Tulisan terakhir dari Seri Mataram. Kali ini yang jadi bahasan adalah Kraton Kerta, Plered, dan ulasan mendetail terkait Segarayasa atau danau buatan.

Peninggalan-peninggalan dan temuan sisa-sisa kraton Kerta yang sedikit membuat sulit terlihatnya gambaran utuh bagaimana Kerta terbentuk. Gambaran kraton Kerta, yang setidaknya cukup akurat, dicatat oleh utusan Belanda, Jan Vos, yang berkunjung pada 1624. Dikisahkan bahwa saat ia berkunjung ke Kerta, Jan Vos sampai pada suatu lapangan luas yang kemungkinan adalah alun-alun.

Di sekitar lapangan tersebut terdapat pagar kayu yang disusun secara menyilang. Pada kedua sisi lapangan terlihat bangsal atau balai panjang, dan sekelompok orang yang duduk di tanah.

Selanjutnya, di sekeliling lapangan juga ditanami pohon berukuran besar. Di sebelah lapangan berdiri kandang kuda. Terakhir, pada bagian keliling luar lapangan terdapat bangsal-bangsal tempat para pembesar berkumpul saat sowan ke istana (H.J. De Graaf, 1990: 109).

Setelah melewati lapangan yang pertama, Jan Vos sampai di lapangan kedua. Lapangan ini dikelilingi balok kayu setinggi 24 kaki dentan permukaan yang datar. Perwujudannya kurang lebih seperti lapangan Srimenganti dari kraton saat ini. 

Minimnya tulisan atau catatan dari masyarakat Mataram sendiri mengakibatkan sulitnya melakukan rekonstruksi gambaran kraton Kerta.

Catatan yang paling banyak memberi gambaran berasal dari catatan utusan-utusan Belanda yang berkunjung ke Kerta. Tentu saja catatan ini tidaklah lengkap dan detail, karena mereka hanya menulis tentang apa yang mereka lihat dan kunjungi.

Pun setiap kunjungan tidak semua tempat dapat mereka akses. Biasanya hanya tempat-tempat menarik dan memiliki persinggungan dengan kepentingan mereka yang akan dicatat secara detail.     

Sekilas Plered

Sepeninggalnya Sultan Agung, kekuasaan Mataram beralih kepada anaknya, Amangkurat I. Tidak lama berselang, Amangkurat I memberi perintah untuk memindahkan kraton dari Kerta ke Plered. Jarak antara Kerta dan Plered  relatif dekat. Menurut Van Goen, dalam sehari ia dapat melihat dua kraton tersebut. 

Berdasarkan catatan dari Babad Sengkalan, perpindahan kraton di masa Amangkurat I terlaksana pada tahun 1569 Jawa atau 1647 Masehi. Akan tetapi versi Babad Momana mengatakan bahwa perpindahan terjadi di tahun 1570 Jawa atau 1648 Masehi. 

Amangkurat I memberi perintah untuk membuat batu bata sebagai bahan utama pembangunan kraton yang baru. Salah satu bangunan yang pertama kali dibangun adalah pagar keliling yang terbuat dari batu bata. Bangunan pagar keliling ini selesai dalam waktu dua bulan.

Dua tahun kemudian raja memerintahkan pembangunan masjid. Pembangunan Plered terus dilakukan kira-kira hingga tahun 1668, bersamaan dengan selesainya pembangunan kompleks makam Ratu Malam di Gunung Kelir (Inajati Adrisijanti, 1997: 75).

Peta kasar Kerta & Plered dari Gerret Pieter Rouffaer. Sumber gambar: Wikimedia

Sejauh ini peninggalan yang dapat dilacak dari Kraton Plered kebanyakan didasarkan pada toponim wilayah yang ada di sekitarnya, hanya sedikit komponen bangunan yang berbekas di atas tanah.

Hal ini tidak terlepas dari peristiwa penyerangan Trunojoyo dan berhasil meringsek masuk ke Kraton Plered sembari menghancurkan Kraton Plered. Akibat serangan Trunojoyo tersebut, pusat kekuasaan dinasti Mataram dipindah dari Plered ke Kartasura. 

Bangunan Air Segarayasa

Di Kecamatan Plered saat ini terdapat suatu desa yang bernama Desa Segoroyoso. Ditinjau dari aspek toponimnya, nama desa ini mirip dengan nama bangunan atau bentang alam buatan yang dipercaya pernah berdiri pada masa Mataram Islam, yakni berupa danau atau bendungan yang mengelilingi kraton (Henki Riko P. & Hery Priswanto, 2013).

Penulisan yang lebih tepat, sesuai dengan kaidah nglegena aksara Jawa, untuk nama desa Segoroyoso adalah Segarayasa. Penulisan aksara HA sebagai O di ejaan Bahasa Indonesia mengakibatkan berubahnya penulisan yang seharusnya Segarayasa malah menjadi Segoroyoso. 

Segara berarti laut dan yasa berarti buatan, maka Segarayasa berarti laut atau perairan yang diciptakan secara sengaja. Menurut cerita tutur masyarakat sekitar, wilayah Segoroyoso dulunya merupakan danau buatan yang membendung aliran Kali Opak.

Tradisi lisan masyarakat Segoroyoso ini didukung oleh lingkup geografis wilayah desa yang memang lebih menjorok atau mencekung, ibarat lembah, jika dibandingkan dengan daerah seikitarnya, terutama pada wilayah di sepanjang bantaran sungai (Inajati Adrisijanti, 1997: 87).

Meski demikian, peninggalan Segarayasa saat ini terbilang sulit untuk ditelusuri bukti fisiknya. Hal ini dikarenakan danau yang dulu ada kini telah beralih fungsi menjadi pemukiman. Beruntungnya, pembangunan Segarayasa telah tercatat dalam babad dan laporan Belanda, serta beberapa sisa tanggul dan bendungan di sekitar Kali Opak.

Lanskap Segarayasa. Sumber gambar: Twitter

Babad Momana menjelaskan bahwa pada 1556 Tahun Jawa atau sekitar tahun 1637 M, Sultan Agung memberi perintah untuk membangun bendungan di Kali Opak (awit panggarapipun setu-banda ing Opak ).

Pada Babad Sangkala juga disebutkan bahwa pada 1643 Masehi pembangunan danau buatan ini tidak hanya menggunakan tenaga masyarakat sekitar kraton tapi juga menggunakan tenaga prajurit (H.J. De Graaf, 1990).

Penuturan lisan masyarakat Segoroyoso memberi keterangan bahwa saat danau Segaroyoso dalam proses penggarapan, Sultan Agung sering memantau dari sebuah bukit yang disebut Gunung Rasawuni, yang terletak di selatan Kali Opak. Di sana terdapat sebuah batu pipih yang sering ia gunakan duduk sehingga disebut sela amben (R.M. Gandhajoewana, 1940).

Pembangunan danau buatan juga diceritakan oleh seorang tahanan Belanda yang ada di kerta, ia menuliskan surat tertanggal 22 Juni 1620; bahwa Sultan Agung memerintahkan untuk membangun kolam buatan di sekitar kraton selebar  satu tembakan dan sedalam tiga kaki (Denys Lombard, 2010, hlm. 13). Nama Segarayasa untuk danau ini telah disebutkan dalam Babad Sangkala sebagai berikut:

…. mulya melu tatambak / kapendhek pan tumut / dadining sagara yasa….

Pada 1930, L. Adam, seorang asisten residen di Yogyakarta, membuat laporan mengenai tempat-tempat bersejarah dan melegenda yang ada di Yogyakarta, salah satu tempat yang tertulis dalam laporannya adalah wilayah sekitar Segaroyoso. 

L. Adam mendeskripsikan bahwa di sisi Kali Opak, sebelah tenggara Desa Pungkuran, terdapat Desa Segaroyoso. Dikatakan bahwa wilayah Segoroyoso ini dulunya merupakan danau buatan yang dibangun atas prakarsa Sultan Agung, sebab ia menemukan tanggul di desa ini. Tanggul ini terhubung dengan Gunung Selatan di perbukitan Imogiri, yang jika diamati membentuk tanggul alami.

Tanggul yang masih bisa ia lihat membentang ke utara dari Gunung Selatan melewati Desa Tambak menuju Desa Segarayoso dan melewati Kedung Jaran. Tanggul tersebut berlanjut ke Desa Kloron di timur laut dan kembali ke Gunung Selatan.

Sayangnya, Adam tidak dapat menelusuri jejak tanggul yang lebih komplet. Namun dia meyakini bahwa pada awalnya Segarayasa tidak berukuran terlalu luas saat masa Sultan Agung memerintah. Adam memprediksi Segarayasa dibangun dan diperluas pada masa Amangkurat I.

Masih menurut asisten residen L. Adam, bahwa di sebalah selatan desa Kedaton-Plered terdapat Desa Pungkuran, tanggul atau tambak yang mengelilingi Segarayoso masih membujur di desa tersebut. Tanggul itu memanjang lurus dekat dengan perbatasan timur kraton dan berbelok ke barat di sudut tenggara melalui pungkuran, dan menghilang di arah barat daya di dekat Kali Opak. Di Desa Tambarejo ia mengatakan bahwa akhir tanggul terlihat jelas, dan tanggul tadi telah menyatu dengan Gunung Rasawuni.

Sultan HB VIII & L. Adam. Sumber gambar: Wikimedia

Sepeninggal Sultan Agung dan dengan berpindahnya ibukota ke dari Kerta ke wilayah Plered, maka dibangunlah kawasan Kraton Plered. Tidak dapat dipungkiri bahwa bangunan air di luar benteng kraton juga masih memiliki fungsi penting bagi kerajaan. Pada tahun 1658 pembangunan bendungan dan perluasan danau di wilayah Plered dilakukan. 

Dalam proyek perluasan ini tidak hanya melibatkan tenaga masyarakat dari sekitar wilayah kraton saja, tetapi juga menggunakan tenaga dari wilayah mancanegara (H.J. De Graaf, 1987: 14).

Di kompleks pemakaman Bukit Girilaya, di sebelah timur pekuburan, terdapat makam dari Bupati Cirebon. Menurut cerita tutur masyarakat sekitar, Bupati Cirebon yang terkubur di situ berperan dalam pembangunan Segarayasa dan meninggal waktu masa pembuatannya (L. Adam, 1930).

Lebih dari itu, menurut catatan Belanda, masyarakat dari Karawang juga didatangkan untuk membantu pembangunan bendungan dan perluasan kolom tersebut, sehingga mengakibatkan wilayah Karawang kekurangan tenaga pengolah pertanian dan mengakibatkan gagal panen.

Adanya danau buatan Segarayasa juga tercatat dalam laporan Belanda pada Daghregister (Laporan Harian Belanda) 7 Juli 1659. Dalam laporan ini dituliskan bahwa ketika perluasan danau tersebut usai, Susuhunan Amangkurat I sering megunjunginya bersama permaisuri, setelah kunjungannya danau tersebut lalu dinamakan Segarayasa (H.J. De Graaf, 1987, hlm. 14).

Pada tahun 1661 Amangkurat I kembali memerintahkan untuk dibuatkan kolam yang mengelilingi istananya, ia ingin menjadikan kediamannya tersebut sebagai pulau di tengah danau. Dalam pekerjaan kali ini, laporan Belanda dalam daghregister 12 September 1661, menyebutkan bahwa pekerja yang terlibat mencapai 300.000 orang, yang kebanyakan berasal dari wilayah pesisir dan mancanegara.

Digunakannya masyarakat pesisir dan mancanegara sebagai pekerja, menimbulkan konsekuensi bahwa para bupati pesisir maupun mancanegara yang terlibat proses pembangunan tidak boleh meninggalkan Plered. Mereka harus tetap di tempat dan mengawasi pekerjaan tersebut.

Perluasan danau buatan kembali dilakukan dua tahun kemudian. Amangkurat I kembali menginginkan kolam besar di belakang istananya. Penggalian untuk memperluas Segarayasa kembali dilakukan dan diselesaikan, namun setelahnya raja tidak merasa puas dan merasa tidak dapat menikmati danau buatan tersebut seperti masa sebelumnya.

Laporan terakhir mengenai pembangunan danau buatan maupun bangunan-bangunan air ini tercatat dalam Babad Sengkala yang menyatakan bahwa Kali Winanga telah dibendung pada tahun 1589 Jawa atau 1666 M untuk kepentingan bangunan-bangunan air.

Tujuan dibangunnya bendungan-bendungan air ini tentunya memiliki banyak fungsi yang ingin dicapai. Salah satunya adalah sebagai sarana rekreasi dan hiburan raja. Selain sebagai sarana rekreasi raja, bangunan ini juga diperlukan sebagai sarana pengatur pengairan, mengingat Kerajaan Mataram merupakan kerajaan agraris.

Selain itu selokan ataupun danau buatan ini memiliki fungsi militer yang penting. Selokan atau parit yang mengelilingi wilayah kraton merupakan pertahanan yang efeltif digunakan jika terjadi serangan dari musuh.

Seorang utusan dari tanah seberang, Abraham Verspreet, yang berkunjung ke Plered pada 16 Oktober 1668 mengatakan bahwa ia harus melalui jembatan yang membentang di atas parit yang mengelilingi istana sebelum ia sampai di alun-alun (H.J. De Graaf, 1987, hlm. 15). 

Danau buatan Segarayasa juga digunakan sebagai sarana latihan perang angkatan laut Kerajaan Mataram (Alifah, 2009). Ilmu pelayaran dan kekuatan perang di lautan juga merupakan hal penting bagi kekuataan milietr Mataram, terlebih pada masa Sultan Agung Mataram pernah beberapa kali melakukan ekspedisi laut untuk menggempur Batavia.

Pengunaan Segarayasa sebagai bagian dari pertahanan dan sarana militer kerajaan juga diperkuat oleh cerita tutur yang berkembang di masyarakat sekitar Segoroyoso.

Daftar Pustaka dari Seluruh Tulisan Seri Mataram

  1. Alifah. “Jejak Kraton Sultan Agung (Rekonstruksi Awal Berdasarkan Data Arkeologis dan Historis)”. Jurnal. Berkala Arkeologi Tahun XXIX, Edisi No. 2/November 2009.
  2. Denys Lomard. Gardens in Java. Jakarta: EFEO, 2010.
  3. H. J. De Graaf. Awal Kebangkitan Mataram, Masa Pemerintahan Senapati. Jakarta: Grafiti Pers. 1987. (A)
  4. ______. Disintegrasi Mataram Di Bawah Amangkurat I. Jakarta : Grafiti Press. 1987. (B)
  5. ______. Puncak Kekuasaan Mataram, Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: Grafiti Pers. 1990.
  6. H. J. De Graaf & Th. G. Th. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: Grafiti Pers. 1989.
  7. Henki Riko P. & Hery Priswanto. “Sebuah Informasi Mutakhir Hasil Penelitian Tahun 2013 di Situs Kedaton Pleret, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta”. Jurnal. Berkala Arkeologi, Vol. 33, Edisi No. 2/November 2013.
  8. Inajati Adrisijanti. “Kota Gede, Plered, dan Kartasura Sebagai Pusat Pemerintahan Kerajaan Mataram-Islam (±1578 TU – 1746 TU), Suatu Kajian Arkeologi”. Disertasi. Doktor Ilmu Humaniora, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 1997. 
  9. L. Adam. “Eenige Historische En Legendarische Plaatsnamen In Jogjakarta”. Djawa. Vol. 10. 1930.
  10. M.C. Ricklef. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi. 2010.
  11. ______. Yogyakarta Di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792, Sejarah Pembagian Jawa. Yogyakarta : Mata Bangsa. 2002.
  12. R.M. Gandhajowana. ”Overblijfselen Van Kerta En Plered”. Djawa Vol. 20. 1940.
  13. Sartono Kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900, Dari Emporium Sampai Imperium, Jilid I. Yogyakarta: Penerbit Ombak. 2014.
  14. Tim Ekskavasi Situs Kedaton. ”Laporan Ekskavasi Situs Purbakala di Kawasan Cagar Budaya Pleret Tahun 2012, Situs Kedaton (Tahap V)”. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY. 2012.
Ahmad Faisol
Latest posts by Ahmad Faisol (see all)