Wong Jawa Abdi Dalem Kapitalisme4 min read

Siapa tak kenal sebutan “wong Jawa” dengan segala macam keluhuran budi pekerti yang tercermin dari perkataan dan perilakunya. Terlebih di era digital seperti ini yang masuk pada wilayah revolusi industri 4.0 di mana semua aktivitas manusia “gumantung” terhadap teknologi informasi.

Orang Jawa adalah salah satu kelompok masyarakat yang masuk ke dalam kelompok masyarakat yang cepat beradaptasi dengan teknologi.

Tapi sayangnya tidak diiringi dengan proses pemikiran-pemikiran kreatif, sehingga hanya menjadi pangsa pasar konsumsi (masyarakat konsumtif) kapitalis.

Hal ini berdasar pada orientasi pikiran berupa “bisa melu kahanan wae wis cukup, ora usah diothak-athik mengko mundhak ora karuan” atau mudahnya disebut senang berada di zona nyaman.


Dari sini justru terlihat bahwa orang Jawa yang selalu diagung-agungkan karena keluhuran budinya ternyata gampang diakali oleh kapitalis.


Kapitalis memaksimalkan momen industri 4.0 untuk menjual produknya melalui teknologi informasi dengan memanfaatkan online shop atau e-commerce yang memiliki beragam iming-iming “diskon besar-besaran”. Tindakan ini senyatanya adalah cara membelenggu masyarakat agar terus berperilaku konsumtif.

Apalagi produk-produk yang dikenalkan merupakan produk yang sedang trendy, khususnya dalam bidang fashion ala-ala Korea, Jepang, dan Eropa.

Produk pakaian yang trendy ala-ala luar negeri tadi juga secara tidak sadar menjadikan orang Jawa sebagai “kacang lali karo lanjaran” atau kehilangan identitas aslinya, Jawane.

Mau tidak mau di era seperti ini, bidang fashion ala luar negeri sudah menjadi gaya hidup kebanyakan masyarakat kita yang mencirikan modernitas.

Banyak tindakan masyarakat yang seperti itu menggugah karakter orang Jawa yang punya pendirian sendiri menjadi melu-melu latah atau ikut-ikutan agar dipandang sama karena memang dasar karakter orang Jawa:


“ora gelem kalah, piye carane kudu dilakoni”.


Latahnya orang Jawa tadi jelas tidak lepas dari pemuasan diri dengan memiliki pakaian-pakaian branded yang digunakan karena mengandung simbol status dan identitas sosialnya.

Contoh nyata saja dapat dilihat dari lingkungan pertemanan yang jika teman-temannya menggunakan kaos DEUS, maka mau tidak mau agar tidak terlihat ketinggalan trend dan masih dianggap sebagai kelompok pertemanan tersebut, dia ikut membeli kaos tersebut yang berharga cukup mahal walau cara belinya ngutang atau nyicil.

Brand dan trend inilah yang sebenarnya dijadikan alat kapitalis mbujuki orang Jawa agar terus menerus membeli suatu produk tanpa rasa puas.

Secara kasar, masyarakat tersebut telah masuk ke dalam kandhang macan, jika tidak mengikuti hal yang ada akan diasingkan secara sosial oleh lingkungannya dan jika mengikuti, maka akan terjadi kerugian finansial dan kerugian akan spirit hidup orang Jawa.

Gambar hanya ilustrasi. Sumber: Flickr

Jumlah orang Jawa yang tidak sedikit juga menjadi faktor menetapnya kapitalis dalam mengenalkan produk-produknya guna mencapai keuntungan tinggi.

Bahkan yang lebih parah adalah kapitalis menjadi rewang ghaib yang selalu membantu pemiliknya untuk memenuhi keinginannya, namun membutuhkan tumbal sebagai timbal baliknya.

Secara mudah diartikan sebagai sistem yang menguntungkan sesaat sekaligus merugikan dalam jangka panjang.

Kontradiksi Luhur Budi

Selain iming-iming diskon dan jumlah orang Jawa yang banyak, promosi atau pengiklanan produk oleh kapitalis benar-benar memanipulasi pola pikir dan tindakan orang Jawa.

Penggunaan para influencer-influencer muda yang good looking menjadi brand ambassador ditambah desain iklan yang menarik juga dilakukan oleh kapitalis dalam menarget sasaran pasarnya.

Tidak menutup kemungkinan juga, bentuk promosi “tuku papat entuk sepuluh” atau “sepuluh kali transaksi pembelian, gratis satu kali transaksi pembelian dengan menyertakan bukti pembelian sebelumnya” juga mempengaruhi tindakan konsumsi masyarakat.

Perilaku konsumtif yang belakangan ini terjadi menjadikan kita gumun bahwa ternyata antusiasme orang Jawa dalam mengonsumsi atau membeli produk lebih tinggi daripada membuat produk sendiri.

Maka dari itu, tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian dari sifat sekaligus sikap orang Jawa seperti gampang latah dan ora gelem kalah karo liyan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri dalam menyikapi perkembangan jaman yang ada.

Jadi, sebenarnya di era seperti ini, orang Jawa mengalami tantangan berat karena dijadikan jujugan kapitalis karena sikap keblinger akan produk-produk yang tersedia di masyarakat saat ini. Bahkan sudah menciptakan perputaran roda kapitalis yang langgeng.

Uniknya lagi adalah orang Jawa di era sekarang kebanyakan bersikap menentang adanya penindasan malah menjadi pihak tertindas oleh pola sistem yang diciptakan kapitalis.

Dari sini juga terlihat bahwa antara pangucap dan tumindak orang Jawa tidak sinkron, kontradiksi, saling bertentangan alias ora ngadeg jejeg.

Tidak memiliki pendirian yang teguh, serta juga menjadi indikasi tidak dapat berpikir jangka panjang sehingga berakibat mbendhol mburi dan getun.

Hal ini bukan berarti merendahkan orang Jawa, tetapi memberikan pandangan lain bahwa orang Jawa memiliki segi negatif yang pada akhirnya merugikan dirinya sendiri.

Terlepas dari itu, pernyataan ini juga sebagai langkah membuktikan bahwa apakah orang Jawa menyangkal atau menerima sifat negatif yang “tidak disadari” olehnya.

Latest posts by Andyka C Pratama (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *