di dalam kompleks istana. 

Jan Vos menceritakan saat ia disambut di alun-alun yang dikelilingi oleh pagar kayu yang disusun membentuk wajik atau menyilang. Lapangan tersebut datar dan tidak ada rumput sama sekali. Di samping kanan kirinya terdapat bangsal tempat orang duduk, yang didekatnya terdapat banyak pohon beringin. 

Jan Vos harus melewati beberapa lapangan sebelum sampai bagian terdalam keraton yakni halaman dalam di depan bangsal kencana. Menurutnya juga semua bangunan di dalam kompleks kraton Kerta ini masih banyak menggunakan bahan kayu, terutama penggunaan dalam dinding, pondasi, dan pagar pemisah bangunan. 

Ilustrasi perpindahan kraton Mataram. Sumber gambar: Kekunoan

Meskipun juga tidak menutup kemungkinan penggunaan batu telah dilakukan, seperti pada umpak pondasi bangunan. Hal yang membedakan dengan kompleks kraton pada masa selanjutnya adalah, diduga kraton Kerta tidak memiliki siti inggil sebagaimana kraton pada masa selanjutnya (De Graaf, 1990, hlm. 109-111).

Pada masa pemerintahnnya Sultan Agung banyak melakukan ekspedisi perluasan wilayah Mataram. Eksepedisi militer ini mencoba mengekspansi dan memperluas wilayah kekuasaannya.

Pada tahun 1614 Sultan Agung mulai menyerang Surabaya, wilayah ini adalah wilayah terkuat yang sulit untuk ditaklukkan, terbukti hingga 1616 Surabaya masih bisa memberikan perlawan yang cukup sengit kepada Mataram dengan melancarkan ekspedisi militer. 

Pada tahun 1616 Lasem dan Pasuruan berhasil dikuasai oleh Sultan Agung, dilanjutkan Tuban pada 1619, dan Pajang memberontak pada 1917 namun berhasil kembali dikuasai oleh Mataram (M.C. Ricklef, 2010, hlm. 84-85).

Pada tahun 1620 hingga 1625 Sultan Agung kembali melancarkan serangan ke Surabaya. Ia mulai mengganggu pasokan logistik dan air Surabaya. Ia juga menaklukkan Sukadana di Kalimantan pada 1622 dan Madura pada  1624, dengan direbutnya dua wilayah tersebut maka pasokan logistik ke Surabaya terputus. 

Hingga akhirnya pada 1625 Surabaya berhasil dikuasasi oleh Sultan Agung (M.C. Ricklef, 2010, hlm. 85-86). Atas kuasanya terhadap Surabaya maka wilayah Mataram di masa Sultan Agung terbentang hampir di seluruh pulau Jawa, terutama di wilayah pesisir dan bagian timur.

Nglurug Batavia

Selama proses perluasan wilayah kekuasaan Sultan Agung ke wilayah timur, ternyata dari arah barat muncul poros kekuatan baru yang terbentuk yakni VOC di Batavia. Sejak awal VOC hadir di Jawa mereka telah melakukan pendekatan kepada Mataram seperti yang selalu mereka lakukan saat awal ingin mendirikan kantor dagang.

Sejak 1610 utusan-utusan VOC setiap tahun datang dan menghadap ke Mataram. VOC memiliki kepentingan dagang dan pasokan beras dari Mataram. Sedangkan Mataram merasa bahwa kehadiran VOC di Jawa merupakan ancaman bagi mereka. 

Kepentingan yang saling berlawanan ini serta terjadinya peristiwa konflik lain seperti ditawannya orang VOC oleh Mataram pada 1616, penyerbuan lodji di Jepara dan pembunuhan orang VOC pada 1618, serta serangan balasan VOC dengan menjarah kapal dan menghancurkan wilayah pesisir pada 1618-1619, membuat ekskalasi konflik VOC dan Mataram semakin meruncing (Sartono Kartodirdjo, 2014, hlm 160).

Setelah Sultan Agung menaklukkan Surabaya pada 1625, ia mulai menyiapkan pasukannya untuk menyerang VOC di Batavia. Serangan pertama Mataram terhadap Batavia dilakukan pada 1928. Pada serangan itu pasukan Mataram mengalami kerugian yang besar namun tak sedikit pula kerugian di pihak VOC bahkan beberapa kali benteng Batavia terancam. 

Peta kuno Batavia. Sumber gambar: Bartele Gallery

Karena tidak mampu merebut secara langsung maka pasukan Mataram mencoba untuk membendung aliran Sungai Ciliwung, sumber air bersih Batavia, namun gagal. Akhirnya pasukan Mataram mundur pada bulan desember (M.C. Ricklef, 2010, hlm. 89).

Gagalnya serangan pertama ke Batavia tidak membuat ambisi Sultan Agung untuk menguasai Batavia berhenti. Pada 1629 Sultan Agung kembali memerintahkan untuk menyerang VOC, namun serangan kedua ini tidak lebih baik daripada yang pertama, bahkan bisa dikatakan pasukan Mataram sudah kalah sejak awal. 

Sejak awal kemampuan militer dan persiapan logistik tentara Mataram tidaklah siap. Gudang-gudang logistik di Tegal dan Cirebon yang disiapkan untuk bekal pasukan terlebih dahulu telah diketahui oleh VOC dan dihancurkan. Sehingga pasukan Mataram dapat dipastikan kekalahan mereka karena kurangnya logistik (M.C. Ricklef, 2010, hlm. 90).

Dua kali kegagalan ekspedisi militer Sultan Agung ke Batavia membuat pandangan terhadapnya sebagai raja duniawi terguncang. Terlebih beberapa wilayah di Mataram melakukan pemberontakan seperti pemberontakan Sumedang-Ukur pada 1631-1636, pemberontakan di wilayah Bayat Klaten pada 1630, dan beberapa wilayah lainnya. 

Untuk memperbaiki legitimasinya tersebut, Sultan Agung membuat simbolisasi baru dalam hidupnya. Sebab sebelumnya Mataram tidaklah terlalu menonjol dalam proses islamisasi meskipun ia memproklamirkan sebagai kerajaan islam. 

Pada 1633 Sultan Agung berziarah ke Bayat yang merupakan pusat salah satu pemberontakan, disana terdapat makam seorang wali dan pusat keagamaan islam yang kental. Pada 1639 ia mengirim utusan ke Mekah untuk meminta gelar “Sultan”, akhirnya pada 1640 secara resmi ia menggunakan gelar “Sultan” (M.C. Ricklef, 2010, hlm. 93-94).

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Sultan Agung memerintahkan untuk membangun makam di bukit Imogiri. Hal ini tentu saja dibuat untuk memulihkan legitimasi wibawanya sebagai raja setelah gagal menyerang Batavia. 

Sultan ingin agar makam tersebut pertama kali digunakan untuknya. Menurut Babad Sengkala, Sultan Agung wafat di pendhapa kraton, ia wafat pada awal tahun 1646. Sebelum wafatnya ia telah menyiapkan penggantinya yakni putra mahkota agar tidak terjadi perebutan kekuasaan. 

Oleh sang patih kompleks kraton dijaga ketat, pasukan sekaligus meriam dipersiapkan, dan gerbang masuk kerajaan juga dijaga ketat. Tidak lama kemudian Sultan Agung wafat. Sesuai dengan wasiat Sultan Agung, putra mahkota diangkat menjadi Susuhunan ing Mataram yang nantinya menggunakan gelar Amangkurat I (H.J. De Graaf, 1990, hlm. 299-302).

Bersambung…

Ahmad Faisol
Latest posts by Ahmad Faisol (see all)