Keterangan lebih lengkap mengenai Sayembara Trit Gurit sebagai bentuk Twitterature asli Jawa. Silahkan dibaca dengan seksama dan jangan lupa ikut sayembara eksperimental ini

Tidak perlu bertanya untuk yang ke sekian kali tentang bagaimana sastra Jawa dapat bertahan hidup dan terus berkembang di era modern-digital hari ini. Sebab, jawabannya sudah pasti ‘adaptasi’. Sama seperti makhluk hidup umumnya, sastra pun beradaptasi, termasuk sastra Jawa. Bedanya, manusialah yang perlu membentuk kesadaran agar sastra yang ia percayai ikut mampu beradaptasi. 

Linda Hutcheon pernah bilang dalam bukunya The Adaptation Theory, bahwa alih wahana bukan semata soal transformasi media, melainkan pemertahanan ide suatu karya dalam satu wahana dapat berpindah dengan baik saat di wahana yang lain. Artinya tidak ada bias ide, mengingat baik proses maupun hasil kerja adaptasi suatu karya dari suatu wahana ke wahana yang lain akan menyebabkan banyak distorsi. 

Silahkan tonton film Loving Vincent, 2017, yang disutradarai Dorota Kobiela dan Hugh Welchman. Film Loving Vincent dibuat berdasarkan corak khas lukisan-lukisan Vincent van Gogh.

Total ada sekitar 65.000 gambar yang disiapkan berdasarkan rekonstruksi atas lukisan Van Gogh untuk membuat film Loving Vincent. Pendek kata, di dalam Loving Vincent ternyata media karya lukis yang tidak bergerak dapat diolah secara animasi tanpa kehilangan ide lukisan milik Vincent van Gogh sendiri.

Di Jawa, yang paling mudah dijangkau adalah sendratari Ramayana yang biasanya dipentaskan di pelataran Candi Prambanan. Hampir semua orang tahu kalau Ramayana adalah karya sastra, akan tetapi karya sastra pun dapat diolah menjadi seni tari dengan tetap berpedoman, tanpa kehilangan, ide pokok Kakawin Ramayana.

Peralihan media yang terjadi di dalam sastra Jawa untuk contoh yang lain adalah komik berformat majalah karya Hasmi berjudul Sembadra Ilang, dimuat oleh Panjebar Semangat.

Hasmi benar-benar memahami cerita wayang lakon Sembadra Larung, namun ia menyesuaikan narasi teks menjadi narasi grafis, kemudian menampilkan dialog di dalam speech bubble yang tetap berpijak pada karakter pertunjukan wayang kulit.

Transformasi media bisa dibilang adalah salah satu kemampuan adaptasi yang dipunyai manusia. Waktu yang berjalan, pasti mengubah sedikit-banyak hal. Beradaptasi dalam konteks sastra berarti berani bereksperimen.

Dapat berupa gagasan maupun bentuk. Lalu bagaimana dengan sastra Jawa, khususnya puisi Jawa (Geguritan) menemukan bentuk yang tepat, memiliki muatan yang tepat, dan dapat dianggap sebagai penanda salah satu periode zaman sastra Jawa.

Twitterature & Trit Gurit

Tahun 2009, Alexander Aciman dan Emmet Rensen berangan-angan ingin merekonstruksi bentuk media sastra dengan memanfaatkan platform Twitter.

Di dalam buku mereka yang berjudul Twitterature: The World’s Greatest Books in Twenty Tweets or Less, terdapat kumpulan puisi yang dibuat oleh akun-akun Twitter dengan mengoptimalkan batasan karakter tweet.

Twitterature terbentuk dari dua kata: Twitter dan Literature. Sebuah sastra, baik puisi, cerpen, maupun novel, yang penciptaannya didasarkan atas pertimbangan karakter platform Twitter. Adanya batas karakter membuat daya cipta karya sastra harus melalui tahap pengendapan diksi dan efektifitas kata maupun kalimat yang ingin dituliskan.

Istilah twitterature mencakup berbagai jenis karya sastra yang ditulis melalui tweet. Untuk sastra berjenis puisi berdasarkan platform twitter ada yang menyebutnya twihaiku dan ada juga yang menyebutnya micropoetry.

Chloe Garner, direktur artistik Ledbury Poetry Festival percaya bahwa puisi twitter adalah bentuk modern haiku. Haiku merupakan jenis puisi dari Jepang yang memang terikat aturan jumlah karakter dan baris.

Bicara tentang haiku, sastrawan Jawa Widodo Basuki sering mengisi dinding status facebooknya dengan puisi-puisi Jawa berformat haiku. Meski media yang ia gunakan kurang tepat, karena memakai facebook, namun Widodo Basuki telah menawarkan suatu teknis penulisan geguritan yang segar. Widodo Basuki menyebut karya-karya geguritannya yang singkat itu dengan istilah ‘haiku Jawa’

Twitterature telah menjadi arah baru sastra dunia. Pemahaman sastra dipertemukan dengan algoritma dan teknik komputasi sehingga menghasilkan bentuk yang sama sekali ‘khas’ abad 21. Bahkan terdapat banyak bot twitter yang memang ditujukan membentuk puisi secara terstruktur dari tweet-tweet yang tersebar.

Misal @CompleteTweets yang dirancang sebagai bot akun pengumpul tweet-tweet lalu menemukan puisi utuh Shakespeare dari kumpulan tweet yang tersebar acak, dengan berpijak pada keyakinan infinite monkey theorem, yaitu monyet-monyet yang mengetik tombol secara acak, membuat tweet, memunculkan kemungkinan untuk membentuk karya Shakespeare.

Mengetahui perkembangan di atas, maka Jawasastra mencoba memikirkan bentuk alternatif sastra Jawa. Termasuk karena terinspirasi oleh Widodo Basuki yang sering menulis postingan Haiku Jawa di Facebook, namun dengan memaksimalkan platform twitter. Meski berformat haiku, penulisan geguritan di twitter dapat dibuat utuh berbentuk thread (utas).

Meski berbentuk utas, setiap tweet dapat dinikmati secara terpisah, setiap tweet tidak harus membentuk struktur ketat keterjalinan. Adapun kami menawarkan minimal jumlah sebanyak tiga tweet untuk satu utas geguritan, ini masih sebatas penawaran, masih bisa didiskusikan lebih lanjut.

Lalu kami menyebutnya Trit Gurit. Karena event ini masih penjajakan atau eksperimen, kami membatasi sayembara hanya untuk 35 akun twitter peserta.

Sayembara Trit Gurit 1

Kanggo miwiti upaya ‘pembaharuan’ sastra Jawa kaya sing wis diandharake ing dhuwur sakdurunge, Jawasastra nganakake Sayembara Trit Gurit 1 kanthi tema Muncul lan Moksaning Katresnan.

Tema sing mambu tresna iki dipilih amerga luwih gampang rumasuk ing batine kanca-kanca cah enom uga wong tuwa.

Gandheng jenenge Sayembara Trit Gurit 1, tegese suk mben bakal ana terusane; 2, 3, 4…,lsp. Kanthi tema sing tansah beda-beda lan tanpa ana pathokan wektu utawa momen kanggo nganakake Sayembara Trit Gurit.

Sayembara Trit Gurit kapisan iki dianakake wiwit tanggal 31 Agustus nganti 29 September 2020. Pengumuman pemenang tanggal 05 Oktober 2020

Ubo Rampe Pendaftaran

  1. Duwe akun twitter
  2. Mbayar biaya pendaftaran 45rb/gurit
  3. Isi formulir pendaftaran ing bit.ly/GuritTrit 
  4. Kuota akun peserta terbatas mung kanggo 35 akun
  5. Konfirmasi neng WA 081358144642
  6. Waktu penulisan antara tanggal 31 Agustus nganti 29 September 2020

Teknis Sayembara

  1. Nggawe geguritan kanthi format trit (thread) / (utas) sing selaras karo tema
  2. Sak-trit minimal telung tweet
  3. Entuk nganggo media pendukung kaya ta video / gambar sajroning trit
  4. Geguritan kuwi puisi basa Jawa
  5. Neng tweet pungkasan saka trit mention akun twitter @jawasastra lan wenehana #tritgurit

Kriteria Penilaian

  1. Kesesuaian tema
  2. Originalitas
  3. Inovasi & kreativitas
  4. Pemanfaatan ruang media
  5. Kedalaman

Ganjaran Hadiah

  1. Juara 1 = Transferan 500rb + e-sertifikat
  2. Juara 2 = Transferan 300rb + e-sertifikat
  3. Juara 3 = Transferan 200rb + e-sertifikat

Informasi & Kerjasama

jiwaningjawasastra@gmail.com / WA-081358144642 

Poster Sayembara Trit Gurit 1

Latest posts by admin (see all)