Tulisan ke-2 dari tiga seri tulisan sejarah Mataram. Kali ini yang menjadi pusat pembahasan adalah gejolak masa pemerintahan Amangkurat I di Mataram, dan habisnya kraton Plered karena kekuatan Trunajaya

Pengganti Sultan Agung adalah puteranya yakni Amangkurat I. Kebijakan utama yang ingin dilakukannya adalah menyatukan dan memusatkan baik itu kekuasaan, pemerintahan, administrasi, dan ekonomi pada satu tangan kekuasaannya. Dia berpijak pada kekuasaan dan kekuatan yang dibangun oleh Sultan Agung sebelumnya.

Semua sumber daya kerajaan haruslah berada dibawah kendali dan monopolinya. Tentu saja hal tersebut sangatlah sulit untuk dilakukan dikarenakan alasan geografis dan politik Jawa yang mengharuskan desentralisasi.  Dengan kebijakannya yang begitu keras membuat banyak terjadi pemberontakan yang terjadi (M.C. Ricklef, 2010: 154).

Tidak lama setelah diangkat menjadi raja, Amangkurat I memerintahkan untuk memulai pemindahan kratonnya dari Kerta ke Plered. Menurut Babad Momana pemindahan keraton ini terjadi pada 1570 Jawa atau 1648 Masehi.

Perintah pembangunan kraton yang baru ini dilakukan pada suatu pertemuan besar, Sunan juga memerintahkan agar dibuat batu bata untuk pembangunan kratonnya yang baru.

Nampaknya kraton yang akan dibangun ini berbeda dengan kraton Kerta yang telah ada, jika di Kerta masih menggunakan kayu dalam pembangunannya, maka kraton yang baru akan menggunakan bata (H.J. De Graaf, 1987 (B): 13).

Sejak awal pemerintahannya, Amangkurat I telah menunjukkan sifat kejam dan tiraninya. Alih-alin menjalankan dengan baik konsolidasi kekuataan pembesar kerajaan senior, Amangkurat I justru melakukan pembunuhan terhadap mereka.

Pada tahun 1637 Amangkurat I terlibat skandal dengan istri Tumenggung Wiraguna, yang berujung pada pembunuhan sang Tumenggung dan keluarganya. Peristiwa tersebut bukan yang terakhir, nyatanya pembunuhan terhadap para pembesar Mataram terus berlanjut.

Kengerian yang ditimbulkan Amangkurat I. Gambar hanya ilustrasi. Tidak lebih.

Pangeran Alit, adik raja, yang mendukung Tumenggung Wiraguna mencoba melakukan perlawanan dengan bantuan para pemimpin islam, namun sayang usaha tersebut gagal dan malah menjadi sebab tragedi dibantainya para pemimpin Islam beserta keluarganya di halaman istana Mataram. Menurut laporan Belanda, sekitar 5.000 hingga 6.000 orang dieksekusi pada waktu itu (M.C. Ricklef, 2010: 154-155).

Jika pada masa Sultan Agung hubungan Mataram dengan VOC tidaklah baik, maka pada masa pemerintahan ‘tangan besi’ Amangkurat I hubungan keduanya menapak babak baru. Tahun 1646 sebuah perjanjian persahabatan berupa penukaran tawanan dengan pengembalian uang Mataram yang dirampas VOC mencapai kata sepakat.

Oleh Amangkurat I hal tersebut dianggap sebagai sinyal tunduknya VOC kepada Mataram, akan tetapi VOC tidak beranggapan demikian. Beberapa kali utusan VOC datang ke istana Mataram dan pos perdagangan VOC di pesisir utara kembali dibuka.

Kesepakatan antara Mataram dengan VOC. Gambar hanya ilustrasi.

Dibukanya perdagangan VOC di pesisir utara menimbulkan kecemburuan antara Raja dengan pejabat di pesisir, ia menganggap yang diuntungkan dari perdagangan ini adalah pejabat-pejabat pesisir.

Oleh karenanya ia memerintahkan penutupan pelabuhan pesisir serta memberlakukan larangan ekspor. Bagaimanapun, dari sudut pandang Amangkurat I, perdagangan dengan VOC haruslah dirundingkan dan disetujui olehnya terlebih dahulu (M.C. Ricklef, 2010: 158).

Plered Porak Poranda

Kebijakan Amangkurat I yang seringkali keliru, dan mengakibatkan tumbuh suburnya dendam pada anggota keluarga kerajaan yang lain, serta tindakannya yang kerap menyengsarakan masyarakat kawula, menjadi pemicu munculnya gerak perlawanan di dalam lingkungan Kraton Mataram.

Bahkan, beberapa wilayah di luar pusat kekuasaan mulai berani melakukan perlawanan terhadap Amangkurat I. Mataram terpecah, dari internal dan eksternal.

Perpecahan ini, apabila ditinjau dari aspek kemiliteran, tidak lain karena kurang cakapnya Amangkurat I mengorganisir tentaranya. Ia merupakan pribadi yang menutup diri dan tidak sulit menjalin hubungan baik dengan orang lain. Ia mengurung diri di dalam istananya dikawal dengan pasukan dan enggan mempercayai orang lain untuk membawa pasukannya pergi ke luar istana. 

Akibat sifat penakut dan kepicikannya tersebut, daerah-daerah yang terletak jauh dari pusat kekuasaan beranggapan memiliki celah dan kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman Mataram (M.C. Ricklef, 2010: 156-157).

Pecahnya Mataram karena perebutan wanita antara ayah dan anak, antara raja dengan putra mahkota. Sumber gambar: Robert

Puncak dari konflik di istana Mataram pada masa pemerintahan Amangkurat I terjadi antara raja dengan putra mahkota sendiri. Konflik tersebut muncul akibat perselisihan antara ayah dan anak yang saling berebut wanita.

Putra mahkota, yang nantinya menjadi Amangkurat II, menjalin kerjasama dengan pemuka agama dari Bayat yakni Raden Kajoran atau Panembahan Rama.  Kawasan Tembayat yang sejak masa Sultan Agung menjadi pusat gerakan oposisi, sekali lagi memainkan perannya dalam memeriahkan gejolak di Mataram.

Raden Kajoran mengenalkan sang putra mahkota dengan Trunajaya, seorang pangeran dari Madura yang sudah dipersiapkan untuk membantunya ketika melakukan pemberontakan (M.C. Ricklef, 2010: 160-161).

Tahun 1675 pemberonakan yang dipimpin Trunajaya dimulai. Pasukan yang dibentuk tidak hanya berasal dari Madura tetapi juga dari Makassar yang meninggalkan Gowa ke Jawa.  Serangan Pangeran Trunajaya dimulai dari wilayah pesisir timur Jawa dan meringsek masuk ke benteng pertahanan terluar Mataram.

Wilayah pesisir mengalami perpecahan antara mendukung pemberontakan dengan yang masih setia pada Amangkurat I. Pihak istana juga mengalami perpecahan antara meminta bantuan VOC atau tidak. Pemberontakan ini semakin membesar karena Panembahan Giri merestuinya. (M.C. Ricklef, 2010: 163)

Ilustrasi Trunajaya

Pemberontakan mencapai puncaknya, pasukan pemberontak telah menembus jantung pedalaman Mataram dan berhasil mendekati Plered. Akhirnya pada 1677 Kraton Plered jatuh ke tangan pemberontak. Sebelum kraton jatuh, Amangkurat I telah meninggalkan kraton dengan membawa putera mahkota.

Trunajaya berhasil menduduki dan merampok Plered, hingga akhirnya mundur dengan membawa rampasan perang (M.C. Ricklef, 2010: 166).  Dalam waktu krisis, beberapa pembesar istana memilih untuk mendukung Trunajaya, seperti Pangeran Sampang dan Pangeran Cirebon.

Amangkurat I pergi meninggalkan kraton menuju wilayah pesisir, meminta bantuan VOC. Namun sebelum sampai dia meninggal di daerah Tegalwangi dan digantikan oleh putera mahkota sebagai Amangkurat II (Sartono Kartodirdjo, 2014: 182-183).

Ahmad Faisol
Latest posts by Ahmad Faisol (see all)