Tirakat Jaman Modern

Tirakat atau prihatin yang artinya ngerih batin, merupakan tindakan untuk melawan hawa dan nafsu. Sebagaimana dilakukan bertujuan untuk meninggalkan sifat keduniawian dan mencari ridho dari sang Pencipta. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, mereka sudah tidak asing lagi apabila mendengar istilah tirakat. Karena hal tersebut sudah melekat dengan kehidupan sehari-hari.

Laku tirakat sudah dilakukan oleh masyarakat dahulu secara otomatis dan tidak sadar. Mengingat kehidupan zaman dahulu pada masa penjajahan bahkan mungkin sebelumnya, di mana pada saat itu dapat dikatakan zaman yang larang sandhang pangan.

Kehidupan pada saat itu membuat mereka sulit untuk mencukupi kebutuhan, terlebih untuk makan sehari-hari. Dengan keadaan yang demikian, masyarakat dahulu seringkali tidak makan sehari tiga kali seperti halnya kehidupan manusia normal. Mereka lebih sering  menahan haus dan lapar atau lebih memilih berpuasa. Dengan peristiwa tersebut, dengan tidak sadar bahwa mereka sudah banyak melakukan prihatin atau tirakat. Walaupun dilakukan berdasarkan keadaan yang memang pada saat itu sedang larang sandhang pangan.

Tidak hanya dalam hal menahan haus dan lapar, mengingat zaman dahulu ketika belum ada kendaraan yang dapat ditumpangi, masyarakat di kala itu lebih sering berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk mencapai tujuan mereka. Secara otomatis, perilaku kehidupan nenek moyang kita dahulu lebih sering melakukan tirakat atau prihatin.

Tirakat juga bermacam-macam contohnya, antara lain berpuasa, berdzikir, dan tidur lebih larut malam. Dalam berpuasa, masyarakat Jawa mempunyai beberapa macam jenis-jenisnya. Diantaranya puasa hari Senin dan Kamis, puasa ngrowot (makan umbi-umbian), puasa ngrapa (tidak makan nasi), puasa ngebleng (tidak makan dan minum beberapa hari), puasa mutih (makan nasi dan air putih), pati geni (puasa di ruangan tertutup), dan lain sebagainya.

Ilustrasi tirakat di jaman modern. Sumber gambar: Natgirsberger

Kemudian juga ada ritual yang bernuansa mistik, terlebih dilakukan dengan mengesampingkan akal ataupun nalar. Sebagaimana dilakukan bermaksud untuk mengalami sebuah puncak pengalaman religius atau sering disebut dengan, “Manunggaling Kawula Gusti” atau bersatunya manusia dengan sang Pencipta.

Tujuan tirakat juga bermacam-macam. Ada yang bertujuan untuk mengasah atau mengolah kekuatan batin, mencari kelanggengan hidup, mencari ketenteraman hidup, mencapai tingkat hidup agar lebih baik, proses untuk mencapai tujuan tertentu, proses dalam mencapai ilmu, serta masih banyak lagi kegunaannya.

Dalam tembang macapat Jawa yang berjudul Pocung, isi dari tembang tersebut memberikan pesan, bahwa ilmu akan mudah tercapai bila dilalui dengan proses yang tulus serta dilandasi dengan laku tirakat.


Ilmu iku kalakone kanthi laku,

Lekase lawan kas,

Tegese kas nyantosani,

Setya budya pangekese dur angkara.

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya:

Ilmu akan tercapai dengan perbuatan serta tirakat

Perbuatan dan kemauan

Kemauan yang sungguh-sungguh

Ketulusan budi sebagai penakluk kejahatan


Tembang tersebut memberikan pesan, bahwa ketika mencari ilmu akan lebih baik bila diimbangi dengan laku tirakat. Tirakat juga lebih baik dilakukan saat sedang berproses dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Karena dengan tirakat, hasil yang dicapai pasti akan lebih memuaskan dan di samping itu kita dapat berlatih melawan hawa nafsu serta mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Dengan tirakat, juga dapat memperbaiki diri dan menghindarkan dari perilaku atau moral yang kurang etis.

Apabila diterapkan pada masa kita sekarang ini, di mana masa yang lebih terkenal dengan istilah eksistensi, “Kids Zaman Now” atau anak-anak zaman sekarang, tirakat akan lebih baik bila dilakukan. Daripada hanya bersenang-senang, berlebih-lebihan, berhura-hura, dan berfoya-foya. Karena perilaku yang demikian, secara perlahan kita dapat lupa diri akan darma menjadi seorang manusia. Bahwa darma manusia yaitu memberi keputusan yang bijak dan jangan selalu mengikuti hawa nafsu duniawi.

Sebagai kawula muda, terlebih sebelum lalai dengan warisan budaya peninggalan nenek moyang (Jawa) yang adiluhung, sebaiknya mulai dari sekarang kita harus berbenah diri dan selalu mengingat ajaran-ajaran lahir maupun batin dari para leluhur. Sebelum terlarut karena selalu menuruti keinginan hawa dan nafsu duniawi.

Sri Mangkunegara IV berpesan lewat sebuah karya yang berupa tembang macapat, pada pupuh Sinom bagian dari Serat Wedhatama. Dalam karyanya, beliau memotivasi kepada para kawula muda supaya meniru laku utama atau perbuatan baik yang dilakukan Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam. Dalam karyanya, beliau berpesan agar selalu berlatih mengendalikan hawa dan nafsu, serta selalu berbuat baik kepada sesama.


Nuladha laku utama,

Tumrape wong tanah Jawi,

Wong Agung ing Ngeksiganda,

Panembahan Senopati,

Kapati amarsudi,

Sudanen hawa lan nepsu,

Pinesu tapa brata,

Tanapi ing siyang ratri,

Amemangun karya nak tyasing sasama.

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya:

Menirulah perbuatan baik

Sebagaimana menjadi orang Jawa

Orang yang paling mulia di Mataram

Panembahan Senopati

Sangat tekun berusaha

Melawan hawa dan nafsu dunia

Menekankan laku tirakat

Baik siang atau malam

Selalu berbuat baik kepada sesama


Makna atau pesan dari karya Sri Mangkunegara IV ini sudah sangat jelas, bahwa Panembahan Senopati gemar melakukan tirakat dan selalu berbuat baik terhadap sesama. Apabila diresapi secara mendalam lagi, bayangkan, bila seorang raja saja yang artinya beliau adalah seseorang yang mulia, tetapi masih melakukan tirakat dan selalu berbuat baik kepada sesama di siang maupun malam hari.

Potret Mangkunegara IV. Sumber gambar: Wikiwand

Bagaimana dengan kita yang hanya manusia biasa, yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa? Artinya, apakah hidup kita hanya akan selalu berlarut-larut dalam kesenangan duniawi Yyng sifatnya tidak kekal abadi, yang menyimpang dari darma sebagai manusia, di mana hawa dan nafsu seharusnya dilawan. Apabila sering mengikuti keinginan hawa nafsu duniawi, yang terjadi adalah kita akan lupa dengan perilaku luhur.

Mengingat zaman sekarang, ada kalimat yang berbunyi, “Yang penting good looking, tidak dengan good attitude.” Artinya, yang terpenting yaitu penampilan, bukan tentang perilaku. Sebagai masyarakat Jawa yang kaya akan budaya adiluhungnya, kita harus bisa menjaga perilaku, moral, maupun norma-norma kehidupan luhur.

Dengan melakukan tirakat, perlahan kita akan bisa meresapi, memilah, memilih, mana perilaku yang baik dengan yang kurang baik. Bila sudah terpilih dengan benar, kita mencoba perbaiki yang salah secara perlahan. Di samping itu, dengan laku prihatin atau tirakat, kita juga mendapatkan ridho dari sang Pencipta.

Latest posts by Kevin Meinandoval (see all)
Dunung ing Pengging, Banyudono, Boyolali. @kevinmeinandoval (Javanisme)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top