Super Rangga 1: Larinya Pasukan Banten
Super Rangga 1: Larinya Pasukan Banten

Super Rangga 1: Larinya Pasukan Banten5 min read

Supaya tidak bingung, perlu ditekankan di awal tulisan bahwa yang diceritakan dalam tulisan ini adalah Raden Rangga putra Panembahan Senapati. Masa hidupnya Raden Rangga masih di awal mula berdirinya Mataram, dan bahkan sebelum Panembahan Senapati mendapat restu dari Panembahan Giri menjadi penguasa Tanah Jawa.

Kisah Raden Rangga telah melewati ruang dan waktu. Turun dari satu tutur ke tuturan lainnya. Didakwa menjadi seorang putra Panembahan Senapati yang ndugal kuwarisan, suka bertengkar, dan tidak segan menantang kehendak bapaknya sendiri.

Meski kisah kedigdayaan Raden Rangga telah berjejak di benak masyarakat Yogyakarta, sosok sejati Raden Rangga sama sekali belum terungkap sepenuhnya.

Kabut tebal misteri Raden Rangga belum tersingkap. Keberadaannya belum dapat dipastikan secara valid dengan sumber primer yang mencukupi. Eksistensi Raden Rangga yang hingga sekarang dipercaya adalah kisah kedigdayaannya, tembok benteng Kotagede yang jebol, dan cerita yang tersemat dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha.

Narasi di dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha yang mengulas tentang Raden Rangga tentu saja memiliki detail peristiwa yang berbeda, namun secara garis besar sama. Kisah-kisah kedigdayaan Raden Rangga yang ditransfer secara lisan oleh masyarakat Yogyakarta dapat dikonfirmasi pada dua naskah tersebut.

Apabila tokoh Raden Rangga, beserta seluruh kesaktiannya, adalah benar adanya, maka fakta tentang Raden Rangga telah menjadi abadi karena bertransformasi sebagi cerita tutur, sebagai dongeng, sehingga untuk mendekati aspek kesejarahan Raden Rangga jelas sulit. Kita kesulitan mengetahui siapa sebenarnya ibu Raden Rangga dan bagaimana dia mati, apalagi kalau berusaha menalar kesaktiannya.

Lagi pula, ada satu keanehan yang tidak bisa lepas dari kisah Raden Rangga, yakni kalau memang dia diceritakan sebagai seorang ‘manusia super’ kenapa dia malah mati muda?

Babad Tanah Jawi menyatakan Raden Rangga meninggal di usia empat belas tahun, sementara Serat Kandha mencatat bahwa matinya Raden Rangga di usia enam belas tahun.

Secara tiba-tiba, Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha mengisahkan Raden Rangga sebagai putra sulung Panembahan Senapati yang memiliki kekuatan super. Tidak ada penjelasan mengenai siapa ibunya, dimana dia lahir, dan setelah kisah Raden Rangga habis, Anda akan bingung mencari jawaban tentang kenapa ia penting untuk diceritakan dalam dokumen fiksional Jawa.

Awal Kemunculan Rangga

Kabar mengenai kerajaan Jawa baru yang menggantikan Kraton Pajang telah terdengar hingga ke Barat tanah Jawa, yakni Banten. Kerajaan Banten yang mendengar tentang Mataram segera mengirim beberapa utusan yang diiringi sejumlah pasukan untuk menyampaikan pesan raja Banten kepada calon penguasa Jawa yang baru.

Raja Banten mengutus beberapa orang ke Mataram untuk mengonfirmasi apakah penguasa Mataram, yang juga calon penguasa Tanah Jawa, layak dijadikan panutan, kalau tidak layak, Banten berniat menentang Mataram.

Diceritakan dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, utusan Banten akhirnya sampai di Mataram. Mereka mendirikan tenda, dan belum mengirim utusan untuk menyampaikan kabar kedatangan mereka kepada penguasa Mataram. Namun, kedatangan mereka yang cukup mendadak tersebut telah menjadi buah bibir orang Mataram, sehingga dengan cepat sampai di telingan Panembahan Senapati.

Setelah menerima kabar yang tersampaikan dari mulut ke mulut itu, Panembahan Senapati memutuskan untuk menunggu kedatangan utusan Banten menghadap padanya, dan melaporkan kedatangannya.

Sebab bagaimanapun, Panembahan Senapati sebagai tuan rumah sudah sewajarnya menerima laporan kedatangan pasukan dari kerajaan lain. Raden Rangga yang juga mendengar kabar tersebut memilih untuk bertindak sendiri, ia tidak berkenan dengan sikap bapaknya yang menunggu utusan Banten.

Baru sehari semalam pasukan Banten datang, mereka sudah hendak mengirimkan utusan untuk menyampaikan kedatangan. Akan tetapi, di suatu malam, sebelum utusan berangkat menghadap Panembahan Senapati, ada tamu yang tak diundang berkunjung ke kemah mereka.

Tanda Takluknya Banten

Tanpa membawa pengiring, sendirian, Raden Rangga berjalan dengan asyik melewati tenda-tenda pasukan Banten. Dadanya dibusungkan, dengan mata tajam menerabas sekeliling. Orang-orang Banten hanya membiarkan tingkah Raden Rangga.

Tiba-tiba Raden Rangga berteriak, “ Hei kalian orang Banten, kalau kalian ke sini untuk menghadap Senapati, bapakku, lebih baik urungkanlah! Bapakku orangnya lemah! Lebih baik hadapilah aku terlebih dahulu, kalau kalian mampu, kalian boleh menghadap bapakku!”

Mendengar teriakan tersebut, para pasukan Banten segera menghampiri. Dalam sekejap mata, ratusan orang Banten sudah mengepung Raden Rangga. Telinga mereka panas karena perkataan Raden Rangga yang terdengar begitu angkuh. “Apa maumu?!” Kata seseorang dari barisan pasukan Banten.

“Putuskan jariku ini! Kalau kalian mampu, esok kalian bisa menghadap ke bapakku!” Ujar Raden Rangga sembari mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya pada pasukan Banten.

Seorang prajurit Banten, yang tentu saja bertubuh kekar, maju mendekati Raden Rangga. “Anak ini kalau bercanda kelewatan, dia tidak sadar kalau yang ia hadapi adalah para prajurit yang terlatih di medan perang.” Mungkin begitu kata batin prajurit Banten yang maju ke depan Raden Rangga.

Oleh prajurit Banten itu, jari telunjuk Raden Rangga dipegang, dan diremas sekuat mungkin. Digerakkan ke segala arah agar putus, namun usahanya sia-sia. Raden Rangga tidak merasakan apapun, dan jari telunjuknya sama sekali tidak bergerak sesuai keinginan prajurit Banten.

Cukup lama prajurit Banten itu berusaha memutus jari telunjuk Raden Rangga. Karena merasa bosan, Raden Rangga mengibaskan jari telunjuknya sedikit, dan dalam sekejap prajurit Banten itu terhempas, hanya karena kibasan kecil jari telunjuk Raden Rangga.

Setelah terhempas, prajurit Banten itu cepat-cepat bangkit dan kembali mendekat ke arena. Raden Rangga menyuruh prajurit Banten tersebut menyiapkan jari telunjuknya, sama seperti yang tadi dilakukan Raden Rangga. Setelah jari telunjuk diarahkan, Raden Rangga baru saja hendak memegang dan merematnya. Akan tetapi prajurit Banten justru meloncat ke belakang, padahal belum terjadi apa-apa.

Melihat tindakan yang dilakukan prajurit Banten itu, dalam hati Raden Rangga merasa dilecehkan dan diejek. Raden Rangga marah, dengan langkah cepat menghampiri prajurit Banten yang tadi meloncat menghindar. Tanpa bicara apapun, Raden Rangga menampar wajah si Prajurit Banten. Dalam sekali tampar, prajurit Banten dipastikan langsung mati di tempat, saat itu juga!.

Prajurit Banten lainnya yang melihat peristiwa tersebut langsung ketakutan. Tanpa bersiap-siap, mereka dengan cepat lari meninggalkan tenda, lari kembali ke Banten. Mereka tak kuasa membendung takut terhadap kekuatan super Rangga.

Bersambung

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *