Wayang Wahyu di Jawa
Wayang Wahyu di Jawa

Wayang Wahyu di Jawa7 min read

Kesenian selalu menjadi sarana paling luwes untuk menyiarkan legitimasi kekuasaan, agama, kebaikan, propaganda politik dan lain sebagainya, khususnya melalui sarana kesenian wayang. Jejak perjalanan sejarah wayang sudah memberi bukti pada kita kalau wayang bukan sebatas karya seni, tetapi juga alat yang cukup efektif untuk meraih ambisi politis maupun agama.

Apabila meninjau aspek sejarah wayang, kita akan banyak menemui berbagai hal yang mengejutkan. Misalnya pada kasus lakon Semar mBangun Kahyangan yang ternyata merupakan lakon gubahan politis Soeharto setelah berembug dengan para dalang di tahun 1995 demi melanggengkan pengaruh kekuasaan. Sementara itu, lakon tersebut dipilih karena Soeharto sendiri merasa bahwa dirinya adalah manifestasi sejati sosok Semar.

Belum lagi jika mempertanyakan tentang asal-usul wayang yang kita terima hari ini. Selama ini tidak sedikit orang Jawa yang berpikir bahwa wayang hari ini merupakan hasil pikir dari Sunan Kalijaga. Kalau memang demikian, tentu tidak salah kan jika menyebut Sunan Kalijaga juga sebagai Dhalang Kalijaga?

Memang wayang diklaim oleh masyarakat Jawa penganut Islam sebagai sarana dakwah, namun apakah hanya Islam yang menggunakannya? Ternyata tidak. Dimensi dakwah yang dimiliki wayang tidak hanya diperuntukkan bagi Muslim, tetapi juga berlaku bagi agama dan kepercayaan lain, salah satunya adalah agama Katolik yang menggunakan Wayang Wahyu sebagai sarana dakwah.

Wayang Wahyu lahir pada tahun 1950, diciptakan oleh Bruder L Timotius Wignyosubroto setelah menonton pertunjukan wayang di Surakarta. Dalam pertunjukan tersebut yang menjadi dalang adalah Ki Atmowijoyo, ndilalah pada saat itu Ki Atmojoyo sedang memainkan lakon wayang purwa sanggitan yang diolah dari teks Injil. Melihat karya sanggit tersebut, Bruder L Timotius Wignyosubroto berinisiatif menciptakan bentuk wayang khusus ajaran Katolik.

Sebab pada  pertunjukan wayang yang dimainkan Ki Atmowijoyo, wayang yang digunakan adalah wayang kulit umumnya, hanya penamaannya saja yang diubah.

Salah satu scene Wayang Wahyu. Sumber gambar: Metrum

Tanggal 02 Februari 1960, Bruder L Timotius Wignyosubroto memanggungkan karya wayang buah tangannya sendiri. Wayang-wayang yang ditampilkan merupakan desain baru yang dilahirkan Wignyosubroto dengan berpatokan pada narasi Katolik, karenanya lakon wayang yang dimainkan pun menjelaskan kejadian yang ada di dalam Injil.

Seusai pentas wayang perdana dari Bruder L Timotius Wignyosubroto itu, banyak para pemuka agama Katolik yang memberi ucapan selamat. Mereka terpukau pada konsep yang dibawa oleh Bruder L Timotius Wignyosubroto. Perlahan, para pemuka agama Katolik yang hadir menonton mencoba untuk mengkreasikan cara dakwah melalui wayang, sebab cara tersebut dinilai mampu mendekatkan ajaran Katolik pada masyarakat.

Salah satu tokoh pemuka agama yang meneruskan jejak Bruder L Timotius Wignyosubroto adalah FX Wiyono, yang mengabdikan diri pada Gereka Hati Kudus Tuhan Yesus, Paroki Pugeran, Yogyakarta.

Di tangan FX Wiyono, bentuk pewayangan Bruder L Timotius Wignyosubroto digubah, dari yang sebelumnya cenderung realis diubah wujudnya menjadi lebih bercorak wayang Jawa dengan berpatok pada gaya Surakarta.

Wayang tersebut kemudian disebut Wayang Wahyu, karena menampilkan pesan-pesan Allah yang terdapat dalam Injil melalui wayang.

Menurut Marzanna Poplawska (2004) dalam tulisannya Wayang Wahyu as an Example of Christian Forms of Shadow Theatre, wayang wahyu merupakan representasi gaya liturgi Kristen baru yang berangkat dari revolusiSecond Vatican Council, yakni sebuah upaya praktek Kristen yang memberi ruang luas kepada lokalitas, tidak melulu berorientasi pada Eropa.

Peristiwa di Sekitar Lahirnya Yesus

Meski anatomi wayang wahyu hampir serupa dengan wayang purwa gaya Surakarta, akan tetapi nama wayang yang digunakan merujuk pada penamaan-penamaan yang terdapat teologi Kristen. Sebut saja ada wayang bernama Maria, Yesus, Yusuf, Gabriel, Lucifer, tentara Roma, dan lain sebagainya.

Lakon pada wayang wahyu yang pertama kali dimainkan adalah lakon Allah Sang Putra Manjalma, karya FX Wiyono. Menceritakan tentang kisah kelahiran Yesus di Bethlehem serta peristiwa yang mengiringi kelahiran tersebut.

Gabriel dan Lucifer menjadi dua tokoh pusat yang bertentangan dalam lakon Allah Sang Putra Manjalma melalui konflik batin Yusuf, serta larinya Maria dan Yusuf ke Bethlehem untuk menghindari kejaran pasukan Roma. Singkat saja, cerita dalam Allah Sang Putra Manjalma seperti ini:

Suatu hari, malaikat Gabriel mendatangi Maria sembari memberi kabar bahwa akan ada bayi yang dikandung oleh Maria. “Bayi sing kok kandhut kuwi bayi saka idi palilahe Fengeran. Sukmben, bayi kuwi bakal dadi Gusti sing mimpin sekabehaning janma.” Kata Gabriel, dalam bahasa Jawa. Mendengar kabar semacam itu, Maria menjadi sangat bahagia. Tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapat kepercayaan sedemikian besar dari Tuhan.

nDilalah, Maria sebenarnya sudah memiliki tunangan yang akan dinikahi, bernama Yusuf. Oleh Gabriel, tunangan Maria yang bernama Yusuf itu juga diberi mimpi, bahwa tunangannya akan mengandung bayi dari Tuhan. Mendapat mimpi itu, Yusuf juga turut berbahagia.

Celakanya, Yusuf sempat didatangi Lucifer, dan diberi bisikan oleh Lucifer, bahwa mengandungnya Maria merupakan hasil dari perbuatan zina Maria sendiri, kasarnya, Maria telah berani berselingkuh. Untung saja Yusuf mempunyai iman yang tebal, dan menampik semua bisikan Lucifer.

Ketika Lucifer masih terus membisiki Yusuf, dumadakan muncul malaikat Gabriel. Tanpa banyak kata, Gabriel menampar muka Lucifer. Akhirnya Lucifer pergi meninggalkan Yusuf. Semenjak itu, Yusuf mulai tenang kembali batinnya.

Maria
Gabriel
Lucifer

Namun suasana belum adhem ayem, sebab Kaisar Agustus ternyata mendapat wangsit dari para nujum bahwa akan ada bayi laki-laki yang akan menghancurkan kekuasaan Romawi.

Tanpa menunggu waktu lama, Kaisar Agustus memerintahkan para prajurit Roma untuk mencatat semua bayi laki-laki yang baru saja lahir, dan lahirnya di wilayah kekuasaan Roma.

Prajurit Roma diperintahkan berkeliling dari rumah ke rumah pada wilayah Romawi yang sedemikian luas. Kaisar Agustus juga telah memberi catatan pada mereka tentang wujud bayi seperti apa yang menjadi ancaman kejayaan Romawi.

Kalau bayi tersebut ditemukan, Kaisar Agustus memerintahkan prajurit yang menemukannya agar membunuh bayi itu langsung di tempat.

Mengetahi pergerakan Roma yang seperti itu, Yusuf dan Maria memutuskan untuk melarikan diri, sebelum ditemukan pasukan Roma. Sebab bisa jadi bayi yang yang tengah dikandung Maria adalah bayi yang dimaksud oleh Kaisar Agustus.

Wayang Wahyu Wayang Jawa

Tulisan ini lahir setelah melakukan pembicaraan kecil dengan Anggita Eva, seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dengan objek penelitian berupa Wayang Wahyu.

Di tengah pembicaraan, Anggita sempat mengatakan bahwa wayang wahyu sudah sangat jarang dimainkan di tengah masyarakat. “Sapa sing arep nanggap jal?” Tanyanya.

Seandainya dinalar, sebenarnya siapa saja bisa dan boleh saja menanggap pertunjukan wayang wahyu.  Apa lagi, wayang wahyu bukan sebuah ritus saklek ajaran Kristen, sehingga siapapun boleh menanggap pertunjukan wayang wahyu, sekalipun bukan berkeyakinan Kristen.

Sayangnya, tidak sedikit masyarakat Jawa yang kurang bisa menerima kenyataan semacam itu. Terlanjur pilah-pilih bahwa kesenian yang ditanggap harus bersesuaian dengan agama yang diyakini. Andaikan wayang wahyu digelar di tengah masyarakat, pasti tidak sedikit masyarakat Jawa yang menganggap bahwa pertunjukan tersebut merupakan upaya kristenisasi.

Salah satu poster pertunjukan Wayang Wahyu

Mengingat bahwa wayang wahyu merupakan bagian dari kesenian Jawa, bukankah wajar saja jika ditampilkan di hadapan khalayak luas, layaknya wayang pada umumnya. Lagi pula, apabila wayang dikaitkan dengan metode dakwah Islam, bukankah malah jadi egois apabila hanya membolehkan Islam yang masuk ke dalam wayang?

Munculnya wayang wahyu menjadi pertanda bahwa Jawa bukan milik agama apapun. Jawa bukan suatu objek yang dapat dengan mudah dimiliki oleh kelompok agama tertentu, sebab Jawa melesap ke dalam agama, bukan malah menjadi kepemilikan untuk agama.

Tulisan ini merupakan hasil terjemahan dari tulisan yang telah diangkat oleh Jawasastra pada tahun 2019. Klik link ini untuk membaca versi aslinya.

Gombalamoh
Latest posts by Gombalamoh (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *