Amatan singkat terhadap kesenjangan bahasa di dalam film Turah. Antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Sebuah wajah keterasingan Indonesia di benak masyarakat Kampung Tirang

Tahun 2016 – 2018 mungkin menjadi titik awal kebangkitan film berbahasa Jawa, melalui film Ziarah, Nyai, dan Turah, kemudian di ruang genre yang berbeda, sci fi, terdapat film Tengkorak. Lebih kurang sepuluh tahun sebelumnya, film berbahasa Jawa yang pertama kali berhasil menghenyak kemapanan dunia film durasi panjang nasional, karena sekian rentang waktu konsisten berbahasa Indonesia, adalah film Opera Jawa besutan Garin Nughroho.

Bila dirunut ke belakang lagi, sebenarnya ada banyak film berbahasa Jawa yang terserak, akan tetapi habis di tingkat komunitas, daerah, atau festival. Belum sampai meringsek heboh di tataran komersil melalui bioskop.

Film berbahasa Jawa pertama kali yang saya tonton adalah Opera Jawa, waktu itu masih duduk di bangku kelas satu SMA. Seorang guru teater mengajak kami, yang mengikuti kelas seni peran, nonton bareng film Opera Jawa di dalam kelas menggunakan LCD. SMA saya berada jauh sekali dari ‘pusat kebudayaan Jawa’, sehingga punya niat untuk memahami film Opera Jawa yang hampir seluruh dialognya bermetrum macapat saja sudah lumayan. Sementara Opera Jawa diputar, Pak Mamak (guru teater saya ketika itu) mengoceh tentang kekuatan para aktor di dalam Opera Jawa sembari methingkring di atas meja guru. 

Setelah film Opera Jawa, saya menonton film Ziarah pada sekitar tahun 2017. Berkat film Ziarah, saya bisa tahu rasanya duduk di bioskop, hembusan semilir AC bioskop, dan nggregesi. Saat menonton Ziarah, kursi penonton benar-benar penuh. Meski film Ziarah didominasi bahasa Jawa, para penonton tidak keberatan. Untung saja dialog dalam film Ziarah menggunakan bahasa Jawa percakapan, bukan macapat.

Salah satu adegan dalam Ziarah. Sumber: Google Image

Perjalanan seorang nenek mencari makam suaminya yang ternyata dikuburkan bersama istrinya yang lain berhasil membuat saya mbrebes mili. Hanya beberapa bulan berselang setelah menonton Ziarah, saya menonton Turah dan Tengkorak. Keduanya sama-sama didominasi menggunakan bahasa Jawa.

Mungkin karena dikersakake lahir sebagai orang Jawa, saya lebih mampu membangun rasa ketika menonton film-film berbahasa Jawa. Terlepas dari urusan teknis film. Menjadi masalah ketika hingga saat ini masih lumayan banyak orang Jawa yang kurang tahu adanya film durasi panjang berbahasa Jawa. Bukan hanya Jawa, daerah-daerah lain pun kemungkinan demikian. Entahlah.

Film Opera Jawa diciptakan seolah untuk orang luar atau orang belum akrab terhadap kebudayaan Jawa ‘adiluhung’ agar mengenal ‘keadiluhungan’ yang ditampilkan melalui gamelan, macapat, candi, beksa, dan rembesan ceritera Ramayana. Film Tengkorak menampilkan sisi ekstrem bahasa Jawa yang mampu menuangkan segala rasa, bahkan ketika bertemu dengan istilah-istilah ilmiah yang berbahasa Indonesia.

Salah satu poster film Tengkorak. Sumber: Google Image

Di film Ziarah, bahasa Jawa yang hadir dan mengalir sebagai percakapan yang mengalir deras, dengan pemakaian bahasa Indonesia yang cukup diminimalisir. Sementara di film Turah, bahasa Indonesia benar-benar disingkirkan dan diasingkan. Atas judul tulisan ini, jangan tergesa memosisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang tidak dibutuhkan, konteks pembahasan tulisan ini adalah bahasa Indonesia di dalam film Turah.

Soal bagaimana keadaan yang sebenarnya di lapangan, itu urusan kawan-kawan yang memiliki spesialisasi sosiologi sastra atau kajian kaitan antara sosial – budaya dengan media, dsb. Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan ke-viral-an beberapa hari yang lalu tentang orang berbahasa Jawa.

Sekilas Film Turah

Film Turah dirilis di bioskop tanggal 6 September 2017, namun sayangnya hanya bertahan selama dua minggu di layar bioskop. Setelah itu film Turah langsung diturunkan. Saya masih ingat sekali ketika saya begitu antusias berangkat ke bioskop menonton film Turah, sesampainya saya di bioskop ternyata penontonnya hanya lima orang di sore hari! Agak mengesalkan memang, tapi mau bagaimana lagi, kita tidak punya hak memaksa orang lain memiliki selera yang sama dengan kita.

Film yang menggunakan bahasa Jawa Penginyongan ini digarap oleh Wicaksono Wisnu Legowo, seluruh pemainnya merupakan aktor yang asli atau domisili daerah Penyinyongan. Setting yang ditampilkan adalah sebuah daerah yang bernama Kampung Tirang, Tegal.

Kampung ini berjarak sangat dekat dengan laut, dan terpisah dari daratan pusat Tegal. Masyarakatnya serba kesusahan dan memang daerahnya sulit diakses. Film Turah sepenuhnya meminjam Kampung Tirang untuk dijadikan setting film. Lihat saja di instagram Wicaksono Wisnu Legowo.

Dengan durasi sekitar 1 Jam 23 Menit, film Turah menampilkan kehidupan masyarakat Kampung Tirang yang kompleks. Berlapis-lapis permasalahan tersimpan di dalam tubuh para warga Kampung Tirang.

Menariknya, film Turah sama sekali tidak menggunakan musik iringan sebagai alat bantu penyampai rasa. Audio yang digunakan sebagai pengganti musik adalah suara anak-anak mengaji, suara pawarta lelayu, dan suara hujan bercampur petir.

Poster film Turah. Sumber: Wikipedia

Di depan kebanyakan mata orang Jawa, hari ini film Turah terselip di antara gelegar penampilan film superhero lokal Indonesia, film cinta-cintaan, sinetron, dan gempuran film luar negeri. Orang Jawa mungkin tidak terlalu peduli terhadap film ini, tapi anehnya film Turah berhasil meraih banyak penghargaan bergengsi, bahkan maju ke nominasi Oscar walaupun gagal di tingkat seleksi awal. Pertanyaannya, kita yang terlalu ‘inlander’ atau bagaimana?

Secara klise film ini Turah dideskripsikan oleh banyak pengamat sebagai film yang menyoroti kesenjangan sosial masyarakat. Merujuk pada karakter, setting, kostum, hingga alur dan plot ceritanya. Analisis semacam itu tidak salah, malah sangat membantu. Ya walaupun sudah pasti menganalisis ‘kesenjangan sosial’ adalah hal yang paling kentara, sebab persepsi kesenjangan sosial sudah terbangun sejak awal melalui hadirnya tanda-tanda ‘dheweke duwe kae, aku duwene mung iki’.

Seandainya seorang kuli panggul pasar sadar bahwa saya sedang menguliti kehidupannya semata demi rasan-rasan sembari nongkrong di cafe tanpa pernah berdialog dengannya sekalipun, kemungkinan saya akan langsung disuruh menggantikannya, “ora nulis thok, iki lho rasakna sisan”.

Hal pertama yang paling menonjol di film Turah memang kesenjangan sosial, titik penentunya pun terlihat jelas. Walau seluruh pengambilan video berada di lingkungan Kampung Tirang, kehadiran Juragan Darso dan Pakel menunjukkan kesenjangan tersebut. Akan tetapi setelah menontonnya dengan lebih hati-hati ada kesenjangan lain yang dipertontonkan oleh film Turah, yang mungkin luput dari pengamatan, yakni kesenjangan bahasa, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa.

Raksasa itu Bernama Bahasa Indonesia

Bahasa Penginyongan merupakan salah satu dialek bahasa Jawa. Penyebarannya terletak di sisi utara Jawa; Tegal, Pekalongan, Pemalang, dst. Kerap kali bahasa Penginyongan disalahpahami sebagai ngapak dan bahkan dicampuradukkan dengan bahasa Banyumasan yang berada di sisi selatan Jawa.

Layaknya daerah pesisir utara Jawa, bahasa Jawa Penginyongan memiliki intonasi yang tebal, cepat, lugas, dan apa anane. Kosakata bahasa Jawa Penginyongan mempunyai banyak perbedaan dengan bahasa Jawa ‘baku’ sehingga bagi yang belum pernah berinteraksi dengan penutur bahasa Jawa Penginyongan pasti akan kebingungan.

Sayangnya, bahasa Jawa Penginyongan berakhir hampir serupa dengan bahasa Jawa yang lainnya, yakni ketika berada di tangan kreator film ibukota, seringkali ditempatkan sebagai objek eksploitas. Pemeran yang diceritakan berasal dari Jawa, khususnya Penginyongan, berakhir sebagai pembantu dengan cara bicara yang wagu. Memang beberapa kali di FTV tokoh-tokoh yang diceritakan berasal dari Jawa tersebut mendapat jatah menjadi tokoh utama, namun hasilnya malah mengerikan. Sebab tokoh tersebut bermodal ‘karbit cepat’ bukan pendalaman. 

Nasib dialek-dialek di dalam bahasa Jawa bila diperhatikan seksama, terlihat semakin tergerus. Wilayah-wilayah pesisir utara jelas memahami persoalan ini, mengingat daerah pesisir utara sejak zaman dahulu merupakan titik transaksi kebudayaan. Keadaan yang lebih parah, tentu dialami oleh bahasa-bahasa daerah lain yang terletak di luar pulau Jawa, di mana bahasa Indonesia lebih dipilih ketika saling berkomunikasi daripada menggunakan bahasa daerah sendiri, padahal kedua komunikan tersebut sama-sama lahir di daerah tersebut.

Semenjak Bahasa Indonesia ditunjuk sebagai bahasa pemersatu di dalam acara Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia dipilih menjadi lingua franca Nusantara, percakapan resmi, dan penulisan ilmiah. Di saat yang sama bahasa-bahasa daerah lain pada waktu itu memang masih sanggup bertahan, akan tetapi semakin menuju ke masa depan, bahasa-bahasa daerah menjadi bahasa yang terlupakan bahkan ‘direndahkan’.

Fakta inilah yang kemudian menyebabkan viralnya story instagram seorang pria yang menyatakan bahwa dirinya malu jika punya teman yang medok apalagi sampai berbahasa Jawa, karena menurutnya orang yang bicaranya medok atau memakai bahasa Jawa itu ngisin-ngisini

Mencari Indonesia di Kampung Tirang

Menurut pengakuan sutradara Turah, Kampung Tirang merupakan kampung yang tertinggal di Tegal. Aliran listrik dan sumber air bersih menjadi persoalan pokok warganya. Mereka mengandalkan hidup dari aktifitas tambak dan melaut yang hasilnya tidak seberapa. Kampung Tirang setidaknya membuka mata orang-orang, bahwa selain di luar Jawa, di Jawa pun ada daerah yang memiliki nasib kurang beruntung.

Film Turah yang menampilkan kesulitan hidup masyarakat Kampung Tirang berhasil menggambarkan persoalan pendidikan, kesehatan, akses kependudukan, dan kesejahteraan yang belum diselesaikan pemerintah kabupaten maupun pemerintah pusat.

Sebab mengusung latar belakang yang demikian, sutradara kemudian memilih menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar pesan filmnya. Bukan karena pendidikan masyarakat Kampung Tirang yang rendah akhirnya dipilihlah bahasa Jawa, melainkan karena bahasa Indonesia belum mampu memberi banyak kebaikan pada benak masyarakat Kampung Tirang.

Kemunculan bahasa Indonesia di dalam film Turah terdapat pada adegan ketika dua orang petugas sensus pilkada mengunjungi rumah Turah. Di dalam adegan tersebut, dua petugas sensus pilkada sedang berdialog dengan Kanthi, istri Turah.

Mereka menanyakan data diri Kanthi dan Turah. Menariknya, dua petugas sensus berbicara memakai bahasa Indonesia sedangkan Kanti menggunakan bahasa Jawa. Mereka bertiga saling mengerti, namun tidak ada yang mengalah, atau setidaknya diskenariokan ada salah satu pihak yang mengalah untuk memakai bahasa Jawa atau bahasa Indonesia.

Petugas sensus bertanya siapa nama lengkap, tempat tanggal lahir, dan pekerjaan Kanthi beserta suaminya, Turah, menggunakan bahasa Indonesia, Kanthi kemudian menjawabnya menggunakan bahasa Jawa. Dialog mengalir dengan ringkas, meski memakai dua bahasa, sudah jelas terlihat mereka saling memahami bahasa satu dengan yang lainnya. 

Si petugas bertanya apa pekerjaan Kanthi, kemudian dijawab Kanthi, “kula ngurusi griya, pak.” Setelah itu si petugas malah bertanya, “ibu rumah tangga maksudnya?” Belum cukup sampai di situ, si petugas lanjut bertanya apa pekerjaan Turah, dijawab Kanthi kalau suaminya bekerja di tempat pelelangan ikan, eh oleh petugas ditanya lagi “wiraswasta maksudnya?” 

Sik ta kosik. Kenapa harus ditanyakan kejelasannya? Apa si petugas sensus tidak punya cukup pengetahuan bahwa kalau istri yang mengurus rumah itu berarti ibu rumah tangga dan mengurus tempat pelelangan ikan itu sama halnya dengan wiraswasta? Dialog ini, jujur, wagu banget. 

Awalnya, menurut saya, secara keseluruhan adegan percakapan Kanthi dengan petugas sensus plkada itu wajar-wajar saja, tidak ada yang salah. Namun pikiran saya seketika berubah ketika Kanthi menanyakan kepada dua petugas sensus pemilihan umum tentang kondisi listrik dan akses air bersih yang dulu dijanjikan oleh para calon kepala daerah, “sekedhap pak, ndherek taken pak, teng mriki kan sering didata nggih pak saben badhe pilkada, dijanjeni badhe diparingi listrik, badhe diparingi toya bersih apa-apa, tapi tekan sepriki boten wonten jebabule…” Pertanyaan Kanti tersebut malah dijawab oleh petugas sensus pilkada, “itu bukan urusan kami.

Pada adegan itulah terlihat keangkuhan bahasa Indonesia, lebih tepatnya keangkuhan petugas pemerintah yang bertindak sekenanya ketika menjawab suatu kritik, padahal dirinya tahu kalau ada yang bermasalah.

Lagipula, kenapa petugas sensus pilkada tidak memakai bahasa Jawa saja ketika berhadapan dengan warga? Apa harus warga yang menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia? Petugas sensus pilkada seolah enggan memakai bahasa Jawa meski dia memahaminya.

Bahasa Indonesia di dalam film juga digambarkan sebagai bahasa intelektual dan penanda status sosial. Adegan penggunaan bahasa Indonesia setelah kedatangan petugas sensus pilkada sepenuhnya bersumber dari Juragan Darso dan Pakel. Hanya dua tokoh itu yang menggunakan bahasa Indonesia secara intens dengan pola yang cukup ‘menjengkelkan’.

Darso dan Pakel ketika saling bicara senantiasa menggunakan bahasa Indonesia, namun saat Pakel dan Darso berdialog dengan warga Kampung Tirang, mereka secara otomatis menggunakan bahasa Jawa. Kenapa hal ini terjadi? Pola ini cukup berhasil menyiratkan pada saya bahwa, di hadapan orang-orang cilik, dua orang yang sugih dan berpendidikan itu harus mencitrakan diri mereka sebagai orang yang disegani karena memakai bahasa Indonesia.

Darso dan Pakel tidak ingin dilihat oleh para warga sebagai orang yang sama-sama ‘melarat’ hanya karena menggunakan bahasa Jawa saat berkomunikasi. Mereka harus menandai kelas sosial mereka melalui bahasa Indonesia. Adegan ini bisa dilihat saat Darso, Pakel, Turah, dan Kandar Kambing berdiskusi soal kambing. Saat Darso bicara pada Kandar Kambing, ia memakai bahasa Jawa, namun saat berpaling bicara dengan Pakel ia menggunakan bahasa Indonesia. 

Lebih menjengkelkan lagi ialah ketika Turah dan Jadag selesai menguburkan bangkai bayi yang mengambang di kali. Para polisi dan wartawan berdatangan diantar juragan Darso dan Polisi. Polisi dan wartawan mewawancarai Turah dan Jadag menggunakan bahasa Indonesia, namun pada titik inilah, ketika beberapa wartawan mengerumuni Jadag, Jadag mengeluarkan kritik kerasnya bahwa kehadiran wartawan dan polisi tidak memberi dampak yang berarti. “Lamun ana wong mati ya dikubur!!”

Semua pola kemunculan bahasa Indonesia di dalam film Turah sungguh menunjukkan bahwa Indonesia adalah entitas asing bagi masyarakat Kampung Tirang. Masyarakat memahami bahasa Indonesia, tapi enggan memakainya. Bahasa Indonesia memang hadir di tengah kehidupan mereka sebagai perantara komunikasi, sebagai lingua franca, tapi kehadiran Indonesia tidak terlihat sama sekali. 

Turah, Darso, Pakel

Sepintas, masyarakat Kampung Tirang-lah yang diasingkan oleh Darso dan Pakel karena masyarakat Kampung Tirang sama sekali tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya akibat dari kurang mendapat pendidikan. Bahkan ketika berdialog dengan Darso dan Pakel, masyarakat Kampung Tirang tetap menggunakan bahasa Jawa. Akan tetapi faktanya, Darso dan Pakel-lah yang terasing, Indonesia-lah yang terasing. 

Pesan film Turah yang begitu menggores tersebut mungkin akan membuat pemerintah Indonesia yang ikut mendukung Turah maju ke Oscar mengurungkan niatnya andaikan pemerintah cukup pintar memahaminya dari segi penggunaan bahasa.

Beberapa Catatan Tambahan

Ada satu hal yang patut diperhatikan. Tepatnya sebelum adegan penguburan bangkai bayi oleh Turah terjadi, ada adegan pembicaraan antara Darso dengan Turah. Saat itu Darso berpesan pada Turah bahwa Darso menitipkan pengelolaan Kampung Tirang pada Turah. “Angger ana masalah rampungi dhewek, tapi nek masalahe gedhe kabari inyong dhisit.” Kurang lebih begitu kata Juragan Darso pada Turah sebelum menyebrang kali. 

Baru saja usai mendapat pesan itu, ketika Turah berjalan mengelilingi Kampung Tirang, ia menemukan seonggok mayat bayi yang mengapung di kali. Oleh Turah, mayat bayi itu langsung dikuburkan. Apakah penemuan bangkai bayi di Kampung Tirang bukan masalah besar? Mungkin saja, sebab Jadag bilang kepada wartawan bahwa persoalan orang mati di Kampung Tirang itu bukan suatu hal yang menghebohkan.

Dalam bahasa Jawa, turah berarti ‘sisa’. Penggunaannya tentu memerhatikan konteks kalimat. Kata turah dapat diartikan sebagai sisa yang dimaksudkan untung, atau turah yang dimaksudkan sebagai sesuatu yang sangat banyak. Contoh; “wingi tuku amer dhuwite turah limangewu”, “dhuwite turah-turah”, atau bila dalam konteks kengenesan nasib jadinya, “turah perkara” atau “masalahe turah-turah”.

Film Turah memuat berbagai konteks kata turah sekaligus. Bagi Darso, hartanya memang turah-turah atau turah akeh. Bagi Jadag, kehidupannya justru turah masalah. Tokoh utama yang bernama Turah sendiri di akhir film menyisakan perjalanan hidup yang masih turah atau belum terselesaikan. 

Kini Kampung Tirang telah mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Diproyeksikan sebagai destinasi wisata. Ya walaupun agak kurang ajar memariwisatakan kemelaratan, tapi setidaknya dari cara itu ada peningkatan kesejahteraan yang dialami masyarakat Kampung Tirang. Pertanyaannya, apa perlu semua daerah yang belum bernasib baik difilmkan terlebih dahulu baru kemudian diperhatikan pemerintah?

Tahun 2019 kemarin, Slamet Ambari, pemeran Jadag, meninggal dunia akibat penyumbatan arteri. Aktor lokal kawakan tersebut seandainya masih hidup, mungkin ia berhasil membawa bahasa Jawa dan Penginyongan menembus banyak lapisan dimensi kebudayaan dunia.  

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)