Trah Sunan Giri vs Trah Sunan Ampel7 min read

Pada rentangan dasawarsa kedua hingga ketiga abad ke-17 M, Jawa Timur dirongrong ancaman invasi Mataram dari barat. Berkuasanya Rangsang di takhta keempat Mataram setelah menggantikan Martapura seolah mengindikasikan awal kejayaan dari dinasti Mataram yang telah dibangun oleh Senapati.

Program ekspansi wilayah yang telah digagas oleh Senapati dengan menaklukkan beberapa wilayah di Bang Wetan (Jawa Timur) menjadi program kerja Rangsang pula kelak.

Rangsang bertakhta pada tahun 1613-1641 M dengan julukan terkenal “Sultan Agung”. Progam ekspansi ke wilayah Bang Wetan yang telah digagas oleh moyangnya pun dilanjutkan.

Saat itu Surabaya merupakan sebuah kerajaan terkuat di wilayah Jawa Timur, seluruh bupati Bang Wetan pun sejak waktu itu sudah dipimpin oleh Surabaya ketika datang invasi dari barat.

Menguasai Surabaya menjadi salah satu kunci sebelum menaklukkan Jawa Timur seluruhnya.

Karena begitu kuatnya Surabaya, dalam Puncak Kekuasaan Mataram disebutkan bahwa Surabaya membutuhkan lima kali gelombang serangan untuk dapat benar-benar takluk.

Oleh karena itu, sebelumnya Sultan Agung sudah membuat strategi penaklukkan kota-kota dari keempat arah mata angin dari Surabaya untuk mengepungnya.

Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 menjelaskan bahwa Wirasaba (kini Mojoagung, Jombang) yang terletak di selatan Surabaya takluk pada 1615, kemudian di susul Pasuruan di timur pada tahun 1617, Tuban di barat pada tahun 1619 kemudian Madura di utaranya pada 1624.

Setelah penaklukkan kota-kota di sekitar Surabaya ini, mereka mulai mendekat dan tak lupa melancarkan aksi-aksi pembendungan sungai serta pembuangan bangkai-bangkai ke sungai tersebut, dengan hal itu pasukan Mataram berhasil membuat air bersih di Surabaya menjadi tercemar.

Gambar hanya ilustrasi. Rencana serangan ke Bang Wetan. Sumber: Harian Merapi

Bahkan mereka juga membinasakan hasil-hasil panen yang dapat memperlemah logistik mereka. Setelah 5 tahun serangan berturut-turut pada tahun 1620, 1621, 1622, 1623, 1624 Surabaya pun akhirnya baru takluk pada tahun 1625.

Menaklukkan Surabaya, artinya Jawa Timur saat itu sudah dapat dikendalikan dengan  baik. Penaklukkan Surabaya ini disusul dengan pemboyongan seorang tokoh yang saat itu dikenal dengan nama Pangeran Pekik.

Pekik diboyong ke Mataram kemudian dikawinkan dengan adik Rangsang yang bernama Pandhan Sari.

Menurut Moedjanto dalam Konsep Kekuasaan Jawa cara ini merupakan cara yang ampuh dalam membangun sebuah kekuatan dinasti di berbagai tempat yang dikuasai oleh keluarga istana atau dalam bahasa lain disebut sistem patrimornial.

Perkawinan Pekik dengan Pandhan Sari ini disebut dengan istilah triman atau pengabdian seseorang kepada raja yang kemudian dihadiahi sebuah gelar atau istri. Hal tersebut dapat memperbanyak anak buah raja yang akan semakin meninggikan kedudukan seorang raja.

Rencana Rahasia Mataram

Pemboyongan Pekik ke Mataram ini sebagai tanda takluk wilayah kekuasaan politiknya serta sebagai usaha konsolidasi wilayah baru Sultan Agung, namun sebenarnya juga ada satu tujuan rahasia lagi.

Rahasia ini akan terjawab apabila kita melangkah 11 tahun pasca keruntuhan Surabaya. Tepatnya pada tahun 1636 Sultan Agung memiliki hasrat untuk menaklukkan sebuah wilayah di Jawa Timur yang meski tidak terlalu memiliki wilayah yang cukup luas atau kuat dalam segi militer namun memiliki pengaruh sosio-politik dan religi yang sangat hebat saat itu.

Giri Kedhaton merupakan entitas politik-religi di Jawa Timur yang cukup disegani oleh masyarakat pada masa itu, tepatnya pada kisaran abad ke-15-16 M. Penguasanya yang dijuluki dengan titel “Sunan Giri” merupakan sosok rohaniawan yang memegang kuasa politik-agama di tanah Jawa saat itu terutama di wilayah Jawa Timur.

Menurut Mustakim dalam Gresik: Sejarah Bandar Dagang & Jejak Awal Islam Tinjauan Historis Abad XIII-XVII M Sunan Giri juga memiliki pengaruh di Lombok sampai Maluku, pun di tahun 1621 banyak orang Maluku yang datang ke Gresik dan ingin mendatangkan “Sunan Giri” untuk menjadi guru mereka.

Di dalam Babad Tanah Jawi (BTJ) hampir seluruh penguasa di Giri dipukul rata dengan sebutan “Sunan Giri” padahal selama ini istilah Sunan Giri secara umum banyak mengacu pada Sunan Giri I yaitu Raden Paku.

Selain untuk melengkapi kekuasaannya di Jawa Timur yang belum keseluruhan takluk, perebutan Giri ini sebagai ajang peraihan legitimasi kekuasaan.

Pemimpin di Giri sejak masa moyangnya Sunan Giri I (Raden Paku) hingga pemimpin Giri pada saat itu yaitu Panembahan Agung, merupakan rohaniawan yang dihormati di tanah Jawa dan sosoknya menjadi panutan di mata masyarakat muslim Jawa saat itu.

Oleh karena itu dalam rangka untuk meraih kedudukan yang lebih tinggi serta mendapat simpati dari sebagian besar masyarakat Jawa, Sultan Agung berniat untuk menempatkan Giri dalam payung kekuasaannya.

Ilustrasi perang Sultan Agung. Gambar hanya pemanis, tidak bersesuaian dengan konteks serangan ke Bang Wetan. Sumber: Wikipedia

Misi penaklukkan Giri ini berbeda dengan aksi-aksi penaklukkan pada kota-kota Jawa Timur lainnya. Posisi Giri sebagai pusat kuasa politik-agama yang besar menjadikan Sultan Agung sedikit lebih menaruh rasa hormat sehingga penguasaan atas entitas tersebut tidak dilakukan secara langsung.

Giri tidak bisa disikapi Sultan Agung layaknya ketika menguasai kota-kota Jawa Timur seperti Surabaya, Tuban, Pasuruan, atau pun Wirasaba.

Inilah yang membuat mengapa Giri ditaklukkan pada waktu akhir setelah penaklukkan kota-kota lainnya, jika ia mau sudah dari dahulu Giri ditaklukkan, mengingat jarak Giri dengan Surabaya dekat sekali.

Menaklukkan Giri

Penyeretan Pekik dari kandangnya yang kemudian dipindah kantor ke Mataram dengan meminang saudara muda cantik Sultan Agung ialah salah satu taktik jitu untuk menguasai Giri.

Penguasaan Surabaya selain untuk memperlemah kekuatan utama Jawa Timur, di lain sisi sebagai batu loncatan untuk menguasai wilayah lain di mana Sultan Agung tidak dapat secara terang-terangan merebutnya.

Ia membutuhkan sosok yang paling tidak memiliki pengaruh atau kedudukan yang hampir sama dengan raja-ulama Giri saat itu, Panembahan Agung.

Pekiklah orangnya. Seorang keturunan politikus serta agamawan masyhur dari timur. Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram menyebut orang ini sebagai putra dari raja Surabaya saat itu yaitu Jayalengkara.

Pekik juga merupakan keturunan ketujuh dari Sunan Ampel, seorang wali masyhur dari tanah Surabaya yang muncul pada periode Majapahit akhir.

Bahkan dalam BTJ khususnya pada BTJ Meinsma, kemampuan yang dimiliki oleh Pekik diungkapkan dalam dialog berikut. Pada adiknya, Sultan Agung berkata:

kang prayoga angrusak ing Giri amung lakinira, karana padha trahing pandhita

yang lebih tepat (untuk) menaklukkan Giri hanyalah suamimu, karena sama-sama keturunan pandhita (wali).

Naskah BTJ menyebut trah pandhita yang berarti keturunan dari pandhita atau rohaniawan, dalam konteks ini bisa diartikan wali.

Panembahan Agung saat itu merupakan keturunan Sunan Giri, maka untuk menundukkan keturunan wali, Sultan Agung menggunakan keturunan wali pula yaitu Pangeran Pekik yang merupakan keturunan dari Sunan Ampel.

Giri sebagai kawasan religious, dengan pendekatan lewat seorang keturunan rohaniawan diharapkan menjadi sebuah jembatan pengantar. Selain itu keberadaan Pekik sebagai keturunan wali bisa jadi dapat meminimalisir pertumpahan darah di masyarakat.

Mengingat dugaan munculnya pemberontakan besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur khususnya mereka umat Islam yang sangat hormat dengan keberadaan Giri Kedhaton.

Meski begitu, pertumpahan darah tetaplah terjadi. Pada tahun 1636 Giri dapat ditalukkan oleh kedua pasangan pengantin baru tersebut dalam dua hari.

Di hari pertama mereka mengalami kekalahan berat namun di hari selanjutnya Pandhan Sari mencoba untuk turun ke garis depan untuk memberi semangat, menambahkan upah, serta mengancam para prajurit untuk dilaporkan kepada sang raja apabila mereka bersikap pengecut.

Usahanya itu terbayarkan, di hari kedua dengan serangan pancingan, pasukan Giri yang dipimpin oleh Endrasena hancur dengan tembakan meriam dan ia pun dipenggal.

Atas perintah Pekik, akhirnya sang pandhita keluar dan takluklah Giri. Panembahan Agung kemudian ditandu di bawa ke Surabaya sebelum akhirnya diteruskan ke Mataram.

Di akhir penjelasannya, dalam Puncak Kekuasaan Jawa Graaf berspekulasi bahwa di kemudian hari nasib raja-ulama Giri itu dikembalikan ke Giri dengan syarat patuh dengan Pekik.

Orang tersebut bukan ulama Giri yang ditahan di Mataram pada saat penaklukkan Giri di tahun 1636, melainkan penggantinya, sedangkan yang ditahan pada tahun 1636 diduga sudah meninggal dahulu di Mataram.

Ilham Wahyudi
Latest posts by Ilham Wahyudi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *