Sebuah sedikit amatan banyak cela tentang seni rupa Jawa; Dari Raden Saleh yang direlasikan dengan Arya Sungging Prabangkara

Manusia purba tersebar di seluruh dunia, tidak terkecuali Jawa. Narasi terkait kecerdasan manusia purba sering dikaitkan dengan aspek wicara dan tulis, di samping keterampilan memproduksi alat-alat untuk memudahkan upaya bertahan hidup, dan tentu saja momen kegirangan saat manusia purba sadar kalau menggosok dua batu akan memercikkan api. Bukan bermaksud menertawakan, tapi bisa jadi sebelum kemampuan wicara, tulis, dan api mereka peroleh entah darimana, manusia purba sekadar punya kawruh makan, minum, beranak pinak, dan buang air.

Tanpa adanya pengetahuan mustahil manusia purba menghasilkan berbagai alat dan produk untuk memudahkan hidup. Dasar pengetahuan tersebut tidak lain ialah kemampuan wicara dan tulis. Akan tetapi, di luar materi-materi itu muncul dugaan bahwa dasar pengetahuan yang paling fundamen malah imajinasi, seperti kata Einstein. 

Oscar Wilde pernah membuat cerita; Suatu hari di masa purba, sekumpulan manusia memutuskan untuk keluar dari gua dan mencari makanan. Namun, ada satu manusia purba yang menolak ikut serta, dia lebih memilih tinggal di dalam gua. Manusia purba yang lainnya kemudian pergi mencari makan, meninggalkan manusia purba yang menolak ikut. Maka, sebagai konsekuensinya, manusia purba ‘pemalas’ itu harus berjaga sendirian di dalam gua.

Satu hari berlalu, malam pun tiba. Sekumpulan manusia purba yang sejak pagi berburu sudah kembali. Mereka membuat api lalu membakar hewan buruan. Manusia purba ‘pemalas’ diperkenankan memakan sebagian hewan buruan. Selama prosesi makan bersama, tidak ada satupun manusia purba yang berbicara. Mereka tenggelam dalam limpahan cahaya bulan.

Pada keheningan itulah mendadak si manusia purba ‘pemalas’ angkat bicara. Ia mulai bicara, dengan sedikit dusta, bahwa dirinya tadi pergi dari gua, melawan seekor hewan, mungkin bison, sendirian. Setelah melakukan pertarungan sengit, si manusia purba ‘pemalas’ memenangkan pertarungan. Sebenarnya dia ingin membawa bison yang telah dibunuh tapi karena sendirian ia mengurung niat untuk membawanya. 

Mulanya manusia purba yang lain tidak percaya, namun si manusia purba ‘pemalas’ mengajak teman-temannya masuk ke dalam gua, saat berada di dalam gua betapa terkejut manusia purba lain karena mereka melihat gambar-gambar aneh mirip bison di dinding gua. Si manusia purba ‘pemalas’ mendaku bahwa gambar itu adalah buatannya berdasarkan pengalamannya. Cerita manusia purba ‘pemalas’ tidak terbukti, tapi gambar-gambar di dinding gua jelas adanya. Gambar itu muncul dari dalam kepala si manusia purba pemalas, alih-alih dari fakta bergairah yang ia tuturkan saat makan bersama.

Cueva de Altamira. Sumber: https://www.nytimes.com/2014/07/31/arts/international/back-to-the-cave-of-altamira-in-spain-still-controversial.amp.html

Mungkin, manusia purba ‘pemalas’ itulah yang menggambar sebuah penampang wujud bison di dinding Cueva de Altamira, Spanyol. Film Altamira, yang walaupun agak meleset unsur scientific-nya karena terdominasi fiksi, setidaknya berhasil mengungkap biografi Marcelino Sanz de Sautuola yang diperankan Antonio Banderas ketika mengeksplorasi penemuan gambar dinding gua berumur 20.000 tahun oleh putrinya, Maria de Sautuola.

Saking malasnya, manusia purba itu, anggap saja, menjadi pionir kesadaran manusia atas kekuatan imajinasi. Waktu pun mengalir, kata Dewa 19, dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, hingga generasi ke generasi, dan imajinasi gambar gua bertransformasi ke bentuk sekaligus aliran seni rupa yang beraneka ragam. Akan tetapi, sebelum berdiri menjadi entitas seni rupa murni, gambar-gambar pada awalnya bersifat sebagai pelengkap atau penjelas teks (ilustrasi-iluminasi) dan patung-patung bernuansa esoterik.

Entah bagaimana perasaan si manusia purba ‘pemalas’ seandainya dia mengetahui bahwa lukisan dinding gua buatannya menjadi begitu berkembang. Seumpama manusia purba ‘pemalas’ itu saya, saya akan memutuskan untuk jadi lebih dan semakin malas setiap harinya agar imajinasi saya bertambah liar. Mungkin hanya dengan kemalasan semacam itu perut saya punya jaminan makanan seumur hidup, karena orang-orang menyukai saya, dan menyukai gambar minim gaya buatan saya.

Sementara itu di Jawa

Selang beberapa  milinium, di tempat yang berbeda, tepatnya di Timur Jauh ‘Altamira’. Tahun 1807, di Terbaya, Semarang, lahir seorang anak laki-laki dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, peranakan Arab-Jawa dan masih keturunan Kanjeng Nabi. Ibunya, Mas Adjeng Zarip Hoesen, masih keturunan bangsawan Jawa. Anak laki-laki itu bernama Raden Saleh Sjarif Boestaman, ditakdirkan Gusti sebagai pembuka jalan dunia lukisan modern di Jawa.

Waktu berumur 10 tahun, Raden Saleh ngenger di rumah Bupati Semarang, Surohadimenggala V. Selama di Semarang, Raden Saleh dipenuhi kebutuhan hidup dan keperluan pendidikannya oleh Bupati Semarang. Kecerdasan yang dimiliki membuat Raden Saleh dipercaya menjadi Asisten Pribadi Bupati Semarang. Setiap tugas yang diberikan, dapat dikerjakan oleh Raden Saleh dengan baik. Kemampuan menggambar Raden Saleh muncul secara berkala, dan dimulai ketika ia duduk di bangku Volks-School (Sekolah Rakyat).

Raden Saleh memang sejak kecil telah dididik menjadi seorang pegawai pemerintahan dengan status sebagai juru gambar (draughtsman). Raden Saleh meniti langkah menjadi seorang Indische Schilderer.

Atas kehendak Gusti, Raden Saleh bertemu dengan AAJ Payen, seorang pelukis keturunan Belgia yang ditugaskan oleh pemerintah kolonial untuk mendokumentasikan alam Indonesia termasuk Jawa. Pekerjaan AAJ Payen berada di bawah naungan Kennisonderzoeksbureau voor de kunsten (Badan Penyelidik Pengetahuan atas Kesenian) yang dikepalai Reinwardt. Ada yang mengatakan bahwa di usia tujuh tahun Raden Saleh sudah berada di Badan Penyelidik Pengetahuan atas Kesenian yang menjadi satu kompleks dengan kediaman Residen Cianjur, R Baron der Capellen. Guru lukis pertama Raden Saleh adalah AAJ Payen dan Theodorus Bik.

Salah satu karya AAJ Payen. Sumber: Indonesian Visual Art Archive

Tahun 1829, Raden Saleh melangkahkan kaki menuju benua Eropa, menuju Belanda untuk mengasah kemampuan melukisnya. Perjalanan penting seorang Jawa yang berwarna Eropa itu terjadi atas rekomendasi AAJ Payen kepada Inspektur Keuangan Kolonial, Jean Baptiste de Linge. Pertama kali berada di Belanda, Raden Saleh berada di bawah arahan pelukis Belanda bernama Cornelis Krusemen, seorang pelukis spesialis potret, dan Andreas Schelfout, pelukis aliran realis yang gemar melukis pemandangan alam.

Kebutuhan hidup Raden Saleh sepenuhnya ditanggung Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa sepertinya, AAJ Payen memiliki pengaruh yang cukup besar. Tahun 1839, Raden Saleh melakukan perjalanan keliling Eropa, sebab jika tetap berada di Belanda, pengetahuan dan kemampuan melukis Raden Saleh akan mengalami hambatan, mengingat waktu itu Belanda sedang dalam masa transisi setelah baru saja lepas dari cengkraman Napoleon. Perjalanan dimulai dari Berlin, Dresden, dan Coburg. Bahkan ada yang menyatakan bahwa Raden Saleh sempat bergabung dalam perjalanan Horace Vernet menuju Aljazair pada sekitar tahun 1843-1844, namun karena tidak ada catatan fisik, pernyataan tersebut hanya dugaan.

Raden Saleh menyadari bahwa dirinya kurang menyukai lukisan berupa potret atau alam. Beruntungnya, Raden Saleh sempat bertemu pelukis Henri Martin yang berasal dari Prancis. Pertemuan tersebut membuat Raden Saleh tersadar bahwa ia cenderung menyukai lukisan beraliran romantisisme.

Portret Raden Saleh. Sumber: https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Portret_van_raden_Syarif_Bustaman_Saleh_Rijksmuseum_SK-A-4703.jpeg

Pada saat melakukan perjalanan keliling Eropa itulah Raden Saleh berkenalan dan memantapkan diri dengan Romantisisme. Sebuah aliran kesenian yang berfokus pada subyektifitas, mengajukan hipotesa terbalik atas fakta, mengusung pesan Hak Asasi Manusia, dan menghadirkan simbol perlawanan di balik realita gambar yang begitu nyata. Menurut Annisa Desmiati, Yustiono & Agung Hujatnika, 2013, dalam artikelnya Romantisisme pada Karya-Karya Raden Saleh: Suatu Tinjauan Kritik Seni, diketahui bahwa Raden Saleh mendapat pengaruh dari Eugene Delacroix. Meski tidak sempat bertatap muka, Raden Saleh terpengaruh oleh lukisan Delacroix saat berkunjung ke Louvre Museum.

Raden Saleh Dalam Karyanya

Selama di Eropa, Raden Saleh akrab dipanggil sebagai prince of oriental atau prince of Java. Pembawaannya kalem dan flamboyan, membuat banyak orang semakin ingin tahu Hindia Timur. Sebab saat itu muncul banyak karya lukis yang mengandaikan tema oriental dan eksotik. Raden Saleh, dengan darah Jawa-nya, mampu menarik perhatian para pelukis Eropa sebab karyanya begitu merepresentasikan kehidupan Hindia Timur. Karta pertama yang dilukis Raden Saleh saat di Eropa ialah Perburuan Banteng. Lukisan inilah yang menjadi titik perkembangan Raden Saleh dalam romantisisme.

Pengaruh romantisisme Eropa begitu melekat di diri Raden Saleh. Horace Vernet dan Delacroix merupakan dua sosok yang menjadi patokan Raden Saleh ketika menuangkan gagasan di atas kanvas. Dan memang, sudah sejak lama Raden Saleh mengidolakan Horace Vernet. Lukisan Raden Saleh yang berjudul Berburu Singa pun begitu terlihat kalau terinspirasi dari Lion Hunt karya Horave Vernet.  Gaya Romantisisme antara lain terlihat juga pada karya Singa dan Ular. Uniknya, 23 tahun setelah lukisan ini dibuat Raden  Saleh, Eugene Delacriox melukis tema yang sama, berjudul Macan dan Ular.

Karya lain Raden Saleh yang ‘memparafrase’ karya lukis Eropa adalah lukisannya yang berjudul Banjir di Jawa. Menurut Busataman dalam Annisa Desmiati, dkk, 2013, lukisan Banjir di Jawa merupakan hasil penyerapan Raden Saleh dari The Raft of Medusa karya Géricault tahun 1818. Meski hampir menyerupai, Raden Saleh banyak melakukan rekonstruksi, termasuk persona orang dan setting peristiwanya.

Banjir di Jawa. Sumber: http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh/

Tahun 1852 Raden Saleh kembali ke Jawa dan menetap di Batavia. Pulangnya Raden Saleh ini kemudian menjadi momen bagi Daendels untuk meminta Raden Saleh agar melukis dirinya. Demi mendapat penghidupan dan tanggung jawabnya sebagai pegawai pemerintahan, Raden Saleh bersedia membuatkan Daendels lukisan potret yang diminta. Selain itu, Kraton Yogyakarta juga sempat memakai jasa Raden Saleh untuk melukis Sultan Hamengkubuwana VI dan Garwa Padmi.

Walaupun berstatus menjadi seorang pegawai pemerintahan kolonial, banyak peneliti seni rupa yang menyatakan bahwa Raden Saleh pada dasarnya adalah seorang wong Jawa yang menentang kolonialisme. Indikasi sikap antikolonialisme ini terlihat dari banyak karya lukis Raden Saleh. Bahkan, saat melukis Daendels, Raden Saleh membuat bagian mata Daendels seolah-olah membenci dirinya sendiri dengan cara menatap tajam ke samping kiri lukisan.

Karya lukis Raden Saleh yang paling kuat rasa antikolonialismenya ialah Penangkapan Diponegoro. Raden Saleh tidak mengalami peristiwa besar tersehut secara langsung karena dirinya berada di Eropa. Namun, di Jawa, keluarga Raden Saleh sendiri secara diam-diam menyokong perjuangan Diponegoro saat Perang Jawa berkobar. Raden Saleh mendengar berita pertempuran itu dari kolega-koleganya di Belanda. Dalam hati, tentu saja, Raden Saleh berharap besar pada Pangeran Diponegoro.

Historia mengulas dengan cukup menarik terkait keberpihakan Raden Saleh pada Pangeran Diponegoro. Bahwa setelah de Kock berhasil memperdaya Pangeran Diponegoro dan menangkapnya, de Kock berkunjung ke rumah Cornelis Krusemen, salah satu guru Raden Saleh. Cornelis Krusemen diminta oleh de Kock untuk melukis potret dirinya sebagai tanda keberhasilan seetelah menangkap Diponegoro. Hal tersebut, entah bagaimana, diketahui oleh Raden Saleh.

Bukan hanya itu, de Kock juga mengunjungi pelukis Nucolaas Pieneman, de Kock meminta Pieneman untuk menggambar keberhasilannya mengalahkan Diponegoro. Pieneman menyanggupi, dan lukisan yang diminta pun jadi. Lukisan karya Pieneman itu lalu diberi judul Penaklukan Diponegoro. 

Lukisan Pieneman yang berjudul Penaklukan Diponegoro tersebut menggelisahkan Raden Saleh. Oleh karenanya, selang beberapa tahun, Raden Saleh membuat lukisan dengan tema serupa namun memuat pesan dan makna yang berbeda, diberi judul Penangkapan Diponegoro. Sejarawan Peter Carey mengungkapkan bahwa lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh mewujudkan sikap antikolonialisme. Adegan yang digambarkan Raden Saleh cenderung menyerupai peristiwa pengkhianatan Yudas Iskariot.

Penangkapan Diponegoro. Sumber: http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh/

Raden Saleh adalah orang Jawa, lukisan-lukisannya banyak mengambil nafas alam Jawa, namun entah kenapa karya dan nama Raden Saleh seolah terlewat oleh para pandemen serta akademisi Budaya Jawa. Raden Saleh memang mendapat kalungguhan terhormat di kalangan akademisi dan pecinta seni rupa Indonesia, bahkan di tingkat dunia. Hanya saja, tanpa dasar yang jelas, karya dan nama Raden Saleh sangat minimalis untuk dibicarakan akademisi dan pandemen budaya Jawa, padahal pesan sekaligus makna yang ditorehkan Raden Saleh dalam setiap karyanya, bisa dibilang, serupa dengan rahasia gunungan wayang atau tatahan wayang.

Di Serat Trilaksita, Mangunwijaya, 1916, nama Raden Saleh disejajarkan dengan R.Ng. Ranggawarsita dan R.Ng. Padmasoesastra, karena ketiganya berhasil menjadi sosok penting meski tidak menapak lajur formal;

“Malah ana kang elok, têgêse ora sakolah: ana kang pintêr, nganti misuwur asmane, kaya ta: Radèn Ngabèi Rănggawarsita, putus marang kasusastran utawa kawruh liya-liyane, nganti sinêbut pujăngga, 2 Radèn Salèh, kabaudane anggambar nganti ngeram-eramake, 3 Ki Padmasusastra, iya ora sinau, ewadene kêsuwur pintêr, nganti kêrêp olèh ganjaran saka Kangjêng Guprêmèn…”

Kenyataannya, akademisi budaya Jawa telah meneliti bentuk karya seni relief di candi sebagai produk budaya Jawa, pun telah banyak analisis mengenai lukisan di wayang beber atau wayang kulit yang merepresentasikan alam pikir Jawa. Lantas kenapa melewatkan Raden Saleh sebagai seorang Jawa? Apakah lukisan-lukisan Raden Saleh bukan produk budaya Jawa? Kelihatannya, bagi orang Jawa, Raden Saleh beserta karya lukisnya sama asingnya dengan Arya Prabangkara. 

Melompat ke Belakang

Mari melompat ke belakang karena sudah terlanjur menyinggung Arya Prabangkara. Mungkin jika memakai perspektif seni rupa Barat, Arya Prabangkara merupakan pelukis klasik. Lain halnya jika memakai kacamata periodesasi bahasa Jawa pada periodesasi seni rupa Jawa; seni rupa kuno, seni rupa pertengahan, dan seni rupa modern. Mengingat banyak kisah yang menyatakan bahwa Arya Prabangkara hidup di masa Wilwatikta, untuk sementara dapat diasumsikan bahwa Arya Prabangkara berada di periode seni rupa pertengahan.

Disiplin seni rupa memiliki batas yang luas, bahkan patung pun masih masuk bagian dari seni rupa. Banyak pertentangan mengenai pembabagan seni rupa, namun pada dasarnya seni rupa merupakan kesenian yang menghadirkan pengalaman estetis pembuat dan penikmatnya pada aspek visual. 

Kemungkinan besar, masyarakat Jawa lebih mengenal Arya Prabangkara daripada Raden Saleh dalam hal estetika. Seandainya Prof Timbul menperluas kajiannya pada aspek seni rupa murni di masa klasik, bisa saja sosok Arya Prabangkara ini berhasil dijumpai. Dalam hal kesenian, masyarakat Jawa terkenal memiliki ketajaman, termasuk seni rupa yang dalam hal ini satu frame dengan patung. Pengrajin gambar dan patung di masa Jawa kuno disebut dengan Juru Sungging, oleh karenanya banyak juga yang mengenal Arya Prabangkara dengan nama Sungging Prabangkara.

Arya Prabangkara merupakan mitos terbesar kesenian Jawa, khususnya seni rupa Jawa. Seolah ada tapi tidak ada, seolah tidak ada namun keberadaannya begitu dipercaya. Arya Prabangkara menjadi sosok fenomenal sekaligus penuh skandal. Pola skandal Arya Prabangkara hampir sama seperti Raden Saleh yang menikahi janda Belanda yang kaya raya dan dituduh hanya mengejar kekayaan si janda, Arya Prabangkara sendiri juga diduga pernah ‘menyeleweng’ dengan permaisuri Raja.

Catatan mengenai Arya Prabangkara terdapat di Serat Centhini dan Babad Jaka Tingkir. Lepas dari aspek tekstual, Arya Prabangkara mempunyai cukup banyak versi cerita lisan. 

Di dalam Centhini, Kamajaya, 1985-1991, pada episode ketika narrator meminjam kuasa Lurah Panyungging untuk mengisahkan asal mula dan sejarah wayang di Jawa menggunakan metrum girisa. Tersebutlah nama Sungging Prabangkara atau Arya Prabangkara sebagai ahli gambar untuk pembuatan wayang beber di masa kerajaan Majalengka;

Pungkasaning Majalêngka | kacarita darbe putra | wasis (ng)gambar namanira | Radèn Sungging Prabangkara | dhinawuhan rama nata | mangun busananing wayang | bèbèr kang tumrap daluwang | rinêngga pulas mawarna 

Pinantês lan wujudira | raja satriya punggawa | busana kinarya beda | anuju angkaning warsa | sèwu triatus langkungnya | taun iku sinêngkalan | anênggih datanpa sirna | pigunane kang atmaja ||

Narasi lain tentang Arya Prabangkara terdapat di dalam Babad Jaka Tingkir. Episode cerita Arya Prabangkara di Babad Jaka Tingkir ini kemudian pernah disajikan ulah oleh Saksono Prijanto melalui buku berjudul Raden Arya Prabangkara yang diterbitkan Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, 2010. Ringkasnya, suatu hari Prabhu Brawijaya V berburu kijang di Hutan Wonosimo, ditemani oleh dua abdi, Semut dan Gatel. Hutan Wonosimo berjarak 50 Pal dari Kraton Majapahit. Karena kepulangan mereka terlalu larut, akhirnya mereka memutuskan mengingap di rumah seorang penduduk yang mengelola hutan, namanya Mantri Jagal. Agar tidak menimbulkan rasa sungkan Prabhu Brawijaya menyamarkan dirinya dengan nama Sumitra.

Ilustrasi perjalanan Sumitra/Brawijaya V. Sumber: Buku Raden Arya Prabangkara

Mantri Jagal hanya tinggal bersama putri semata wayangnya yang sudah menjanda, Wara Gupita. Dua hari lamanya Prabhu Brawijaya atau Sumitra menumpang di rumah Mantri Jagal. Sedikit demi sedikit tumbuh rasa saling suka antara Sumitra dengan Wara Gupita, hingga akhirnya mereka bergumul dan bercinta. Setelah bercinta, Prabhu Brawijaya pulang begitu saja tanpa tahu bahwa Wara Gupita sedang hamil. Setelah lewat sembilan bulan, lahirlah seorang putra yang kemudian diberi nama Arya Prabangkara. Cerita lebih lengkap bisa unduh di sini.

Arya Prabangkara mempunyai kemampuan melukis yang luar biasa. Dia bahkan pernah berhasil menjalani tantangan yang diberikan Prabhu Brawijaya untuk melukis laut beserta isinya. Bahkan ketika melukis permaisuri Raja Brawijaya, entah bagaimana Arya Prabangkara menitikkan sedikit warna pada bagian tubuh tersembunyi sang permaisuri dan menyerupai andheng-andheng. Di posisi dan letak yang tepat. Perbuatan ini menimbulkan kemarahan Prabhu Brawijaya, karena Arya Prabangkara dituduh telah melihat tubuh telanjang permaisuri.

Kemampuan tersebut mengingatkan pada mitos yang tersebar dari sosok Raden Saleh, bahwa Raden Saleh pernah membuat kawan-kawan Eropanya terkejut setengah mati karena berhasil membuat lukisan dirinya sendiri yang terhujam pisau di lantai. Kawan-kawan Raden Saleh menyangka kalau lukisan tersebut adalah Raden Saleh sendiri.

Ada yang mengatakan kalau Arya Prabangkara adalah anak Hayam Wuruk, dan ada juga yang menyatakan, kalau tidak salah di salah satu teks Bali, bahwa Arya Prabangkara adalah putra Sri Aji Jayabaya. Pola ceritanya sama, Arya Prabangkara diusir dari Kraton karena dituduh melakukan perbuatan ‘seleweng’ saat melukis permaisuri.

Ilustrasi Arya Prabangkara tiba di Cina. Sumber: Buku Raden Arya Prabangkara

Karena tuduhan tersebut, Arya Prabangkara melarikan diri ke Cina, namun sebelum ke Cina, ia transit di Wonogiri dan Gunungkidul untuk menitipkan karya wayang beber sunggingannya. Setelah itu, Arya Prabangkara berhenti sementara waktu di Jepara untuk mengajar cara mengolah kayu menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi pada beberapa orang Jepara.

Mengingat Arya Prabangkara sempat bertempat tinggal di Jepara, dan mayoritas pengerajin seni Jepara mengenal nama Arya Prabangkara, tidak menutup kemungkinan Raden Saleh pernah mendengar kisah Arya Prabangkara. Sehingga Raden Saleh mencoba memproyeksikan keagungan romantisisme Arya Prabangkara dalam karya-karyanya. Hingga secara tidak langsung, Raden Saleh seolah menjadi sosok nyata dari fiksionalitas Arya Prabangkara.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)